
Kurang dari sepuluh menit mereka sudah tiba di kampus. Dengan gerakan cepat Leon menarik lengan sang gadis hingga dada mereka saling baku hantam.
Jesselyn menarik tubuhnya menjauh karena merasakan sakit pada dadanya namun sigap Leon menarik pinggang gadis itu lagi hingga menempel padanya. Kembali kedua bola mata mereka bertemu dan saling memandang.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
"Haissss... Sakit kak!"
Jesselyn meringingis bahkan mendesis kesakitan saat dua jari Leon mencubit perut Jesselyn dekat pusarnya. Meskipun Leon tidak melakukannya dengan kuat namun rasa sakit masih dapat dirasakan gadis itu.
Jesselyn memicingkan matanya dengan sebelah tangannya menahan tangan Leon yang mencubitnya.
"Bukannya seperti ini yang tadi kamu lakukan padaku?" ucap Leon mengingatkan Jesselyn akan yang sudah ia lakukan saat berada di motor tadi. "Sudah, masuk sana!" melepas Jesselyn dan langsung melajukan motornya ketempat kerja tanpa memberi kesempatan bagi Jesselyn berbicara.
Gadis itu terperangah melihat Leon yang tidak merasa bersalah akan kelakuaknnya dan meninggalkannya begitu saja.
"Dasar gila!" sungut Jesselyn dengan wajah cemberutnya.
Sungguh Jesselyn mengumpati Leon dalam hatinya. Sesuatu yang hanya bisa ia katakan dalam hatinya karena ia tidak ada keberanian untuk mengatakannya langsung di depan orangnya.
Ia berjalan menuju ruangannya dengan sebelah tangan mengelus-elus bagian perut bekas cubitan Leon.
Setibanya diruang, Jesselyn sudah mendapati Sinta duduk manis dikursinya bersama dengan seorang pemuda yang sudah tak asing baginya.
Matanya membulat sempurna saat sipemuda dengan wajah yang dibuat sok imut menciumi tangan temannya itu sedangkan sigadis yang mendapat perlakuan itu tersenyum malu-malu dengan kepala yang menunduk.
Ekhem...
Jesselyn berdehem memasuki ruangan menghancurkan suasana romantis kedua sejoli yang sepertinya sedang ditaburi bunga-bunga dihati mereka.
"Jesselyn? Ka-kamu tumben sudah nyampe jam segini?" Sinta yang kaget langsung menarik tangannya sedangkan sipemuda terlihat begitu santai.
"Sejak kapan?" tanya Jesselyn melihat keduanya secara bergantian. "Bukannya selama ini kalian itu ngak pernah akur?"
"Bukannya kalian berdua juga seperti itu?" tanya pemuda itu berbalik dengan senyum seolah menggoda.
"Maksud kak Adit?"
"Hmmm... Ternyata benar apa yang Leon bilang selama ini. Ternyata kamu memang masih kecil," ucap Leon kembali sembari tersenyum meraih tangan Sinta dan mengecupnya.
"Kak Adit? Sinta? Kalian ngak lihat kalau ada aku disini, ha?" teriak Jesselyn kesal karena tanpa risih dan malu-malu keduanya kembali saling memandang dan melempar senyuman. Kedua tangan mereka juga saling menggenggam erat diikuti ciuman bertubi-tubi dari si pemuda.
"Aku kerja dulu ya, nanti aku telpon kamu." Adit melepaskan genggaman tangan meraka.
"Hati-hati kak," ucap Sinta mengingatkan pemuda yang pagi ini sudah resmi menjadi kekasihnya.
Cup
Adit mengecup pipi Sinta dengan malu-malu, sigadis pun membalasnya ditempat yang sama pada wajah sang kekasih.
"Yaaaaa.....!"(Teriak ala-ala cewek dalam drama Korea).
Teriak Jesselyn pada keduanya.
__ADS_1
Adit langsung berlari dengan tawanya meniggalkan kedua gadis itu.
*******
Diruang kerjanya Leon begitu serius menatap layar komputer dihadapannya. Tangannya kanannya tak berhenti bergerak diatas mouse yang berkedip-kedip merah. Begitu teliti ia memperhatikan setiap detail design rumah berlantai dua yang baru selesai ia gambar.
Leon menopang dagunya dengan tangan kiri dan sambil menggigit-gigit kuku jempolnya, hal yang selalu Leon lakukan dikala ia sedang serius.
"Designnya keren, Yon!" puji Adit melihat apa yang sedang diperhatikan Leon. Adit menggeser kursinya agar lebih dekat pada Leon.
Leon tidak menggubris pujian Adit karena konsentrasinya penuh pada layar di depan.
Ting
Sebuah pesan masuk ke ponsel Adit dan langsung dibaca siempunya ponsel.
Ting
Ting
Ting
Pesan masuk bertubi-tubi Adit terima dan tak lain sipengirim adalah Sinta sang kekasih hati.
Senyum-senyum ia membaca isi pesan yang masuk hingga tak sadar sesekali mengeluarkan tawanya.
"Lo bisa diam ngak? Berisik!" ucap Leon menatap tajam pada Adit.
"Sensi amat Lo, bro. Kagak bisa lihat apa kalau gue lagi senang?" jawab Adit mencebikkan bibirnya.
"Lo sepertinya ngak dapat jatah penyemangat dari doi pagi ini makanya sensi banget, iyakan?" ledek Adit memancing emosi Leon dan sengaja ia melakukannya. "Kalau gue sih dapet, Yon. Ada ditangan dan pipi," lanjut Leon mengingat kembali kebersamaannya dengan Sinta pagi ini.
Tok
Sentilan sebuah pena tepat mengenai jidat Adit membuat siempunya refleks mengelus bagian yang sakit dan sipelaku menatapnya semakin horor.
Hahaha...
Bukannya marah Adit justru semakin tertawa karena berhasil membuat sahabatnya itu kesal sekaligus iri.
****
Disalah satu restoran dua wanita berbeda usia sedang menikmati makan siang mereka. Sesekali wanita paruh baya itu memberi suapan pada gadis di depannya. Keduanya begitu senang menghabiskan waktu berdua bersama.
"Jesselyn boleh pesan ini lagi, tante?" tanya Jesselyn menyimpulkan senyuman memperlihatkan deretan putih rapih giginya. Ia menunjuk salah satu gambar pada menu yang dipegangnya.
Lena tersenyum mendengar permintaan gadis itu dan tentu saja ia memperbolehkannya.
"Boleh" jawab Lena menganggukkan kepalanya. "Ada yang lain lagi?"
"Cukup tante," ucap Jesselyn. Dengan sopan ia langsung memanggil salah satu pelayan dan memesan menu yang ia inginkan tadi.
Tak sampai sepuluh menit pesanannya sudah datang dan tersaji di hadapannya. Matanya berbinar menatapnya dan tak sabar untuk memasukkannya ke dalam mulut.
"Tante mau?" tawar Jesselyn pada Lena. "Kita bagi dua, tante."
"Buat kamu aja, sayang. Gigi Tante ngilu makan begituan," jawab Lena menolak tawaran Jesselyn.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Jesselyn langsung mulai melahap es krim vanila dengan taburan almond diatasnya. Suapan demi suapan melesat tanpa hambatan kemulutnya memberikan sensasi segar dan menyenangkan hingga tenggorokan.
Melihat Jesselyn begitu menikmati es krimnya iseng ia menghubungi Leon lewat sambungan video call dan mematikan suaranya agar tidak diketahui oleh sang gadis.
Tak lama Leon langsung mengangkat sambungan video call itu, berpikir ada sesuatu yang perlu hingga mamanya menghubunginya saat lagi kerja.
Bukan wajah mamanya yang ia lihat melainkan wajah gadis yang belakangan ini selalu memporak-porandakan hati dan pikirannya.
Senyum terukir diwajah Leon menyaksikan pemandangan indah meskipun melalui ponsel. Wajah Jesselyn terlihat begitu menggemaskan menikmati makanan dingin itu. Sesendok besar dan penuh lolos menerobos mulutnya yang mungil. Jejak-jejak es krim begitu jelas terlihat oleh Leon disekitar bibir gadis itu.
Glek
Tak sadar Leon menelan liurnya melihat bibir merah muda di ponselnya itu.
Jesselyn menjilati bibirnya bahkan menyapunya dengan lidah seolah tak rela jika tisu yang akan membersihkannya.
Glek
Kembali Leon menelan liurnya hingga jakunnya terlihat naik- turun. Leon mencecap bibirnya seakan ikut menikmati apa yang kini dinikmati dan dilakukan Jesselyn.
Klung
Sambungan video call diputus oleh Leon. Tak kuat ia menyaksikannya lagi.
Leon berlari ke pantry karena merasa kini tenggorokannya begitu kering.
Gluk... Gluk... Gluk...
Segelas air putih tandas begitu cepat oleh Leon. Ternyata itu masih kurang ia kembali mengisi gelasnya dan meneguknya habis.
Leon kembali keruangannya sambil memukul-mukul pelan bagian depan kepalanya. Ia kembali duduk di kursinya namun bayangan gadis itu kembali menguasai pikirannya.
"Arghhhh... Mama!" gerutu Leon mengacak rambutnya.
Takut serigala disampingnya marah, Adit hanya melihat Leon dengan tatapan aneh tanpa mengatakan apapun apalagi untuk bertanya.
Lena mengerutkan keningnya saat menyadari bahwa panggilan video call itu sudah berakhir. "Lagi sibuk sepertinya!" pikir Lena. Ia kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.
Lena meraih sebelah tangan Jesselyn dan mengusapnya lembut sedangkan yang sebelah lagi masih setia memegang sendok es krim.
"Jesselyn sayang, tante bisa minta tolong sesuatu dari kamu?" tanya Lena begitu serius.
Deg
Jesselyn mengatupkan mulutnya dengan sendok berada ditengah-tengah bibirnya.
"To-tolong apa, tante?" tanya Jesselyn sambil menarik sendok dari bibirnya dan mencecap.
hei....hei...hei....👋👋
makasih sudah mampir buat baca cerita ini🙏
jangan lupa kasih like dan komentarnya☺️
Terimakasih 🙏 terimakasih 🙏
❤️ U ALL
__ADS_1