
Malam telah berganti pagi, fajarpun kian menyingsing. Burung-burung berkicau begitu merdu menyambut pagi yang cerah.
Sudah pukul enam pagi namun seorang gadis masih terlelap dalam tidurnya. Sudah sejak tadi bunyi alarm dari ponselnya berbunyi namun tak ia dengar sama sekali.
Tok... Tok... Tok...
Bunyi ketukan sedari tadi tak berhenti dari pintu depan. Orang yang mengetuknya sudah begitu kesal karena sudah begitu lama ia berdiri dan mengetuk-ngetuk pintu didepannya namun orang yang berada di dalam tak merespon sama sekali.
Tok... Tok... Tok...
Kini ia mengetuk lebih keras dan semakin keras lagi sangkin kesalnya berharap pintu akan segera dibuka.
Benar saja Jesselyn langsung mengerjapkan matanya mendengar suara ketukan begitu keras yang berasal dari pintu depan. Ia bangkit berdiri dan berjalan sempoyongan karena kesadaran yang belum berkumpul sepenuhnya.
Ceklek
Dengan sekuat tenaga Jesselyn menekan handle pintu dan menariknya.
Deg
"Kak?"
Jesselyn terkejut melihat Leon berdiri di depannya. Tampak ia sudah rapi dan wanginya begitu menyenangkan indra penciuman, tak lupa dengan ransel hitam yang bertengger di punggungnya.
Tak kalah dari gadis dihadapannya, Leon juga begitu kaget mendapati penampilan Jesselyn. Rambut panjang yang tak beraturan, wajah khas orang baru bangun tidurnya begitu menyedihkan ditambah sedikit iler disudut bibir kirinya.
"Itu" ucap Leon pelan menunjuk pada sudut bibir gadis itu.
Herrrfffssss
Dengan sigap Jesselyn menyeka mulutnya meskipun ia tidak tahu ada apa disana.
Melihat itu Leon meneguk liurnya dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.
"Jorok!" dengan mimik seperti orang jijik Leon menekan ucapannya dan langsung nyelonong masuk ke dalam.
"Mau apa kak?" tanya Jesselyn mengikuti langkah Leon dari belakangnya.
"Kamu ngak ke kampus?" ucap Leon sambil meneliti seisi ruangan tersebut. Ia melepas ranselnya dan meletakkannya diatas sebuah meja kecil berkaki pendek.
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak bekal makanan yang ia bawa dari rumah dan duduk diatas lantai. "Sampai kapan kamu akan berdiri seperti patung disitu," suara Leon mengagetkan Jesselyn yang sedari tadi bengong akan kedatangan Leon.
"Ha?" masih tidak nyambung dengan perkataan Leon.
"Cuci muka dan sikat gigimu, buluku merinding melihat penampilanmu seperti itu," ucap Leon menjelaskan maksudnya.
Jesselyn mencebikkan bibirnya keatas, komat-kamit ia menuju kamar mandi dengan kedua telapak tangan meraba-raba wajahnya.
"Dikiranya aku wewek gombel apa sampai dia harus merinding?"
Hakhh...
__ADS_1
Jesselyn bergedik ngeri setelah melihat penampilannya di cermin.
"Haisss.... Apa dari tadi juga begini?" gerutu Jesselyn semakin mengacak-acak rambutnya. Ia merasa begitu malu hingga menghentak-hentakkan kedua kakinya secara bergantian merutuki kebodohannya.
Melihat penampilannya yang memang begitu mengerikan ditambah mata panda yang begitu menakutkan ia memutuskan untuk mandi.
Lima belas menit cukup buatnya keluar dari kamar mandi.
Chittt..
Gadis itu dengan pelan membuka pintu kamar mandi, secepat kilat ia berlari ke dalam kamarnya karena hanya menggunakan handuk saja. Kecepatan kilatnya ternyata tidak ada artinya karena Leon dapat menangkap jelas ia yang sedang berlari. Kembali Leon harus meneguk liurnya.
"Lama," ucap Leon saat Jesselyn keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi, polesan make up natural di pipinya dan tak lupa ia mengoles lip glos dibibir ranumnya membuat siapapun yang melihatnya akan tergoda.
"Maaf, kak!" Jesselyn mendekati Leon dan duduk dihadapannya dengan pembatas meja kecil berkaki pendek.
"Ayo makan," ucap Leon membuka kotak makanan yang ia bawa. "Ini" memberikan sendok makan pada Jesselyn.
"Ck, hmmmm."
Mata Leon menangkap sesuatu yang membuatnya tak suka.
"Kamu ke kampus untuk belajar atau untuk menggoda lelaki, hem?" tanya Leon meraih dagu yang ia cap sebagai gadisnya itu.
"Kak?" teriak Jesselyn tidak terlalu kuat.
Jari jempol Leon menyeka dan menghapus lip gloss yang terpoles dibibirnya. Refleks Jesselyn menangkis dan memukul lengan Leon.
Hissss
Tak menyerah kembali Leon menyeka bibir gadis itu.
"Kak?" berontak Jesselyn menghalangi tangan Leon.
"Diam atau aku akan hapus dengan ini?" ucap Leon menunjuk bibirnya sendiri.
Spontan Jesselyn mengatupkan kedua bibirnya mendengar ucapan Leon.
"Mau?"
Jesselyn semakin menciut dan menggelengkan kepalanya menolak apa yang dikatakan oleh Leon.
Leon merogoh kantong celananya mengambil sapu tangan miliknya, dengan lembut ia menghapus bibir itu hingga tak ada jejak lip gloss yang menempel lagi.
"Mau apa lagi kak?" nada bicara Jesselyn terdengar begitu malas.
"Makan," ucap Leon menunjuk kotak bekal dihadapan mereka dengan dagunya. Posisinya sekarang sudah duduk manis disebelah Jesselyn.
Seolah mendapat jackpot, ia langsung menyendok kan suapan besar kemulutnya. Matanya berbinar merasakan makanan yang masih hangat itu.
Dua suap
__ADS_1
Tiga suap
Empat suap
Jesselyn begitu menikmati sarapan paginya. Sambil menguyah nasi goreng sea food dimulutnya ia manggut-manggut kesenangan, pagi ini dia tidak perlu berpikir lagi akan makan atau masak apa untuk sarapannya.
Leon tersenyum memandangi wajah gadisnya makan begitu lahap dan bahkan tidak memperdulikan ia yang juga belum sarapan. Leon memandangi wajah yang beberapa hari ini ia rasa begitu jauh darinya. Tangan kirinya ia gunakan untuk menopang dagunya, bola matanya tak pernah bosan mengamati setiap pergerakan dari gadisnya itu.
"Aku juga belum sarapan," ucap Leon menyadarkan Jesselyn akan keberadaannya.
Jesselyn terperangah, ia mengira jika nasi goreng itu hanya untuknya saja.
"Ayo" ucap Leon diikuti mulutnya yang menganga minta disuapi.
"Ini, kakak makan sendiri saja," tolaknya tak berniat menyuapi. Jesselyn menggeser kotak nasi goreng kedekat Leon.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku pergi sekarang. Sejak semalam aku belum makan apapun, semoga saja aku bisa konsentrasi bawa motor dan masih hidup sampai ketempat kerja." Leon bangkit berdiri dan mengambil ranselnya untuk pergi.
"Ja..jangan!" seru Jesselyn menarik celana kain yang dipakai Leon. "Du..duduk. A...aku suapin!" Jesselyn akhirnya menyerah. Ia menepuk-nepuk lantai yang dialasi permadani berbulu meminta Leon duduk disebelahnya lagi.
Tentu saja Leon tak akan menolaknya. Ia langsung mendaratkan bokongnya duduk disebelah Jesselyn namun kali ini ia duduk membelakangi meja dan membuat wajah mereka saling berhadapan. Leon semakin merapatkan duduknya pada Jesselyn hingga membuat Jesselyn sedikit kesulitan setiap kali menyuapinya.
Usai melahap semua isi kotak tersebut Jesselyn membersihkan kotak itu dan menaruhnya diatas rak piring minimalis karena ukurannya yang pendek dan hanya ada dua rak.
Leon melirik jam ditangannya, sudah hampir pukul setengah delapan dan sudah waktunya ia berangkat kerja.
"Bukannya sudah waktunya untuk pergi kerja?" ucap Jesselyn membersihkan meja di dekat Leon.
"Tapi aku masih ingin disini," jawab Leon tak ingin meninggalkan tempat itu.
Grebb
Leon meraih dan menarik tangan Jesselyn hingga jatuh keatas pangkuannya. Langsung dipeluknya gadis itu, menyalurkan semua kerinduan dihatinya.
"Lepasin kak, kalau nanti ada yang lihat gimana?"
"Sebentar saja."
"Sudah kak, ini sudah hampir jam delapan. Aku juga mau ke kampus," ucap Jesselyn melepas tangan Leon.
"Aku kangen kamu," bisik Leon ditelinga Jesselyn dan mengendus lehernya.
Bola mata mereka saling memandang. Leon semakin mendekatkan wajahnya, deru nafas Leon menyapu wajah sang gadis. Aroma mint itu semakin lama semakin terasa karena wajah mereka yang semakin menempel.
Leon membuka sedikit mulutnya dengan kedua tangannya melingkar dipingang sang gadis.
"Permisi" panggil seseorang dari depan pintu.
Refleks Jesselyn mendorong tubuh Leon hingga membuatnya terjungkal kebelakang.
Arghhhh
__ADS_1
Pekik Leon begitu kesal dan memukul permadani berbulu yang ia duduki.
...Terimakasih buat semua yang tetap menantikan kelanjutan cerita ini. Terimakasih juga buat yang sudah kasih vote-nya. love u all❤️❤️❤️...