Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Memulai Dari Awal


__ADS_3

Usai membaca satu persatu pesan dari papanya Leon meletakkan gawainya diatas meja sedangkan Jesselyn yang sudah tidak tahan dengan panggilan alamnya langsung berlari ke kamar mandi.


"Mereka semua lagi ke pasar malam, pulangnya mungkin masih agak lama," ucap Leon saat Jesselyn kembali dari kamar mandi.


"Apa kita nyusul mereka aja, kak?"


"Ngak usah!"


Akhir-akhir ini Leon tidak punya banyak waktu bersama dengan gadisnya meskipun hanya untuk sekedar ngobrol karena banyaknya drama-drama hidup yang harus mereka lalui. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berduaan dengan gadisnya. Apalagi setelah ia bekerja dan Jesselyn ngekos waktu mereka bertemu sangat minim.


Ia ingin bersama gadisnya malam ini, meyakinkan kedua perasaan mereka dan akan memulai semuanya kembali dari awal dengan cara yang lebih baik.


"Kita nonton aja nunggu mereka pulang."


Leon menarik lembut tangan Jesselyn dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.


Pun belakangan ini Jesselyn berubah menjadi gadis yang sangat penurut pada Leon. Jesselyn tahu jika selama ini sikapnya pasti sangat menyakiti perasaan Leon. Ia akan berusaha menjadi gadis yang baik untuk Leon mengingat bagaimana kesabaran Leon padanya selama ini.


Jesselyn tahu kejadian beberapa bulan lalu saat berada di kamar hotel bukan karena kemauan dari hati Leon. Ia tahu Leon hanya terbawa suasana hatinya yang kesal dan marah karena Jesselyn yang tak pernah mau memberitahu Leon mengenai apa yang ia lakukan dan terlalu mengabaikan Leon.


Leon menyalakan televisi dan memilih salah satu channel untuk mereka tonton.


Jesselyn senyum-senyum geli menyaksikan program lawak pada layar di depannya dan sesekali tertawa karena candaan para pemerannya yang begitu mengocok perut.


"Geser sedikit dong kak, sempit nih sudah mentok."


Untuk pertama kalinya malam ini Jesselyn protes pada Leon. Bagaimana tidak, tadi mereka duduk ujung keujung sofa dan entah sejak kapan kini posisi keduanya sudah tak berjarak lagi kerena Leon yang semakin mendempet pada Jesselyn.


"Ihh.., kak Leon duduknya bagus dong, jangan seperti ini, aku ngak bisa lihat tv-nya," sungut Jesselyn.


Tupp...


Leon mematikan televisi secara sepihak karena ia tak rela momentnya bersama Jesselyn terhalang oleh silayar datar tersebut.


Leon memasang wajah memelas saat ia bersitatap dengan Jesselyn namun hal itu justru membuat wajahnya terlihat semakin menggemaskan dimata Jesselyn.


"Kenapa kak?" tanya Jesselyn begitu lembutnya.


Leon menjatuhkan kepalanya diatas pundak Jesselyn, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan memeluk lengan kanan gadis itu.


"Just you and me."

__ADS_1


Leon meluruskan tubuhnya diatas sofa dan meletakkan kepalanya diatas pangkuan Jesselyn.


Jesselyn tahu jika sudah seperti ini, tandanya Leon akan bermanja-manja padanya.


Jesselyn merasa jika Leon seolah memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Satu sisi Leon adalah pria cuek, keras namun perhatian sedangkan disisi lain Leon bisa berubah bak anak kecil yang ingin diperhatikan dan dimanja.


Meski masih ada rasa canggung, Jesselyn mencoba tenang dan mulai mengelus-elus rambut kepala Leon dengan sebelah tangan sedangkan yang satunya lagi ada dalam genggaman Leon yang ia letakkan diatas dadanya.


Sudah tak terhitung lagi berapa kali Leon menghujani tangan Jesselyn dengan ciumannya dan Leon senang Jesselyn tidak menolaknya bahkan Jesselyn senyum-senyum memandangi Leon.


"Apa kakak ngak ngerasa kalau sifat kakak yang seperti ini sanagt bertolak belakang dengan kepribadian kakak?"


"Kenapa? Kamu ngak suka aku yang seperti ini?" ucap Leon yang justru berbalik bertanya.


"Enggak kok kak, cuman kakak ngak malu jadi manja begini, seperti anak kecil."


Jesselyn sedikit khawatir dan ragu-ragu saat ia megucapkan kalimatnya. Ia takut Leon akan tersinggung dirinya dikatain seperti anak kecil.


"Kenapa harus malu, justru dengan begini aku bisa lebih dekat dengan kamu."


Egh...


Leon memiringkan tubuhnya, membuat wajahnya menghadap bagian perut Jesselyn hingga Leon dapat merasakan tarikan nafas gadis itu.


"Geli kak," ucap Jesselyn merasakan terpaan nafas Leon menembus piyamanya, bahkan posisi mereka membuat jantung Jesselyn berdegup kencang sedangkan Leon terlihat begitu damai dan betah dengan posisi mereka.


Tangan Jesselyn tak berhenti membelai rambut tebal Leon, sesekali Jesselyn menyisir rambut Leon dengan menggunakan jari-jarinya.


Dengan mata terpejam Leon merasakan perlakuan Jesselyn padanya begitu tulus dari hatinya. Tidak ada keraguan, paksaan bahkan Jesselyn melakukannya tanpa diminta Leon.


Dirasanya suasana mereka begitu mendukung, Leon meraih sesuatu dari sakunya.


Dengan pasti Leon menyematkan kembali cincin tunangan mereka yang dulu dilepas oleh Jesselyn dan ditaruhnya di dalam wastafel penuh air.


"Aku sayang kamu."


Cup


Leon mengecup dimana posisi cincin itu berada dan mendongakkan wajahnya pada Jesselyn.


"Jangan pernah dilepas lagi, ya?" pinta Leon kembali mencium tangan yang ada di genggamannya.

__ADS_1


Refleks Jesselyn menarik kedua tangannya untuk menutupi wajahnya karena malu. Ia merasa dadanya seolah hampir meledak sangkin senangnya.


Ini bukan kali pertama Leon mengatakan kalimat sayang pada Jesselyn namun malam ini semuanya seakan berbeda dari sebelumnya.


Mungkin karena Jesselyn sudah benar-benar membuka dan menerima Leon dari hatinya sehingga setiap perlakuan Leon dan ucapannya begitu terasa indah dan manis dirasa Jesselyn.


"Jangan ditutup, kalau ditutup aku ngak bisa lihat wajah kamu yang lagi memerah," goda Leon yang semakin membuat Jesselyn menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tangan masih menutup matanya.


Leon menarik tangan Jesselyn dan dilihatnya gadis itu sedang tersenyum menahan sesuatu keluar dari bibirnya yang tertutup rapat.


"Apa disini terasa penuh dan ada yang mau meledak?" tanya Leon tersenyum.


Leon memandang wajah gadis itu dan menunjuk dadanya.


Jesselyn mengganggukkan kepalanya saat telunjuk Leon mengarah pada dadanya.


Leon mengangkat tubuhnya dan berjalan kearah pintu, memastikan keadaan pintu sudah terkunci dari dalam.


Setelahnya Leon masuk ke kamar dan membawa selimut ditangannya.


"Dingin kan?" ucap Leon kembali duduk disamping Jesselyn tentunya dengan posisi yang tak berjarak. Ia menyelimuti tubuh mereka berdua agar terasa lebih hangat. Menyelimuti tubuh mereka hingga hanya memperlihatkan kepala saja.


Hemm...


Jika pada adegan film-film biasanya kebanyakan wanita yang menyandarkan tubuhnya pada sang pria justru sebaliknya dengan mereka berdua. Leon bersandar dan menjatuhkan kepalanya kembali di pundak Jesselyn.


Jesselyn kembali menyalakan televisi agar tidak merasa bosan dan mengalihkan perhatiannya dari Leon.


Tengah asik menyaksikan layar di depannya tiba-tiba Jesselyn merasakan hembusan nafas Leon semakin terasa hangat mengenai telinga hingga lehernya.


Jesselyn memejamkan matanya saat Leon mendekatkan wajahnya.


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir ranum Jesselyn yang hanya di olesi tipis dengan lip gloss merah muda. Leon tersenyum karena sama sekali tidak ada penolakan bahkan gadis itu masih terus menutup matanya.


Sungguh Leon tidak tahan lagi ingin melahap habis bibir yang menjadi candunya itu namun ia sengaja menjedanya ingin melihat bagaimana reaksi Jesselyn selanjutnya.


Jesselyn mengernyitkan wajahnya karena tidak merasakan apa-apa lagi.


Kesal, ia perlahan membuka matanya dan saat sudah terbuka lebar tiba-tiba Jesselyn dikejutkan karena leon tersenyum tepat dihadapnnya.

__ADS_1


"Apa kamu nunggu kelanjutannya?"


__ADS_2