
Matahari terbit dari ufuknya begitu juga dengan kicau burung terdengar begitu nyaring namun seseorang masih betah dengan alam mimpinya. Membungkus tubuhnya yang hanya mengenakan celana pendek putih dengan selimut.
Akhir pekan merupakan hari yang selalu dinanti oleh banyak orang terlebih para pekerja karena waktunya tuk melepas lelah setelah beberapa hari bergelut dengan dunia kerja dan rutinitas yang menguras tenaga dan pikiran.
Leon menggeliat namun tak ada tanda-tanda ia akan segera bangun sedangkan jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Pun dengan mamanya sudah beberapa kali mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkan namun Leon tak kunjung bangun.
"Belum bangun juga, ma?"
"Belum, pa. Mama capek bolak-balik keatas tapi orangnya ngak bangun-bangun, apa dia kita tinggal aja, pa? Nanti dia nyusul dari belakang."
"Jangan dong, ma. Kalau gitu coba biar papa yang bangunin dia."
Bagas akhirnya turun tangan untuk membangunkan Leon. Ia tahu jika Leon adalah tipe orang yang tepat waktu saat akan kesekolah dan bekerja namun jangan ditanya kalau sudah akhir pekan. Dia dapat bermalas-malasan dan berada di dalam kamar seharian.
Biasanya mamanya akan membiarkan Leon begitu saja namun tidak untuk hari ini. Hari ini mereka akan ke Bogor untuk mengunjungi opa dan oma disana.
Sudah sebulan ini oma selalu menagih janji mereka untuk berkunjung. Oma juga sudah begitu merindukan cucu kesayangannya dan si rubah. Jadi hari ini mereka memutuskan untuk pergi ke sana dan menginap semalam.
Bagas tiba di depan pintu kamar Leon dengan satu tangan berada dalam saku celananya siap membangunkan putranya dan hal itu jarang ia lakukan.
Bagas mengetuk pintu dihadapannya sembari memanggil nama orang yang ada di dalam.
"Leon!" suara barito Bagas terdengar hingga kelantai bawah. "Ayo bangun, ini sudah jam berapa Leon," ucap Bagas mengingatkan.
Leon mendengar suara papanya namun enggan menanggapi. Ia masih ingin bersatu dengan selimut dan tidurnya.
"Leon, ayo bangun!" ucap Bagas memperkeras suaranya namun sama saja.
Bagas tidak menyerah, ia yakin jika anaknya itu pasti mendengarnya. Tiba-tiba ia menyeringai saat memikirkan sesuatu.
"Jesselyn sudah lama menunggu kamu dibawah."
Deg
Leon mengangkat kepalanya, menyibakkan selimut dan berlari sempoyongan kearah pintu.
Ceklek
Sungguh Bagas begitu terkejut tiba-tiba Leon berdiri dihadapannya dengan penampilan yang mengerikan.
Ingat, hanya ada celana pendek putih yang menempel ditubuh Leon saat ini. Celana itu hanya menutupi setengah paha Leon.
__ADS_1
Leon keluar dengan penampilan yang menurut Bagas begitu mengerikan.
"Dia dimana, pa?" tanya Leon celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang dimaksud Bagas dari lantai atas.
"Apa kamu mau nemuin dia seperti ini?"
Bagas mengarahkan telunjuknya dari atas hingga bawah tubuh Leon.
Siunggg...
Leon melesat dari hadapan papanya dan masuk ke kamar mandi.
Bagas terkekeh seakan ia melihat bayangan masa mudanya yang dulu ada pada Leon.
Bagas menemui istrinya dibawah yang tengah menonton televisi menunggu mereka berangkat ke Bogor.
"Kenapa senyum-senyum gitu, pa? Leon sudah bangun?"
"Sudah. Sekarang lagi mandi dan bentar lagi dia juga akan nongol."
"Pakai jurus apa banguninnya, pa?"
Bagas tertawa mendengar pertanyaan istrinya namun ia tidak memberitahu jika Leon bangun setelah mendengar nama seseorang disebutkan.
" Hahaha... Rahasia para pria, ma."
"Hari ini harus dan pasti akan berhasil."
Leon keluar menemui papa dan mamanya yang sudah bosan menunggu diruang tamu.
"Perasaan ini masih pagi dan malam minggu masih lebih dari sepuluh jam lagi," ucap Lena saat Leon tiba diruang tamu.
"Memang kenapa, ma?" tanya Bagas yang tak mengerti maksud istrinya.
"Ngak pa-pa, kita berangkat saja sekarang."
Saat berjalan menuju mobil Lena menahan Bagas dan membisikkan sesuatu pada suaminya itu.
"Papa ngak cium, anak papa itu sudah seperti toko parfum berjalan sangkin wanginya apalagi penampilannya sangat rapi, sudah seperti orang mau kencan saja."
"Dulu papa juga seperti itu waktu mau jumpa dengan mama, jadi apa salahnya?" ucap Bagas dan mengedipkan sebelah matanya yang justru membuat istrinya geli dan berjalan mendahuluinya.
Hahaha...
__ADS_1
Bagas tidak dapat menahan tawanya hingga mereka masuk ke dalam mobil.
Sebelum berangkat ke Bogor terlebih dahulu mereka menjemput Jesselyn ke kontrakan. Style simple dan polos gadis itu selalu mencuri perhatian Leon. Gayanya yang sederhana dan apa adanya justru itulah yang menjadi daya tarik dari gadis itu.
Ada sedikit rasa kesal dihati Leon karena biasanya papanya akan menyuruh Jesselyn untuk duduk di depan saat Leon yang menyetir namun entah ada apa kali ini. Bagas malah menyuruh Jesselyn duduk dibelakang disamping istrinya.
"Kalau nyetir itu pandangannya kedepan bukan malah kebelakang," celetuk Bagas.
Sedari tadi ia memperhatikan Leon yang sedang mengemudi selalu melihat kearah belakang melalui kaca spion dalam mobil.
Leon hanya diam namun sedikit melirik kearah papanya yang tersenyum jahil. Bagas tahu jika sedari tadi Leon mencuri pandang pada gadis yang duduk tepat dibelakangnya yang tak lain ialah Jesselyn.
Selama dua hari Jesselyn tidak akan masuk kerja namun ia hanya meminta bolos sehari karena hari ini memang gilirannya yang off bekerja. Dia juga bersemangat kali ini, sambil mengunjungi opa dan oma di Bogor ia, akan menjadikan kesempatan ini untuk sekalian liburan mengingat sudah beberapa bulan ini ia hanya kuliah dan bekerja hingga malam.
Dulu, saat pertama kali ke Bogor dimana ia dan Leon bertunangan yang menurutnya secara tiba-tiba tidak memiliki waktu untuk sekedar berjalan-jalan dikebun teh.
Kali ini Jesselyn tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apalagi ada Nadya yang sudah terlebih dahulu berangkat kesana. Mereka berdua sudah berjanji akan berjalan-jalan di perkebunan teh.
Jesselyn sibuk dengan semua rencana-rencana dipikirannya hingga tak menyadari Leon yang sedang mengemudi.
Ditengah jalan saat mengisi bensin Bagas dan Lena pergi ke toilet karena sudah tidak dapat menahan panggilan alam mereka.
Kesempatan itu pun tidak disia-siakan oleh Leon yang setelah memarkirkan mobilnya langsung melepas seat beltnya. Leon memutar tubuhnya agar menghadap kebelakang. Dengan posisi yang sedikit kurang nyaman Leon mengangkat telunjuknya memberi kode meminta Jesselyn mendekat padanya.
Jesselyn yang tidak mengerti apa maksud Leon hanya menurut dan mendekatkan wajahnya.
Cup
Blusss....
Pipi gadis itu merona, dirasanya hawa panas menyerang wajahnya seketika padahal AC dalam mobil dalam keadaan menyala.
Tak cukup dikening, kedua pipinya pun tak lepas dari bibir Leon. Walaupun hanya ciuman-ciuman singkat namun ciuman itu mampu membuat Jesselyn tegang dan mematung.
Leon tersenyum mengelus pipi yang sudah bersemu itu apalagi posisi wajah mereka yang begitu dekat. Perlahan leon mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu namun saat hampir sampai ditujuan Jesselyn tersadar dan membatasi bibir mereka dengan telapak tangannya.
Refleks Jesselyn mendorong kepala Leon cukup kuat dan menarik tubuhnya kebelakang, membenarkan posisi duduknya seperti semula. Bukan tanpa sebab, Jesselyn melakukannya karena melihat sepasang suami istri yang tak lain adalah Bagas dan Lena sedang berjalan kearah mobil.
Leon mendengus kesal, dilihatnya gadis itu dari spion dalam. Jesselyn yang menyadari itu hanya tersenyum menyeringai memperlihatkan deretan putih giginya.
"Sampai disana kita lanjut lagi."
Leon juga membenarkan posisi duduknya dan memakai kembali seat beltnya.
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang hanya sekitar satu setengah jam lagi.
Kalimat yang diucapkan Leon terus berputar-putar dikepala Jesselyn hingga membuatnya terus menerus mengelus kedua pipinya yang terasa membengkak dan kembali memanas sedangkan Leon tersenyum memandanginya dari spion.