Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Nadya Sudah Ngak Kuat


__ADS_3

Kesal, ia perlahan membuka matanya dan saat sudah terbuka lebar tiba-tiba Jesselyn dikejutkan karena leon tersenyum tepat dihadapnnya.


"Apa kamu nunggu kelanjutannya?"


"Eng-enggak, nu-nunggu apaan emangnya? Nunggu sembako?" sungut Jesselyn.


Jesselyn menarik mundur wajahnya dan menyandarkan tubuhnya pada sofa agar memberi jarak dengan Leon yang tak berhenti memandanginya penuh arti. Ia merutuki kebodohannya karena terus menutup mata berpikir Leon masih akan menciumnya.


Pandangan Jesselyn tertuju pada layar di depannya sedangkan Leon ikut menyandarkan tubuhnya ke sofa, dengan posisi menghadap Jesselyn, Leon terus memandangi wajah manis dan imut gadis disampingnya.


Dengan tangan kanan, Leon menangkup wajah Jesselyn dan membawanya kedahapannya. Meskipun wajahnya berhadapan dengan Leon namun mata gadis itu masih terus melirik pada televisi di depannya.


Ekhem...


Suara Leon terdengar semakin parau diikuti tangan yang mulai mengelus pipi lembut gadisnya. Perlahan jarinya mulai turun pada bibir Jesselyn, dengan menggunakan jempolnya, Leon mengusap-usap bagian itu.


Elusan yang dirasakan Jesselyn pada bibirnya membuatnya perlahan kembali menutup matanya namun mengingat apa yang terjadi tadi Jesselyn buru-buru membuka kembali matanya.


Saat ia baru membuka mata, ia malah dikejutkan dengan Leon yang tiba-tiba menciumnya.


Leon mencium bibir Jesselyn begitu lembut, menyalurkan dahaga yang selama ini dirasakannya. Leon semakin mendekatkan kedua tubuh mereka yang terbungkus dengan selimut.


Larut dalam ciuman yang diberikan Leon, Jesselyn memejamkan lagi matanya. Pagutan demi pagutan dilancarkannya pada bibir ranum Jesselyn yang tadinya sedikit berminyak karena olesan lip gloss kini sudah basah oleh liur.


Jesselyn menegang saat merasakan sesuatu yang lebih lembut dari bibir Leon menyapu bibirnya. Sesuatu yang belum pernah dirasakan Jesselyn saat Leon menciumnya.


Leon yang sudah tak dapat membendung naluri prianya lagi kini ikut menggunakan lidahnya. Untuk pertama kalinya Leon melakukan hal itu meskipun bukan pertama kalinya ia mencium Jesselyn.


Tubuh Jesselyn langsung melemas saat Leon menyesap seluruh area bibirnya. Karena kelabakan dan nafas yang mulai tersengal Jesselyn tanpa sengaja meremas pangkal paha Leon yang berakibat pada gigitan di bibir Jesselyn karena menahan sesuatu.


Leon menarik tangan Jesselyn agar menjauh dari pahanya.


****


Berhubung malam ini adalah malam terakhir pasar malam di adakan, maka begitu banyak orang yang berbondong-bondong menghadirinya.


Tak mau kalah dengan para pemuda disana, Nadya memberanikan dirinya menaiki sesuatu yang mirip ayunan namun ia tidak tahu apa namanya. Dengan langkah pasti Nadya naik dan duduk pada posisi paling depan setelah memberikan tiket pada penjaga.


Nadya tersenyum dan tertawa lebar saat ayunan itu mulai bergoyang perlahan-lahan.


Swing...


Swing...


Swing...

__ADS_1


Lama kelamaan kedua bibir Nadya mengatup dan tangannya meremass kuat-kuat pegangan di depannya. Dilihatnya orang-orang dikiri dan kanannya yang duduk sebaris dengannya begitu santai bahkan masih dapat mengabadikan moment mereka saat itu dengan kamera ponsel mereka.


Keadaan Nadya saat ini sudah berubah dengan ia saat naik tadi. Tak ada lagi senyum bahkan tawa diwajahnya kerena yang tersisa tinggal ketegangan dan ketakutan belum lagi dengan tangannya yang sudah keringatan.


Ayunan bergoyang semakin lama semakin cepat. Satu persatu mulai berteriak, sekuat tenaga Nadya menahan teriakannya karena malu pada seorang anak yang duduk di depan di sisi satunya lagi.


Swing...


Swing...


Swing...


Aaaaaaa.....


Teriak Nadya memecah kerumunan orang yang berada dibawah.


Nadya berteriak-teriak memanggil-manggil papa dan mamanya, tak lupa ia juga ikut memanggil opa dan oma yang sudah wanti-wanti sejak Nadya mengatakan akan ikut naik pada permainan ayunan tersebut. Bahkan papa dan mamanya sudah melarangnya untuk ikut tapi bukan Nadya namanya kalau tidak ingin mencoba apa yang membuatnya begitu penasaran.


"Mama... Papa... Opa... Oma...aku mau turun, aku mau turun," teriak Nadya dari atas ayunan. "Papa...bilangin ayunannya berhenti, Nadya udah ngak kuat lagi, Nadya mau turun sekarang juga."


Bagas berlari secepat mungkin menghampiri pengjaga yang bertugas. Buru-buru ia meminta agar ayunan itu diberhentikan dulu karena anaknya tidak tahan lagi dan sudah menjerit-jerit minta turun.


"Tolong pak, anak saya diatas sudah tidak kuat lagi. Dia sudah hampir menangis, saya takut dia pingsan diatas sana."


Tak tega mendengar perkataan Bagas, si bapak yang bertugas perlahan menghentikan ayunan yang semakin cepat berayun.


Tubuhnya menjadi sangat lemas dan tak berdaya. Ayunan sudah berhenti bergoyang namun pandangan matanya seakan masih merasakan jika ia masih berada pada ayunan yang menghempaskannya kedepan dan kebelakang dengan ritme yang begitu kencangnya.


"Tolong... tolong anak saya," mohon Lena pada orang-orang disekitarnya.


Opa, oma dan Lena kalang kabut dibawah sedangkan Bagas gegas naik keatas ayunan menghampiri Nadya yang sama sekali tidak merespon panggilannya.


Dilihatnya Nadya mematung dengan mata tertutup, kedua tangannya masih memegang erat besi di depannya yang dijadikan sebagai pegangan dan penyangga.


Orang-orang yang menyaksikan itu begitu prihatin namun ada juga yang jadi tertawa.


Bagas mencoba mengangkat Nadya, ingin menggendongnya turun ke bawah namun tubuh anak gadisnya itu sungguh membuatnya tak berkutik karena dirasanya tubuh anak gadisnya itu sudah sangat berat tidak seperti saat ia mengangkatnya waktu SMP dulu saat masuk ke rumah sakit akibat kelelahan bermain bola voli.


"Tolong bantu saya...."


Grepp... Hap!


Belum Bagas menyelesaikan ucapannya meminta tolong bantuan untuk mengangkat anaknya, seseorang sudah terlebih dahulu mengangkat tubuh lemas Nadya dan membawanya turun.


Nadya terhenyak saat merasa tubuhnya melayang, ia melihat wajah orang yang yang mengangkat tubuhnya namun tidak mengatakan sesuatu, bahkan orang tersebut tidak mengatakan apapun.

__ADS_1


"Terimakasih nak," ucap Bagas pada orang yang mengangkat Nadya.


Saat kedua netra Nadya dan orang yang yang mengangkatnya bersitatap membuat kerja jantung gadis itu kembali tak beraturan. Nadya tersenyum sebelum dia menutup matanya dan tak sadarkan diri.


****


"Pelan-pelan kak," pinta Jesselyn disela-sela pergulatan bibir Leon di bibirnya saat pria itu menciumnya rakus. Leon menghentikan aksinya memberi waktu untuk menarik oksigen karena nafas mereka yang tersengal-sengal.


Seolah tak ingin membuang-buang kesempatan saat menjeda ciuman mereka, Leon menggigit-gigit kecil bibir bawah gadis itu.


"Kak... Pelan-pelan kak," pinta Jesselyn untuk kesekian kalinya.


"Menurutmu mana yang lebih baik, memberi atau menerima," tanya Leon menghentikan ciumannya sejenak namun matanya tak lepas dari wajah dan bibir dihadapannya.


"Memberi" ucap Jesselyn tanpa berpikir dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Kalau begitu cium aku, bukankah selama ini kamu hanya menerima ciuman dari aku, sekarang aku ingin kamu balas ciumanku."


"Tapi kak, aku..."


"Lakukan seperti apa yang aku lakukan," ucap Leon kembali mendaratkan bibirnya di bibir Jesselyn.


Entah karena terbawa suasana atau menurut pada perkataan Leon, Jesselyn mulai membalas ciuman yang diberikan Leon. Meski begitu kaku ia mencoba melakukannya perlahan.


Sengaja Leon menghentikan pagutanya ingin agar gadis itu bekerja sendiri.


Leon mengangkat tubuh Jesselyn dan mendudukkannya di paha membuat posisi mereka saling berhadapan. Diraihnya kedua tangan Jesselyn dan dikalungkan pada lehernya. Kembali Leon memagut singkat bibir Jesselyn, setelahnya ia kembali membiarkan gadis itu yang mengambil alih ciuman mereka.


Tanpa Jesselyn sadari kedua tangannya bergerak menangkup wajah Leon sambil terus memagut dan ******* bibir Leon, membuat pria itu tersenyum penuh kemenangan. Jesselyn sedikit mengangkat tubuhnya hingga posisinya lebih tinggi dari Leon.


Tak sabar dengan cara yang dilakukan Jesselyn, kini Leon membalas pagutan gadis itu. Keduanya larut dalam ciuman panas mereka.


Jesselyn seolah belum puas atas apa yang mereka lakukan karena saat Leon melepas ciumannya dan menarik mundur tubuhnya untuk menghentikan aksi mereka, Jesselyn justru mendekatkan wajahnya dan memagut lagi bibir Leon.


"Cukup!"


Dengan kedua tangannya Leon mendorong bahu Jesselyn.


"Cukup. Aku takut kalau diteruskan aku bisa lepas kendali," ucap Leon menatap gadis itu.


Dilihatnya kedua manik gadis itu sudah sayu dengan nafas yang ngos-ngosan dan terlihat dari lehernya seolah tengah menelan sesuatu.


"Good kisser!"


Leon menyeka bibir Jesselyn yang basah dengan jempolnya.

__ADS_1


Merasa malu mendengar perkataan Leon, Jesselyn menumpahkan wajahnya pada dada bidang Leon dengan tersenyum malu sambil menggigit ujung kuku jempolnya.


Leon tidak dapat menahan tawanya melihat reaksi gadisnya itu. Tak ingin membuatnya malu Leon memeluknya dan mengusap lembut rambut Jesselyn. Dikecupnya pucuk kepalanya dan menarik kembali selimut yang sudah berada dilantai.


__ADS_2