
Besok harinya seperti yang dikatakan Bagas, setelah pulang dari kampus ia mengantarkan Jesselyn ketempat kos-nya yang baru bersama sang istri.
Kos-an yang berjarak lima belas menit dari kampusnya jika menggunakan kendaraan umum.
Jesselyn menatap takjub tempat yang akan ia tinggali selama lima hari dalam seminggu itu. Meskipun tidak begitu besar namun tidak sekecil yang ia banyangkan seperti layaknya kos-kosan pada umumnya.
Hanya ada satu kamar tidur, kamar mandi dan dapur di dalamnya. Semua perabotan yang ia butuhkan juga sudah tersedia disana, mulai dari kasur, meja belajar dan beberapa perabot lainnya.
Sebuah televisi kecil juga tersedia di dalam kamarnya, sengaja Bagas minta untuk dipasang pak Asep jika sewaktu-waktu Jesselyn merasa bosan dan mencari hibura lewat menonton.
"Gimana sayang kamu suka tempatnya?" tanya Lena mengipas-ngipaskan selembar kertas diwajahnya karena merasa gerah.
Jesselyn yang sedang berdiri di depan pintu kamar tidur untuk mengamati isi di dalamnya menoleh pada Lena dan mendekatinya.
"Jesselyn suka tante tapi sepertinya ini lebih mahal dari yang aku pikirkan," ucap Jesselyn dengan mata yang masih mengamati setiap perabot yang tersedia. "Kita pindah ke tempat lain aja gimana tante? Ngak jauh dari sini ada kos-an yang harga perbulannya 300 ribuan, apalagi kalau tinggalnya berdua bisa lebih murah lagi karena biayanya bisa dibagi dua."
"Ngak bisa dong sayang, lagian om sudah bayar buat tiga bulan ke depan. Kamu tidak perlu memikirkan berapa harganya yang penting kamu aman disini. Kalau dibatalin uangnya hangus, iya kan pak Asep?" ucap Lena berbohong. Bagaimana mungkin ia membayarnya karena tempat itu adalah miliknya sendiri.
Asep yang di sebutkan namanya langsung mengiyakan perkataan Lena.
"Iya neng, uang yang sudah diberikan tidak dapat diambil kalau ngak jadi ditempatin. Pemiliknya sih baik neng, cuman anak lakinya yang behhh...parah gile neng," ucap Asep membayangkan orang yang ia maksud.
"Apa hubungannya pak sama anak yang punya kontrakan ini?" tanya Jesselyn sedikit aneh membawa-bawa anak pemilik tempat yang ia akan tinggali.
"Jelas neng, yang pegang ini kontrakan anak laki mereka dan segala urusan uang keluar masuknya juga sama dia. Anaknya sedikit galak dan kalau lagi marah horor banget neng matanya, iyakan bu?"
Lena tersenyum mendengar perkataan pak Asep, ia hampir saja menarik kuping si penjaga kontrakan kalau tidak mengingat ada Jesselyn disana.
Asep adalah salah satu pekerja yang dulunya bekerja sebagai supir keluarga Bagas namun karena sebuah kecelakaan yang membuatnya berjalan sedikit pincang ia berhenti dari pekerjaannya.
Merasa kasihan dengan keadaan pak Asep dan keluarganya, suami istri itu akhirnya mempekerjakannya sebagai penjaga kontrakan tempat mereka sekarang berada dan tempat yang mereka tinggalipun diberikan gratis oleh Bagas.
Lena sudah menganggap pak Asep seperti saudaranya sendiri, apalagi dia sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun pada mereka.
"Tapi sebenarnya anaknya baik kok, ganteng malahan. Iyakan, pa?" memberi pembelaan pada anak sipemilik kontrakan yang tak lain adalah Leon.
Jangan diomongin terus nanti orangnya bersin-bersin lagi ditempat kerjanya," seloroh Bagas menepuk-nepuk pundak Asep yang berdiri disampingnya.
"Om dan tante kenal sama pemilik dan anak pemilik tempat ini, ya?"
__ADS_1
Ketiganya saling bertukar pandang mendapat pertanyaan dari Jesselyn.
"Kenal" ucap Bagas dengan santai. "Tadi pagi om jumpain dia buat bayar uang kontrakan ini."
Jesselyn membulatkan mulutnya ber- oh ria. Dia sempat membayangnkan Leon saat pak Asep menceritakan perihal anak sipilik kontrakan karena kurang lebih memiliki kesamaan saat lagi marah.
Setelah berpikir dan merasa sayang akan uang yang tidak dapat dikembalikan jika membatalkan tempat itu Jesselyn akhirnya memutuskan tinggal disana.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, Bagas dan Lena akhirnya pulang kerumah dan meninggalkan Jesselyn ditempat barunya.
"Tenang ma, dia aman disana. Mama tahukan kalau tempat kontrakan kita itu aman, lagian ada pak Asep yang akan bantu Jesselyn disana. Papa juga pesan jika terjadi sesuatu disana pak Asep akan langsung kabarin kita."
"Iya sih, pa. Tapi namanya juga orang tua tidak mungkin kalau tidak mencemaskan anaknya. Jesselyn itukan anak mama juga, sama seperti Leon dan Nadya.
"Anak atau calon mantu, ma?" seloroh Bagas agar istrinya tersenyum. Pasalnya sejak tadi meninggalka tempat Jessely, waja istrinya begitu tegang karena mencemaskan gadis itu.
Hahaha...
Tawa lena menggelegar memenuhi mobil membuat suaminya ikut tertawa bersamanya.
"Dua-duanya dong, pa!" ucap Lena yakin.
****
Ceklek
Ranjang tempat ia tidur begitu rapi ia tinggalkan, hanya sebuah boneka beruang besar duduk diatasnya.
Leon merebahkan tubuhnya yang lelah karena baru pulang bekerja, telentang menatap langit-langit kamar itu. Sebelah tangannya meraih boneka disampingnya dan memeluknya erat.
"Aku kangen kamu," lirih Leon sambil menyeka air mata yang tanpa izin meluncur begitu saja."
Leon akhirnya tertidur dengan pakaian dan sepatu kerjanya.
****
Sudah pukul dua dini hari namun seorang gadis masih terjaga dari tidurnya. Balik ke kanan, balik ke kiri, bolak-balik mengganti posisi tidurnya tak kunjung ia terlelap.
Akh...
__ADS_1
Jesselyn menutup dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Haiss... Susah amat sih tidurnya," gerutu Jesselyn menggaruk lehernya. "Hem... Seharusnya aku membawanya ikut bersamaku. Setidaknya ada yang bisa aku peluk dan tidak merasa sepi seperti ini," mengingat benda yang kini sedang dipeluk oleh Leon.
Jesselyn mengambil ponselnya dan memainkannya berharap ia akan lebih mudah tidur.
****
Pagi hari saat Lena keluar kamarnya bersiap ke dapur ia melihat pintu kamar Jesselyn yang terbuka lebar. Tidak biasanya pintu kamar itu terbuka seperti itu apalagi pemiliknya tidak ada disana.
Lena berjalan kearah kamar Jesselyn hendak menutup pintunya dan sekalian membangunkan Leon untuk bersiap kerja.
Ceklek
Lena membuka pintu kamar Leon namu tidak ada Leon dikamarnya. Ia menutupnya kembali dan matanya langsung tertuju pada kamar disebelahnya.
Sesuai perkiraanya Leon ada di kamar Jesselyn. Dengan pelan Lena berjalan mendekati Leon yang begitu pulas tidurnya.
Lena merasa kasihan melihat keadaan putranya itu. Melihatnya tidur dengan pakaian kerja dan boneka dipelukannya membuat hatinya sedih.
"Leon" panggil Lena membangunkannya dengan suara lembut. " Leon, ayo bangun, nak. Kamu bisa telat kerja hari ini, nak?" ucap Lena mengingatkannya dan dengan lembut Lena mengusap kepala anaknya.
Leon menggeliat, mengumpulkan kesadarannya tanpa melepas siberuang dari pelukannya. Ia mengerjapkan matanya, dilihatnya benda besar dan lembut dipelukannya.
"Mama?" Leon terkejut mendapati mamanya duduk disampingnya. "Maaf ma, Leon ketiduran disini," ucap Leon memberi alasan.
"Ngak papa sayang, ayo bangun nanti kamu telat kerjanya."
"Iya, ma."
Leon bangkit dari tidurnya dan pergi kekamarnya, tanpa sadar ia juga membawa boneka yang masih ia peluk.
Lena tersenyum melihat Leon yang sudah seperti anak kecil.
Jangan lupa kasih supportnya ya, biar
authornya semangat 💪 untuk ngelanjutin cerita ini🤗
Terimakasih masih mengikuti cerita ini🙏
__ADS_1
❤️ you all