
Jesselyn menyeka bibirnya yang basah akibat ciuman Leon dan mengelap air matanya.
Leon membenarkan posisi duduknya dan menjalankan, membawa mobil kembali ke pesta.
Karena tidak ingin membuat curiga, Jesselyn mengambil lip glos yang ada di tas tangannya dan mengoleskan ke bibirnya agar terlihat seperti semula. Dan itu tidak luput dari perhatian Leon.
"Buat apalagi dipakai?"
"Bukan urusan kak Leon! Nyetir aja yang benar. Dasar jahat!"
Beberapa menit kemudian.
"Dari mana aja sih? Bolak-balik mama telpon bukannya diangkat lagi," membenarkan posisi duduknya dalam mobil.
"Maaf ma, tadi Leon lagi ke kamar kecil."
"Ke kamar kecilnya bawa mobil gitu? Tadi Nadya cariin kamu ke parkiran, dan mobil ngak ada. Kamu pergi kemana?"
Leon terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Tangannya hanya fokus memegang kemudi mobil.
"Sudah ma, jangan marah-marah," menegelus lengan kiri istrinya. "Lain kali kalau kamu ada perlu, harus bilang-bilang dulu, jangan buat mama kamu khawatir."
"Iya pa, maafin Leon."
"Leon sudah minta maaf dan dia baik-baik saja, ma. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi."
"Mamakan khawatir, kirain leon kenapa-kenapa?"
Bagas tersenyum melihat istrinya. Dia dapat merasakan kekhawatiran dari wajah istrinya. Bagaimana tidak, hanya sebentar setelah sampai di pesta Leon langsung tidak kelihatan batang hidungnya. Saat ditelpon juga tidak diangkat, malah saat panggilan terakhir, ponselnya sudah dimatikan.
"Terus kamu kemana? Sekarang kamu ikutan buat tante khawatir!" Lena mangalihkan pandangannya kepada gadis yang duduk disebelah Leon.
"Em...i...itu...tadi Jesselyn..." sedari tadi menundukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. Kedua tangannya saling meremas karena gugup tidak tahu harus memberikan alasan apa.
"Tadi dia ngobrol sama Leo kok, ma. Tadi Leo juga ada di pesta itu dan nyamperin kita berdua," memotong perkataan Jesselyn yang bingung.
"Yang sering nganterin kamu pulang sejak SMA dulu bukan?" tanya Bagas.
"Iya, om." Jawab Jesselyn pelan tanpa sedikitpun bergerak dari posisinya.
"Oh.." Menganggukkan kepalanya. Tadi papa sama Mama juga ketemu dengan mamanya Leo, dia juga nitip pesan buat Jesselyn."
"Wihh, pesan apa pa?" tanya Nadya penasaran.
"Titip salam sama Jesselyn. Katanya Jesselyn itu anak yang baik dan cantik. Cocok jadi calon mantunya, katanya."
De...deg...calon mantu?
Tangan seseorang sedang menggenggam kemudi mobil dengan kuat dan kasar mendengar pesan yang disampaikan kepada Jesselyn.
Saat matanya melirik sekilas kearah sipenerima pesan, dilihatnya sedikit tersipu malu dan senyuman manis terlukis dibibir manisnya namun wajahnya kembali terlihat tegang seperti sejak Lena, Bagas dan Nadya masuk ke mobil tadi.
"Cie...cie... Ada yang dititipin pesan nih dari camer, calon mertua maksudnya," goda Nadya yang begitu antusia mendengarnya.
"Leo sepertinya anak yang baik, dia juga punya jiwa bisnis yang kuat seperti papanya. Papanya sering memuji Leo saat kita sedang ada pertemuan para pengusaha-pengusaha," tutur Bagas.
"Enak banget deh jadi kamu Jes, bisa bayangin ngak kalau kamu jadi istrinya Leo? Suami ganteng, pengusaha, dan baik lagi," puji Nadya.
Menyadari sejak tadi Jesselyn diam saja dan hanya menjawab sekilas pertanyaan suaminya, membuat Lena sedikit heran. Ia melihat Jesselyn hanya memainkan kedua kuku jempolnya yang menunjukkan seperti orang ketakukan.
"Kamu kenapa nak? Kenapa kelihatannya tegang? Kamu sakit?" tanya Lena dengan nada yang lembut.
__ADS_1
"Ngak tante, aku baik-baik aja."
"Baguslah kalau begitu."
Karena sudah malam, Leon langsung membawa mobilnya hingga ke garasi. Setelah tiba, Bagas orang pertama yang turun dari mobil.
"Lain kali jangan bikin khawatir mama kamu, oke?"
"Baik, pa!"
Bagas mendekati Leon dan memperhatikan wajah Leon dari pintu kaca kemudi.
"Itu kenapa?" tanya Bagas menunjuk bibir bagian bawah Leon yang sedikit terluka. Sejak tadi Bagas sudah memperhatikan luka yang ada dibibir Leon.
"Tadi kepentok pintu kamar mandi waktu di pesta, pa."
"Yakin itu baik-baik aja?"
"Yakin, pa!" tanpa melihat papanya yang bertanya.
Bagas tersenyum, ia melangkah masuk kerumah diikuti sang istri.
"Langsung istirahat setelah ini," Lena mengingatkan.
"Iya ma," jawab Nadya yang juga akan keluar dari mobil.
Saat akan melangkahkan kakinya Nadya melihat sebuah benda dan ternyata itu adalah handphone milik Jesselyn yang dilemparkan Leon tadi.
"Ini bukannya punya kamu ya, Jes?"
"I..iya kak, itu punya aku."
"Terjatuh mungkin kak," mengambil benda pipih tersebut dari tangan Nadya.
"Jatuh? Bukannya kamu ada tas tangan? Oh iya, tadi aku juga bolak-balik balik nelpon kamu, kenapa ngak diangkat?"
"Mending sekarang kamu masuk dan istirahat, jangan banyak tanya," timpal Leon.
"Ih, aku kan cuman nanya kak, lagian kenapa kak Leon yang sewot sih?"
"Masuk sana,"
"Iya, iya." Nadya melangkah keluar dari mobil dengan perasaan kesal pada Leon. "Ayo, Jes cepetan keluar, nanti kamu digigit sama kak Leon lagi," ajak Nadya yang kemudian berlari kecil masuk ke rumah.
"Yang ada dia yang gigit gue," jawab Leon dalam hatinya.
Jesselyn membuka pintu mobil, tangannya kemudian ditahan Leon saat akan keluar.
Deg...Deg...Deg....
Detak jantungnya berdegup kencang.
Jesselyn mencoba melepaskan tangannya namun tidak berhasil.
"Jangan salah, aku hanya terbawa suasana tadi. Jangan berpikir yang aneh-aneh apalagi berpikir aku suka sama kamu. Paham?" kata Leon dengan datar dan melepaskan tangan milik Jesselyn kasar.
"Oh, jadi tadi itu semuanya hanya salah paham? Baguslah, jadi aku tahu harus bersikap seperti apa," batinnya.
"Kak Leon jahat!" ucap Jesselyn penuh penekanan.
"Terserah mau bilang aku apa."
__ADS_1
Jesselyn melangkahkan kakinya dan masuk kedalam menuju kamarnya untuk merebahkan tubuhnya.
Keesokan paginya.....
"Pagi semuanya" sapa Nadya sumringah.
"Pagi sayang, ayo sarapan, sudah jam sepuluh."
Pagi ini semua orang dirumah Bagun kesiangan, mungkin karena lelah sehabis pesta semalam. Berhubung juga hari Sabtu, maka mereka bermalas-malasan ditempat tidur.
"Iya, ma." Nadya duduk dan mengambil setengah piring nasi goreng. "Jesselyn kemana belum turun?"
"Sudah, ini aja dia yang masakin," menunjuk nasi goreng yang ada dimeja.
"Tadi dia minta ijin mau ke perpustakaan, makanya dia lagi siap-siap."
"Pergi dengan siapa, ma?" tanya Bagas sambil mengunyah nasi gorengnya.
"Teman kampusnya. Namanya Sinta. Leo juga ikut."
Mendengar nama Leo disebut, Leon meletakkan sendoknya dan meneguk segelas air putih dihadapannya.
"Mau kemana?"
"Ke kamar ma, ngerjain skripsi."
"Tapi kamu masih makan sedikit, nanti ngak fokus buat ngerjain skripsinya?"
"Leon sudah kenyang ma."
"Baiklah, nanti mama bawain coklat panas ke kamar kamu."
"Iya ma, makasih."
Tepat saat akan meninggalkan meja makan, Jesselyn datang menghampiri Bagas dan Len untuk meminta ijin.
"Jesselyn pergi dulu ya om, tante?"
"Hati-hati ya, jangan sanapai kemalaman ya nak?" pesan Lena dan Bagas menganggukakan kepalanya tanda setuju dengan ucapan istrinya.
"Jangan lupa bawa handphone, kalau ada apa-apa biar gampang hubungin kamu."
Dengan cepat Jesselyn berlari kembali ke kamarnya. Ia lupa membawa benda yang dimaksud Lena.
Hahaha...
"Lucu ngak sih kak?"
"Biasa aja," jawab Leon.
Leon menuju kamarnya, dan saat berpapasan dengan Jesselyn ditangga, Leon menggenggam kuat pergelangan tangan Jesselyn.
"Ngak lewat dari jam dua, harus sudah sampai dirumah, paham?" dengan suara pelan namun mengintimidasi.
"Satu lagi, hapus lip glos yang kamu pakai itu!"
Jesselyn tersenyum, ia menarik tangannya dan pergi meninggalkan Leon tanpa merespon perkataannya.
Setelah perpamitan, ia keluar dan tidak butuh lama, Leo sudah datang untuk menjemputnya.
...Hai semuanya, terimakasih ya atas kunjungannya. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya. Terimakasih.......
__ADS_1