
Keesokan hari sehabis sarapan pagi Mira, ibunya Jesselyn berangkat ke bandara dengan seorang supir. Mira menolak saat Leon memaksa untuk mengantarnya dengan alasan tidak baik bagi pengantin baru untuk keluar rumah apalagi membawa kendaraan.
Jesselyn menangis dalam pelukan sang ibu, cukup lama mereka berpelukan bahkan Jesselyn sebenarnya masih ingin ibunya untuk tetap tinggal selama beberapa hari dengannya.
"Baik-baik ya sama om dan tante, apalagi sama kak Leon. Sekarang dia sudah jadi suami kamu dan kamu sebagai seorang istri harus jaga nama baik dan menghormati suami kamu. Tinggal beberapa hari dirumah ini membuat ibu yakin dan percaya kalau Leon sangat sayang sama kamu. Paham?"
Hanya anggukkan kepala yang dapat dilakukan Jesselyn karena isakannya dalam pelukan sang ibu.
"Jaga Jesselyn baik-baik ya, nak."
Itulah pesan yang disampaikan oleh Mira pada menantunya. Ia yakin Leon adalah pria yang tepat untuk putrinya.
"Pasti, bu."
Setelah berpamitan dengan yang lainnya Mira akhirnya berangkat kebandara untuk kembali ke kampungnya.
****
"Jesselyn dan kak Leon ngak ikut, ma?" tanya Jesselyn pada Lena yang kini berubah status menjadi mertuanya.
Mata Leon melotot mendengar apa yang dikatakan Jesselyn, tanpa pikir ia menarik tangan istrinya itu dan menggenggamnya begitu kuat.
"Ya enggak dong sayang, kalian pengantin baru ya tinggal dirumah dong."
Jesselyn hanya terdiam mendengar jawaban mertuanya. Ia ingin sekali menghirup udara segar perkebuna teh di pagi hari namun ia tahu kalau pria disampingnya pasti tidak akan mengizinkan jika seandainya pun diperbolehkan oleh Lena.
"Kalian berdua baik-baik ya dirumah."
"Iya ma," jawab Jesselyn dan Leon serempak.
"Ingat! Jangan rakus," bisik Bagas ke telinga Leon sebelum masuk ke dalam mobil.
Leon membuang pandangannya mendengar bisikan papanya.
"Masih ingat pesan oma kan sayang," bisik oma kini ditelinga Jesselyn. "Empat!" lanjutnya mengangkat empat jarinya dekat wajah Jesselyn.
"Ingat yang mama kasih semalam ya, Jes."
"I-iya, ma."
"Nadya tinggal aja boleh ngak?"
Ucapan Nadya sontak membuat beberapa dari mereka menatap tajam pada Nadya.
"Iya-iya, cuman becanda doang melototnya segitu amat," sinis Nadya melirik Leon.
Tak lama usai kepergian Mira sebuah mobil sedan pun yang di kemudikan Bagas meninggalkan rumah untuk mengantar opa dan oma ke Bogor.
****
Kini hanya ada Jesselyn dan Leon dalam rumah yang terbilang besar itu. Keduanya saling membisu dengan pikiran yang bergelayut entah kemana-mana.
"Aku bersih-bersih dulu kak."
__ADS_1
Sebelum melanjutkan langkahnya, Leon sudah terlebih dahulu menarik tangan Jesselyn dan membawanya kedalam pelukannya.
"Jangan sekarang ya kak, kan masih pagi."
"Justru karena masih pagi, kerjanya pasti lebih semangat."
Jesselyn tersenyum malu menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Leon.
"Lagi pula suami kamu ini sudah tidak tahan lagi, sudah menunggu terlalu lama. Kamu ngak kasihan, hem?"
Jesselyn masih menyembunyikan wajahnya pada dada Leon.
"Boleh?" tanya Leon begitu lembut.
Jesselyn menganggukkan kepalanya, kali ini hati, pikiran bahkan mulutnya pun jika berucap pasti selaras mengiyakan keinginan Leon.
Bagaikan mendapat durian runtuh Leon akhirnya dapat berdua saja dengan Jesselyn tanpa diganggu oleh siapapun.
Langsung saja Leon mengunci pintu kamar setelah keduanya berada didalam.
Tanpa menunggu lagi Jesselyn yang belum mempersiapkan diri tersentak karena ciuman yang diberikan Leon. Didorongnya tubuh ramping wanita dihadapnnya dan menyudutkannya pada dinding dengan bibirnya yang terus bekerja meraup bagian tubuh yang diolesi lip glos.
Kali ini Leon benar-benar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dan akan menjadikan gadisnya menjadi wanita yang sepenuhnya menjadi miliknya. Ia sudah bertekad pagi ini Jesselyn akan menjadi miliknya seutuhnya.
Seperti seorang anak kecil, Leon mengangkat dan menggendong tubuh Jesselyn. Dengan sigap Jesselyn pun melingkarkan kedua kakinya dipinggang Leon dan mengalungkan tangannya pada lehernya.
Ciuman dan sesapan menjadi hal yang begitu candu bagi keduanya untuk dilakukan.
Jesselyn yang tidak berpengalaman dan juga gugup membuatnya sedikit kesulitan saat membuka pengait celana hingga saat ia akan menurunkan zippernya kebawah tangannya tanpa sadar menyentuh milik Leon dari luar celana.
Leon menggigit giginya merasakan sesak pada bagian bawahnya. Sesuatu yang mendesak dari bawah sana membuatnya melepas yang menempel pada tubuhnya dengan terburu-buru.
Jesselyn tercengang karena untuk pertamakalinya ia melihat tubuh polos seorang pria. Jesselyn semakin menegang tatkala Leon yang sudah merasakan sesuatu hingga ke ubun-ubun langsung merobek piyamanya hingga semua kancingnya berserakan.
"Sabar kak, pelan-pelan."
Leon tidak menghiraukan perkataan Jesselyn, ia kembali melucuti pakaian yang digunakan gadis itu. Menarik tubuh Jesselyn sedikit keatas untuk kembali membuka pengait gundukannya seperti yang ia lakukan tadi malam dan melemparnya kelantai.
Nafas keduanya semakin memburu, mata sayu dan meremang menjadi alat komunikasi bisu diantara keduanya. Dada bahkan kedua gundukan dihadapan Leon yang terekspos dan seolah menantang ingin dilahap naik turun karena nafas yang kian memburu.
Kembali Leon menghujani gadis yang dibawah kungkungannya itu dengan ciuman. Bibirnya pun turun pada leher putih mulus jenjang.
"Sakit kak," ucap Jesselyn merasakan gigitan pada lehernya. Sayangnya ia tidak dapat berbuat apa-apa karena tangannya ditahan oleh Leon terlebih ia sudah tidak memiliki cukup kekuatan lagi karena tubuhnya yang semakin lemas dan menegang.
Gadis itu menggigit bibirnya dan mengeluarkan suara-suara racauan yang begitu merdu di pendengaran Leon.
"Shhh...kak..." desisnya merasakan bibir Leon bermain pada gundukannya. Suara-suara surga dunia yang dikeluarkan Jesselyn kembali membuat Leon kian bersemangat dan semakin menggebu-gebu. Setiap inci dari tubuh bahkan lekuknya tak terlewatkan oleh Leon yang semakin menjadi-jadi karena gejolak dan desakan yang semakin memuncak.
"Aku sayang kamu."
Kalimat yang terus menerus diucapkan Leon dalam aksi keduanya yang semakin memanas.
"Tu-tunggu kak."
__ADS_1
"Apalagi?" sungut Leon sudah tak kuasa menahan sesuatu dalam dirinya.
Jesselyn menjangkau dan membuka laci yang tak jauh dari posisinya. Sebuah kantong plastik kecil ia keluarkan dan menyodorkannya pada Leon dengan mata yang juga sudah berkabut.
"Pakai ini, kak. Mama yang bilang."
Dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar Leon melirik dan masih cukup waras untuk tahu apa yang disodorkan gadis itu padanya.
"Bukannya ini..."
"Iya kak, mama suruh aku kasih buat kak Leon pakai."
"Tapi aku ngak suka dan ngak mau," protes Leon. Kembali ia memainkan benda kenyal yang semakin menegang dengan ujung yang semakin membesar dari saat sebelum Leon melahapnya dengan rakus, menggigit-gigit kecil dan membuatnya seolah bagai lolipop.
Ciumannya kian lama kian menuntut. Tubuh yang ada dibawah kungkungan Leon tak henti menggeliat merasakan sapuan dari Indra pengecap yang tak memberikan jeda dalam permainannya.
"Mama bilang pakai kak," racau Jesselyn menahan kepala Leon yang sudah tepat diatas miliknya. "Cepat pakai, kak."
Leon merampas benda yang sedari tadi ada dalam genggaman Jesselyn. Tepat dihadapan Jesselyn, tergesa-gesa ia membuka pembungkusnya dan memakainya. Mata Jesselyn membulat dan tubuhnya kian menegang saat kedua bola matanya melihat jelas milik Leon yang mencuat.
Usai memakai benda yang sangat tak ingin digunakannya, dengan cepat ia melepas kain penutup inti dari Jesselyn.
Jesselyn kembali menggeliat saat pria yang begitu ia cinta dan mencintainya menenggelamkan wajahnya pada miliknya. Perlahan dan lembut Leon bermain disana, mencari dan menyesap madu yang begitu manis dan harum dari kembang yang selama ini terjaga baik dan beruntungnya kini menjadi milik Leon.
Kembali Leon naik keatas, mencium bibir Jesselyn yang sedikit bengkak, lagi-lagi karena ulahnya yang begitu rakus dan tangannya tak tinggal diam karena kini sudah bermain dibawah sana.
"Aku sayang kamu. Maaf karena mungkin akan terasa sakit."
"Kak..." racau Jesselyn kian meremang.
Berkali-kali ia mencoba dan berusaha menerobos pertahanan Jesselyn namun berkali-kali juga ia gagal. Leon mengacak-acak rambutnya dengan peluh yang mulai membasahi tubuhnya.
Tak mau menyerah Leon kembali mencoba menerobos milik Jesselyn dengan satu hentakan yang cukup kuat namun sebelumnya tanpa Jesselyn ketahui Leon melepas pengaman yang ia gunakan tadi.
"Kak! Sakit!"
Suara pekikan Jesselyn membuat Leon menatap iba.
"Maaf sayang, kak Leon minta maaf."
Dalam sekali hentakan milik Leon akhirnya melesat sempurna, berhasil menerobos milik Jesselyn.
"Udah dulu kak, Jesselyn ngak kuat, sakit kak."
Bulir-bulir air mata menjadi bukti dari rasa yang kini Jesselyn rasakan.
"Maaf sayang, sakitnya ngak bakalan lama kok," ucap Leon menghujani Jesselyn dengan ciuman.
Jesselyn pasrah, apapun yang ia katakan tentunya tidak akan memudarkan keinginan Leon saat ini. Ia menerima setiap sentuhan yang bertubi-tubi pada tubuh polosnya yang menggelinjangg hebat tatkala Leon menggagahinya.
Peluh yang membasahi kedua tubuh anak manusia menjadi bukti cinta yang tak terbendung selama ini. Keduanya larut memadu kasih meski waktu sudah hampir tengah hari. Racauan-racauan surga dunia, cecapan dan hentakan silih berganti terdengar dari kamar atas. Untung saja hanya ada mereka berdua, kalau tidak entah apa yang terjadi karena kamar yang tak kedap suara.
Surga dunia yang dikatakan orang-orang kini tengah dinikmati Jesselyn dan Leon.
__ADS_1