
Dalam balutan gaun pengantin Nadya terlihat begitu cantik dan memukau. Gaun putih yang dipakainya membuatnya benar-benar menjadi sorotan dan ratu ditengah keramaian para undangan dan keluarga. Tak kalah memukau, Ilham pun begitu sepadan bersanding dengannya. Ilham begitu gagah dan tampan dengan setelan jas hitam yang sudah di pilih Nadya sejak mendapat kabar mengenai kehamilan Jesselyn.
Satu per satu tamu untuk memberi salam dan ucapan selamat atas pernikahan mereka. Mendoakan kebahagian atas keluarga baru yang mereka bangun. Keduanya selalu menampilkan senyum terbaik mereka, senyum yang mewakili rasa bahagia mereka.
"Kamu bisa lepas sebentar ngak?" bisik Ilham pelan ditelinga Nadya.
"Ngak! Aku takut nanti kamu tiba-tiba menghilang."
"Kamu ngak capek dari tangan kamu ngak lepas dari lengan aku?"
"Ngak kok, aku kuat dan justru aku sudah lama menunggu saat-saat seperti ini, saat dimana aku bisa menggandeng tangan kamu sampai puas."
"Jadi kamu yakin ngak mau lepas dan masih kuat?"
"Yakin!"
Hmmm....
"Baik, kita lihat saja nanti setelah acara ini selesai kamu masih kuat atau ngak."
"Tenang aja, aku wanita kuat dan tangguh kok suamiku," ucap Nadya tersenyum manja.
Ilham ikut tersenyum melihat Nadya. Dia cukup heran melihat Nadya yang masih kelihatan segar, sama sekali tidak menunjukkan kelelahan di wajahnya mengingat acara pernikahan mereka sudah hampir berlangsung seharian.
Pernikahan Nadya dan Ilham terbilang mewah dan megah karena diadakan di salah satu gedung terbesar di kota Bogor. Semua dekorasi ruangan hingga makanan adalah pilihan Nadya, berbeda dengan pernikahan Jesselyn dan Leon yang sederhana karena memang Jesselyn yang menginginkannya.
Di salah satu meja yang berada di tengah-tengah tampak sepasang suami istri tengah duduk menikmati hidangan yang disajikan. Pasangan tersebut tak kalah serasi dan memukau dari ratu dan raja pesta hari ini. Keduanya pun tak lupa melempar senyum saat mendapat sapaan atau bertemu dengan orang-orang yang mereka kenal. Asik mengunyah makanan ternyata siapa sangka suami disampingnya sedang uring-uringan dan tak berhenti bicara dengan nada yang hanya dapat di dengar mereka berdua.
Sejak acara resepsi dimulai Leon tampak begitu kesal dan tak melepas pandangannya dari Jesselyn.
Matanya tak melepas pergerakan Jesselyn, tangannya bolak-balik bekerja membenarkan gaun yang dipakai Jesselyn, gaun yang kekurangan bahan menurut Leon.
"Kak Leon bisa berhenti ngak?"
"Aku ngak akan berhenti sampai kamu ganti baju kamu dengan yang lain. Aku ngak suka lihat kamu dengan gaun seperti ini."
"Emang kenapa? Aku jelek?"
"Justru karena kamu ngak jelek makanya aku ngak suka dan kesal kamu pakai ini."
__ADS_1
"Terus masalahnya apa sih, kak?"
"Kamu ngak lihat dari tadi banyak laki-laki yang ngelirik kamu, merhatiin kamu, curi pandang ke kamu?"
"Bagus dong kak, berarti aku yang adalah istri kak Leon memang cantik."
"Masalahnya gaun kamu kekurangan bahan. Lihat ini...ini..." Leon menunjukkan bagian dada dan punggung yang terekspos menunjukkan bagaimana putih dan mulusnya bagian itu. "Satu lagi yang paling penting, ini..." kini jari Leon menunjuk pada paha kiri yang juga terekspos karena belahan gaun yang dipakai Jesselyn mencapai setengah pahanya.
"Kamu sadar ngak kalau gaun ini membentuk tubuh kamu, seluruh lekuk tubuh kamu membentuk dan itu buat mata para laki-laki jadi liar."
"Jadi kak Leon ngak suka aku tampil cantik sesekali?"
Wajah Jesselyn berubah menjadi serius, ia meletakkan tangan kanannya diwajah Leon. Perlahan tangan itu turun ke leher, jemarinya menggelitik disana memberi sensasi yang selalu Leon inginkan hingga turun meraba dadanya.
Bagai seorang wanita penggoda Jesselyn mengangkat kaki kirinya dan meletakkannya diatas paha Leon, memperlihatkan paha putih yang sedari tadi ditutupi Leon dengan sapu tangan.
"Kamu mau apa, jangan macem-macem disini."
Leon gugup karena ia selalu sulit mengontrol tubuhnya jika diberi rangsangan oleh Jesselyn. Leon semakin menegang saat perlahan namun pasti jemari wanitanya itu mendarat dan meremasa pahanya, membuatnya menegang menahan sesuatu yang membuatnya begitu gelisah saat duduk.
"Stop! Aku berharap kamu melakukan seperti ini di kamar saat hanya ada kita berdua. Kamu tahu kan ini lagi banyak orang sekarang."
Ia berusaha menahannya dan tak ingin terlihat lemah dihadapan Jesselyn.
Jesselyn tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Leon, membuat suaminya itu bergidik mendapat tatapan genit dari Jesselyn. Tak ingin hanya duduk diam Jesselyn beranjak dan menemui orang-orang yang ia kenal untuk sekedar mengobrol dengan mereka dan sekali lagi Jesselyn mengedipkan matanya pada Leon.
Leon menyentuh dadanya, menahan sesak nafas dari kelakuan Jesselyn yang belum pernah ia lihat.
"A-apa yang salah dengannya, bu-bukan seperti Jesselyn yang aku kenal. Apa dia benar-benar istriku?"
Leon mengelus dadanya, antara kesal dan ingin tertawa ia terus memandangi Jesselyn tersenyum dan tertawa saat berbicara dengan tamu undangan. Leon tahu apa yang menjadi kelemahan istrinya itu dan dengan gerak cepat ia menghampiri ibu mertuanya yang juga hadir di pernikahan Nadya.
Karena ia sudah tidak tahan melihat Jesselyn mendapat lirikan dari mata-mata pria lain selain dirinya, ia mengambil Adnan putranya yang berusia tiga bulan dari gendongan ibu mertuanya.
"Biar Leon yang gendong bu," pinta Leon pada mertuanya.
Leon menyeringai berjalan mendekati Jesselyn dengan Adnan di gendongannya.
"Anak papa yang ganteng kita ke mama ya, kamu juga pasti ngak suka kan lihat mama kamu yang seperti hari ini?" ucap Leon menoel hidung Adnan.
__ADS_1
Adnan kecil hanya tersenyum memperlihatkan gusinya yang berwarna merah jambu.
"Hai sayang," sapa Leon tersenyum pada Jesselyn dan orang-orang yang ada bersama istrinya itu. "Ada yang kangen nih sama kamu. Anak kita kangen pengen digendong mamanya, dari tadi dia nangis ngak mau diam,"ucap Leon berbohong." Jadi mending sekarang kamu bawa dia ke kamar kita dan boboin dia, oke?"
Cup
Cup
"Ayo, sayang."
Leon mengecup Jesselyn dan Adnan bergantian, memberikan Adnan untuk digendong dan merangkul pinggang Jesselyn, mengajaknya ke kamar hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Tapi tadi aku lihat dia baik-baik aja digendong ibu."
"Enggak, kamu salah lihat."
"Kalau gitu Jesselyn boboin Adnandisini aja ya," pinta Jesselyn.
"No!"
"Tapi pestanya belum selesai kak."
"Ya sudah tapi tunggu sebentar dan ingat jangan protes."
Leon melepas jasnya dan langsung mengikatkannya di pinggang Jesselyn, menutupi bagian paha yang terekspos.
Ia kembali berjalan cepat menghampiri ibu mertunya dan meminta gendongan yang ada padanya.
"Ini pakai. Kamu gendong pakai gendongan ini kalau tidak kita ke kamar dan kamu tahu kan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah Adnan tidur," ucap Leon gantian mengedipkan matanya.
Jesselyn langsung meraih gendongan dari tangan Leon dan memasang gendongan Adnan.
"Bagus."
****
Di depan sana, di atas pelaminan yang megah Nadya yang menangkap keberadaan Leon tertawa geli melihat Jesselyn yang menggendong Adnan dengan gaun yang Nadya persiapkan untuk dipakai Jesselyn.
"Dasar suami posesif, ngak bisa lihat istri senang dan tampil beda."
__ADS_1
"Kamu bilang apa barusan?" tanya Ilham mengerutkan keningnya mendengar ucapan Nadya. "Suami posesif? Maksud kamu siapa, aku?"
"Bukan-bukan! Lihat deh mereka," Nadya menunjuk kearah leon yang sedang bersandar di dinding dengan sebuah gelas ditangannya tersenyum memperhatikan Jesselyn yang tengah menimang menina bobokkan Adnan dengan gaun yang tadinya terlihat seksi dan memperlihatkan lekukan tubuhnya namun terlihat lucu dengan jas dan gendongan yang sudah menempel.