
...Sebelum baca saya mau ngucapin terimakasih banyak buat yang masih nuggu kelanjutan cerita ini. Maaf kalau tidak bisa up dengan rutin karena penulisnya masih tinggal di real life yang 😓😓😓😓 gitu deh pokoknya....
...Happy reading semuanya...
Glek
Bersusah payah Leon menelan salivanya, mencoba mendamaikan hati dan pikirannya. Pemandangan di depan mata membuat sekujur tubuhnya ikut menegang diiringi gejolak yang ia sendiri tidak tahu harus bagaimana meresponnya.
Aroma wangi dari tubuh dan rambut basah gadis yang begitu ia damba membuat akal sehatnya seakan terkikis. Belum lagi bibir dengan warna alami yang seolah meminta Leon untuk segera melahapnya habis. Bahkan pangkal gundukan yang dimiliki gadis itu terasa begitu menantang bagi siapa saja yang melihatnya.
"Kak Leon mau apa?" tanya Jesselyn ketakutan dengan suara tak begitu jelas karena mulutnya ditutup oleh telapak tangan Leon.
Sepertinya baru saja Leon selesai membersihkan tubuhnya dengan air dingin di kamar mandi, namun ia merasakan jika suhu tubuhnya kian detik kian memanas.
"Kak?" ucap Jesselyn saat Leon melepaskan tangan dari mulutnya.
"Sssttt....," bisik Leon dengan menempelkan telunjuknya dibibir sang gadis. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dengan tersenyum dikucupnya kening sang gadis begitu lama. Kemudian bibirnya turun mencium kedua kelopak mata yang membuat siempunya refleks menutup mata. Hidung, kedua pipi hingga kembali pada kening daratan bibir Leon.
"Hufff...." Leon dengan sengaja meniup wajah tegang dihadapannya dan menghembuskan nafasnya ke telinga gadis itu. Jesselyn mengernyitkan bahunya saat gigitan-gigitan kecil diberikan leon ditelinganya. Tubuhnya kian menegang dan hawa panas seolah menghampirinya.
Jesselyn menggigit bibir bawahnya menahan desakan nafas yang memburu dan hal itu malah semakin membuat Leon tak dapat menahan diri dan langsung menempelkan kedua bibir mereka. "Manis," pikir Leon saat mengecap bibir Jesselyn.
Kali ini Leon ingin memberikan ciuman yang tidak akan pernah terlupakan oleh gadisnya itu sehingga ia melakukannya dengan lembut. Pagutan demi pagutan yang dilakukan Leon seakan menimbulkan sengatan listrik ditubuh Jesselyn. Sebelah tangan Leon memeluk erat pinggang gadisnya dan semakin menempelkan tubuh keduanya dan mengelus-elus tubuh bagian belakang Jesselyn. Sedang yang Satu lagi menahan tengkuk Jesselyn agar memperdalam ciuman mereka.
Leon menuntun dan menempelkan tubuh Jesselyn kedinding. Tidak ada perlawanan yang diberikan Jesselyn seolah ia pun larut dan terbuai oleh sapuan lembut bibir Leon di bibirnya. Jesselyn mencengkram kuat handuk yang melilit ditubuhnya, menahan sensasi yang diciptakan Leon. Sekuat tenaga ia menahan tubuhnya agar tidak ambruk karena kakinya yang semakin lemas tak berdaya.
Leon melepas ciumannya, menarik nafas dalam-dalam dan dengan lembut menyeka bibir Jesselyn yang basah akibat ulahnya.
"Sudah kak," ucap Jesselyn menatap Leon yang matanya tak kalah sayu darinya.
Leon menggelengkan kepalanya sambil menelan salivanya. Ia sudah begitu lama menahan diri dari apa yang ingin ia lakukan selama ini.
Kembali Leon mendaratkan ciumannya dibibir Jesselyn, ciumannya kini berubah menjadi begitu liar dan menuntut hingga membuat Jesselyn memukul-mukul pundak Leon. Tentu saja Leon tidak begitu saja melepas tubuh gadis itu hingga bibirnya kini turun kebagian leher.
"Jangan kak," ucap Jesselyn memohon. Leon mengerutkan keningnya karena penolakan Jesselyn.
"Nanti bisa ada bekasnya. I-iya, di novel yang pernah aku baca katanya gitu," ucap Jesselyn menahan tubuh leon.
"Lalu?" tanya Leon yang kini tersenyum.
"Ada bekasnya, kak. Kalau dilihat orang gimana? Apalagi kalau yang lihat om dan tante. Jangan ya kak?" pinta Jesselyn malu dan menundukkan kepalanya.
Leon tersenyum mendengar penuturan gadis dihadapannya itu. Gadis itu begitu lucu dan menggemaskan baginya.
__ADS_1
"Kalau gitu disini saja," ucap Leon dan langsung meluncurkan bibirnya dipangkal salah satu gundukan yang sedari tadi menantangnya.
"Haisss..sakit kak," desis Jesselyn saat merasakan sesapan dipangkal gundukan miliknya. Sekujur tubuhnya berdesir terlebih lagi saat lembut bibir dan lidah secara bersamaan melakukan aksinya hingga meninggalkan jejak.
Leon menarik kepalanya dan tersenyum menyaksikan karya yang baru saja ia lukiskan.
"Tidurlah, besok kamu ke kampus." Leon mencium pucuk kepala Jesselyn dan mengelus rambut yang juga masih basa. "You are mine!" bisik Leon sebelum pergi dan menggigit kecil telinga gadis yang masih berdiri seperti patung itu.
Leon keluar dan menutup pintu kamar Jesselyn dengan pelan. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan sumringah.
Hahhhh.....
Leon menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, tersenyum melihat kelangit-langit kamarnya. Ia memejamkan matanya mengingat kembali apa yang baru saja dilakukannya.
****
"Ngak mungkin, gue mimpikan?" Nadya berlari ke kamarnya setelah yakin Leon masuk dalam kamarnya juga sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
Tadi saat Jesselyn berteriak karena melihat keberadaan Leon dikamarnya, Nadya yang masih melanjutkan acara nontonnya dikamar langsung terperanjat dan berlari menuju kamar Jesselyn. Khawatir jika mungkin sesuatu sedang terjadi pada gadis itu apalagi kondisi Jesselyn yang sebenarnya masih kurang sehat.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu Nadya langsung membuka pintu kamar dan
bukan main terkejutnya dia. Mata Nadya membulat dengan sempurna menyaksikan suguhan yang tanpa sengaja dilihatnya. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Dia bergidik ngeri saat menyaksikan bagaimana kakaknya ******* habis bibir Jesselyn begitu rakus. Seakan tak percaya jika pria itu adalah Leon, kakaknya.
"Pasti ada yang salah nih," ucap Nadya setiba dikamarnya. "Saat pulang tadi kak Leon seperti lagi marah tapi yang barusan itu...akh..." Nadya menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kelakuan kakaknya.
Untung saja dia tidak sempat melihat saat Leon melukis sebuah maha karya ditubuh Jesselyn tadi, bisa-bisa dia akan pingsan atau menjerit dan membangunkan semua penghuni rumah.
Di kamarnya Jesselyn yang kesadarannya sudah kembali, berdiri menghadap cermin dan melihat jelas jejak yang ditinggalkan Leon. Dengan masih terlilit handuk ia berjalan begitu kaku dan menenggelamkan wajahnya kebantal. Ditariknya selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia meronta-ronta di dalam selimut dan mengguling-gulingkan tubuhnya.
****
"Pagi om, tante dan kak Nadya?" sapa Jesselyn saat tiba di meja makan.
Nadya melirik Jesselyn sambil menguyah sarapannya.
"Pagi sayang, kamu sudah kuat buat ke kampus?" tanya Lena yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.
"Sudah tante. Jesselyn baik-baik aja sekarang," jawab Jesselyn apa adanya.
"Kalau ada apa-apa kamu langsung kabarin ya," ucap Lena mengingatkan Jesselyn yang masih khawatir. Jesselyn menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia mengambil sesendok nasi goreng dan mulai memakannya.
"Om ada keperluan mendadak pagi ini, jadi ngak sempat kalau harus ngantar kamu dulu, kamu naik taksi online aja ya?" ucap Bagas mengambil posisi duduk untuk ikut sarapan. "Habis sarapan nanti om pesanin taksi buat kamu," lanjut Bagas.
__ADS_1
"Iya, om." Jesselyn menurut dan menganggukkan kepala.
"Ngak usah, pa. Biar Leon yang antar," ucap Leon yang tiba-tiba sudah bergabung dengan mereka.
Uhuk-uhuk
Nadya yang sedang minum seketika terbatuk mendengar Leon. Untuk pertama kalinya Leon menawarkan diri mengantar Jesselyn. Selama ini kalau bukan karena perintah dan permintaan papanya mana mungkin ia mau melakukannya.
****
"Ma, kak Leon dan Jesselyn...." Nadya ragu antara menceritakan kejadian semalam atau tidak pada mamanya.
"Kenapa?"
"Enggak sih ma, cuman..."
"Oh iya, hampir lupa." Lena menepuk jidatnya. "Sebentar"
Nadya mendengus kesal merasa dicuekin mamanya.
"Ini lihat," Lena yang sudah kembali tiba-tiba menunjukkan ponselnya pada Nadya.
Hakh!
Nadya membelalakkan matanya terkejut melihat foto-foto yang ditunjukkan mamanya.
"Ini maksudnya apa, ma?" tanya Nadya meminta penjelasan. "Ngak mungkin, ma?"
"Apa yang ngak mungkin? Buktinya ini!" ucap Lena menunjukkan video saat Leon dan Jesselyn saling memakaikan cincin.
"Memang mereka setuju?" meyakinkan jika apa yang dipikirkannya tidaklah salah.
"Yang jelas mereka sudah tunangan dan mama senang sekali."
Lena kembali merapikan meja makan sambil bersenandung kecil tanda bahagia sedangkan Nadya masih belum percaya kalau ternyata Leon dan Jesselyn sudah bertunangan.
like
coment
vote
gift
__ADS_1
terimakasih 🙏❤️❤️❤️