Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Disamping Kamar Kak Leon


__ADS_3

Hemmmmmm....


Huhhhhhhhhh....


Jesselyn menarik panjang nafasnya dan mengeluarkannya setelah ia tiba di Bandara Soekarno-Hatta.


"Akhirnya aku tiba ditempat ini lagi setelah satahun lamanya.


Hahaha..., entahlah aku tidak tahu seberapa lama aku bisa bertahan disini. Waktu yang akan menjawab semuanya termasuk pertanyaan mengapa tante Lena begitu ingin aku tinggal dengannya. Jika memang ingin membantu sekolahku, bukankah ia cukup dengan hanya membiayaiku seperti yang ia lakukan selama ini? Tapi mengapa ia ingin aku kemari?" Jesselyn menarik kopernya berjalan menuju ruang tunggu bagian kedatangan dengan pertanyaan-pertanyaan diotaknya.


Belum lagi Jesselyn sempat duduk seseorang menarik mengambil alih koper yang sedari tadi ia pegang.


"Ayo pulang!" ucap seorang gadis dari arah belakang Jesselyn.


"Kak Nadya?"


"Bukan tapi abang ojol." jawab Nadya bercanda. Mereka berpelukan melepas rindu satu sama lainnya.


"Aku kangen kak Nadya," ucap Jesselyn sambil mengeratkan pelukannya.


"Kalau kangen harusnya lebih cepat datangnya!"


"Hehehe..maaf kak. Kak Nadya sendiri aja jemput aku?" melihat hanya ada Nadya di dekatnya.


"Tuh! Ada mama dan papa disana," Nadya menunjuk kearah papa dan mamanya dan berjalan menghampiri sepasang suami istri itu.


"Om-tante apa kabar?" sapa Jesselyn setelah berdiri dihadapan Bagas dan Lena kemudian mengulurkan tangannya untuk memberi salam.


"Kabar om baik, tante juga baik, iyakan ma?" menyenggol lengan sang istri dengan sikunya.


"Ngak, mama ngak baik-baik aja tapi karena sekarang Jesselyn ada disini mama pasti akan baik-baik aja pa." kata Lena datar.


"Maaf tante?"


"Sudah yang penting ada kamu sekarang dan jangan buat tante sedih lagi ya nak?" Lena memeluk Jesselyn dan menangis bahagia karena melihat Jesselyn lagi.


"Kita pulang yuk pa, ma?" ajak Nadya kepada kedua orang tuanya.


"Iya, kita pulang sekarang. Ayo, ma. Kita pulang dulu, nanti bisa dilanjut dirumah kangen-kangenannya, iya kan Jes?"


Jesselyn hanya tersenyum mendengar perkataan Bagas. Lena berjalan menuju tempat mobil suaminya diparkirkan dengan terus menggandeng tangan Jesselyn. Nadya yang melihat pemandangan tersebut hanya berdecak senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Nadya bisa melihat kebahagiaan diwajah mamanya dan ia tahu alasannya.


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena suasana sore ibu kota yang cukup macet.


"Ngomong-ngomong kak Leon dimana kak?" bisik Jesselyn pada Nadya karena penasaran.

__ADS_1


"Jangan ditanyain kalau dia, tadi papa dan mama suruh ikut jemput kamu kebandara tapi saat mau berangkat dia malah ngak mau. Katanya mau main futsal sama teman-teman kampusnya."


"Oh..?"


Karena macet mereka baru tiba setelah enam puluh menit diperjalanan. Saat masuk kedalam rumah Jesselyn begitu senang melihat sepatu sekolah dan sendal rumahnya masih berada dirak sepatu. Ia tersenyum dan tidak menyangka akan melihatnya lagi.


"Iya, masih ada," ucap Nadya yang mengerti akan apa yang sedang Jesselyn pikirkan. "Mama bilang kamu pasti kembali, makanya itu sepatu dan sendal masih ada disitu."


"Hehehe...gitu ya kak?"


"Makanya jangan pergi dan gak balik lagi nanti, oke?"


"Semoga kak" ucap Jesselyn dalam hati dan mengganti sepatu ketsnya dengan sendal rumah.


"Ayo masuk, ngapain lama disitu kamu ngak capek?" perintah Lena .


"Iya tante"


"Kamu masih ingat kamar kamu yang mana kan, Jes?" tanya Nadya yang sudah merebahkan tubuhnya diatas sofa.


"Dulu sih ada dilantai atas, disamping kamar kak Leon," jawab Jesselyn


"Baguslah kalau masih ingat jadi aku ngak perlu repot lagi buat nganterin kamu ke kamar kamu. Oh iya, semuanya masih sama seperti saat kamu tinggalkan"


"Berhubung sudah hampir jam tujuh semuanya lebih baik mandi dan setelahnya kita makan malam sama-sama. Nadya kamu bantuin mama bentar di dapur ya buat nyiapin makan malam?"


"Jesselyn ke kamar dulu ya tante?"


"Langsung turun buat makan malam ya sayang kalau sudah selesai?"


"Iya tante"


Jesselyn membawa kopernya ke kamarnya yang berada dilantai dua rumah tersebut. Kamar yang sudah setahun ia tinggalkan.


Ceklek


Jesselyn membuka pintu kamarnya dan melihat tak ada perbedaan pada kamar itu. Hanya ada beberapa hiasan dinding yang bertambah.


Ia begitu terkejut saat membuka lemari pakaiannya. Ada banyak baju baru di dalamnya serta seragam sekolah yang ia pakai dulu masih tergantung dengan rapi.


Iya merebahkan tubuhnya sejenak diatas ranjang dan kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Akhirnya...., seger juga ini badan setelah seharian dalam perjalanan," Jesselyn mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil yang sering digunakan olehnya dulu.


"Masih sama seperti yang dulu ternyata. Makasih om-tante semoga kalian tetap menyayangiku seperti sebelumnya."

__ADS_1


Ia duduk dikursi meja belajarnya dan membuka lacinya. Dia terdiam sambil mengeluarkan sebuah benda yang ia tahu betul itu apa.


"Bukannya ini handphone yang dulu kak Leon berikan untukku?" tanya Jesselyn dalam hati. "Tapi kenapa masih ada disini?" ia memasukkan handphone itu kembali ke laci dan menutupnya.


"Lebih baik aku turun sekarang takutnya mereka nungguin aku terlalu lama lagi."


Saat turun kebawah Jesselyn langsung menghampiri Bagas, Lena dan Nadya ke meja makan. Tanpa berbasa-basi mereka langsung melahap makan malam yang ada.


Selesai makan Jesselyn membantu Nadya merapikan meja makan dan membersihkan piring-piring kotor. Meskipun keluarga Bagas merupakan orang yang berkecukupan mereka tidak memiliki asisten rumah tangga yang tinggal disana. Lena hanya mempekerjakan seorang wanita paruh baya yang mereka panggil ibu Sri untuk membantunya mengerjakan pekerjaan rumah dan Ibu Sri kembali kerumahnya yang berada dibelakang kawasan tempat tinggal mereka setelah tugasnya selesai.


Banyak yang mereka bicarakan setelah mereka berkumpul di ruang tamu. Mulai dari rasa makan malam yang baru mereka santap, kegiatan kampus Nadya dan tak ketinggalan tentang Jesselyn selama berada dikampung.


Nadya masih saja terus bercerita sampai-sampai tidak menyadari jika orang-orang yang mendengarkannya sudah menguap berpuluh-puluh kali.


"Huamm....."


Bagas menguap sambil mengeluarkan suara. "Papa sudah ngantuk nih, ceritanya dilanjut besok aja ya?"


"Baru jam sepuluh pa?" protes Nadya.


"Mama juga sudah ngantuk, ceritanya disambung besok-besok ya Nadya?" pinta Lena pada putrinya.


"Mama juga?"


"Daripada mama disini tapi ternyata ngak dengerin kamu gimana? Lagian besok pagi papa kamu ada rapat di kantor jadi harus istirahat yang cukup," terang Lena memberi putrinya pengertian.


"Baiklah kalau gitu, mama sama papa istirahat aja deluan. Aku masih mau ngobrol sama Jesselyn. Iya kan, Jes?"


"I...ya kak," jawab Jesselyn yang sebenarnya juga sudah sangat mengantuk sedari tadi. Ia begitu lelah dan ingin sekali rasanya membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur tetapi dia tidak enak meninggalkan Nadya seorang diri yang masih begitu bersemangat dengan cerita kampusnya.


Pukul setengah dua belas malam barulah mereka kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.


"Maaf ya Jes, aku tahu kalau sebenarnya kamu dari tadi sudah ngantuk tapi aku sengaja ngerjain kamu, karena tahu kamu ngak bakalan nolak buat nemanin aku. Hehehe..maaf ya Jes?"


"Ih.., kak Nadya jahat banget sama aku." Jesselyn cemberut mendengar pengakuan dari Nadya.


"Hehehe...


Ya udah, sekarang kita istirahat dan semoga mimpi indah Jesselyn..." Nadya kabur begitu saja ke kamarnya dan meninggalkan Jesselyn yang masih duduk cemberut di ruang tamu.


"Awas aja kak, kapan-kapan aku kerjain balik!" Nadya beranjak dari duduknya. Karena merasa haus sebelum ke kamar ia pergi kedapur untuk minum.


"Air dingin enak ni buat tenggorokan yang kering," pikirnya dan membuka lemari es.


"Punya siapa ni? perasaan yang selalu makan es krim vanila cuman aku aja selama ini?" Jesselyn melihat sebuah es krim vanila dalam lemari es dan ingin rasanya ia untuk memakannya tapi ia tahu tidak baik untuk asal makan yang bukan miliknya tanpa bertanya dulu.

__ADS_1


Saat akan ke kamarnya ia melihat kearah kamar Leon yang tertutup rapat. Ia berharap jika sang pemilik kamar sedikit melunak kali ini dan bisa berhubungan baik dengannya.


"Selamat malam Jesselyn semoga hari-harimu kedepannya bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Ya, semoga! Selamat malam dan mimpi indah" ucap Jesselyn menutup matanya untuk tidur.


__ADS_2