Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Foto Prewedding


__ADS_3

Chiiittttt...


"Apa? Kamu bilang apa barusan?" tanya Leon usai menginjak rem dan menepikan mobilnya. "Bisa ulangi lagi, aku ngak jelas dengarnya tadi," pinta Leon berbohong karena apa yang diucapkan Jesselyn begitu jelas di pendengarannya.


"Kak Leon sayang," ucap Jesselyn mengulangi kalimatnya.


"Jadi sekarang kamu ngerayu aku dengan kata sayang, hem?"


"Maafin Jesselyn ya, kak?"


"Baiklah-baik, aku maafin tapi ulang lagi tanpa ada 'kak Leon' nya. Ayo," pinta Leon yang sudah mengelus-elus pipi Jesselyn.


Jesselyn merutuki kebodohannya karena sudah menggunakan kata sayang. Ia merasa begitu geli setiap akan mengucapkannya namun apa boleh buat, ia akan melakukannya lagi asalkan Leon tidak marah dan mendiaminya.


"Saayanggg..."


Suara lembut Jesselyn begitu menyentuh hingga terasa ke hati. Leon tersenyum puas dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Ayo lagi," pinta Leon agar Jesselyn kembali mengulangnya sambil terus mengelus-elus pipi gadis itu.


"Saayanggg..." ucap Jesselyn menuruti permintaan Leon.


"Lagi"


Sekali lagi Leon meminta Jesselyn mengulanginya.


Jesselyn sedikit gugup karena merasakan hembusan nafas Leon yang sedikit memanas dan semakin memburu, belum lagi tangan yang tadinya mengelus-elus pipinya sudah beralih pada bibirnya.


"Please," ucap Leon dengan suara yang terdengar semakin berat diikuti jempol yang tak berhenti bekerja pada bibir Jesselyn.


"Saayanggg, kita pulang yok?" ucap Jesselyn agar Leon tidak menggila di dalam mobil.


"I like your lips, kakak boleh cium?" bisik Leon ditelinga gadis itu.


Jangan tanyakan bagaimana denyut jantung Jesselyn saat ini. Jantungnya berdegup kencang tak karuan dan tak tahu harus menjawab apa. Jesselyn takut Leon marah jika ia menolak sedangkan jika diizinkan ia takut juga jika seandainya Leon menggila.


"Kita pu..."


Jesselyn bergidik, tubuhnya berdesir.


"Egh.... Kak, jangan seperti ini," Jesselyn melenguh saat sesuatu yang lembut dan basah bergerilya di daun telinganya. "Kita pulang ya," pinta Jesselyn lembut mendorong bahu Leon.


"No"


"Egh... Kak," Jesselyn berusaha mengontrol dirinya yang kian menegang kala tangan Leon menggerayangi punggungnya.


"Please? Aku janji ngak akan melewati batas," suara yang berat itu mengiba.


"Tapi kak...emmm..."


Tak sabar lagi Leon langsung menyambar bibir ranum yang ia yakin hanya dialah yang pernah singgah disana.


"Come on, jangan diam aja sayang."


Leon berharap dan menanti gadis itu melakukan seperti yang ia lakukan sebelumnya saat berada di rumah oma.

__ADS_1


Tanpa sadar dan mungkin karena terbawa suasana Jesselyn melakukan apa yang dinantikan oleh Leon.


Keduanya terbuai dalam ciuman yang tadinya begitu lembut hingga sampai ciuman yang menuntut. Leon melahap semua bibir gadisnya, tak membiarkan sesentipun terlewatkan.


Leon sempat menggunakan lidahnya saat berciuman dan menyentuh bagian yang sama dengan milik Jesselyn namun dengan sigap gadis itu menggelengkan kepalanya.


Karena geram dan gemas tidak diberi izin, Leon menyesap kuat bibir bawah Jesselyn, kemudian mengigit dan menariknya pelan menggunakan giginya.


Arghhhh...


Hisss....


Bukan Jesselyn namun Leonlah yang mengerang karena sebelum ia melepas bibir Jesselyn, tangan gadis itu tanpa sadar meremass ************ Leon menahan sakit pada bibirnya.


Buru-buru Leon melepas jaketnya dan meletakkannya diatas pangkuannya.


"Maaf kak, aku ngak sengaja. Makanya jangan nakal seperti tadi."


"Kamu diam dulu," ucap Leon dan suaranya terdengar semakin berat.


Ia menjatuhkan kepalanya pada setir mobil. Dapat dilihat Jesselyn jika Leon sedang menggigit giginya kuat-kuat melalui pipi Leon yang mengetat.


"Apa sesakit itu, kak?" tanya Jesselyn memastikan diikuti tangannya mengusap paha Leon.


Jesselyn terkejut saat Leon menepis tangannya.


"Pindah ke kursi belakang," ucap Leon memberi perintah masih dengan menggigit giginya.


Tak ingin melakukan kesalahan, Jesselyn langsung pindah kebelakang tanpa turun dari mobil.


"Ka...kamu, sudahlah, cepat!" geram Leon saat Jesselyn berbalik, melangkahkan kakinya ke kursi belakan hingga memperlihatkan bokongnya.


"Aku kepanasan," ucap Leon cepat. "Aku juga butuh jaket ini," lanjutnya melihat jaket dipangkuannya.


Satu


Dua


Tiga


Leon menarik tiga helai tisu dan melap keringat pada leher, kening dan seluruh wajahnya.


****


H - 6


Enam hari menjelang pernikahan sudah dipastikan bahwa undangan sudah selesai disebar bagi para tamu, begitupun dengan tempat akan dilangsungkannya pernikah.


Pagi ini, dihari Sabtu Lena menemani Jesselyn dan Leon untuk melakukan foto prewedding. Sesuai rencana pemotretan akan dilakukan di dua tempat, indoor dan outdoor.


Pemotretan pertama dilakukan dalam studio dilengkapi dengan fasilitas lengkap sesuai dengan apa yang diinginkan clien.


Selain fotografer, Lena turut mengarahkan pasangan muda itu saat akan berpose.


Ada puluhan gambar yang diambil dengan tiga pakaian yang berbeda mulai dari menggunakan gaun pengantin, kebaya dan pakaian casual.

__ADS_1


Mereka semua puas dengan hasil foto yang diperlihatkan oleh sang fotografer.


Kali ini mereka berpindah ke tempat kedua. Pantai adalah pilihan yang menurut Lena sangat indah untuk dijadikan tempat berfoto.


Ya, Lena yang mengarahkan dan mengatur dalam foto prewedding Jesselyn dan Leon. Bahkan hal ini dia sendiri yang menginginkannya karena Jesselyn tidak mau sebelumnya.


Setelah berusaha membujuk Jesselyn, akhirnya gadis itu menyetujui keinginan tantenya yang sebentar lagi akan ia panggil dengan sebutan mama.


"Maaf ya, mama ngak bisa nemenin kalian ke pantai."


Lena menerima telepon dari suaminya, memintanya untuk menemaninya ke acara ulang tahun perusahaan salah satu rekan bisnis.


"Baik-baik ya! Ingat, jangan berantem," pesan Lena yang lalu meninggalkan keduanya beserta fotografer dan rekan-rekan sijuru foto.


Jesselyn dan Leon saling bertukar pandang menyaksikan kepergian wanita paruh baya tersebut.


Pengambilan foto pun berlanjut. Keduanya sudah berganti dengan pakaian santai. Leon mengenakan celana pendek sedikit di atas lutut dan kemeja lengan pendek bermotif, dua kancingnya sengaja dibuka penata rias agar memperlihatkan sedikit bagian dada saat pengambilan foto.


Leon terkejut saat melihat Jesselyn mengenakan celana pendek yang hampir tidak terlihat karena ditutupi kemeja panjang tangan yang sedikit kebesaran ditubuhnya. Memperlihatkan betis dan paha yang putih dan mulus milik gadis itu. Pakaian yang mereka kenakan sengaja dipilih bernuansa putih oleh Lena.


Saat Leon akan menghampiri Jesselyn, fotografer sudah terlebih dahulu meminta mereka mendekat dan melakukan pose yang diminta.


Sambil mengikuti arahan yang diminta, Leon pun memperhatikan para kru laki-laki. Ia tidak suka dan rela apa yang akan dan menjadi miliknya ada yang melirik.


Seorang pria yang bertugas sebagai penata rias sekaligus penata busana yang mereka pakai berjalan menghampiri keduanya dengan gemulai, berjalan melenggok.


"Hai cantik, aku benerin bajunya dikit ya buat pose selanjutnya," ucapnya yang bernama Jenny.


"Mau apa?" ucap Leon menahan tangan pria yang nada bicaranya itu sedikit menggelikan.


"Ih.. pegang-pegang, ngak sopan," ucapnya memukul tangan Leon pelan dan menjauhkannya.


Dibukanya satu kancing kemeja yang dipakai Jesselyn yang sebelumnya sudah dibuka satu kancing. Ditariknya kerah baju tersebut namun menggeleng karena tidak sesuai dengan yang diharapkan.


"Satu lagi ya," ucapnya membuka satu kancing lagi. Jesselyn menurut akan setiap yang diarahkan agar mempersingkat waktu.


Setelah tiga kancing terbuka, jenny menyibakkan kerah hingga lengan kemeja sebelah kanan Jesselyn dan memperlihatkan sebahagian dada dan pundak yang juga putih dan mulus. Pun memperlihatkan tali braa hitam yang dipakainya.


"No..no..no...," ucap Jenny dengan gerakan telunjuk saat Leon akan membenarkan kemeja Jesselyn.


"Jangan bikin eike marah, oke?"


Jenny kembali kepososinya dan memberi kode pada fotografer untuk melanjutkan tugasnya.


"Ayo..ayo...relax dan senyum," ucap Bondan sijuru foto sambil menepuk-nepuk tangan.


"Ayo kak senyum, biar cepat selesai."


"Em"


Meskipun kesal namun Leon berusaha mengontrol dirinya dan melanjutkan pemotretan.


Berbeda dengan di studio, kali ini pose-pose yang diarahkan sedikit menantang iman, bukan bagi Jesselyn namun Leon.


Mulai dari pose biasa, mengejar saat berlari ditepi pantai, mengangkat ala bridal style, satu tangan memeluk dan satu tangan yang lain mengangkat paha Jesselyn hingga membuat Jesselyn berdesir saat tangan Leon menyentuh pahanya yang terekspos, meletakkan kepala Leon pada dada Jesselyn yang terbuka sesuai yang di harapkan Jenny, bahkan menempelkan kedua bibir mereka seolah tengah berciuman.

__ADS_1


Bondan tersenyum saat ia akan membidikkan kameranya, dari lensanya ia melihat jelas leon menggerakkan bibirnya mencium Jesselyn.


Masih banyak pose-pose yang diambil hingga mereka menyelesaikannya saat matahari terbenam.


__ADS_2