Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Hampir Saja


__ADS_3

Sudah beberapa bulan lebih Jesselyn tinggal ditempat barunya dan kembali ke rumah om Bagas setiap akhir pekan. Tak ada banyak kendala yang dihadapinya karena sudah terbiasa mandiri saat tinggal berdua bersama ibunya di kampung. Terkadang Sinta yang merupakan teman terdekatnya dikampus tak jarang bermain ke kontrakannya dan menginap disana.


Pak Asep yang juga merupakan kepercayaan keluarga Bagas disana akan selalu siap membantunya jika ada yang diperlukannya. Pak Asep dan istrinya setiap hari mengantarkan makanan untuknya dengan dalih mereka memasak lebih, padahal itu hanya alasan saja karena Lena diam-diam memita istri pak Asep yang memasak untuk Jesselyn karena ia tahu bagaimana kehidupan anak kos-kosan.


Permintaan Lena disambut baik oleh pak Asep dan istrinya karena dengan begitu uang belanja yang tadinya mereka keluarkan diganti oleh Lena.


Awalnya saat baru memutuskan akan tinggal sendiri Jesselyn khawatir akan kebutuhannya sehari-hari namun justru sebaliknya, setiap minggu ia akan selalu mendapati uang kalau tidak di dalam dompetnya, dalam tas ataupun dalam binder miliknya.


Uang itu selalu ia kumpulkan dan pergunakan dengan baik. Sungguh dia penasaran siapa yang selalu memberikan uang tersebut.


Tidak hanya sekali atau dua kali ia bertanya pada Leon namun Leon selalu menyangkalnya dan mengatakan bukan dia orangnya dan tidak tahu menahu mengenai hal itu. Bahkan Leon menjawab dengan mengatakan jika mungkin ada tuyul baik hati yang menaruhnya disana.


Tanpa Jesselyn ketahui Leon juga meminta papa dan mamanya berhenti memberi ataupun mentransfer uang untuk gadis itu. Leon ingin mulai belajar bertanggung jawab untuk gadis yang akan menjadi masa depannya.


Bagas dan Lena menyetujui pola pikir yang dimiliki oleh putra mereka dan mendukung apapun yang Leon lakukan asalkan untuk hal yang baik. Lena juga berpikir dengan hal ini keduanya akan menjadi lebih dekat lagi seperti sebelumnya karena segala urusan yang berhubungan dengan gadis itu di handle oleh Leon.


"Em... Kalau Jesselyn minta uang boleh ngak tante?" ragu-ragu gadis itu menyampaikan keinginannya. "Uang Jesselyn ngak cukup buat bayar uang ujian semester ini," lanjutnya agar Lena tahu tujuan ia meminta uang untuk apa.


"Maaf sayang bukannya tante ngak mau ngasih tapi lebih baik kamu minta sama kak Leon aja ya," jawab Lena tak enak karena harus menolak permintaan Jesselyn yang sebenarnya ia dapat berikan saat itu juga.


"Iya, kamu minta sama kakak kamu aja," timpal Bagas melirik gadis itu sekilas dengan kacamata kudanya sembari jemarinya tak berhenti menari-nari diatas laptop di pangkuannya.


Jesselyn mematung mendengar perkataan suami-istri itu. Jawaban keduanya berbanding terbalik dengan yang selama ini ia terima karena setiap kali Jesselyn membutuhkan sesuatu baik berupa uang mereka akan langsung memberikannya dan memberi lebih dari yang ia butuhkan.


"Jesselyn, are you okay?" tanya Bagas mengembalikan kesadaran gadis itu.


"Ha? Oh, Jesselyn baik-baik aja, om."


Usai mengatakan keinginannya Jesselyn masih menemani Lena menonton FTV yang mengurai air mata dan emosi para emak-emak saat menontonnya.


Melihat Jesselyn yang grasak-grusuk bak cacing kepanasan Lena menyuruhnya untuk kembali ke kamarnya karena besok adalah hari senin dan ia akan kembali ke kontrakannya dahulu sebelum pergi ke kampus sedangkan Nadya sudah kembali sore tadi.


Tok... Tok... Tok...


Jesselyn mengetuk pintu kamar Leon sebelum ia masuk ke kamarnya.


"Jesselyn bisa masuk ngak kak?" tanya Jesselyn meminta izin pemilik kamar.

__ADS_1


Sayup-sayup Leon mendengar suara seseorang dari luar. Ia yang hampir terlelap langsung mengangkat tubuhnya dan membuka pintu kamarnya.


Ceklek


Leon membuka pintu kamarnya dan kembali bersatu dengan selimut dan bantal diatas ranjang. Ia menelungkupkan tubuhnya dengan setengah kakinya mengambang karena tidak naik keatas ranjang.


Dengan hati-hati Jesselyn memasuki kamar yang baru beberapa kali ia masuki.


Hakh..!


Jesselyn menutup matanya dengan kedua tangannya. Bagaimana tidak, tubuh yang telungkup itu hanya mengenakan celana pendek putih yang hanya menutup hingga setengah paha saja sedangkan bagian atas tubuhnya tanpa sehelai benang pun.


"Kak, Jesselyn ada perlu dan mau ngomong sebentar," ucap Jesselyn begitu cepat. Ia mengintip pergerakan tubuh Leon dengan merenggangkan sedikit jari-jarinya.


"Hem... Ada apa?" sahut Leon tak jelas karena mulutnya menempel pada bantal.


Leon mengangkat sedikit kepalanya melihat jam weker diatas meja disamping tempat tidurnya dan kembali menelungkupkan wajahnya.


Pukul sebelas malam, itulah yang ditunjukkan jam weker warna kuning berbentuk Pikachu.


Jesselyn menggigit bibirnya sambil memainkan kedua jari jempol dan telunjuknya.


"Disana" tunjuk Leon pada dompet dekat jam weker. "Ambil sendiri aku ngantuk," ucap Leon masih dengan suara tak jelas namun dapat dimengerti oleh Jesselyn.


"Tapi...."


Baru saja gadis itu ingin berkata lagi namun deru nafas teratur Leon mengurungkan niatnya.


Jesselyn menggaruk keningnya dan tak sadar kini kedua matanya meneliti bagian atas hingga bawah tubuh pemuda yang terlelap itu. Entah apa yang dipikirkan gadis itu hingga ia menepuk-nepuk kedua pipinya.


Mata Jesselyn kemudian beralih pada dompet di atas meja. Ragu-ragu ia meraih dan membukanya.


Jesselyn mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya cemberut. Hanya ada dua lembar uang seratus ribu dan selembar uang lima puluh ribu didalamnya.


Ck


Jesselyn berdecak kesal sembari melihat pada Leon yang sudah tidur nyenyak.

__ADS_1


"Apa yang mau diambil," ucap Jesselyn meneliti semua isi dompet. Ia meletakkan kembali dompet itu tanpa mengambil selembar pun.


Gadis itu ingin melangkah keluar namun kakinya malah bertolak belakang. Jesselyn berjongkok dilantai tersenyum memandangi wajah pria dihadapannya. Ia mengangkat telunjuknya dan menunjuk-nunjuk pipi Leon beberapa kali.


Tangannya tanpa sadar mendarat dikepala Leon. Masih dengan senyum diwajahnya Jesselyn membelai rambut Leon dengan pelan agar siempunya tidak terjaga. Jesselyn menggigit-gigit kuku telunjuk tangannya yang satu lagi.


"Nice dream, kak!" bisik Jesselyn pelan disela-sela belaiannya.


Egghhh...


Leon melenguh membalikkan badannya. Saat ini wajahnya tepat berada di depan wajah gadisnya.


Jesselyn kaget, bokongnya mendarat sempurna di lantai bahkan ia hampir terjungkal kebelakang.


Buru-buru Jesselyn berdiri dan keluar dari kamar Leon. Ia takut Leon terbangun dan mendapati dirinya sedang memandanginya.


"Huff...!" Jesselyn meletakkan telapak tangannya di dada. "Hampir saja!"


Jesselyn membungkus tubuhnya dengan selimut sedangkan kakinya meronta-ronta didalamnya.


Setelah mendengar suara pintu kamarnya tertutup Leon membuka matanya dan duduk diatas ranjang. Tak lama kemudian ia merebahkan kembali tubuhnya.


"Nice dream too my love."


Leon menutup matanya sambil tersenyum.


*******


Pagi-pagi sekali Jesselyn sudah selesai berperang didapur dan langsung bersiap pergi ke kampus. Takut terlambat ia memutuskan akan langsung berangkat ke kampus.


Tepat saat Jesselyn menutup pintu kamarnya Leon sudah berdiri di depan pintu kamarnya sendiri namun kali ini sudah ada kaos putih yang menempel pada tubuhnya.


Hoam...


Leon menggaruk kepalanya sembari menguap lebar.


"Tunggu aku dibawah," perintah Leon menempelkan telunjuknya dikening Jesselyn turun hingga kehidungnya.

__ADS_1


__ADS_2