
"Sore bu, maaf ya aku pulangnya kesorean. Tadi Neta ngajakin aku dan Dela kerumahnya sebelum pulang. Ada arisan di rumah Neta jadi dia nawarin kita makan, ibunya juga nyuruh aku bawa ini pulang," Jesselyn menyalam ibunya dan menunjukkan kantong plastik berisi beberapa kue basah yang ia bawa dari rumah Neta.
"Kalian bertiga memang selalu lupa waktu kalau sudah ngumpul. Tapi kamu ngak lupa ucapin terima kasih sama ibunya Neta kan?" tanya Mira ibunya Jesselyn yang sedang membersihkan bungkusan- bungkusan makanan dan beberapa kantong plastik yang ada diatas meja plastik rumah mereka.
"Pasti bilang dong bu. Tadi ada tamu ya bu?" Jesselyn memperhatikan meja yang berantakan dan meletakkan kue yang ia bawa diatas galon air.
"Iya, tadi ada tamu tapi sudah pergi."
"Oh... Aku ganti baju dulu ya bu, setelah itu aku bantu bersih-bersih," Jesselyn mengganti pakaiannya dan menaruh pakaian kotornya di keranjang kain kotor. Karena merasa gerah ia menggulung rambutnya dan menjepitnya keatas. "Capek banget hari ini tapi seru, 'kriuk-kriuknya' hahaha..." Jesselyn tertawa saat mengingat kembali apa yang mereka lakukan tadi. Tawanya terhenti saat melihat sesuatu yang aneh dikamarnya. "Ibu...ibu....?" Jessselyn memanggil ibunya cukup keras.
"Kamu kenapa sih, sore-sore begini teriak-teriak nanti kalau didengar tetangga dikirain ada apa-apa gimana?"
"Memang ini ada apa-apa bu..." Jessselyn berlari menemui ibunya yang sedang berada di dapur.
"Memang kenapa nak?"
"Tadi ada yang masuk kamar aku ya bu?"
"Kamar kamu? Memang ada apa? Di rumah ini kan hanya ada kamu sama ibu?"
"Iya bu...bukannya tadi itu ibu bilang ada tamu?"
"Iya, memang ada apa sih?"
"Ayo bu" Jesselyn mengajak ibunya ke kamar dan menunjukkan apa yang membuatnya kesal. "Ibu lihat dong bu, hampir semua foto-foto yang aku pajang dan taruh diatas meja belajar di coret-coret begini? Ini foto kenangan Jesselyn dengan teman-teman selama sekolah?" ia menunjukkan setiap foto yang yang terkena coretan.
"Waduh...kenapa bisa begini ya Jes?" Mira memperhatikan setiap foto yang ada dikamar Jesselyn. "Tapi kok aneh ya, foto-foto kamu sama ibu ngak kena coret-coret, yang kamu sendiri juga ngak? Yang kena coretan hanya foto kamu sama teman-teman sekolah kamu? Tapi sudahlah itukan cuman foto nanti kamu bisa cetak lagi dan lebih banyak lagi," Mira meninggalkan Jesselyn yang uring-uringan dikamarnya.
"Iya ya, yang kena coret hanya foto yang teman sekolah aja. Tapi ini juga dengan teman sekolah kenapa ngak kena coretan ya?" Jesselyn memperhatikan fotonya bersama Neta dan Dela yang bersih dan memperhatikan setiap foto yang ada coretannya.
Yang terkena coretan foto-foto yang ada teman laki- laki didalamnya dan yang dicoret juga diwajah mereka.
"Anak nakal nih pasti yang coret-coret, kurang kerjaan kali itu anak?" Jesselyn masih saja uring-uringan dikamarnya.
"Oh iya, ibu belum jawab apa ada yang masuk ke kamar aku tadi?" tanya Jesselyn dari dalam kamarnya.
"Iya ada"
"Kenapa dikasih masuk sih bu?"
"Kasihan soalnya dia kecapean dan ngantuk pengen istirah jadi ibu suruh ke kamar kamu aja, ngak mungkin ke kamar ibu kan? Ibu pikir karena kalian sudah kenal jadi ngak masalah dia pakai kamar kamu buat istirahat sebentar disana."
"Kenal? Memangnya dia siapa bu?"
__ADS_1
"Leon! Iya, namanya Leon" meyakinkan dirinya tidak salah sebut nama.
Deg...
Jesselyn terkejut mendengar nama yang sudah satu tahun ini tidak pernah ia dengar.
"Leon yang mana bu? Aku ngak punya teman yang namanya Leon," tanya Jesselyn ingin meyakinkan apa yang ia pikirkan.
"Memang bukan teman kamu, kamu kan panggil dia kakak karena umurnya diatas kamu nak?"
"Maksud ibu?" Jesselyn keluar dari kamarnya dan mendekati ibunya yang sudah duduk dikursi yang ada diruang tamu.
"Iya, tadi tante Lena datang saat kamu keluar dengan teman-teman kamu. Dia datang dengan anaknya yang bernama Leon, selain ganteng anaknya juga baik dan sopan." mengingat sikap Leon saat bertemu tadi.
"Itu sih sama ibu, ke aku ngak " ucap Jesselyn dalam hatinya.
"Mereka datang kerumah ngapain bu?" tanya Jesselyn sedikit kaget.
"Ini" Mira memberikan sebuah amplop putih pada Jesselyn.
"Ini apa bu?"
"Buka aja nanti kamu juga tahu"
"Terus Buat siapa dan buat apa tiket pesawat ini bu?"
"Tanpa ibu jawab kamu pasti tahu buat siapa dan untuk apa, iya kan?"
"Aku ngak tahu bu," memasukkan kembali tiket pesawat tersebut ke dalam amplop dan meletakkannya diatas meja plastik yang ada didepan mereka.
"Memangnya kenapa nak? Mereka baik sama kamu dan ibu pengen sekali kamu bisa lanjutin sekolah?"
"Mereka memang baik bu, tapi...."
"Semenjak kamu balik ke kampung, tante kamu bolak-balik ke rumah sakit karena kesehatannya menurun."
"Kok bisa?"
"Jantung yang sekarang ada pada tante kamu adalah hasil transplantasi, makanya kalau dia ada pikiran, akan berefek ke jantungnya juga."
"Tapi selama aku disana tante kelihatan baik-baik aja bu?"
"Itu kan yang kamu lihat beda dengan yang tidak kamu lihat? Lagian om Bagas sudah mengurus pendaftaran kuliah kamu disana dan membayar biaya kuliah kamu selama setahun."
__ADS_1
"Gimana bisa bu, berkas-berkas aku kan ada disini?"
"Bisa. Kemarin setelah kamu lulus ibu langsung kirimkan foto copy surat keterangan tanda lulus kamu."
"Bu?" Jesselyn terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Lagian tempat kamu kuliah nanti salah satu kampus terbaik, jadi ibu harap kamu jangan menyia-nyiakan kesempatan kamu ini. Ayah kamu juga pasti ingin lihat kamu sukses. Om Bagas juga sudah keluarin uang, sayang kalau disia-siakan. Kamu ngertikan nak?"
"Tapi ibu sendiri lagi nanti?"
"Ibu masih sehat dan kamu juga lihat yang jahit ke ibu tetap ada, ibu juga lebih muda dari tante kamu?"
"Hihihi...." Jesselyn tertawa mendengar apa yang dikatakan ibunya.
"Jadi menurut ibu, Jesselyn harus gimana bu?"
"Kamu sudah tahu jawaban ibu, iya kan?"
"Hem..... Jesselyn pikir-pikir dulu lagi ya bu?"
"Jangan kelamaan mikirnya nanti cepat tua dan keriput" pesannya pada putri semata wayangnya itu.
"Ih, ibu bisa aja. Aku bersih-bersih dulu bu."
"Ya sudah, ibu juga mau ke rumah pak lurah nganterin baju istrinya yang sudah selesai dijahit" memasukkan pakaian yang sudah selesai ia jahit kedalam kantong plastik.
"Iya bu, pulangnya jangan lupa beliin makanan ya bu?" Jesselyn tersenyum agar permintaanya terkabul.
"Itu di dapur ada banyak makanan. Tadi di beliin Leon, kamu makan itu aja. Sayang buang - buang makanan. Di kulkas juga ada buat kamu."
"Iya bu...iya...Jesselyn becanda kok?"
Setelah Mira pergi, Jesselyn membersihkan dan merapikan rumah dengan telaten. Ia membuka tudung saji dan melihat banyak makanan namun ia menunggu ibunya untuk makan bersama-sama.
Ia membuka kulkas dan melihat es krim vanila kesukaannya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima. Banyak amat, ibu kan ngak suka es, apa ini semua buat aku? Lumayanlah buat lima hari. Lagian ini kan bukan aku yang minta. Orang kaya mah bebas mau beli berapa juga ngak masalah," Jesselyn membuka satu es krim dan memakannya sembari menunggu ibunya pulang.
...Terimakasih sudah mampir......
...Like dan komennya dipersilahkan.....
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1