
"Kepada semua maba agar memastikan memakai semua perlengkapannya dengan baik dan benar. Jika ada perlengkapannya yang kurang kami minta agar langsung berlari ke depan dan ambil barisan.
Apabila nanti kami temukan ada yang tidak sesuai bahkan tidak membawa semua kelengkapannya, jangan salahkan kami dengan hukuman yang harus kalian terima." Terdengar himbauan Denis sang ketua ospek tahun ini.
"Sekali lagi saya beritahu bagi para adik-adik maba yang merasa kelengkapannya ada yang kurang atau tidak sesuai dengan yang kami instruksikan agar maju kedepan. Jika tidak ada maka para kakak pandu akan memeriksanya dan saya pastikan akan mendapat hukuman lebih jika kedapatan berbohong."
"Maaf kak, sekali ini aja tolong diampuni?" ucap Jesselyn dalam hatinya.
"Kamu maju"
"Iya kamu maju, kamu kan ngak bawa botol dodot"
"Nanti dihukum lebih berat lagi loh, jadi maju aja"
Jesselyn semakin ketakutan mendengar perkataan para maba yang melihatnya tidak membawa botol dodot berisi air minum. Dia semakin takut karena tidak seorang pun yang maju kedepan.
Ia takut karena mengira hanya ia sendiri yang tidak lengkap, padahal ada juga maba lainnya yang tidak membawa semua kelengkapan ospek mereka. Sama seperti Jesselyn, mereka juga takut ke depan karena tidak seorang pun yang maju untuk mengaku.
"Baiklah jika memang tidak ada yang mengaku dan maju kedepan maka kami akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Setelah itu kalian akan dipandu oleh para kakak pandu masing-masing kelompok dan pastinya juga akan memeriksa kelengkapan kalian. Jika ada yang ingin maju sekarang maka waktu kalian sudah habis dan saya sudah memberikan kesempatan sebelumnya." Sang kakak pandu mengingatkan kembali.
Para panitia ospek terlihat begitu sibuk membagi para maba yang begitu banyak menjadi beberapa kelompok. Mereka dibagi berdasarkan nama fakultas masing-masing, berkumpul dan membuat barisan.
Dengan cepat Jesselyn berlari dan masuk ketengah barisan saat mendengar fakultas ekonomi disebutkan. Ia masih berharap tidak akan ketahuan satu kakak pandu pun.
"Baik, buat adik-adik kami yang berdiri menghadap kalian sekarang adalah para kakak tingkat kalian dari berbagai jurusan dan yang juga akan menjadi pemandu kalian selama ospek berlangsung. Dan yang paling ditunggu-tunggu dari tadi, yaitu pemeriksaan perlengkapan yang akan dilakukan oleh kakak pandu kalian."
Deg...Deg...Deg...
Jantung Jesselyn seketika berdegup semakin kencang mendengar arahan dari sang ketua ospek.
"Aku ngak kelihatan...aku ngak kelihatan...aku ngak kelihatan.." Jesselyn berkata dalam hatinya sambil menutup kedua matanya berharap ia tidak terlihat oleh sang senior.
Lain yang ia harapkan lain juga yang terjadi. Ia kaget saat seseorang menepuk pundaknya dengan satu jari.
"Maaf kak, maaf. Aku lupa bawa botol dodot berisi air minum. Maaf kak?" Jesselyn langsung menundukkan kepalanya menyatukan kedua tangannya dan mengangkat keatas untuk meminta maaf.
Kakak pandu yang juga seniornya tersenyum melihat apa yang dilakukan Jesselyn yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Angkat kepala kamu," perintah sang senior
"Iya kak, maaf?" Jesselyn mengangkat kepalanya dan melihat wajah kakak pandu tersebut. Ia terkejut namun tidak mengatakan apa-apa dan bersikap seolah tidak mengenalnya.
"Bukannya ini kak Adit?" pikir Jesselyn dalam hati.
"Nama kamu?" tanya Adit yang namanya tertera pada bet nama yang menggantung dilehernya.
"Jesselyn kak!" ucap Jesselyn ketakutan.
"Lengkap?" Adit meninggikan suaranya menakut-nakuti.
"Jesselyn Anastasya, kak!"
"Tahu kesalahan kamu?"
"Tahu kak," kembali menundukkan kepalanya.
"Kenapa tadi tidak maju?"
__ADS_1
"Takut kak," jawab Jesselyn berkata jujur.
"Sekarang kamu ikut saya." Adit berjalan dan diikuti Jesselyn dengan langkah yang berat.
"Siapa nama kamu tadi?" tanya Adit sambil berjalan karena merasa pernah bertemu dan mendengar nama Jesselyn tapi ia tidak yakin.
"Kita pernah ketemu ya? Bukan wajah familiar tapi sepertinya pernah lihat wajah kamu entah dimana gitu?" tanya Adit menempelkan jari telunjuknya di bibir.
Adit menghentikan langkahnya berbalik dan melihat lebih dekat wajah Jesselyn.
"Sepertinya ngak pernah kak," jawab Jesselyn langsung.
Adit hanya menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya ia merasa pernah bertemu dengan maba tersebut.
Saat berada di depan lapangan Jesselyn melihat ternyata ada beberapa orang yang bernasib sama sepertinya. Ia lega karena setidaknya ia tidak sendirian dan kalau pun dihukum akan ada temannya.
"Fakultas ekonomi, Jesselyn Anastasya," ucap Adit memberitahu temannya yang mencatat nama para maba yang melanggar peraturan.
"Oke, Dit."
"Si Leon mana dari tadi ngak kelihatan?"
"Noh, sudah ke auditorium deluan," menunjuk arah auditorium dengan dagunya.
"Wah, emang dasar tu anak. Orang disini panas-panasan dianya malah nyantai disana. Kalau gitu gue nyusul dia kesana ya, lagian habis ini para maba kesana juga kan?"
"Terserah lo, ah!" jawab temannya yang sibuk mencatat nama para maba yang melanggar peraturan.
Adit berlari menuju auditorium untuk menemui Leon yang tak ia temukan sejak penyambutan maba dimulai.
"Bukannya sebentar lagi mereka juga kemari? Lagian kalau lo mau rebahan, ya udah ngak usah banyak ngomong," tak mau kalah dari Adit.
"Tau aja lo, Yon." Adit menarik sebuah kursi dan duduk disamping meja dimana Leon sedang rebahan. "Tapi tau ngak sih bro?"
"Ngak tau" menyela ucapan Adit.
"Dengerin dulu woi kalau teman ngomong," Adit kesal karena perkataannya langsung dicela Leon.
"Ngomong aja paling kalau ngak seru gue tidur."
"Makanya dengerin gue. Tadi ada maba yang ngak bawa botol dodot, Yon?"
"Terus yang bikin lo heboh apaan? Paling dia dihukum. Atau lo suka sama tu maba? Silahkan ngak ada yang larang asal dia juga mau sama lo. Simpelkan?" kata Leon datar.
"Woi...dengerin gue belum selesai ceritanya"
"Sorry, habis cerita lo biasa aja soalnya"
"Gue yakin pernah liat tu cewek bro tapi entah dimana gitu gue lupa?. Cantik dan lucu bro. Tapi waktu gue tanya, dia bilang ngak pernah ketemu gue juga. Gue yakin bro?"
"Bukannya memang lo selalu merasa sudah pernah ketemu sama banyak perempuan?"
"Beda bro, gue yakin dan dia pasti bohong waktu bilang belum pernah ketemu gue?"
"Daripada lo penasaran mending lo tiduran aja Dit, biar otak lo ngak mikirin itu cewek mulu."
"Bener juga sih bro. Terus gimana sama cincin yang ada dikalung lo, da ketemu sama pemiliknya lagi atau masih on the way? Hahaha..." Adit gantian menggoda Leon dengan cincin yang ada pada kalungnya.
__ADS_1
"Berisik lo!"
"Sorry bro. Hahaha..." Adit tertawa sambil berbaring disebelah kanan Leon.
Ia kembali mengingat-ingat wajah maba yang ia yakin pernah temui.
"Jesselyn!" ucap Adit menyebutkan nama maba yang membuatnya penasaran.
"Kenapa?" tanya Leon samar mendengar nama
yang disebutkan Adit.
"Iya bro, namanya kalau ngak salah Jesselyn Anastasya. Gemes bro gue lihatnya, pengen bawa pulang."
"Lo bilang siapa tadi namanya?"
"Jesselyn Anastasya"
"Fakultas ekonomi bukan?" Leon bangun dari posisi tidurnya.
"Lo tau dari mana Yon?" Menatap Leon heran karena tahu fikultas maba yang tidak ia sebutkan pada Leon.
Deg...Deg...Deg...
Jantung Leon serasa melompat saat mendengarnya.
"Lo yakin Dit, namanya Jesselyn Anastasya dari fakultas ekonomi?"
"Iya Yon, lo kenal dia?"
Leon menutup mata dan mengangkat kepalanya keatas, dia melompat dari
tempatnya sedari tadi rebahan.
Saat akan melangkah suara gemuruh dari para maba memenuhi ruangan auditorium dan menghentikan langkahnya untuk keluar.
"Sekarang kembali ke formasi semula sesuai fakultas masing-masing." Terdengar arahan dari seseorang yang telah menggantikan Denis.
"Itu Yon, yang sana disamping cowok bongsor tu Yon," menunjuk kerah Jesselyn yang sudah kembali kedalam barisan fakultas ekonomi.
Hemmm....
Leon menghela nafasnya panjang. Seperti yang ia pikirkan, maba yang dimaksud Adit adalah Jesselyn yang ia kenal.
"Gue balik dulu bro jadi kakak pandu yang baik, nanti kita ngobrol lagi." Adit berlari ke barisan maba fakultas ekonomi yang menjadi wilayahnya bertugas selama ospek.
"Kepada adik-adik maba yang tadi melanggar peraturan perlengkapan selama ospek agar maju kedepan!"
"Waktunya hukuman ni," ledek maba bertubuh bongsor disamping Jesselyn.
"Selamat ya Jes!" ucap maba lainya yang sudah saling mengenal nama lewat karton nama yang menggantung dileher masing-masing.
Mau tidak mau dia harus kedepan dan menjalani hukuman atas kelalaiannya. Jesselyn berjalan tanpa melihat kanan-kiri agar tidak terpengaruh dengan sorakan para maba lainnya.
...Terimakasih atas kunjungan kalian semua. Jangan lupa untuk tetap support cerita ini dengan memberikan like dan komentar yang membangun. ...
...Terimakasih semuanya ❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1