Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Orang Ketiga


__ADS_3

Seorang gadis berlari masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamar begitu kasar. Akibat ulahnya membuat oma yang sedang asik mendengar lagu kesukaannya sejak beberapa puluh tahun lalu tersentak dan mematikannya. Lena yang juga sedang mempersiapkan makan malam meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri anak gadisnya.


"Nadya, kamu kenapa sayang? Mama masuk ya?" izinnya namun belum mendapat persetujuan ia sudah melangkahkan kakinya masuk.


Dilihatnya Nadya menangis, pemandangan yang begitu jarang untuk dilihat dari Nadya.


"Kamu kenapa pulang-pulang langsung nangis, ha? Kamu habis darimana pulangnya sampai sore begini?"


Nadya sama sekali tidak menjawab pertanyaan mamanya, justru ia semakin menangis lebih kuat dari sebelumnya.


"Kamu jangan buat mama khawatir, Nad? Ayo cerita sama mama," bujuknya lembut.


Bagas yang juga mendengar tangis Nadya ikut menghampirinya dan mengamati istri dan putrinya dari ambang pintu kamar.


"Mama..." Isak Nadya meraung dan memeluk mamanya.


"Iya, kenapa sayang?"


"Dia bentak Nadya, ma."


Bagas yang tadinya hanya diam kini mengeluarkan suaranya saat mendengar ada yang membentak putri kesayangannya.


"Dia siapa?"


Suara Bagas meninggi diikuti mata yang melotot dan tangan yang berkacak pinggang.


"Kasih tahu papa siapa yang berani bentak kamu? Biar papa hajar dia."


"Jangan, pa. Kasihan."


Bukannya senang dengan ucapan papanya Nadya malah ketakutan.


"Lalu, kenapa orang itu bisa sampai bentak kamu, nak?" tanya Lena lagi memastikan awal masalah.


"Hiks....mama...."


Nadya menangis sambil menceritakan apa yang terjadi hingga berujung dibentak dan menangis saat ini.


"Tadi waktu kita nyampe Nadya langsung pergi ke puskesmas."


"Ngapain, kamu sakit?"


"Bukan, ma. Nadya cuman pengen Jumpain pak dokter yang kemarin nolongin Nadya waktu di pasar malam."


"Lalu?"


"Dia kesal karena Nadya ngikutin dan selalu merhatiin dia, ma. Katanya Nadya ganggu kerjaannya. Dia ngak suka perempuan seperti Nadya, katanya Nadya anak orang kaya yang kurang kerjaan."


"Oh...jadi kamu dibentak karena ngintilin si pak dokter itu, hem?" ucap Lena menahan tawa, merasa geli dengan cerita putrinya sendiri.


"Hiks... enggak ma," tangis Nadya kembali pecah dalam pelukan sang mama.


"Terus?"


"Dia bentak Nadya karena Nadya cium dia, ma."


"Apa?"


Suara Bagas kembali menggelegar mendengar yang diucapkan Nadya.


Ia memijat keningnya, pusing dengan kelakuan Nadya yang menurutnya diluar pemikirannya. Bagas tak lagi berdiri di depan pintu, ia memilih menenangkan pikirannya dengan duduk di teras sambil memandangi perkebunan teh yang terhampar di depan mata.


"Hahaha... Apa kau baru sadar kalau anak perempuan itu lebih rumit dari anak laki-laki?" celetuk opa yang juga keluar dari rumah dan ikut bergabung dengan Bagas.


****


Di dalam sebuah kamar yang cukup berantakan karena terdapat pakaian yang berserakan dan beberapa benda tidak berada pada posisinya, sepasanga pengantin baru sedang menikmati makan malam mereka.


Pukul setengah tujuh malam Leon dan Jesselyn menikmati makanan yang dipesan Leon dari restoran yang biasa keluarganya kunjungi.


"Enak kak," ucap Jesselyn berbinar memasukkan suapan besar nasi goreng ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Kamu yakin ngak mau pesan yang lain?"


"Ngak kak, ini sudah cukup."


Leon yang sedari tadi memperhatikannya makan begitu lahap tersenyum meraih sendok dari tangan Jesselyn.


"Sini, biar aku yang suapin," menyodorkan sesendok nasi goreng kemulut Jesselyn.


"Ngak usah kak, aku bisa sendiri," tolak Jesselyn malu-malu.


"Ih... Kamu ngak ngerti suasana deh. Aku pengen belajar biar sedikit romantis dengan kamu," sungut Leon masih dengan sendok ditangannya.


"Hehehe... Maaf ya kak, aku masih ngerasa canggung dan belum terbiasa apalagi dengan status kita saat ini."


Jesselyn akhirnya menerima setiap suapan dari Leon dan bergantian menyuapi Leon dengan sendok yang sama. Usai menikmati makan malam sederhana mereka, Leon meminta Jesselyn untuk menemaninya menonton pertandingan bola yang sedang disaksikan seluruh masyarakat dunia.


Tanpa melepas pelukannya dari sang istri Leon menyaksikan pertandingan tersebut hingga akhir. Saat hendak mengajak Jesselyn kembali beristirahat ke kamar ia mengingat sesuatu yang sedikit mengusik pikirannya. Leon berpikir apa ia harus mengatakannya atau tidak.


"Kakak mikirin sesuatu?"


"Ngak kok, cuman ada sedikit yang ganggu pikiran aku."


"Sekarang kak Leon punya aku, kakak bisa cerita apa aja sekarang. Siapa tahu aku bisa kasih saran," ucap Jesselyn yang meski masih malu-malu namun memberanikan diri membelai rambut Leon dan mengusap-usap pipinya.


"Oke tapi kamu jangan marah ya sayang," ucap Leon memelas.


"Memang ada apa?"


"Sebenarnya tadi itu waktu kita ngelakuinnya, aku...." ucapan Leon terhenti tidak yakin harus mengatakannya sekarang atau tidak.


"Kamu kenapa?" Jesselyn semakin penasaran dan bingung melihat raut wajah Leon.


"Aku... Em...aku, aku ngak pakai pengaman yang kamu kasih yang disuruh mama buat aku pakai."


"Maksud kak Leon?" tanya Jesselyn dengan bola mata yang hampir meloncat. "Tapi aku lihat sendiri waktu kak Leon pakai setiap kita mau ngelakuinnya."


"Iya aku pakai tapi tanpa kamu lihat juga dan sadari aku lepasin benda aneh itu setiap sebelum kita nyatu. Hehehe...."


"Jadi itu sebabnya aku ngerain seperti ada cairan aneh," ucap Jesselyn melongo menatap Leon.


Jesselyn berlari ke kemar dan mencari benda aneh yang dimaksud Leon. Benar saja, ia menemukan beberapa benda aneh tersebut diatas lantai.


Pandangannya beralih kearah pintu dimana Leon sedang berdiri memperhatikannya.


"Kamu marah ya?" tanya Leon khawatir.


Jesselyn berbalik membelakangi Leon, mengangkat sedikit bajunya keatas memperlihatkan bagian perutnya yang rata. Ia memperhatikan bagian tubuh tersebut dan secara tidak sadar mengelusnya. Ia kembali menghadap pada Leon masih dengan posisi yang sama.


"Gimana, kamu marah ya?" tanya Leon semakin khawatir takut apa yang ia bayangkan terjadi.


Bukannya langsung menjawab pertanyaan Leon, Jesselyn justru perlahan mengulas senyum dibibirnya.


Leon mengangkat kedua alisnya melihat keanehan pada istrinya.


Perlahan Jesselyn berjalan mendekati Leon dan memeluknya erat.


"Jesselyn ngak marah kak, Jesselyn sudah milik kak Leon seutuhnya dan kak Leon berhak atas milik kak Leon," ucap Jesselyn.


"Tapi kamu,"


"Enggak kak, Jesselyn ngak marah kok, itu tandanya Jesselyn semakin sempurna menjadi istri kak Leon. Apalagi kalau nanti Jesselyn bisa kasih...."


"Kasih apa?" tanya Leon menggoda ucapan Jesselyn yang menggantung.


"Kasih... Kasih bayi buat kak Leon."


Jesselyn semakin menenggelamkan wajahnya yang merah merona pada dada Leon.


Pada akhirnya apa yang dikhawatirkan dan ditakuti Leon tidaklah terjadi karena respon dari Jesselyn justru diluar pikirannya. Ia senang karena sifat dewasa dari istrinya itu dan berharap kehidupan rumah tangga kecilnya akan berjalan dengan baik kedepannya.


Dalam keadaan tubuh yang terbungkus selimut hingga perut Leon dan Jesselyn asik membicarakan kehidupan mereka sebelum bertemu dan pastinya juga membicarakan masa depan mereka nantinya. Keduanya asik membahas dan merancang masa depan akan tetapi keduanya tetap memiliki motto tentunya manusia boleh berencana namun Tuhan yang menentukan.

__ADS_1


"Kak, aku juga mau minta maaf sama kak Leon," ucap Jesselyn tiba-tiba dalam pembicaraan mereka.


"Untuk apa?"


"Sebenarnya kak Leon bukan satu-satunya yang pernah kasih mawar putih ke aku dan juga bukan pria pertama yang kasih ke aku."


"Wah... Jadi kamu sudah pernah pacaran sebelum kita ketemu dan tunangan?"


"Bukan kak. Jesselyn ngak pernah pacaran dan dengan kak Leon aja langsung tunangan tanpa proses pacaran."


"Terus aku orang keberapa?" tanya Leon tak suka.


"Orang ketiga."


"Apa? Ketiga?"


"I-iya, yang pertama itu dari seorang pria yang juga jadi cinta pertamanya Jesselyn dan orang itu adalah Ayah."


Dulu semasa hidupnya Pandu, ayah Jesselyn sering sekali membawakan sekuntum mawar putih yang ia petik dari pekarangan tempat ia bekerja. Hingga suatu hari ia membeli sebuah pot berisikan tanaman mawar putih dan dirawat baik oleh Jesselyn.


"Oh... Jadi ayah mertua," ucap Leon lega karena ia bisa memaklumi karena biasanya anak perempuan akan selalu menempatkan ayah mereka menjadi cinta pertama mereka.


"Lalu yang kedua siapa? Tunggu-tunggu, kalau aku bisa tebak pasti orang itu Leo, iya kan?"


"Bukan Leo, kak. Leo hanya pernah kasih mawar merah ke aku."


"Kenapa harus diingatkan sih, buang jauh-jauh ingatan kamu akan dia, bisa kan?" pinta Leon memohon.


"Jesselyn ngak ada komunikasi lagi dengan Leo, kak. Lagian kan kak Leon yang bahas dia deluan tadi."


"Bagus kalau gitu, terus orang kedua siapa?"


"Kak Leon ingat ngak sama teman aku Neta, yang kemarin datang dari kampung sama Dela waktu nikahan kita?"


"Em, ingat. Aku yang undang dan minta mereka datang pasti ingat. Emang kenapa, kamu dapat mawar putih kedua dari dia?"


"Hahaha... Bukan kak, bukan. Neta itu punya abang dan tahu ngak kak, orangnya baik, pintar, lembut dan ganteng juga."


"Jangan bilang kamu dapat dari dia."


"Memang dari dia kak, waktu aku SMA dulu dia sudah jadi dosen dan kabarnya sekarang dia sudah jadi dekan loh, kak. Setiap main dengan Neta dirumanya dulu, kak Ilham yang selalu anterin Jesselyn pulang dan suatu hari entah kenapa dia kasih aku dua tangkai mawar putih."


Asik menceritakan masa lalunya dan menceritakan abangnya Neta, Jesselyn tidak menyadari jika Leon sudah membelakangi Jesselyn. Barulah setelah menoleh kesamping Jesselyn menyadari jika Leon memunggunginya dan ia sangat yakin jika Leon sedang kesal akan apa yang ia ceritakan.


"Tapi tahu ngak kak, dari dulu sampai sekarang selain ayah, hanya ada satu nama pria dihati aku. Namanya Leon Christian dan beruntungnya sekarang dia jadi suamiku dan aku yang jadi istrinya. Pria pertama yang berani cium aku dan Satu-satunya pria yang memiliki aku seutuhnya. Aku sangat sayang dan cinta sama dia, dia yang suka posesif, cemburuan dan terkadang manja. Aku suka semua hal dalam dirinya."


Masih dengan posisi memunggungi, Leon yang tadinya kesal berubah menjadi senang dan besar hati mendengar apa yang dikatakan Jesselyn.


"Anehnya lagi walau terkadang suka ngeselin dan selalu ketus waktu aku pertama kali kesini, aku tetap mikirin dia. Cinta pertamaku setelah ayah, dia ngak romantis tapi justru sifatnya itu yang buat aku semakin terpesona dan cinta sama dia."


"Oh, ya?" ucap Leon membuka suara.


"Aku sayang dia dan aku suka semua yang ada pada dirinya."


Jesselyn menatap punggung yang masih membelakanginya, tersenyum melihat tingkah Leon yang ngambek seperti anak kecil.


"Benar kamu sayang dia dan suka semua yang ada pada dirinya?"


"Sangat."


"Berarti suka juga kan sama apa yang dia lakuin?"


"Iya, aku suka sama semua yang berhubungan dengan dia."


"Kalau kamu suka sama semuanya akan dia berarti ngak masalah kan kalau kita ngelakuinnya lagi?"


"Hakh! Kak Leon?"


Leon berbalik dan langsung menutup tubuh mereka dengan selimut dan mengunci pergerakan Jesselyn hingga membuatnya meronta.


Sama seperti pagi hingga sore tadi, keduanya kembali berlayar kepulau cinta, mendayung ditengah gelapnya malam dan menikmati berselancar pada ombak yang siap menenggelamkan keduanya kedasar kenikmatan.

__ADS_1


__ADS_2