Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Bukan Pacaran


__ADS_3

Teriknya ibu kota berganti dengan sejuknya hawa kota Bogor. Kota yang dijuluki dengan kota hujan. Kota yang juga terkenal dengan objek wisatanya.


Pukul lima sore cuaca semakin mendung, menandakan akan turun hujan. Dedaunan berjatuhan dijalan, berserakan dihempas angin.


Benar saja, gerimis halus mulai membasahi jalanan. Gerimis yang diikuti angin kencang begitu terasa menusuk kedalam tulang. Jalanan semakin basah karena yang tadinya hanya gerimis berubah menjadi tetesan-tetesan besar. Jalanan semakin sepi karena para pengendara satu persatu mulai menepikan kendaraan mereka.


"Kita berhenti dulu, kak?" pinta Jesselyn yang tidak melihat tanda-tanda Leon ingin menghentikan motornya meskipun cuaca yang kurang bersahabat.


Leon melirik jam tangannya. Sudah hampir menunjukkan pukul enam sore. Semakin Leon menambah kecepatan motornya, seolah tidak mendengar apa yang dikatakan gadis yang sedang duduk diboncengannya.


Ya, saat ini Jesselyn dan Leon sedang menuju salah satu desa di Bogor, tempat opa dan omanya tinggal. Mereka memilih menetap disana setelah opanya Leon pensiun dari angkatan. Mereka memilih sebuah desa untuk dijadikan tempat mereka menghabiskan dan menikmati masa tua mereka. Jauh dari polusi dan hiruk-pikuk ibu kota.


Menghabiskan masa tua mereka ditempat mereka dulu pertamakali bertemu. Mengelola kebun teh yang juga akan segera diwariskan kepada keturunannya.


Siang tadi Leon mendapat telepon dari papanya untuk langsung datang ke rumah opa di Bogor setelah selesai jam kuliah. Leon yang juga sudah lama tidak berkunjung langsung mengiyakan perintah papanya. Terlebih saat mendengar kabar oma kesayangannya sedang dalam keadaan kurang sehat.


Saat akan berangkat, Leon kembali mendapat telepon dari papanya agar datang bersama dengan Jesselyn, dan itu harus.


Jesselyn yang sama sekali tidak tahu apa-apa hanya menurut saat Leon mengajaknya pergi.


Sungguh gadis itu begitu khawatir saat mengetahui mereka akan pergi menggunakan motor disaat masih ada satu mobil di dalam garasi yang menganggur. Ia juga sempat mengusulkan jika lebih baik membawa mobil karena jarak dan cuaca yang bisa saja kurang baik.


Tentu saja Leon menolak dengan sikap cueknya. Dengan alasan akan lebih menghemat waktu Leon tetap dengan keputusannya menggunakan motor.


Mereka akhirnya berangkat menyusul orang tua mereka yang sudah tiba siang tadi.


***


"Kak, hujannya semakin lebat? Kita istirahat sebentar," pinta Jesselyn lagi berharap agar Leon segera menepikan motornya.


Semakin Leon menambah laju motornya, "satu jam lagi," pikir Leon melirik jam tangannya yang sudah ditutupi tetesan hujan.

__ADS_1


"Kak?" Lagi-lagi gadis itu berkata, akan tetapi lagi-lagi pemuda itu tidak menanggapinya.


"Kak, berhenti kak? Jalanannya basah dan licin. Nanti kita bisa jatuh?" teriak Jesselyn kesal karena sedari tadi diabaikan oleh Leon. Membuatnya kesal dan geram, apalagi tubuhnya semakin kedinginan karena pakaian yang ia gunakan semakin basah ditembus oleh tetesan hujan.


Ingin rasanya Jesselyn memukul kepala Leon karena sangkin kesalnya. Tangannya semakin membeku kedinginan.


Pletak!


Tanpa ia sadari otaknya langsung bekerja mengikuti niatnya. Gadis itu membenturkan kuat helm yang dipakainya ke helm yang dipakai leon. Sontak Leon terkejut dan langsung menghentikan motornya ditengah jalan.


Leon menaikkan helm bagian depannya dan menoleh kebelakang.


"Kenapa berisik amat sih? Bisa tenang ngak? Gue kaget, kalau sampai tadi jatuh gimana? Lo yang buat sebab tapi gue yang bakalan dapat masalah." Suara bentakan Leon begitu menyayat hati Jesselyn. Bukan hanya karena suaranya yang keras, namun karena kata 'lo-gue' yang digunakan Leon tadi.


Jesselyn yang juga bertambah kesal membuka penutup matanya itu dengan mata berkaca-kaca, "makanya kalau kakak ngak mau dapat masalah, kita istirahat sebentar. Hujannya semakin lebat, jalanan semakin licin, kalau kenapa-kenapa gimana?"


Leon berpikir sejanak. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar, namun tujuan mereka tidak sampai satu jam lagi.


Leon memperhatikan Jesselyn gemetaran karena menahan dingin akibat guyuran hujan yang semakin bertambah lebat.


Kembali Leon melajukan sepeda motornya. Matanya celingak-celinguk ke kiri dan kanan seperti sedang mencari sesuatu.


Sepuluh menit kemudian Leon berhenti di depan sebuah penginapan. Ia berencana akan beristirahat sebentar di warung depan penginapan tersebut sambil menunggu hujan reda.


Leon memasuki area parkiran untuk memarkirkan motornya. Melepas helm dikepalanya dan berjalan menuju warung yang hanya terdapat seorang pemuda di dalamnya. Jesselyn hanya mengikuti kemana Leon pergi tanpa bicara.


"Masuk mas," pemuda itu mempersilahkan Leon agar masuk kedalam. Leon masuk kedalam warung tersebut, matanya meneliti setiap sudut dan duduk menghadap jalanan. Jesselyn yang sedari tadi mengekorinya juga masuk dan duduk namun tidak berdekatan dengan Leon.


"Mau pesan teh hangat, mas?" sipemuda itu menawarkan. "Cuaca begini enaknya yang hangat-hangat, mas!" kembali pemuda itu berkata kepada Leon dengan senyuman ramah.


"Boleh, mas." Kata Leon menyetujui usul pemuda itu.

__ADS_1


"Kak, aku pesan teh jahenya, ya?" ucap Jesselyn. Secara bersamaan sipemuda itu dan Leon menoleh kearah Jesselyn.


Pemuda itu tersenyum melihat Jesselyn mengusap-usap kedua tangannya karena menggigil kedinginan.


"Sebentar ya," kata sipemuda itu ramah.


Tidak lama kemudian pemuda itu datang dengan sebuah nampan ditangannya.


"Teh hangatnya, mas." Meletakkan pesanan Leon diatas meja di depannya.


Pemuda itu menghampiri Jesselyn untuk mengantar pesanannya. Meletakkan teh jahe hangat di atas meja. "Silahkan," kata pemuda itu dengan senyum yang melekat diwajahnya.


"Makasih, kak." Menganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat pesanannya yang sudah tiba.


"Dingin?" tanya sipemuda tersebut. Meletakkan nampan ditangannya dan duduk disebelah Jesselyn namun tidak terlalu dekat.


Jesselyn hanya tersenyum menanggapi pertanyaan pemuda itu dan mengaduk isi gelas di depannya.


"Kenapa duduknya jauh-jauhan? Lagi berantem sama pacarnya?" tanya pemuda itu ingin tahu.


"Uhuk..uhuk..," Jesselyn terkejut mendengar yang baru dikatakan pemuda itu.Teh jahe yang diminumnya dengan sendok pun muncrat mengenai wajah pemuda yang terbilang tampan itu.


"Maaf kak, ngak sengaja." Jesselyn merasa tak enak hati dengan yang baru saja terjadi.


"Hahaha...," pemuda itu justru tertawa mendapati respon gadis yang duduk disebelahnya. "Ngak papa, lagian aku yang salah. Sok pengen tahu aku, ya?"


"Maaf kak? Tapi kita memang bukan pacaran," memberitahu pemuda itu apa adanya.


"Oh, ya?" tak yakin apa yang dikatakan gadis itu. Pemuda itu melirik Leon, ia tahu jika Leon sedari tadi mendengar apa yang mereka bicarakan.


Leon menghabiskan teh hangatnya dan berdiri menghampiri pemuda itu.

__ADS_1


"Ini mas," memberikan selembar uang lima puluh ribu. "Ayo!" kata Leon menarik tangan Jesselyn keluar dari warung tersebut.


...Terimakasih semuanya masih setia bersama saya dicerita ini. ❤️❤️❤️❤️ jangan lupa jempol dan komennya kakak-kakak readers.....


__ADS_2