Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Hotel


__ADS_3

Ting


Pintu lift terbuka, dengan masih menggenggam kuat pergelangan tangan Jesselyn Leon mencari nomor yang sama pada kunci yang ia pegang.


Leon mencebikkan bibirnya setelah menemukan apa yang ia cari. Dibukanya pintu dihadapannya dan mendorong tubuh Jesselyn agar masuk ke dalam.


"Kak???" lirih Jesselyn menatap wajah pria yang sudah berdiri di depannya.


Brukk...


Kedua netra gadis yang kini sedang melawan ketakutannya bersitatap dengan netra sipemuda yang telah mengunci pergerakannya dengan menyudutkannya Kedinding.


Gemuruh nafas Leon naik turun, terlihat begitu jelas oleh Jesselyn melalui dada pemuda itu.


"A-aku mau pi-pipis kak!"


Jesselyn mendorong tubuh Leon dan melongos pergi ke dalam kamar mandi tanpa memberi kesempatan bagi Leon untuk berkata apapun. Jesselyn mengunci pintu kamar mandi takut tiba-tiba Leon masuk mengikutinya kedalam.


Didalam kamar mandi Jesselyn mendaratkan bokongnya diatas tutup WC duduk. Sambil menggigit kuku jempolnya ia berusaha menenangkan pikirannya.


Sungguh ia begitu ketakutan saat ini. Ia tak habis pikir apa yang sebenarnya dipikiran Leon hingga membawanya ke hotel tempat mereka sekarang berada, terlebih sejak dari cafe Leon sama sekali tidak banyak mengatakan apa-apa kecuali wajahnya yang begitu menakutkan untuk dipandang.


Buang air kecil adalah alasan yang dikatakannya untuk menghindar dari Leon meskipun ia tahu itu tidak akan berlangsung lama.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar mandi berulang kali digedor-gedor karena sudah sekitar lima belas menit orang yang berada di dalam tak kunjung keluar.


Brakk


Leon melemparkan ranselnya keatas ranjang king size dalam kamar tersebut.


Kembali ia menggedor-gedor pintu kamar mandi membuat gadis yang berada didalam terperanjat dari duduknya.


"Buka sekarang atau aku hancurin pintunya?" perintah Leon mengintimidasi.


Huhhh....


Dalam keadaan terpaksa Jesselyn membuka pintu, berharap semua akan baik-baik saja dan tidak akan terjadi hal-hal aneh. Sungguh ia berharap dalam ketakutannya.


Ceklek


Baru saja pintu terbuka Leon langsung menggenggam kuat pergelangan tangan Jesselyn, melepaskan tas sandangnya dan melemparkannya kesembarang arah.

__ADS_1


Jesselyn menggigit lengan Leon dan berhasil melepas tangannya. Kunci kamar tergantung di pintu, ia berlari dan akan langsung keluar sesaat pintu ia buka namun sayang itu hanya ada dalam angannya saja.


Belum sempat ia membuka pintu tangan Leon sudah meraih kunci dan melemparkannya kebawah ranjang hingga sulit bagi gadis itu untuk mengambilnya.


Ditariknya gadis itu dan didorongnya ketengah ranjang. Dengan gerakan cepat ditindihnya tubuh ramping sang gadis dan mengunci pergerakan kedua tangannya.


"Kak...!" pekik Jesselyn meronta namun Leon tentunya lebih kuat darinya.


Dengan gerakan membabi buta Leon mulai menciumi wajah Jesselyn tanpa ampun.


Jesselyn membolak-balik kepalanya menghindari perlakuan Leon yang begitu agresif.


Emp....


Sekuat tenaga Jesselyn mendorong tubuh Leon yang sudah mendaratkan bibirnya pada bibir ranumnya, membuat degup jantung Jesselyn bagai sedang berlomba dalam pacuan.


Begitu rakus Leon mencumbu wajah dan bibir gadis yang ada dibawah kungkungannya.


Leon mengangkat wajahnya memberi jeda pada aktivitasnya agar keduanya dapat menarik oksigen untuk bekal aksi selanjutnya. Setelah dirasa cukup kembali Leon meluumat bibir Jesselyn tanpa ampun. Tak ada balasan dari gadis itu, ia mengunci bibirnya, membuat Leon semakin marah. Ciuman dan luumatan Leon begitu kasar hingga hanya rasa sakit yang begitu kentara dirasa Jesselyn.


"Cukup kak!" ucap Jesselyn saat kembali Leon menjeda aksinya. Mata pemuda itu sudah berkabut dan sayu, pun hembusan nafasnya tersengal-sengal.


Satu persatu Leon membuka kancing baju lengan panjangnya, kaos dalamnya pun tak lupa dilepaskan.


Meskipun kini Leon melepas tangan Jesselyn namun ia tak punya kekuatan lagi untuk bergerak ditambah Leon yang duduk diatas kedua pahanya.


Bagai orang tuli, Leon sama sekali tidak menghiraukan apa yang dikatakan padanya.


Srakk...


Dengan sekali tarikan kuat semua kancing kemeja gadis itu terlepas dan berserakan kemana-mana. Untung ia memakai tanktop sehingga tidak langsung mengeskpos dada dan gundukan miliknya.


Air matanya tak henti membasahi pipinya namun lagi-lagi tak dihiraukan oleh Leon.


Kemeja lengan pendek milik Jesselyn dilemparkan begitu saja.


"A-a-a-a... Sakit kak!" ringis Jesselyn.


Leon menggigit-gigit kecil telinga milik Jesselyn dan menarik-nariknya menggunakan gigi. Aktivitas bibir Leon turun keleher putih, bersih dan mulus. Bibir dan lidahnya bermain disana menimbulkan sengatan-sengatan pada tubuh gadis itu.


Ahh...


Tak sadar Jesselyn mengeluarkan yang kata orang-orang adalah suara kenikmatan.

__ADS_1


Cecapan demi cecapan silih berganti pada leher yang kini sudah bercorak.


"Cukup kak, jangan teruskan lagi," pinta Jesselyn dengan suara parau. "Hiks...hiks...hiks...aku bilang cukup, kak."


"Diamlah! Kasar atau lembut aku melakukannya tergantung sikapmu malam ini. Jadilah gadis penurut dan jangan menangis."


Lagi-lagi dengan gerak cepat Leon menurunkan kedua tali tipis tanktop Jesselyn. Diturunkannya kain itu hingga memperlihatkan belahan dada dan perut rata gadis yang sesegukan tiada henti.


Glek


Mata sayu dan berkabut milik Leon meneliti setiap inci tubuh dibawahnya. Ia bangkit berdiri dan dengan sakali tarikan ia melepas sabuknya.


Tangannya beralih pada jeans yang dikenakan Jesselyn. Tangannya bergetar saat membuka pengaitnya diikuti dengan zipper yang turun kebawah.


Sesegukan Jesselyn menutup kedua matanya mendapat perlakuan yang tak pernah ia bayangkan akan dilakukan Leon padanya. Kedua tangannya menutup bagian dadanya.


Kedua tangan Leon siap melucuti jeans gadis itu.


"Hiks... hiks... hiks... Kak Leon jahat, kak Leon ngak sayang sama aku!"


Jeddar...


Bagai disambar petir Leon terdiam dan menghentikan kerja kedua tangannya.


"Kakak selalu bilang sayang sama aku, apa ini yang namanya sayang, ha? Kak Leon jahat! Hiks...hiks...hiks... Kak Leon jahat," tangisnya tiada henti.


Setiap perkataan Jesselyn bagai sambaran petir yang menghentakkan jantungnya. Leon mengangkat wajahnya, dilihatnya manik dibawahnya menganak sungai.


Bagai orang yang baru kembali kesadarannya Leon segera mengangkat tubuhnya. Pandangannya mengarah pada pakaian yang berserakan dimana-mana, bantal, seprei dan selimut sudah tidak pada tempatnya lagi yang tentu karena ulahnya.


"Hiks...hiks...hiks... Kak Leon jahat!" lirih gadis itu lagi tanpa bergerak. Tubuhnya gemetaran dan tak punya kekuatan untuk melakukan apapun lagi.


Leon mundur, menjauhi gadis yang hanya menggunakan bra pada bagian atas tubuhnya. Ia menjambak rambutnya dan terkulai lemas disisi ranjang.


Sekuat tenaga Jesselyn mengumpulkan tenaganya meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, memeluk tubuhnya yang sudah terlapisi selimut. Ia masih terus sesegukan, kejadian malam ini membuatnya begitu syok.


Leon masih terus menjambak rambutnya sambil merutuki perlakuannya, ia mengumpati dirinya sendiri yang seperti orang tak waras yang hampir saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, kesalahan yang hampir ia lakukan kepada gadis yang begitu ia sayangi.


Entah bagaimana caranya ia akan menghadapai gadis itu nantinya, sungguh ia menyesali perbuatannya. Kini butiran-butiran bening pun lolos dari pelupuk matanya.


Tiga puluh menit kemudian Leon kembali berdiri dengan kepala tertunduk menghampiri gadis yang membalut tubuhnya dengan selimut hingga leher. Jesselyn yang ketakuatan semakin mempererat tangannya memegang pembungkus tubuhnya, takut Leon akan melanjutkan kegilaannya. Pun Jesselyn tak berani melihat kearah Leon.


Dibawah, disamping Jesselyn berada Leon menjatuhkan tubuhnya, masih dengan kepala menunduk ia berlutut dengan wajah kusut dan berantakan.

__ADS_1


"Maaf"


__ADS_2