
...Sebelum lanjut baca kebawah, aku mau ngucapin terimakasih buat yang masih ngikutin cerita ini. Mau percaya atau tidak, menulis cerita ini, dapat like dan komen dari yang baca merupakan mood booster buat aku belakangan ini. Melupakan sejenak kehidupan nyata yang mengerutkan dahi memasuki negeri halu yang mampu meregangkan otot-otot wajah yang tegang. Terimakasih semuanya....
Sejak sore hari Lena yang dibantu Jesselyn dan oma begitu sibuk untuk mempersiapkan makan malam. Ada banyak bahan makanan yang akan diolah sedangkan yang akan menikmatinya hanya ada enam orang.
"Ada tamu ya tante?" penasaran karena melihat hidangan yang beragam.
"Emmm..," sejenak Lena berpikir akan jawaban yang akan ia katakan. "Bisa dibilang begitu sih tapi tamunya sudah datang juga," jawab Lena.
"Jesselyn ngak ngerti maksudnya tante."
"Tante juga ngak tahu mau ngomong apa, lebih baik kita cepat selesaikan ini."
Jesselyn menganggukkan kepalanya menuruti perkataan Lena. Ia berpikir mungkin akan ada keluarga lainnya yang akan datang menjenguk oma dan opa. Seperti acara kumpul keluarga pada umumnya.
"Hei.., jangan melamun saja. Cepat selesaikan pekerjaanmu," celetuk oma.
Jesselyn hanya diam mendengarkan oma. Ia masih kesal karena sikap oma yang hanya mendengar Leon saja.
Sejak ia sampai tadi pagi hingga sekarang berada di dapur mempersiapkan makan malam, oma selalu cuek padanya.
Sikapnya persis seperti cucu laki-lakinya itu.
"Akhirnya selesai juga." Lena menunjuk satu per satu hidangan yang sudah tertata rapi di meja makan. Puas dengan hidangan yang tersaji.
"Sekarang kita bersih-bersih dan ganti baju," ajak Lena pada Jesselyn.
"Tapi Jesselyn ngak punya baju ganti lagi loh tante?" mengangkat kedua bahunya. "Ini aja punya kak Leon," bisik Jesselyn menunjukkan pakaian yang menempel di tubuhnya agar tidak di dengar sipemilik baju.
Sejak istirahat di kamar oma, Jesselyn belum melihat keberadaan Leon. Saat mengambil pakaian kotornya dikamar pun ia tidak berada disana.
"Hahaha.., kamu lucu banget pakai baju Leon. Apalagi celananya yang kedodoran. Sebenarnya tante capek lihatin kamu dari tadi bolak-balik menarik-nariknya ke atas." Lena tertawa melihat penampilan Jesselyn.
"Kamu tunggu disini sebentar," kata Lena menepuk pundak Jesselyn.
Lima menit kemudian Lena kembali dari kamarnya membawa dua paper bag ditangannya.
"Ini! Kamu pakai salah satunya dan dandan yang cantik." Menyodorkan kedua paper bag pada Jesselyn.
Gadis itu melihat isinya dan mengeluarkannya. "Wah..., cantik banget dressnya tante? Ini punya siapa?"
"Punya kamu!" kata Lena singkat.
"Tapi Jes..."
"Sudah, jangan bingung-bingung. Ganti baju dan dandan yang cantik. Kalau saran tante, kamu pakai yang ini aja, oke?"
__ADS_1
"Baik tante!"
Jesselyn tidak bertanya lagi dan menuruti perkataan Lena. "Kalau gitu Jesselyn mandi dulu tante."
Sambil menuju kamar mandi Jesselyn menimbang-nimbang dress mana yang akan dipakainya untuk malam ini. Walaupun tidak tahu siapa yang akan datang, ia harus berpenampilan cantik seperti permintaan tantenya.
"Aw! Lihat-lihat dong kak kalau jalan, jadinya nabrak kan?" gerutu Jesselyn saat bertabrakan dengan Leon. Buru-buru Leon memutus sambungan teleponnya dengan seseorang.
"Aku yang ngak lihat jalan atau kamu?" kata Leon tidak mau disalahkan.
"Hemmm..
Iya...iya. Aku yang salah. Aku minta maaf. Aku memang selalu salah kan, kak?" jawab Jesselyn malas dan melanjutkan jalannya.
"Tunggu, itu apa?" menunjuk tangan Jesselyn dengan dagunya.
"Dress dari tante buat aku pakai malam ini," kata Jesselyn tak bersemangat. Merasakan pusing dan berat dikepalanya.
"Sakit?" tanya Leon melihat wajah gadis itu yang tampak pucat. "Jangan sakit, orang sakit itu....,"
"Jangan merepotkan orang lain dengan sakit. Orang sakit itu sangat merepotkan, kakak mau bilang gitu kan? iya kan kak? Aku ngak sakit. Aku baik-baik saja, dan kak Leon ngak perlu repot karena kalau pun sakit, aku sudah besar dan bisa urus diri sendiri."
"Baguslah kalau begitu. Aku cuman tidak mau repot karena kamu buat mama khawatir."
Leon berjalan mendekati Jesselyn dan meraih dua dress yang ada ditangannya. "Pakai yang ini," menunjuk dress yang berbeda dari saran mamanya.
"Jangan! Pakai yang ini. Apa kamu mau nunjukin ini kesemua orang dirumah?" kata Leon menarik dan menurunkan leher kaos sebelah kiri yang dipakai Jesselyn hingga lengan.
"Kak?" teriak Jesselyn kaget. "Kenapa? Kakak takut kalau sampai om dan tante tahukan?" Om Bagas pas.....emmm......"
Leon menutup mulut Jesselyn, menariknya kedalam kamar mandi saat mendengar suara opa dan papanya yang baru saja tiba dirumah dari kebun teh.
Emmm........
Jesselyn berontak memukul-mukul tangan Leon agar melepaskan tangannya.
"Aku bakal lepasin kalau kamu diam," kata Leon berbisik ditelinga Jesselyn.
Emmm.......
Jesselyn mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju.
Huh.....
Jesselyn membuang nafasnya kasar, menariknya agar bernafas dengan teratur.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati kalau ngomong," bisik Leon dari belakang Jesselyn.
"Jangan keras kepala dan pakai dress yang aku pilih."
"Tapi tante..."
"Kamu ngak bisa lihat kalau ini lengannya pendek?" menunjuk dress yang disarankan mamanya yang jika dipakai akan memperlihatkan bahu Jesselyn yang terdapat bekas gigitan. Sedangkan dress yang satunya lagi menutupi bahu.
"Kamu lupa dengan ini?" menurunkan kembali leher kaos sebelah kiri yang dipakai Jesselyn dengan kasar. "Kalau kamu lupa, sini aku ingatin lagi!"
Ssshhhh....
Jesselyn mendesis terkejut. Leon kembali mendaratkan bibirnya disekitar tanda merah yang belum menghilang.
"Ssshhhh...., kak?"
Dengan cepat Leon menutup mulut Jesselyn dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menahan tubuh Jesselyn yang berontak.
"Emmm..., kak??" ucap Jesselyn samar karena Leon menutup mulutnya.
Menendang-nendang kaki Leon kebelakang.
"Kak....??? Ssshhhh....." suaranya menjadi semakin pelan. Jesselyn merinding disela-sela desisannya.
Gigitan kecil, sesapan dan ******* silih berganti dilakukan Leon. Membuat sekujur tubuh Jesselyn menegang. Tanpa disadari nafas Leon semakin memburu. Lidah Leon yang menempel dikulit Jesselyn bagaikan menimbulkan sengatan listrik yang membuat si empunya tubuh semakin bertambah tegang.
"Cukup kak, cukup?" pinta Jesselyn masih dengan suara yang samar.
Glek
Leon melepas sesapannya dan menelan salivanya. Tersenyum licik melihat tanda merah yang kembali diciptakannya. Melepaskan tubuh yang sedari tadi ditahannya.
"Aw!"
Tiba-tiba Leon mendorong tubuh Jesselyn kedepan dan keluar dari kamar mandi tanpa mengatakan apapun.
"Dasar gila! Aku ngak mau lagi melihatnya. Jahat, berhati dingin dan...dan...dan sinting!" maki Jesselyn menghadap pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Lena saat melewati kamar mandi.
Jesselyn terkejut tidak mengira ada yang mendengar ucapannya. "Eng...enggak kok tante. Jesselyn ngak kenapa-napa."
"Ya sudah, jangan lama-lama di dalam. Leon juga mau pakai kamar mandinya."
Setelah keluar dari kamar mandi tadi Leon melihat mamanya sedang berjalan kearah kamar mandi. Untung saja mamanya sedang menunduk saat Leon keluar, sehingga ia tidak melihat anak laki-lakinya itu keluar dari tempat Jesselyn berada saat ini.
__ADS_1
Melihat Leon berjongkok di depan kamar mandi sambil memainkan ponselnya Lena mingira jika Leon sedang mengantri untuk ke kamar mandi juga.