
Atas persetujuan dokter dan keadaan Jesselyn yang sudah membaik, akhirnya keesokan hari Jesselyn diperbolehkan untuk pulang dengan catatan masih harus banyak istirahat dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan yang berat.
Rona kegembiraan terlukis diwajah gadis itu. Wajah yang sudah tidak pucat lagi. Merasakan kebebasan dari bau obat-obatan dan makanan rumah sakit yang sungguh tidak disukainya.
"Terimakasih mas," ucap salah seorang perawat setelah Leon menyelesaikan masalah administrasi selama Jesselyn berada di rumah sakit. Leon memasukkan salinan rincian biaya perawatan yang ia terima kedalam saku celananya dan bergegas kembali ke ruang rawat.
"Sudah selesai?" tanya Lena saat Leon membuka pintu.
"Iya, ma. Sudah!" jawab Leon berjalan menghampiri Jesselyn.
Bagas yang sedang sibuk dengan urusan kantornya membuatnya tidak bisa ikut menjemput Jesselyn. Namun ia sudah mempersiapkan hadiah kecil untuknya saat tiba dirumah. Dan berharap Jesselyn sangat menyukainya.
Setelah semua urusan selesai, mereka bertiga akhirnya pulang.
"Ayo" ucap Leon memegang tangan Jesselyn dan membantunya berdiri.
"Aku bisa sendiri kak, aku bukan anak kecil lagi!" ucap Jesselyn merasa risih karena sedari tadi Lena memperhatikan mereka berdua.
"Emm, kalau gitu mama deluan. Mama tunggu kalian di mobil." Lena mengambil kunci mobil dari tangan Leon dan keluar begitu saja. Lena tidak tahu apa yang terjadi sehingga Leon yang tidak biasanya bersikap baik pada Jesselyn malah begitu perhatian.
Sejak Lena tiba dirumah sakit pagi tadi sebenarnya Lena merasakan perbedaan diantara sepasang pemuda itu.
Sebelum keluar Leon memperhatikan Jesselyn yang hanya memakai piyama saja. "Pakai ini!" ucap Leon memakaikan jaketnya pada Jesselyn. "Nanti masuk angin dan sakit lagi," menarik zipper jaket tersebut hingga ke leher dan tak lupa memasangkan topinya.
Leon mengangkat kedua alisnya tersenyum kecil. Jaketnya yang sedikit kebesaran di tubuh Jesselyn membuat gadis itu seperti akan tertelan di dalamnya. Ia mengangkat tangannya hendak mengusap kepala gadis itu, namun mengurungkan niatnya. Menahan tangannya dari apa yang ingin ia lakukan selama ini.
"Tapi aku suka kak!" ucap Jesselyn tersenyum. "Aku tidak suka bau obat-obatan dan rasa makanan rumah sakit, tapi aku jadi suka kalau aku sakit."
Perkataan Jesselyn berhasil membuat Leon mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti maksud gadis itu.
"Orang sakit itu ngerepotin dan nyusahin!" ucap Leon meraih tangan kanan Jesselyn mengajaknya untuk meninggalkan ruangan tersebut.
"Iya, aku tahu. Tapi kalau aku sakit kak Leon jadi baik dan perhatian sama aku." Jesselyn mengangkat kepalanya tersenyum melihat wajah Leon yang juga memperhatikannya. Leon membuang pandangannya saat kedua manik mata mereka bertemu dan melepas tangan Jesselyn dari pegangannya.
"Bukannya dia juga lebih baik dan perhatian?" tanya Leon berjalan mendahului Jesselyn sehingga membuat gadis itu mengekorinya dari belakang.
".....?" mengerutkan keningnya. "Oh.., maksud kakak pasti Leo, iyakan?" berlari kecil mengejar langkah Leon. "Hap!" Jesselyn berhasil menyamakan posisi mereka dan meraih lengan Leon. "Leo memang baik dan perhatian dari dulu kak tapi beda dengan kak Leon."
"Pasti beda. Dengan dia kamu bisa tersenyum berbanding terbalik dengan aku. Ck, kamu ketakutan."
"Eng-gak, siapa bilang?" kata Jesselyn sedikit berbohong. "Buk-buktinya aku lagi sama kak Leon sekarang, i-iyakan?" lanjut Jesselyn sedikit terbata. Tak ingin merusak hubungan mereka yang sudah sedikit lebih dekat menurutnya.
Ia terus berjalan disebelah Leon. Karena langkah kaki dan jalan pemuda itu lebih cepat, Jesselyn harus menambah kecepatannya berjalan.
__ADS_1
****
"Wihhhh, cantik banget."
"Kenapa? Mau juga dikasih bunga?"
"Bunga? Mau-mau, bunga bank tapi ya kak? Hahaha..."Sinta tertawa terbahak sedangkan Adit mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Sinta.
"Tapi gue yakin kalau Jesselyn bakalan sangat suka sama bunga kamu, Le. Percaya ngak?" ucap Sinta pada Leo yang memegang sebuket mawar merah. Leo begitu sumringah dan berharap agar Jesselyn menyukai bunga yang sudah ia siapkan seperti yang dikatakan Sinta.
Pagi tadi diperjalanan menuju rumah sakit saat mengantar istrinya untuk menjemput Jesselyn, Bagas menghubungi Nadya supaya memberikan kejutan buat Jesselyn. Karena tidak tahu mengenai hal-hal yang disukai anak muda zaman sekarang, Bagas menyerahkan tugas tersebut kepada Nadya.
Setelah selesai mata kuliah kedua, Nadya langsung memesan taksi online agar lebih cepat tiba dirumah. Nadya juga menghubungi Sinta, teman kampus Jesselyn. Sedangkan Leo dihubungi Nadya karena tahu bahwa pemuda itu menaruh perasaan pada Jesselyn.
Adit? Hahaha...kehadirannya hanya unsur ketidak sengajaan. Bertepatan saat Leo dan Sinta tiba dikediaman keluarga Bagas, Adit juga tiba-tiba muncul dengan tujuan ingin ketemu sohibnya. Adit ingin bertemu Leon karena hari ini dia tidak masuk kampus dan saat dihubungi ponselnya sedang tidak aktif.
"Mawar merah?" ucap Nadya melihat buket yang dipegang Leo. Meletakkan nampan berisi empat gelas jus jeruk diatas meja.
"Iya kak, kira-kira dia suka ngak ya?" tanya Leo khawatir jika pilihan bunganya salah.
"Jesselyn suka kok sama mawar,"jawab Nadya dan mengambil segelas jus jeruk untuk dirinya. "Tapi kenapa pilih yang warna merah?" batinnya.
"Gue juga yakin bakalan ada yang meledak nanti," celetuk Adit yang langsung mendapat pelototan dari tiga pasang bola mata.
"Maksud gue kompor dirumah orang, tiap harikan pasti ada berita kompor meledak ditelevisi, iya kan?" jelas Leon mengakhiri ucapannya.
"Kenapa sih kak, lihatnya begitu amat?" Sinta begitu risih karena dilihatin terus oleh Adit.
"Emang kenapa? Mata punya geu, ya terserah gue dia mau lihat kemana."
"Pedofil!" ucap Sinta singkat.
Uhuk-uhuk
Adit terbatuk-batuk mendengar kata yang baru diucapkan Sinta. Tidak menyangka jika dirinya akan dikatai seorang pedofil.
"Gue?" tanya Adit tak terima dan meletakkan kembali gelasnya.
"Siapa lagi, aku sama Leo kan seumuran? Sedangkan kak Nadya cewek, berarti siapa dong?"
"Ya gue," jawab Adit mengikuti alur pertanyaan Sinta. "ha??" menggelengkan kepalanya bingung. "Maksudnya lo ngatain gue yang pedofil? tau ngak jarak usia pria kewanitaannya sehingga pria itu dikatakan seorang pedofil?"
"Ngak, yang jelas mereka bukan seumuran!" Sinta dengan asal menjawab pertanyaan Adit.
__ADS_1
"Makanya banyak belajar, baca buku dan kalau perlu tanya mbah google sekalian. Enak aja gue dikatain pedofil," sungut Adit masih tak terima.
Hahaha....
Tawa Nadya memenuhi seisi rumah.
"Kasihan bangat sih kak Adit. Sabar ya kak, hahaha..."
"Diem ngak? Kalau gue pedofil berarti kakak lo juga pedofil!" ucap Adit lalu meneguk semua isi gelasnya.
"Maksud kak Adit?" tanya Nadya penasaran karena membawa-bawa Leon, kakaknya.
"Makanya jadi adik peka dong? ini lo malah buat jembatan panjang," jawab Adit dengan matanya melirik kearah Leo.
Tin-tin, tin-tin...
Bunyi klakson dari luar membuat keempatnya menyudahi pembicaraan mereka dan berlari menuju pintu menyambut kepulangan Jesselyn.
"Mereka ada disini? Sinta?" ucap Jesselyn merasa senang melihat kehadiran temanya.
"Iya, om kamu yang minta supaya mereka nyambut kepulangan kamu dari rumah sakit."
"Om Bagas?"
" Iya. Ngak nyangka kan? Tante saja geli dengan ide suaminya tante."
"Hehehe...agak berlebihan sih tante, aku kan cuman sebentar dirumah sakitnya. Sakitnya juga ngak yang serius banget."
"Hmm, ya sudah. Ayo keluar! Mereka sudah nungguin kamu," tunjuk Lena kearah pintu rumah dan membuka pintu mobil disamping kanannya untuk keluar.
"Iya, tante."
Klek
Jesselyn membuka pintu mobil disampingnya namun tidak bisa.
Klek
Lagi-lagi pintu mobil tidak bisa dibuka.
Dilihatnya tante Lena susah berada diluar.
"Kak, pintunya kenapa ngak terbuka?" masih berusaha membuka pintu mobil yang memang tidak akan terbuka karena sudah dikunci Leon langsung saat mamanya sudah keluar.
__ADS_1
"Kak?" panggil Jesselyn menoleh ke Leon.
...Terimakasih masih setia mengikuti cerita ini. Support cerita ini ya dengan memberikan like dan komentarnya juga. Fave+vote juga dipersilahkan😊😊😊✌️...