Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Sebentar Saja


__ADS_3

Sebuah mobil sedan berwarna hitam tiba dan parkir tepat di depan gereja tempat sebuah pernikahan akan berlangsung. Dengan dibantu Nadya, sang mempelai wanita keluar begitu berhati-hati dari dalam mobil, ia dibawa ke salah satu ruangan yang juga berada dalam gereja tersebut.


Jesselyn menarik nafasnya perlahan, mengatur pernafasannya yang tak beraturan sejak ia tahu jika hari ini ternyata apa yang direncanakan akan terjadi.


"Hufff... Ayo Jes kamu bisa!"


Gadis itu terlihat begitu gugup memandangi dirinya di depan sebuah cermin besar dengan sebuah bouquet mawar putih indah ditangannya.


Saat berada dalam kegugupannya penata rias yang ikut bersama mereka kembali membenarkan gaun pengantin yang digunakan Jesselyn, merapikan rambut yang sebenarnya tak ada masalah dan memberikan polesan lagi pada wajahnya yang tegang.


"Relax, mba."


Sipenata rias tersenyum melihat wajah Jesselyn yang terlihat begitu tegang namun sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikannya bahkan terkesan menjadi lucu jika dipandangi.


"Perfect!"


Seorang pria paruh baya berseru sambil bertepuk tangan dari ambang pintu. Terpukau dengan gadis yang ada dalam balutan gaun pengantin. Gadis yang meskipun kaku namun tetap menampilkan senyum pada wajahnya.


"Om, eh papa?" ucap Jesselyn mengoreksi nama panggilan yang ia sebut.


"Ayo, ini sudah waktunya kamu keluar. Kakak kamu sudah gelisah ngak sabar pengen lihat kamu."


Bagas menghampiri Jesselyn yang masih berdiri di tempatnya.


"Jadi semua ini beneran, om?" tanya Jesselyn manyun.


"Kalau ngak beneran berarti ini mimpi dong, kamu mau kalau saat ini hanya mimpi aja?"


"Ngak, om."


"Hahaha...!"


Jesselyn tersenyum, tertunduk malu melihat Bagas dihadapannya tertawa puas.


"Om yang akan jadi pendamping kamu, gantiin ayah kamu berjalan bersama kamu dan yang akan menyerahkan kamu pada Leon. Kamu tidak keberatan kan?"


Jesselyn menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak keberatan dengan apa yang dikatakan Bagas.


"Ayo nak," ucap Bagas menyodorkan lengannya. Tak perlu berlama-lama Jesselyn langsung menautkan lengannya dan berjalan dari ruangan tersebut.


Nadya yang sedari tadi memperhatikan keduanya begitu terharu, entah mengapa tiba-tiba saja timbul niat pada dirinya untuk segera menikah.


"Hem..mau nikah sama siapa gue," ucap Nadya mengikuti langkah dua orang yang saling menautkan lengan mereka.


****


Semua tamu undangan sudah berada di tempat duduknya dan saat aba-aba pengantin wanita dipersilahkan untuk memasuki tempat pemberkatan semua mata tertuju pada keanggunan dan senyum yang selalu mengembang diwajahnya. Tak terkecuali Leon yang sudah begitu gusar karena tak sabar ingin segera bertemu dengan sang gadis.


"Kau mau kemana," ucap oma menahan langkah Leon.


"Mau nyamperin mereka dong oma," kesal karena oma yang selalu menghalanginya dan Jesselyn untuk bertemu beberapa hari ini.


"Kau hanya perlu berdiri dan setelah papamu membawanya setengah jalan baru kau menghampiri mereka. Sungguh tidak sabaran," cicit oma.


Oma kembali keposisinya dan ikut memperhatikan Bagas yang berjalan mendampingi Jesselyn.


"Cantiknya rubahku," gumam oma tersenyum sembari mengatupkan kedua telapak tangannya.


Dengan gagah Leon berjalan saat sudah waktunya ia menghampiri keduanya namun terlebih dahulu ia memperhatikan pakaiannya yang sudah begitu rapi.


Tersenyum, Bagas meletakkan telapak tangan Jesselyn pada telapak tangan Leon yang terulur.

__ADS_1


"Jaga Jesselyn baik-baik."


"Iya, pa."


"Satu lagi, berhenti mengatakan dia..dia..dia...untuk menyebutnya. Jesselyn Anastasya, itu namanya. Coba ingat-ingat berapa kali kau menyebut namanya dengan benar selama ini," bisik Bagas mencengkran kuat bahu Leon.


"Baikkk paaa," jawab Leon menahan sakit akibat cengkraman papanya. Tak kuat, Leon menarik bahunya mundur.


"Cukup pa, orang-orang sudah ngak sabar, mereka sudah lama nunggu."


"Orang-orang atau kamu yang sudah tidak sabar?" menepuk-nepuk sebelah pipi Leon.


"Sudah. Ayo!"


Tanpa menghiraukan lagi papanya Leon menautkan sendiri tangan Jesselyn pada lengannya dan berjalan menuju altar.


Deg...


Deg...


Deg...


Jantung Jesselyn berdegup kencang saat ia berjalan beriringan dengan Leon. Satu hal yang tak pernah ia bayangkan saat pertama kali ia menginjakkan kakinya dirumah Bagas, bahkan untuk sekedar memikirkannya saja sungguh Jesselyn tidak berani.


Bayangan dan saat-saat ia dan Leon dulu berselancar dalam pikirannya. Bagaimana sikap dan perlakuan Leon padanya hingga ia tersenyum saat menoleh kesampingnya, dimana pria itu sedang berjalan tegap menuju altar bersamanya.


"Jalannya bisa lebih cepat ngak?" ucap Leon namun tak dihiraukan Jesselyn karena pikirannya yang sedang melayang.


"Cepat sedikit, kenapa jalanmu seperti siput," ucap Leon lagi namun masih belum direspon.


Hufff...


"Kak? Geli ditiup seperti itu," protes Jesselyn.


****


Baik Leon maupun Jesselyn keduanya tegang sekaligus gugup saat berdiri di depan altar dihadapan pendeta yang akan memberkati mereka.


Kepada Tuhan, dihadapan pendeta dan disaksikan keluarga dan undangan keduanya mengucapkan janji suci pernikahan. Berjanji sehidup semati dan saling mengasihi dalam keadaan apapun. Saling menyayangi, menghormati dan mencintai sampai maut yang memisahkan.


Leon mengecup kening Jesselyn usai keduanya menyematkan cincin pernikahan. Suasana haru meliputi setiap undangan terlebih bagi kedua keluarga pengantin yang akhirnya dapat melaksanakan pernikahan sesuai dengan rencana awal.


Begitu mudahnya bagi Leon saat ia menandatangani beberapa dokumen pernikahan mereka sedangkan Jesselyn menitikkan air mata dan membaca namanya yang tertera di kertas yang akan ia tanda tangani dimana tertulis ia yang merupakan istri sah dari Leon Christian.


"Ayo cepat tanda tangan, kamu mau berubah pikiran?" tanya Leon pelan.


"Sudah!" ucap Jesselyn usai memberi tanda tangannya.


Leon tersenyum puas saat melihat kertas yang ditanda tangani oleh Jesselyn. Ia tersenyum sembari melirik pada Jesselyn yang berdiri disebelahnya.


****


Keduanya mengikuti serangkaian prosesi pernikahan dan sebelum acara resepsi dimulai keduanya dibawa keruangan tempat Jesselyn saat baru tiba tadi untuk berganti pakaian.


Leon melepas jas yang ia pakai dan meletakkannya diatas sofa tempat ia sedang duduk. Beristirahat sambil menunggu Jesselyn mengganti gaun pengantin yang ia pakai dengan kebaya.


Sejak pertemuan mereka tadi saat akan menuju altar keduanya tidak banyak melakukan komunikasi padahal ada banyak yang sebenarnya ingin mereka katakan apalagi Jesselyn yang masih belum percaya karena ia tidak menyangka akan menikah hari ini.


Seolah tidak menganggap keberadaan Leon diruangan tersebut, Jesselyn yang dibantu dua orang melepas gaun yang ia pakai dan hanya menyisakan penutup dadanya dan celana pendek tipis yang menempel dan membentuk bagian pinggang hingga setengah pahanya.


Glek

__ADS_1


Leon menelan salivanya dan membuang pandanganya saat kedua matanya menyaksikan bagian punggung Jesselyn yang terekspos.


Akal sehatnya memaksa matanya untuk tidak menoleh pada Jesselyn namun nalurinya sebagai pria entah mengapa membuatnya melirik tubuh Jesselyn dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Sudah selesai, sebentar lagi acara resepsinya akan dimulai," ucap salah seorang yang membantu Jesselyn. "Kami tinggal sebentar ya mba," lanjutnya.


"Iya mba, makasih ya."


Jesselyn yang tadinya duduk kini kembali berdiri menghadap cermin memandangi dirinya dalam balutan kebaya. Ini untuk pertama kalinya ia memakai kebaya selama hidupnya.


Jesselyn memperhatikan dan menepuk-nepuk pakaian bawahnya karena melihat ada beberapa helai sisa benang-benang pendek yang menempel.


Saat mengangkat kepalanya Jesselyn baru menyadari keberadaan Leon dalam ruangan tersebut. Ia membelalakkan matanya mengingat ia baru saja berganti pakaian diruangan itu juga.


Ia semakin kaget karena Leon juga sedang memandanginya. Saat mata mereka bertemu Jesselyn tanpa sadar langsung membuang pandangannya dari Leon namun berbeda dengan Leon yang justru bangkit berdiri dan melonggarkan sedikit dasinya.


"Ekhem..." dehem Leon menghampiri Jesselyn sembari menggulung sebelah lengan kemejanya.


Jesselyn semakin gugup tatkala Leon semakin dekat padanya hingga berdiri tepat dibelakangnya.


"Hakh... K-kak Leon," ucap Jesselyn degdegan. " Jangan seperti ini kak."


Jantung Jesselyn semakin terpompa cepat saat tanpa permisi Leon melingkarkan tangannya di pinggang Jesselyn dan menjatuhkan kepalanya diatas bahu mungil sang gadis.


Grebb


Leon menarik tubuh Jesselyn dan memeluknya erat dari belakang hingga tiada jarak antara mereka.


"Ja-jangan kak, ngak boleh kak."


Jesselyn berusaha menyingkirkan tangan kanan Leon yang sudah mulai aktif bergerilya pada perut ratanya yang tertutupi kebaya. Belum lagi dengan lehernya yang sudah dapat merasakan bibir Leon menempel disana.


"Kak?"


"Stttt... Diamlah, hanya sebentar saja."


"Jangan kak, nanti kebayanya berantakan, nanti...hakh...kak," menepis tangan Leon yang mulai mengelus-elus lengan hingga pundak Jesselyn dan menggigit kecil daun telinganya.


Leon meraih pipi Jesselyn dan memalingkannya kearahnya.


"Permisi mba, kita keluar sekarang ya. Acara resepsinya sudah mulai."


Brug


Spontan Leon mendorong tubuh Jesselyn, membuat jarak antara mereka saat seseorang tiba-tiba membuka pintu dan masuk.


Seakan tidak ada yang terjadi Leon melenggang sambil membenarkan dasi dan kemejanya. Diraihnya jas yang tadi ia lepas untuk dipakai kembali.


"Oh, Tuhan. Tapi dia suamiku sekarang."


****


Acara resepsi berjalan dengan baik, semua undangan puas dengan jamuan yang disediakan dan memberikan ucapan selamat berbahagia kepada kedua mempelai.


Kebahagian Jesselyn begitu luar biasa dirasakannya karena kehadiran para sahabat yang tak disangkanya yaitu Neta dan Dela.


Sinta dan Adit yang semakin menempel pun tak kalah memukau dengan seragam pasangan yang mereka pakai. Tak terkecuali dengan penampilan Bela dan sang suami.


Seseorang yang sedari tadi duduk di sudut ruangan hanya memperhatikan kedua mempelai, tersenyum kecut menyaksikan kebahagian Jesselyn dan Leon. Saat ia berdiri hendak memberikan ucapan selamat tiba-tiba ponselnya berdering. Entah kabar apa yang ia dapat, ia langsung keluar tanpa mengucapakan selamat dan melajukan mobilnya pulang.


Ya, orang tersebut adalah Leo yang harus rela melihat gadis yang sangat ia sayangi bersanding bahagia bersama pria lain.

__ADS_1


__ADS_2