
"Bisa cepat ngak, lelet banget sih baru segitu doang?"
"Maaf kak"
"Nyusahin banget!"
"Iya kak, maaf"
"Selalu aja maaf tapi tetap nyusahin dan ngerepotin gue," Leon berdecak kesal karena merasa selalu direpotin oleh Jesselyn.
"Aku ke kemar bentar ngambilin handphone yang ketinggalan, jangan lupa semuanya masukin kebagasi. Aku ngak mau bolak-balik kalau ada barang yang ketinggalan," perintah Leon dan kembali ke kamarnya untuk mengambil handphonenya yang lupa ia bawa.
Sebelumnya
Pukul lima pagi Bagas mendapat telpon dari salah satu keluarganya di Bogor yang memberitahukan jika ibunya sedang sakit. Karena begitu khawatir Bagas dan Lena langsung pergi setelah mendapat kabar tersebut dan menyuruh Leon mengantar Jesselyn ke bandara. Karena ini hari Senin Nadya subuh- subuh juga sudah berangkat lagi ke kosnya.
"Permisi? Leonnya ada?" tanya seorang gadis cantik pada Jesselyn saat menunggu Leon kembali dari kamarnya.
"Maaf tapi kakak siapa ya?" tanya Jesselyn balik karena tidak mengenalnya.
"Aku Bella pacarnya Leon dan kamu siapa?"
"Aku Jesselyn kak, anak dari kerabat om Bagas dan baru setahun disini," Jesselyn mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bela.
Saat Bela menerima jabatan tangan dari Jesselyn ia sempat melihat cincin dijari manis Jesselyn.
"Oh..., pantesan baru lihat sekarang. Terus Leon ada di dalam ngak?"
"Ada kak, bentar lagi juga keluar soalnya mau ngantarin aku kebandara," jawab Jesselyn jujur.
Ia memperhatikan penampilan modis Bela yang sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang casual.
"Cantik dan pintar dandan, pantesan kak Leon suka. Kak Bella beruntung bisa dapetin hatinya kak Leon. Mereka cocok, pasangan yang serasi," Jesselyn berkata-kata dalam hatinya.
"Aku langsung ke dalam aja nemuin Leon, lagian da biasa juga main kesini."
Bela dengan sesuka hatinya main nyelonong saja ke dalam rumah. Jesselyn yang melihatnya hanya terdiam tanpa memberikan protes karena berpikir Bela adalah pacarnya Leon dan pastinya memiliki akses bebas ke rumah keluarga Bagas.
"Hai Leon?" sapa Bela saat melihat Leon berjalan menuruni tangga.
"Lo ngapain kesini?" Leon kaget melihat kedatangan Bela di rumahnya.
"Bukannya hal biasa jika berkunjung ke rumah pacar sendiri? Kita ke kampus bareng ya, tadi aku kesini naik taksi."
__ADS_1
"Mending kamu pergi sendiri aja, aku ke kampusnya agak siangan. Satu hal yang paling penting, kita ngak lagi pacaran jadi gue bukan pacar lo. Gue minta tolong stop sampai disini ngejar-ngejar gue." ucap Leon memperingatkan Bela.
"Kenapa sih kamu pakai 'lo - gue' manggilnya bukannya kita juga pernah dekat Yon?"
"Apa ngak bisa manggil aku dengan kata 'kamu', aku sayang sama kamu,"
Bela meraih tangan kanan Leon meyakinkan perasaannya yang begitu menyayangi Leon.
"Lepasin tangan gue?"
"Ngak Yon, aku yakin kamu juga suka dan sayang sama aku tapi kamu belum sadar, aku...."
Bela melihat cincin yang ada dijari Leon sama dengan yang tadi ia lihat pada Jesselyn. Ia merasa ada sesuatu yang mendidih didadanya saat itu juga.
"Oh, jadi kamu da punya cewek lain sekarang makanya menghindar dari aku, pakai cincin pasangan segala lagi. Jadi dia yang buat kamu begini ke aku?" Bela berjalan secepat mungkin dan menghampiri Jesselyn yang ada di luar.
"Kenapa kak?" Jesselyn yang melihat Bela berdiri dihadapannya bergidik ngeri melihat tatapan Bela yang begitu mematikan.
"Kamu siapanya Leon?" tanya bela dengan emosi.
"Kak Bela aku..."
"Cepatan ngomong kamu siapnya Leon sampai harus pakai cincin pasangan begini?" Bela mengangkat tangan Jesselyn tempat cincin yang ia maksud berada. Suara bentakan Bela membuat Jesselyn semakin ketakutan.
"Ngak ada hubungannya dengan dia, kamu bisa sopan sedikit ngak sih di rumah orang?"
Leon merasa geram melihat kelakuan Bela.
"Kamu masuk kedalam mobil!" perintah Leon pada Jesselyn.
"Tapi kak aku..."
"Aku bilang masuk sekarang?" Leon menekan ucapannya.
"Kenapa? Kenapa dia harus masuk ke mobil? Kamu ngak mau dia dengar dan lihat kita berantem? Kalian pacaran sejak kapan?" Bela semakin emosi melihat Jesselyn yang berdiri di depannya.
"Kak Bela ini bukan seperti yang kakak pikir. Ini memang cincin pasangan tapi aku dan kak Leon bukan seperti itu kak. Kalau kakak mau, kak Bela aja yang pakai ini cincin. Nanti aku yang bilangin ke tante Lena, aku yakin tante pasti ngerti," Jesselyn mencoba meyakinkan Bela, melepaskan cincin yang ia pakai dan memberikannya pada Bela.
"Kak Leon juga ngomong dong kalau ini bukan cincin pasangan ki...."
"Kamu juga bisa diam ngak?" teriak Leon pada Jesselyn yang kini menarik tangannya dan memaksanya untuk masuk ke mobil.
"Tapi kak Bela jadi salah paham sama kita, aku ngak enak kak, Leon?"
__ADS_1
"Kalau masih mau ke bandara lebih baik diam dan jangan ikut campur."
Leon memakaikan seat-belt pada Jesselyn dan menutup pintu mobil dengan kuat. Ia menghampiri Bela yang masih berada disisi kiri mobil dan mengambil cincin yang tadi diberikan Jesselyn padanya.
Ia mengatakan sesuatu yang tidak bisa di dengar Jesselyn dari dalam mobil karena Leon telah menguncinya. Tampak oleh Jesselyn wajah Bela yang semakin marah dan melayangkan sebuah tamparan di pipi Leon. Setelah itu Leon masuk ke dalam mobil.
Diperjalanan menuju bandara keduanya hanya membisu sampai Jesselyn memberanikan diri untuk berbicara.
"Sakit banget ya kak?" Jesselyn merasa kasihan melihat pipi Leon yang memerah akibat tamparan dari Bela.
"Maaf karena buat salah paham antara kak Leon dan kak Bela."
"Berisik amat sih, bisa diam?"
"Maaf kak"
Chihihihihitt.....
Leon tiba-tiba merem mobilnya.
"Ada ngak sih kata lain selain maaf yang bisa keluar dari mulut kamu? Dan bisa ngak sih kalau ngomong itu dipikirin dulu? Kalau kamu ngak ngerti apa-apa maka diam itu lebih baik."
"Maaf kak"
"Maaf lagi...maaf lagi...."
Leon memukul setir mobil yang ada didepannya sehingga membuat Jesselyn bergidik ngeri melihatnya.
Leon kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tiga puluh menit kemudian mereka tiba di parkiran bandara.
"Makasih banyak ya kak Leon, aku senang banget bisa kenal kakak walaupun selama ini cuek sama aku. Aku yakin kakak juga sayang sama aku seperti ke kak Nadya, iya kan? Maafin Jesselyn juga ya kak sering buat marah dan sering nyusahin? Aku janji ngak bakal nyusahin lagi!"
"Ayo masuk"
"Aku sendiri aja kak. Kak Leon hati-hati ya nyetirnya waktu pulang?" Jesselyn meraih koper miliknya yang ada ditangan Loen.
"Selamat tinggal kak"
Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca, berbalik meninggalkan Leon.
...Terimakasih sudah mampir......
...Like dan komennya dipersilahkan.....
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...