
Keesokan paginya sekitar pukul setengah sembilan Leon dan Jesselyn tiba di rumah opa dan oma. Keduanya disambut hangat oleh sang oma yang sudah sangat ingin bertemu mereka terlebih Leon cucu kesayangannya.
"Cucu kesayangan oma," berlari memeluk Leon setelah turun dari motornya. "Uuuuu..." kata oma mencubit pelan kedua pipi Leon dengan bibir sedikit dimajukan.
Leon hanya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu. Tidak ada penolakan sama sekali dari setiap perlakuan omanya. Jesselyn yang melihatnya pun begitu tercengang. Tidak menyangka jika laki-laki yang selama ini selalu menunjukkan wajah datar, cuek, bicara ketus bahkan mata yang menatap tajam seperti elang seketika berubah saat bertemu dengan si oma.
"Pawangnya," gumam Jesselyn pelan dengan mulut terbuka lebar.
"Ayo, kamu capek kan?" ajak oma ke dalam rumah.
Tap...tap...
Oma menepuk bokong Leon dua kali saat berjalan memasuki rumah. Ia begitu gemas setiap kali melihat Leon dan selalu ingin mengajaknya bermain seperti saat cucunya itu masih berada di taman kanak-kanak.
"Oma...??" kata Leon protes saat bokongnya ditepuk. Alih-alih marah, Leon justru tersenyum.
"Kenapa? Bukannya oma sudah biasa melakukannya? Atau sudah ada yang gantiin oma? Kalau iya, siapa?" tanya oma seperti seorang kekasih yang sedang cemburu. Leon langsung memeluk omanya, menggandeng tangannya dan berjalan bersama menemui opa yang sudah menunggu di dalam.
"Dia ngak diajak oma? Bukannya oma yang maksa dia buat Leon bawa kemari?" melirik kearah Jesselyn yang sejak tiba seperti tidak dianggap oleh omanya.
Oma memalingkan wajahnya melihat kearah orang yang dimaksud Leon dengan cemberut. "Biarkan saja, nanti juga masuk sendiri, " kata oma melanjutkan langkahnya. "Rubah kecil yang cantik!" gumam oma dalam hati yang sebenarnya sangat ingin memeluk gadis tersebut.
"Opa," sapa Leon melihat pria yang sudah berumur tersebut bangkit dari duduknya. "Opa sehat?" tanya Leon saat memeluknya.
Sang opa tersenyum memeluk cucu laki-lakinya itu dan menepuk-nepuk kecil pundaknya. "Seperti yang kamu lihat, opa masih cukup sehat diusia opa yang sudah tidak muda lagi ini."
"Dan masih ganteng juga kok, opa?" goda Leon yang mewarisi wajah mirip dari opanya. Sedangkan sepasang suami istri yang menyaksikan kedekatan mereka tersenyum menggelengkan kepala.
"Ayo, duduk sini sayang," ucap Lena mengagetkan Jesselyn yang masih terperangah melihat sisi lain dari Leon.
"Iya, tante." Jesselyn terlebih dahulu menyapa oma dan opa sebelum mendudukkan tubuhnya dikursi meja makan.
Acara sarapan pagi yang sudah terlambat akhirnya selesai juga. Meja tempat mereka makan pun berubah menjadi tempat saling bertukar cerita.
Karena sudah lanjut usia, opa dan oma memberi banyak nasehat kepada anak-anak dan cucunya.
Jesselyn yang masih terbilang baru di lingkungan keluarga oma dan opa pun tidak luput dari ceramah sang oma.
"Aku bisa kok, oma. Iya kan tante?" ucap Jesselyn meyakinkan oma saat ditanya bisa memasak atau tidak.
"Paling juga masak air, rebus telur dan mie instan. Iya, kan?" kata oma mencoba membuat gadis itu kesal.
"Benar, oma. Aku tidak bohong."
"Sudah-sudah!" celetuk opa mencairkan suasana. "Kalian berdua pasti capek, lebih baik istirahat dulu sekarang. Nanti malam kita lanjut lagi." Opa berdiri dan memakai jaket yang ia letakkan di pangkuannya.
__ADS_1
"Papa mau kemana?" tanya Bagas melihat papanya memakai topi jerami.
"Papa mau melihat para pekerja kebun teh dulu sebentar, dan sebaiknya kamu juga ikut menemani papa. Bagaimana?"
"Baik, pa. Bagas ambil jaket dulu dikamar, cuaca diluar cukup dingin."
Opa dan Bagas pergi menemui para pekerja yang tengah sibuk memetik teh.
Sedangkan Lena bertandang kerumah tetangga yang merupakan saudara mereka juga.
"Leon bisa sendiri, oma. Oke?"
"Iya, oma tahu. Oma tahu kamu sudah besar dan oma juga tahu kalau kamu ngak bisa ngurus diri kamu sendiri."
"Sudah, oma!"
Jesselyn sudah selesai merapikan kamar tempat Leon akan istirahat. Sedari tadi oma menyuruhnya melakukan banyak hal dikamar itu. Menyapu, mengepel, menyediakan selimut takut cucu kesayangannya kedinginan, memasang seprei dan sarung bantal. Jesselyn begitu lelah, seakan hari ini ia sedang mendapat hukuman.
"Pakai ini," oma memberikan pakaian ganti pada Leon. Pakaian tersebut adalah milik Leon yang sengaja ia tinggal jika sewaktu-waktu akan berkunjung kesana. "Ayo, lepas pakaian kamu. Itu pakaian kamu dari semalam kan? Nanti kamu sakit."
Leon membuka jaket dan koas oblong hitamnya. Warna yang begitu kontras dengan kulit putihnya.
"Aaaaa......"
Teriak oma mengagetkan Leon dan Jesselyn. Jesselyn bertambah kaget melihat tubuh bagian atas Leon yang tanpa sehelai benangpun. Menutup matanya dan langsung membalikkan badan membelakangi Leon.
Pertanyaan oma sontak membuat Leon terkejut. Menutup pundaknya dengan sebelah tangan.
Mendengar kata 'gigit' Jesselyn semakin kerkejut. Bahkan keterkejutannya berubah menjadi rasa takut.
"Oma, i...ini bu.."
"Siapa? siapa orangnya?" memotong ucapan Leon.
Untuk sesaat Leon hanya bisa terdiam. Ia sudah dapat memastikan jika pikiran omanya sudah terbang kemana-mana.
Saat mata oma dan cucu itu bertemu, sicucu langsung mengalihkan pandangannya kearah seorang gadis yang mematung membelakanginya.
Entah apa yang dipikirkan Leon saat itu, mata dan wajahnya seakan seperti seorang anak kecil yang sedang memelas kasihan kepada orang tuanya untuk mendapat pertolongan. Seorang anak kecil yang sedang mengadukan perbuatan temannya.
"Dasar rubah kecil! Mentang-mentang kamu cantik bukan berarti bisa menggigit cucu kesayanganku sesukamu." Oma langsung mengerti apa yang dimaksud Leon.
"Hei, kamu!" panggil oma kepada Jesselyn.
"I..iya Oma?" jawabnya ragu.
__ADS_1
"Balik badan!"
"Tapi kak Leon lagi ngak pakai baju, oma?"
"Oma bilang balik badan ya balik badan!" perintah oma memaksa.
"Baik, oma." Jesselyn membalikkan badannya menghadap oma dan Leon.
Dan sumpah demi apa pun kini wajah memelas Leon tadi sudah berubah menjadi biasa-biasa saja.
"Sekarang coba katakan, kenapa kamu gigit pundak Leon, kapan dan dimana?" tanya oma berdecak pinggang.
"Bukan gitu oma, bukan...?? "Jesselyn mengangkat kedua tangannya untuk berkata tidak.
"Lalu ini apa?" menarik Leon mendakat pada gadis itu dan menunjukkan tanda yang memerah bekas gigitan. Leon tidak menyangka jika akan ditarik mendekat kepada Jesselyn.
"I..iya, oma." Jawab Jesselyn menundukkan kepalanya.
"Iya, kenapa?" tanya oma lagi semakin menggebu.
"Iya, Jesselyn yang gigit."
Leon terkejut tidak menyangka jika gadis dihadapannya sekarang itu akan mengakuinya. Sesungguhnya dia hanya ingin mengerjai Jesselyn sedikit, tidak mengharapkan jika dia akan berkata jujur.
"Lalu apalagi yang kamu gigit?" teriak oma setengah tenaganya agar tidak ada yang mendengar.
"Bibirnya, oma," ucap Jesselyn mengingat saat Leon menciumnya dalam mobil.
Dengan spontan ucapan itu keluar dari mulut Jesselyn, membuatnya langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Jesselyn menggeleng-gelengkan kepalanya merutuki kebodohannya.
"Tapi jangan marahin Jesselyn, oma? Bukan Jesselyn yang mulai." Jesselyn mengatupkan kedua telapak tangannya meminta ampun.
"Jadi, siapa yang mulai? "
"Dia, kak Leon," tunjuk Jesselyn pasti.
"Sekarang kalian duduk," kata oma menunjuk ranjang agar mereka duduk disana.
"Sekarang ceritakan kenapa kamu gigit Leon?" perintah oma ingin mendapat jawaban.
"Maaf oma, yang salah kak Leon. Kak Leon juga gigit Jesselyn," ucap Jesselyn mengiba.
"Apa?" pekik oma mendengar pengakuan Jesselyn.
...Maafkan author karena baru up lagi. Author sedang ada di dunia nyata dan tidak punya banyak waktu ke negeri halu. 😥😥😥😥...
__ADS_1
...Tetap kukatakan terimakasih buat yang sudah like+komen+fave....
...Aku ❤️❤️❤️❤️ pada kalian semua......