
"Nih Win, senengkan?" meletakkan satu kantong plastik besar berisi bermacam-macam cemilan.
"Banyak amat Jes, kamu yang beli semua?"
"Ngak kok. Itu semua Leo yang beliin"
"Ngomong-ngomong kamu habis makan es krim ya Jes? Masih ada bekasnya disudut bibir kamu," bisik Sinta memberi kode dengan menunjuk sudut bibirnya sendiri.
"Hehehe...iya Sin, tadi Leo maksa buat traktir aku es krim. Sorry ya aku ngak ambil buat kalian juga soalnya ngak enak sama Leo."
"Ngak masalah kok Jes"
"Kita mulai aja ya ngerjain tugasnya kalau ngobrol terus ngak bakalan selesai," Dito yang merupakan juara kelas langsung saja mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas dan diikuti keempat temannya yang lain.
Mereka begitu serius mengerjakan tugas matematika yang akan dikumpul besok, sesekali mengunyah cemilan yang ada didepan mereka bahkan Wina situkang makan begitu serius walaupun tidak berhenti mengunyah. Wina yang sudah menghabiskan tiga bungkus cemilan hanya untuk dirinya sendiri kini membuka bungkus keempat, padahal sebelum berangkat ke rumah Jesselyn mereka berlima sudah terlebih dahulu makan dikantin sekolah.
"Jes aku numpang kamar mandi ya, kebelet pipis ni" Wina meminta ijin sambil memegang ujung roknya.
"Hahaha...
Masuk aja, ngak ada yang larang dan gratis kok Win, iya kan Jes?" Sinta yang melihat Wina begitu kebelet pipis tertawa sambil memukul-mukul pundak Dito yang duduk di sampingnya.
"Aw..., sakit kali Sin, lo kira gue samsak apa?"
"Hahaha..sorry Dit, tangan gue refleks."
"Iya Win, pergi aja lagian kenapa harus ditahan sih dari tadi kan bisa langsung ke kamar mandi," Wina yang mendengar perkataan Jesselyn langsung lari ke dalam rumah untuk menyelesaikan misinya.
Tidak butuh waktu lama Wina pun keluar dari kamar mandi. Matanya seolah ingin melompat keluar ketika melihat seorang laki-laki turun dari lantai dua memakai celana pendek selutut berwarna hitam dengan kaos oblong putih lengan pendek.
"Ganteng!" ucap Wina spontan. Ia berlari ke pondok dan memegang dadanya yang berdetak begitu kencang.
__ADS_1
"Kamu kenapa ngak cerita sih Jes kalau ada cowok ganteng dirumah ini?" suara Wina yang begitu kencang membuyarkan konsentrasi seisi pondok yang akan menyelesaikan soal matematika terakhir
"Bisa ngak sih kalau ngomong itu ngak pake speaker Win?" Dito begitu kesal karena cara penyelesaian yang sudah ada diotaknya seketika terbang entah kemana.
"Ntah ni anak ganggu aja deh, padahal hampir selesai." Sinta juga menimpali omongan Dito.
"Awas aja Sin kalau nanti kamu ketemu tu cowok bakalan kesetrum dada lo," Wina membalas ucapan Sinta sedangkan Jesselyn hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan temannya itu. Leo yang melihat senyuman diwajah Jesselyn spontan memukul kepalanya dengan pena yang ia pegang.
"Aw! Leo kenapa sih? Sakit tahu?" tanya Jesselyn cemberut
"Kamu da seperti orang gila senyum-denyum sendiri" jawab Leo yang lagi memukul kepala Jesselyn pelan dengan penanya.
"Kalau gila tinggal kamu bawa ke rumah sakit jiwa aja, bereskan?" jawab Jesselyn tak mau kalah.
"Berisik amat woy...!! Ini soal terakhir gimana?" tanya Dito menyodorkan buku yang berisi soal matematika.
"Kayanya lo aja deh Dit yang ngerjain sendiri, gue da capek dan konsentrasi gue juga da buyar," Sinta menutup bukunya dan meneguk sisa minumannya.
"Apalagi gue Dit, hehehe..." Wina tertawa dan tak perlu menutup bukunya karena memang sudah ia tutup sedari tadi.
"Gila lo semua, gue ngerjain enam soal dan Lo pada ngerjain empat doang. Kalau gitu kamu aja yang ngerjain Jes," Dito melihat kearah orang yang dimaksud namun hasilnya sama saja.
"Aku juga nyerah Dit!" Langsung saja Jesselyn mengangkat kedua tangannya keatas"
Mereka tertawa sedangkan Dito hanya bisa berdecak kesal karena teman-temannya. Keadaan yang tadinya begitu serius saat belajar berubah menjadi riuh.
Suara tawa mereka sampai terdengar ke dalam rumah dan menarik perhatian Leon, sedangkan Lena yang menyaksikan semua kegiatan mereka dari jendela kamarnya hanya tersenyum.
Pukul empat sore setelah berpamitan dengan Lena, mereka berempat kembali kerumah masing-masing.
Saat berjalan diruang tamu, Wina juga melihat keberadaan laki-laki yang ia lihat saat ke kamar mandi tadi. Ia juga menunjukkannya ke Sinta, alhasil Sinta membulatkan matanya dan menggenggam tangan Wina erat sambil menggoyang-goyangkannya.
__ADS_1
"Indah banget Win ciptaan Tuhan yang ini?"
"Gue bilang juga apa, tadi lo aja yang ngak percaya?"
"Enak banget ya si Jesselyn bisa cuci mata liatin cowok ganteng tiap hari, gue juga mau kalau yang beginian Win."
"Masalahnya dia kaga mau sama lo" bisik Dito membuyarkan khayalannya.
"Ngerusak mood aja sih lo Dit?"
"Ya uda balik sekarang, emang lo pada mau sampai kapan berdiri disitu?" Ajak Leo kepada mereka.
"Kalian hati-hati ya jangan ngebut bawa motornya."
"Ya elah Jes, gimana mau ngebut orang aku naik bebek juga" ucap Wina bercanda
"Hahaha... naik bebek yang punya mesin kan Win?"
"Hahaha... Kita berdua pamit ya Jes" Sinta yang berada diboncengan Wina melambikan tangannya disusul Dito yang membunyikan klakson motornya.
"Jangan senyum- senyum terus nanti dikira gila baru tahu rasa."
"Habis mereka pada lucu-lucu Le, dan satu lagi senyuman itu merupakan salah satu bentuk ibadah," ucap Jesselyn sembari tersenyum.
"Terserah" Leo mengacak rambut Jesselyn dan berlalu meninggalkannya.
Leon yang sudah berada dikamarnya memperhatikan apa yang dilakukan Leo dari balkon.
...Jangan lupa like dan komennya ya kak.......
...Terimakasih ❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1