
Bagai sebuah patung Jesselyn tak bergerak melihat Leon keluar dari kamarnya. Pikirannya kosong tak mengerti dengan situasi yang baru terjadi.
Marah, kesal dan geram akan sikap dan sifat Leon selama ini tentu saja tak dapat ia sembunyikan lagi. Semuanya telah ia keluarkan namun bukan berarti keadaan seperti ini yang ia inginkan.
Perlahan ia menundukkan kepala dengan mata tertutup berfikir jika apa yang baru saja ia rasakan tidaklah benar.
Tubuhnya lemas, kaki kokohnya tak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya.
Tubuh itu terjatuh saat maniknya berlinang melihat jari manis tempat Leon menyematkan cincin pertunangan mereka sudah kosong. Cincin itu sudah tidak lagi berada pada tempatnya.
Ingatan pada kalimat terakhir yang diucapkan Leon kembali menggema di telinganya. Kalimat kebebasan untuknya setelah Leon melepas cincin dari jari manis gadis itu.
"Hufff... Dia pasti lagi bercanda," ucap Jesselyn membesarkan hatinya. "Kak Leon memang orang seperti itu. Iya benar, dia pasti lagi ngambek aja dan nanti dia pasti akan datang buat ngembaliin cincinnya. Iya, benar seperti itu."
Jesselyn berbicara pada dirinya sendiri akan apa yang terjadi. Ia berfikir jika Leon hanya bercanda dan mengerjainya seperti biasanya.
Ia mengumpulkan kekuatannya dan berdiri namun masih menangis sambil meremass tangan dimana biasanya tersemat sebuah cincin pada salah satu jarinya.
****
"Ayo sarapan, nak."
Lena yang melihat Jesselyn menuju meja makan langsung mengajaknya untuk sarapan bersama.
Bagas yang juga sudah rapi dan siap ke kantor ikut bergabung dengan mereka. Semuanya sudah berada di meja makan dan mulai menyantap sarapan pagi.
Hanya tuan rumah yang tidak mendengar dan tahu saat tadi Jesselyn dan Leon bertengkar dikamar karena ia sedang berada di kamar mandi. Lena meminta Nadya untuk tidak memberitahu pada papanya mengenai hal tersebut. Ia takut jika suaminya tahu maka leonlah yang akan menjadi sasaran empuknya. Lena tidak ingin ada keributan ataupun hal-hal yang tak diinginkan mengingat pernikahan yang sebentar lagi akan dilakukan.
Jesselyn memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya, bersusah payah mengunyah dan menelannya seakan makanan itu bagai batu yang berdiri. Sama seperti tantenya dan Nadya, ia pun tidak mengatakan apapun mengenai kejadian tadi.
"Kalau boleh kamu dan Leon ngak usah keluar rumah lagi. Seandainya ada yang kalian butuhkan bisa minta tolong sama tante dan Nadya."
Sambil mengunyah makanan dimulutnya Bagas memberi nasihat dengan pandangannya tertuju pada Jesselyn.
Jesselyn hanya menganggukkan kepalanya namun pikirannya melayang entah kemana.
"Leon belum bangun?" tanya Bagas melihat kursi yang biasanya di duduki Leon dalam keadaan kosong.
"Sudah kok, pa!" jawab Nadya bersemangat.
"Apa yang dikerjakannya diatas, apa ia mengambil cuti hanya untuk bermalas-malasan dikamar saja?"
Lena dan Nadya bertukar pandang dan melirik Jesselyn bersamaan namun yang dilirik hanya diam, mengunyah makanannya dengan kepala menunduk.
__ADS_1
"Leon..."
Suara Bagas menggema dalam rumah memanggil putranya.
Tak ada jawaban dari orang yang dipanggil padahal suara itu cukup kuat untuk didengar sampai ke lantai atas apalagi tidak ada pengedap suara dalam kamar.
"Leon..."
Sekali lagi suara barito itu bergema dalam rumah namun yang dipanggil tak juga muncul bahkan untuk menyahut pun tidak.
Jesselyn mengangkat kepalanya, menengadah keatas melihat kearah pintu kamar milik Leon.
"Dia itu tuli atau sedang pingsan dikamarnya," kesal Bagas.
Bagas menggeleng namun entah mengapa maniknya menangkap gelagat aneh pada Jesselyn karena sedari tadi gadis itu hanya diam saja.
"Panggil dia," perintah Bagas pada Nadya.
"Baik, pa."
Gegas Nadya menaiki tangga melakukan apa yang diminta ayahnya.
Tiba di depan kamar Leon, Nadya langsung mengetuk pintu sambil memanggil nama sipemilik kamar. Berulang kali Nadya mengetuk namun masih tidak ada sahutan dari dalam.
"Kak, aku masuk ya."
"Kak..."
Nadya mengedarkan pandangannya kesekitar kamar mencari keberadaan Leon. Perlahan ia melangkah masuk ke dalam sambil terus memanggil nama sipemilik kamar.
Nadya mengerutkan keningnya saat tak mendapati Leon berada dalam kamar padahal dia yakin jika kakaknya itu tidak keluar kamar sama sekali sejak ia melihat Leon meninggalkan kamar Jesselyn.
Saat akan keluar Nadya mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
Dengan langkah hati-hati Nadya mendekat dan mengetik pintu kamar mandi yang setengah terbuka.
Ia memicingkan matanya saat melihat warna air yang mengalir dilantai sedikit berbeda.
"Kak, kakak ada di dalam ya," ucap Nadya.
Takut sesuatu hal aneh terjadi di dalam, Jesselyn mendorong pintu kamar mandi yang penuh gemericik air karena shower yang terus menyala.
"Mama... Papa..." teriak Nadya sekuat tenaga. Suara teriakannya memenuhi seisi rumah dan mengagetkan para penghuninya.
__ADS_1
"Ma... Pa..." kembali Nadya memanggil kedua orang tuanya dengan teriakan.
"Tolongin kak Leon, pa."
Mendengar teriakan Nadya semua yang berada dimeja makan berlari ke lantai atas, tepatnya kamar Leon dimana Nadya berteriak histeris.
"Leon..."
Lena histeris melihat pemandangan di depan matanya. Ia meremas dadanya, dirasakannya sekujur tubuhnya dingin, dan seakan ada ribuan anak panah menancap pada jantungnya. Penglihatannya meremang melihat Leon duduk bersandar pada tembok kamar mandi dengan goresan di pergelangan kirinya.
Shower yang berada diatas kepala leon tak henti mengguyur tubuhnya, membiarkan air meluncur hingga kepergelangan yang juga tak henti mengeluarkan cairan merah.
Sebelumnya.....
Setelah meninggalkan kamar Jesselyn, Leon langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia masuk ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya yang begitu panas hingga mau pecah dan terbakar dirasanya.
Semua perkataan Jesselyn kembali terngiang di telinganya, entah sudah berapa puluh kali ia meninju dinding kamar mandi dengan shower yang menyala. Hati dan pikirannya semakin bertambah kacau saat melihat cincin pertungan yang ia lepas sendiri dari jari Jesselyn.
Leon menertawakan dirinya sendiri dan saat ia mengusap wajahnya sebuah pisau cukur menarik perhatiannya. Tanpa berpikir lama ia mengeluarkan benda tajam itu dan menyayat pergelangannya.
Sambil tertawa ia mengarahkan bagian yang tersayat dan sudah mengeluarkan darah tepat dibawah guyuran air hingga
tubuh kuat itu ambruk ke lantai, dilihatnya air yang membasahi lantai tercemar oleh darah yang terus keluar dari pergelangan tangannya.
Kembali ke situasi saat ini.....
"Leon, apa kau sudah gila, hah?" teriak Bagas dan langsung mematikan showor.
Jesselyn yang berada dibelakang saat berlari tak dapat menahan air matanya. Tubuhnya membeku melihat Leon yang terkulai lemas dengan wajah yang sudah pucat pasi dan tak berdaya tersenyum menatapnya.
Baru saja ia akan melangkah kedalam kamar mandi membantu om-nya mengangkat tubuh Leon, pria itu menutup matanya tak sadarkan diri.
Bagas mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, membalut sayatan yang tak berhenti mengeluarkan darah dan mengikatnya.
"Bawa handuk dan selimut," perintah Bagas yang langsung dilakukan Jesselyn.
Hampir saja Lena ambruk jika tidak ditahan oleh Nadya, ia begitu ngilu menyaksikan keadaan anaknya saat ini.
Nadya membawa mamanya keatas ranjang Leon dan berusaha menenangkan mamanya sedangkan Jesselyn berjalan mengikuti langkah om-nya menuruni tangga untuk membawa Leon ke rumah sakit.
Bagas langsung menancap gas dan terus menerus membunyikan klakson mobil agar diberi jalan.
"Buka pakaiannya," perintah Bagas melihat ke kursi penumpang melalui kaca spion dalam mobil.
__ADS_1
"Hah? Jesselyn yang buka om?" tanya Jesselyn bingung.
"Cepat!"