
...**Karena egoku banyak hal yang terlewatkan...
...olehku. Jika bukan karena egoku bahagia itu...
...dapat kurasakan lebih awal. Akan tetapi tidak...
...untuk kali ini karena sebisa mungkin kan...
...kujaga dan takkan kulepas yang menjadi...
...bahagiaku itu**....
...~ Leon ~...
Setelah pergelutan panjang akhirnya Jesselyn
melingkarkan kedua tangannya diperut Leon. Bolak-balik Leon menundukkan kepala melihat tangan yang melingkar ditubuhnya itu.
Leon menambah kecepatan motornya usai membelah kemacetan ibu kota. Laju motor yang cukup cepat membuat Jesselyn semakin mengeratkan lingkaran tangannya yang justru semakin membuat Leon merasa senang.
Brummmm....
Leon langsung memasukkan sepeda mototnya ke dalam garasi setibanya mereka dirumah. Jesselyn yang belum terbiasa akan kedekatannya dengan Leon membuatnya gugup hingga ia kesusahan membuka helm dikepalanya.
"Sini" ucap Leon menarik Jesselyn mendekat padanya. Leon membantu melepaskan helm yang dipakainya. "Hufff.…" wajah Jesselyn tersipu merasakan hembusan nafas Leon diwajahnya. Aroma mint yang begitu kentara dan sangat menyegarkan saat dihirup.
"Aku masuk dulu kak," ucap Jesselyn yang langsung berlari ke kamarnya.
Ia menutup dan mengunci pintu kamarnya agar tidak ada orang yang tiba-tiba masuk. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu dan meletakkan telapak tangannya diatas dada.
Dug-dug-dug
Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang. Jesselyn melempar tasnya keatas ranjang dan menelungkupkan wajahnya pada bantal.
"Lama-lama kak Leon bisa bunuh aku kalau seperti ini terus," ucap Jesselyn pada dirinya sendiri.
Ia berjalan menghadap cermin besar dikamarnya, berdiri memandangi dirinya tersenyum. Jesselyn menempelkan kedua telapak tangannya dipipi dan menepuk-nepuk pipinya pelan.
Tok - Tok - Tok
Seseorang mengetuk pelan pintu kamar gadis yang tengah memandangi dirinya di depan cermin. Jesselyn menoleh kearah pintu dan langusng berjalan untuk membukanya.
Ceklek
Jesselyn terkejut melihat Leon berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa kak?" tanya Jesselyn yang hanya membuka sedikit pintu kamarnya. Ia takut jika Leon akan menerobos masuk kedalam kamarnya dan melakukan hal gila lagi pada dirinya.
"Kamu sudah minum obat?" tanya Leon mengingatkan gadisnya.
"Sudah kak. Setelah makan siang di kampus aku langsung meminumnya karena obatnya sengaja aku bawa," ucap Jesselyn dan mendapat anggukan kepala dari Leon.
"Apa aku sudah seperti pencuri?"
Leon memperhatikan kaki Jesselyn yang sepertinya sengaja di taruh dicelah pintu yang terbuka.
Jesselyn mengikuti arah perhatian mata Leon. Dengan cepat ia menarik kakinya yang menghalangi pintu.
"Istirahatlah" Leon mengangkat sebelah tangannya dan mengusap pucuk kepala Jesselyn."
Seakan menurut pada perkataan Leon, Jesselyn langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan tak butuh waktu lama baginya untuk tertidur.
__ADS_1
****
Tok - Tok - Tok
Leon mengetuk pintu kamar mamanya.
"Ma?" panggil Leon pelan agar tidak mengagetkan mamanya karena ia tahu mamanya gampang kaget pengaruh jantungnya yang tidak stabil. "Leon boleh masuk ya, ma?" ucap Leon meminta izin.
"Masuk aja, pintunya nggak mama kunci," sahut Lena dari dalam.
Setelah mendapat izin Leon masuk dan mendekati mamanya yang sedang merapikan pakaian dilemari.
"Tumben? Ada yang mau diomongin sama mama?" melirik sekilas anak lajangnya itu.
Leon tiba-tiba memeluk dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Lena dari belakang. Meletakkan dagunya diatas pundak wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Ma" ucap Leon lembut.
Lena tersenyum akan tingkah anaknya itu. Ia sudah paham jika leon berbuat seperti itu tandanya ia ingin mengatakan sesuatu pada mamanya.
Meskipun terlihat cuek, dingin dan ketus diluar namun sesungguhnya Leon memiliki rasa sayang yang begitu besar. Hanya saja Leon bukan tipe orang yang dengan mudah menunjukkan rasa sayangnya.
"Em, kenapa?" mengelus-elus lengan Leon.
"Leon ajak dia keluar malam ini ya, ma?"
"Memangnya kamu mau ajak dia kemana?" tanya Lena ingin tahu. "Setiap hari ketemu dirumah belum cukup?" goda Lena.
Leon tersenyum mendengar perkataan mamanya dan menggelengkan kepala.
"Pergi jam berapa? Terus kamu sudah bilang ke dia?" tanya Lena lebih lanjut.
"Sudah" jawab Leon berbohong. "Perginya jam tujuh malam, ma."
"Iya, ma. Makasih ya ma."
Leon mencium pipi dan melepaskan tangannya dari leher mamanya. Ia senang karena mamanya mengerti isi hatinya.
"Pulangnya jangan kemalaman ya, nak?" ucap Lena saat Leon melangkah keluar dari kamarnya.
"Ngak janji, ma!"
Leon melongos pergi meninggalkan mamanya.
****
Nadya tidak melepas pandangannya pada Leon yang asik dengan layar televisi diruang tamu. Perbedaan begitu jelas terlihat diwajah Leon.
Leon meraih toples diatas meja, mengambil satu kacang telor dari dalam dan melemparnya pada Nadya.
Tok
"Apaan sih, kak?" kaget merasakan sesuatu mengenai dahinya. Itu buat dicemilin bukan buat dilempar-lempar," gerutu Nadya mengelus dahinya.
"Terus kenapa lihatnya begitu?" tanya Leon balik.
"Namanya juga mata, suka-suka dia mau lihat kemana."
"Kalau gitu suka-suka tangan aku juga dong mau lempar siapa dan dengan apa lemparnya," cerocos Leon.
Keduanya kembali sibuk pada kegiatan masing-masing. Leon fokus pada layar di depannya sedangkan Nadya sibuk mengotak-atik layar ponselnya.
__ADS_1
"Rasanya gimana tunangan sama dia?" tanya Nadya karena penasaran.
"Lembut, manis dan buat nagih pastinya!" jawab Leon semangat.
Nadya mengerutkan keningnya karena tidak mengerti. "Emang makanan sampai buat nangih?" ucap Nadya asal.
"Bukannya kak Leon ngak suka sama dia?"
"Kamu pikir aku mau tunangan sama orang yang aku ngak suka?" ucap Leon menjawab pertanyaan Nadya.
"Berarti kalian bertepuk sebelah tangan dong kak?"
"Maksud kamu?" Leon berubah menjadi kesal karen pertanyaan Nadya. Matanya melotot melihat kearah Nadya.
Tatapan tajam Leon sama sekali tidak membuat Nadya ketakutan. Ia justru senang karena berhasil mengerjai Leon dan semakin ingin lagi.
"Benar dong kak, emang dia suka sama kakak?"
Leon semakin kesal karena apa yang dikatakan Nadya tidak seratus persen salah. Ia memang sudah mengatakan isi hatinya pada Jesselyn namun gadis itu belum mengatakan apapun.
"Dia suka kok, sayang malah."
Leon begitu percaya diri mengatakannya walaupun sejujurnya ia ragu.
Nadya mengangguk-anggukan kepalanya namun ia tahu jika kakaknya sedang berbohong.
"Kalau gitu kasihan banget si Leo, padahal aku yakin mereka berdua itu sebenarnya saling suka."
Puk
Leon melempar bantal kecil ditangannya mengenai wajah Nadya.
Leon menunjuk wajah Nadya dengan kesal dan pergi ke kamarnya.
"Hahaha..." Nadya tertawa terbahak-bahak melihat raut kesal diwajah Leon. Ia puas mengerjai kakaknya itu. Iya yakin jika Leon sudah mengumpatinya habis-habisan dalam hati.
****
Seperti sore biasanya, Jesselyn membantu tantenya di dapur untuk menyiapkan makan malam. Tangannya begitu lihai dan cekatan menggunakan pisau dan alat-alat masak lainnya. Sebenarnya ia memiliki bakat dalam hal memasak dan ia sangat mensyukurinya.
Lena melihat kearah jam dinding dan sudah menunjukkan pukul enam sore sedangkan Jesselyn masih sibuk di sampingnya.
"Kamu mandi dan dandan yang cantik sana," ucap Lena mengambil alih sendok goreng dari tangan Jesselyn.
"Tapi Jesselyn belum selesai tante."
"Biar tante aja yang lanjut. Cepat sana! Ingat, yang cantik. Oke?"
Saat berjalan ke kamar Jesselyn berpapasan dengan Leon di tangga. Leon menghentikan langkahnya, "satu jam lagi kita pergi dan aku tunggu dimobil nanti," ucap Leon dan melanjutkan langkahnya.
like
coment
vote
gift
tekan love
apa aja deh🤭🤭
__ADS_1
Terimakasih 🙏❤️