Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Will You Marry Me?


__ADS_3

Dalam keadaan terisak Jesselyn mempercepat langkah kakinya sambil sesekali menyeka air matanya. Jesselyn yang notabennya sangat baru dan belum paham mengenai seluk beluk desa hanya mengikuti arah langkah kakinya membawanya kemana.


Jesselyn mengedarkan pandangannya kesekitar saat kakinya berhenti di tempat ia sekarang sedang berdiri.


Ia menangis diikuti kakinya yang kini berjongkok seakan tidak kuat menopang tubuhnya untuk berdiri lagi.


"Hiks...hiks...hiks... Ibu, Jesselyn harus bagaimana?"


Sudah hampir setengah jam gadis itu menangis dengan pikiran-pikiran rumitnya sedangkan disisi lain Leon yang belum menemukan keberadaan Jesselyn terus berusaha mencarinya tanpa memberitahu yang lain.


Saat berkacak pinggang ia memikirkan satu tempat yang mungkin gadis itu datangi.


"Ngak mungkinkan dia pergi kesana?" ucap Leon menerka namun kakinya berjalan ketempat yang ia pikirkan.


Semakin lama langkah kaki Leon semakin cepat bahkan kini ia berlari berharap ia akan menemukan gadisnya disana.


Tak butuh waktu lama bagi Leon untuk tiba disana yang mengambil jalan pintas meski harus melewati jalan setapak yang berlumpur.


Tiba disana Leon langsung dapat mendengar suara seseorang sedang menangis dan ia sangat mengenal siapa sipemilik suara tersebut.


Leon sengaja berjalan dengan pelan agar Jesselyn tidak menyadari kedatangannya. Dan benar saja, sampai Leon berdiri dengan jarak yang begitu dekat dibelakang Jesselyn, gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaannya.


Entah apa yang terjadi, Jesselyn yang tadinya terisak tiba-tiba diam, menyeka air matanya dan malah berbicara sendiri. Ia mengumpati Leon sambil menancap-nancapkan sebatang ranting kecil ketanah.


"Dasar jahat, ngak berperasaan, laki-laki dingin, cuek, kalau ngomong suka ketus, aku ngak suka sama kak Leon, tiba-tiba baik tapi bisa tiba-tiba jahat," ucap Jesselyn dengan geram.


Leon menahan ucapannya saat mendengar gadis didepannya itu mengumpatinya. Hal yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Leon yakin jika selama ini gadis itu pasti sering mengumpatinya di belakangnya.


"Memangnya siapa yang mau nikah sama dia, ngak ada yang mau nikah sama dia. Laki-laki posesif, manja dan suka cium sembarangan tanpa izin. Dasar orang gila!" lanjut Jesselyn terus mengumpati Leon.


Meski ada sedikit rasa kesal saat dikatai manja, bukannya marah Leon justru tersenyum karena kini ia tahu apa yang sebenarnya ada di hati gadis itu selama ini.


"Posesif dan gila!" ucap Jesselyn menancapkan ranting ditangannya dengan kuat hingga berdiri tegak.


"Tapi orang gila itu benar-benar sayang sama kamu," ucap Leon tiba-tiba.


Kaget mendengar seorang menyahut ucapannya, Jesselyn langsung menoleh kebelakang dan mendapati Leon berdiri tersenyum dengan kedua alis yang terangkat ke atas.


Brukkk


Sangkin kagetnya Jesselyn yang tadinya berjongkok tidak dapat menahan kakinya hingga langsung terjatuh dan bokongnya mendarat di tanah.


"Kak Leon?" ucap Jesselyn tidak menyangka jika Leon tahu keberadaannya di tebi danau buatan yang baru semalam mereka berdua kunjungi.


Bukannya langsung mengulurkan tangannya untuk menolong Jesselyn, Leon justru membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya pada Jesselyn.


"Jadi selama ini dibelakang aku kamu suka ngumpati aku, hem?"

__ADS_1


"Eng-gak," jawab Jesselyn gelagapan.


"Terus yang barusan apa?" tanya Leon menyeringai.


"A-aku ngak ngomong apa-apa," elak Jesselyn.


"Kamu tahu ngak kalau kamu itu bukan pembohong yang baik," ucap Leon mengulurkan tangannya dan disambut langsung oleh Jesselyn.


"Jesselyn memang ngak bohong, justru kak Leon yang bohong."


Jesselyn menepuk-nepuk kedua telapak tangannya yang kotor yang ia gunakan untuk monopang tubuhnya saat jatuh tadi sedangkan Leon menepuk-nepuk rok panjang yang dikenakan Jesselyn.


"Kak?" pekik Jesselyn saat Leon tanpa sadar dan tanpa sengaja menepuk sekali bokong Jesselyn untuk membersihkan daun kering yang menempel.


"Ha?"


Leon yang tidak mengerti hanya melihat Jesselyn dengan tatapan bingung.


"Aku bisa sendiri."


Leon yang tiba-tiba tersadar langsung menarik tangannya yang hendak kembali menepuk rok Jesselyn.


"Sorry!" ucap Leon mengangkat kedua tangannya keatas. " Tadi kamu bilang aku yang bohong, maksudnya?"


"Selama ini kak Leon diam-diam sering telponan dan ketemu kak Bela, iyakan?"


Jesselyn mengerucutkan bibirnya cemberut. Ia tidak lagi ingin menahan apa yang ingin ia katakan lagi karena selama ini ia sangat penasaran dengan hubungan antara Leon dan Bela.


"Iya, aku pernah lihat kak Leon ketemu sama kak Bela dan lihat ada panggilan telepon dari kak Bela."


"Apa sekarang kamu punya hobby jadi stalker?"


Jesselyn membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena secara tidak langsung ia membenarkan apa yang dikatakan Leon.


"Ternyata kamu menguntitku belakangan ini?"


Leon mendekati Jesselyn dan meraih kedua tangannya yang menutupi mulut.


"Apa rasanya sakit dan ada yang mau meledak di sini waktu kamu lihat kami berdua?" tanya Leon menunjuk dada Jesselyn.


Jesselyn mengangguk, tidak ingin membohongi perasaannya sendiri.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh dan percaya sama aku, oke?" Leon membawa Jesselyn kedalam pelukannya.


"Terus kak Leon dan kak Bela...."


Jesselyn menarik tubuhnya menatap Leon mencari jawaban dari pertanyaannya selama ini.

__ADS_1


"Stttt... stop it," ucap Leon menghentikan ucapan Jesselyn, menempelkan jari telunjuknya dibibir gadis itu.


"Tapi kak, aku..."


"Will you marry me?"


Jesselyn terdiam, mematung mendengar permintaan Leon.


Jika tadi oma yang membahas pernikahannya bersama Leon secara mendadak, kini Leon sendiri yang meminta kesediaan Jesselyn untuk menikah dengannya.


"Tapi Jesselyn masih..."


"Will you marry me?" tanya Leon kembali memotong kalimat Jesselyn.


Leon memintanya dengan begitu lembut, menempelkan kening mereka berdua sambil sebelah tangannya mengusap-usap pipi kiri Jesselyn.


Sungguh Jesselyn begitu bingung, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang ia miliki untuk Leon.


"Kalau seandainya sudah menikah nanti aku masih boleh kerja?"


"Will you marry me?" pinta Leon untuk ketiga kalinya.


"Jawab pertanyaan aku dulu kak," ucap Jesselyn karena Leon tak mengindahkan pertanyaannya. "Lalu apa kakak sudah yakin mau nikah dan menikahi aku? Aku...,"


"Will you marry me... Will you marry me... Will you marry me... Will you marry me... Will you marry me..."


Bagai sedang mengucapkan sebuah mantra Leon komat kamit mengulang-ulang kalimatnya.


"Kak?" Jesselyn menguncang bahu Leon agar berhenti namun sia-sia.


"I will!"


Tembok pertahanan gadis itu runtuh seketika. Dengan meremas kuat ujung sweaternya Jesselyn menjawab pertanyaan Leon.


Jawaban yang diberikan Jesselyn berhasil membuat Leon berhenti mengulang-ulang kalimatnya.


"Yakin?" tanya Leon memastikan.


"Kalau aku bilang enggak nanti oma nikahin kakak sama kak Bela, aku ngak mau."


"Itu ngak mungkin," ucap Leon mematahkan ketakutan Jesselyn.


"So, will you marry me Jesselyn Anastasya?"


"Yes, I will."


Jesselyn tersipu malu, ia menenggelamkan wajahnya di dada Leon menutupi wajahnya yang bersemu, merah merona seperti tomat siap panen.

__ADS_1


Leon sedikit mendorong bahu Jesselyn agar bisa melihat wajah gadis itu.


"Hehehe... Lucu," ucap Leon dan memeluk erat tubuh Jesselyn. "Maaf karena sudah buat kamu nangis lagi," sesal Leon mengecup puncak kepala Jesselyn.


__ADS_2