
Sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang. Sinar mentari pagi seolah ikut bersama mengiringi lajunya.
Pagi yang begitu cerah seakan menambah semangat untuk memulai aktivitas bagi siapa saja yang merasakan sinarnya.
Leon melirik spion motornya untuk melihat gadis yang berada diboncengannya. Leon tersenyum dan sedikit menyunggingkan bibirnya.
Gadis diboncengannya masih saja menunduk sama seperti saat ia mulai menaiki motor tadi. Kedua tangannya meremas jaket pria dihadapannya begitu kuat.
Pletak
Leon membenturkan helmnya kebelakang tepat mengenai helm bagian depan yang digunakan Jesselyn. Sengaja Leon melakukannya untuk mengagetkan dan membuka percakapan diantar mereka berdua. Pasalnya sejak dari sarapan hingga saat ini keduanya sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Aw! Kak?" pekik Jesselyn terkejut hampir membuatnya oleng.
Leon menaikkan penutup wajahnya, "ngomong" ucap Leon sekilas memalingkan kepalanya kearah belakang.
Jesselyn memajukan bibirnya cemberut, tentu saja tidak terlihat oleh Leon karena selain berada dibelakang ia juga memakai helm.
Hem...
Leon menghembuskan nafas karena gadis dibelakangnya kembali diam dan menundukkan kepala.
Sekitar dua puluh menit kemudian mereka tiba di parkiran kampus. Leon mencari spot untuk memarkirkan motornya. Setelah mematikan mesin dengan sigap ia meraih lengan Jesselyn yang hendak turun. Hal itu membuat Jesselyn celingak-celinguk memperhatikan sekitar.
"Pulang nanti juga sama aku!" ucap Leon menekan kalimatnya.
Jesselyn menganggukkan kepala dan menarik tangannya.
"Janji?" tanya Leon memastikan karena hanya mendapat anggukan kepala. Kembali meraih lengan Jesselyn dan menatap lekat kedua netra sang gadis.
"Iya, kak." Jesselyn membuka helmnya dan menyerahkannya pada Leon.
Brumm....
Tepat saat itu juga Leo datang dan memarkirkan motornya disebelah kanan motor Leon. Dari dalam helm, Leo mengernyitkan keningnya melihat Leon memegang lengan Jesselyn.
"Pagi, Jes?" sapa Leo setelah membuka helmnya. Leo mencoba tersenyum meski sejujurnya perasaanya sedang jengkel. Leo turun dari motor dan mendekati gadis yang ia sukai itu.
"Pagi, Le." Jesselyn membalas sapaan Leo dengan senyuman yang menjadi ciri khas gadis itu.
"Sudah baikan?" tanya Leo meletakkan tangan kirinya di atas kepala Jesselyn membuat Leon kesal.
Leon menepis tangan itu dan melihat Leo dengan tatapan tak suka.
"Tangan, lo!" ucap Leon ketus menepis tangan Leo.
Jesselyn mengangkat kepalanya melihat Leon. "Aku pergi dulu kak," ucap Jesselyn tidak ingin berada diantara kedua pria itu. "Aku sudah baikan, Le. Aku masuk kelas dulu ya, masih banyak tugas yang belum aku selesaikan karena sakit kemarin," ucap Jesselyn mencari alasan pada Leo.
Setelah melepas tangannya dari Leon, Jesselyn berlari menuju ruangannya. Seperti biasanya saat bertemu dengan Sinta mereka akan bergosip ria tentang hal-hal yang sedang terjadi dikalangan para mahasiswa kampus terutama yang berada diruangan mereka.
Tanpa mengatakan apapun Leo meninggalkan Leon di parkiran yang masih berdiri menatapnya tak suka.
__ADS_1
"Awas lo," gumam Leon kesal. Kedua bola matanya tak sengaja mengarah pada ban motor milik Leo.
Leon tersenyum licik dan berjalan menghampiri motor sport merah itu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling parkiran mengamati para mahasiswa yang juga memarkirkan motornya. Setelah dirasanya aman, Leon membungkuk dan dengan cekatan membuka lobang angin motor itu dan membuatnya hingga kempes. Tidak hanya satu, Leon mengempeskan kedua ban motor sport merah milik Leo.
Setelah selesai Leon berdiri dan berjalan menuju ruangannya tanpa perasaan bersalah.
****
Berhubung ini adalah hari Jum'at Nadya memutuskan untuk absen ke kampus. Nadya merasa bosan karena tidak ada orang dirumah selain mamanya yang sedang berada diruang tamu menonton serial drama keluarga yang sountracknya banyak dinyanyikan mulai dari emak-emak hingga anak kecil. Ibu Sri juga sedang sibuk dengan mesin cuci dibelakang.
"Lanjut nonton lagi deh," ucap Nadya membuka laptopnya dan mengarahkan kursor pada file dimana ia menyimpan semua film yang ia download.
Nadya begitu serius mengikuti alur drama yang ia tonton. Hingga tak sadar ia senyum-senyum sendiri saat menyaksikan kelakuan kedua tokoh utama yang begitu menggemaskan menurutnya.
"Uhh...so sweet banget sih. Jadi pengen deh," Nadya tersenyum saat pemeran pria memberikan sebuah cincin pada sang kekasih. Imajinasinya tiba-tiba buyar saat video pertunangan kakaknya dan Jesselyn melintas dipikirannya.
"Kok bisa sih?" Nadya masih belum percaya jika kakaknya telah bertunangan dengan Jesselyn, gadis yang selalu mendapat perlakuan dingin dan ketus dari Leon.
"Pantesan semalam....hihh!" Nadya bergidik mengingat kejadian semalam. "Lanjut nonton aja deh," ucap Nadya kembali fokus pada layar laptopnya.
****
Setelah urusan skripsinya selesai, Leon langsung menuju parkiran kampus dan menunggu gadisnya disana. Matanya melirik ban motor yang ia kempesin pagi tadi dan tersenyum penuh kemenangan.
Leon meraih ponsel disaku celananya dan mengirim pesan pada Jesselyn.
Pesan pertama : *Kamu lagi apa?*
Pesan ketiga : * Aku tunggu di parkiran*
Pesan keempat : * Kenapa ngak dibalas?*
Sudah dua puluh menit sejak pesannya terkirim dan dibaca langsung oleh si penerima namun tak ada balasan sama sekali.
"Kenapa, Jes?" tanya Sinta penasaran karena Jesselyn tiba- tiba meletakkan ponselnya diatas meja kursi dengan kasar. Menelungkupkan kepala diatas kedua tangannya.
Jesselyn hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemas.
"Pulang yok," ajak Sinta memasukkan binder kedalam tasnya. "Kamu pulang sama Leo ngak hari ini?"
Jesselyn yang sudah berdiri kembali mendudukkan dirinya mendengar pertanyaan Sinta.
"Ayo! Kamu aneh banget sih dari tadi, ngak seperti biasanya."
Sinta menarik tangan Jesselyn keluar dari ruangan karena kelas mereka memang sudah berakhir sejak sejam yang lalu.
Keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.
Dari kejauhan Jesselyn sudah melihat keberadaan Leon yang sedang menunggunya diatas sepeda motor.
"Aku yang antar ya?" ucap Leo ngos-ngosan karena berlari saat menghampiri kedua gadis itu.
__ADS_1
"Kalau gitu aku deluan ya, ngak enak jadi obat nyamuk," ucap Sinta menggoda keduanya.
Leo menggaruk tengkuknya tersenyum.
"Hati-hati, Sin." Leo mengingatkan sedangkan Jesselyn hanya tersenyum.
"Pulang sekarang?" ucap Leo mengajak Jesselyn.
"Maaf, Le. Aku pulang bareng kak Leon."
"Yakin pulang dengan dia?"
Jesselyn menganggukkan kepalanya dan berjalan bersama Leo keparkiran.
Melihat Jesselyn bersama dengan Leo membuat hati Leon sedikit panas. Tanpa menunggu lama Leon memakaikan helm pada Jesselyn namun sebelumnya ia menyelipkan rambut yang menutupi sebahagian wajah gadis itu kebelakang telinganya. Sengaja ia melakukannya agar dapat dilihat oleh Leo.
Jesselyn termangu memandangi wajah pria di depannya. Ia tidak pernah membayangkan akan mendapat perlakukan manis seperti ini dari Leon.
Wajahnya memerah seperti kepiting rebus saat Leon memperhatikannya.
Leo yang berada tak jauh dari mereka serasa tak percaya melihat perlakuan Leon pada Jesselyn.
"Deluan ya, Le. Kamu hati-hati ya," ucap Jesselyn pada Leo dan hal itu membuat Leon tak suka.
"Iya" jawab Leon memaksakan senyuman.
Leo merasa sakit karena apa yang ia takutkan selama ini sepertinya sudah terjadi. Ia merasa peluangnya untuk bersama gadis yang menjadi cinta pertanya itu semakin kecil.
"Aku ngak akan nyerah buat kamu, Jes!" ucap Leo saat sepeda motor Leon melintas dihadapannya.
Leo merogoh kunci motor dari saku celananya dan tanpa sengaja menjatuhkannya. Ia menunduk saat akan mengambil kunci tersebut namun kedua netranya tak sengaja melihat ban motor miliknya.
"Siall" ucap Leo melihat kedua ban motornya dalam keadaan kempes. Ia menendang ban kempes itu dan megepalkan kedua tangannya melihat motor Leon yang semakin menjauh dari pandangannya. "Brengsek" umpat Leo. Ia yakin jika Leon adalah pelakunya.
support cerita ini ya dengan memberikan
like
coment
vote
gift
apa aja deh 🤪😆😆😆
😭
saaaaayang kalian semua (bacanya ala Upin-Ipin ya🤭🤭)
...Terimakasih atas kunjungan kalian semua...
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...