Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Membuat Aku Risih


__ADS_3

Tak seorangpun dapat menahan kuasa sang empunya hidup kita. Ada suka untuk menggantikan duka. Ada tawa untuk menggantikan tangis, begitu pula dengan kelahiran dan kematian di dunia ini.


Sekuat dan sebesar apapun kemampuan kita tapi jika siempunya jagat raya telah menentukan apa yang harus kita alami dan lalui maka itulah yang harus siap kita terima.


Sekuat tenaga Jesselyn berusaha melepas tubuhnya dari kedua tangan Leon yang memeluknya erat dari belakang. Suara berat dan parau Leon karena menahan isakan tidak dipedulikan Jesselyn sama sekali.


Sekuat tenaga Leon memeluk gadisnya berharap pengertiannya.


"Lepas!" teriak Jesselyn terdengar hingga kelantai bawah dimana Bagas sedang menenangkan sang istri yang sepertinya syok dan tak menyangka akan kejadian ini.


"Ngak. Aku ngak akan lepas sebelum kamu bilang kalau kita baik-baik aja," ucap Leon memohon. "Aku sayang sama kamu dan kamu tahu itu kan?" ucapnya lagi berusa meyakinkan gadisnya.


Penampilan Leon sudah begitu semrawut dengan rambut acak-acakan dan mata sembabnya.


"Kamu paham ngak sih dengan kata lepas?" suara Jesselyn terdengar begitu kasar dan tak bersahabat.


"Aaaaaa...kamu...."


Leon berteriak kesakitan saat lengannya digigit oleh Jesselyn hingga menyisakan luka bekas gigi. Buru-buru Jesselyn melepaskan tubuhnya dan berbalik menghadap Leon yang masih meringis.


"Keluar!" perintah Jesselyn.


"Aku ngak mau!" tentang Leon.


"Aku bilang keluar sekarang juga," teriak Jesselyn yang semakin membuat Lena yang berada dibawah meraung tak tahan jika Leon juga ikut menjadi sasaran Jesselyn.


"Aku akan keluar tapi kamu pakai dulu ini," ucap Leon tak ingin membuat kemarahan Jesselyn semakin besar. Leon menunjukkan cincin yang sedari tadi digenggamnya.


"Aku tidak butuh dan berhenti untuk selalu menempel denganku karena itu sangat menjengkelkan dan membuat aku risih. Paham?" ucap Jesselyn tanpa jeda.


"Aku tahu kamu marah tapi kamu kan dengar tadi papa bilang apa, kamu hanya salah paham. Oke kamu marah tapi apa aku juga harus kena imbasnya?" dengan suara berat Leon kembali mencoba meyakinkannya.


Jesselyn akhirnya runtuh mendengar ucapan Leon. Ia berjongkok, menelungkupkan kepala diatas kedua lututnya. Tangisnya lolos keluar, menumpahkan segala yang ia rasakan.


"Aku ngak tahu yang terjadi dimasa lalu tapi tolong jangan seperti ini. Masa lalu punya ceritanya masing-masing, hem?" ucap Leon ikut berjongkok memeluk Jesselyn. "Apapun itu jangan pernah berpikir untuk menjauh bahkan juga membenciku."

__ADS_1


Tangisnya terdengar semakin lirih saat berada dipelukan Leon. Rasa yang berkecamuk semenjak semalam ia tumpahkan bersama derai air mata.


"Tolong keluar, kak. Aku mau sendiri sekarang," ucap Jesselyn menarik tubuhnya dari pelukan Leon tanpa sedikitpun melihatnya.


Jesselyn tahu apa yang terjadi tidak ada hubungannya dengan Leon namun entah mengapa sulit rasanya untuk ia berdamai dengan hatinya saat ini akan Leon karena tante Lena.


****


Pagi ini hari begitu cerah namun berbanding terbalik dengan keadaan di rumah Bagas. Raut wajah para penghuninya terlihat begitu mendung dan murung.


Masih sama seperti pagi biasanya, pagi ini pun Jesselyn ikut turun ke dapur membantu tantenya menyiapkan sarapan meski tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Selesai sarapan gegas Jesselyn bersiap pergi ke kampus. Sama seperti semalam, ia pergi sendiri tanpa diantar padahal Leon sudah bersiap dengan motornya menunggu Jesselyn lebih awal. Meskipun begitu Leon mengikuti bus yang ditumpangi Jesselyn dari belakang hingga ia tiba di kampus. Setelah meyakinkan Jesselyn tiba dengan selamat dan memasuki area kampus Leon memutar balik motornya.


Leon langsung menuju kesalah satu perusahaan terkemuka, pasalnya mulai besok ia akan langsung bekerja disana. Bagas sebenarnya ingin Leon mengambil alih perusahaan yang ia pegang setelah Leon lulus namun ditolak karena Leon ingin bekerja diluar perusahaan yang dimiliki ayahnya.


Leon sangat bersyukur karena bisa bekerja di perusahaan yang ia incar selama ini apalagi perusahaan itu dekat dengan area kampusnya yang juga tempat Jesselyn kuliah.


Hari sudah hampir sore saat Leon kembali kerumah. Ia begitu bersemangat untuk memberikan kabar gembira pada papa dan mamanya termasuk Jesselyn mengenai ia yang akan mulai bekerja secara resmi di sebuah perusahaan besar.


saat mendapati sebuah sepeda motor yang tak asing baginya.


Leo yang baru saja keluar dari rumah setelah mengantar pulang Jesselyn menangkap keberadaan Leon sedang menunggunya di samping motor sport merah yang pernah dikempesinya saat diparkiran kampus.


Dengan seringai diwajah Leo berjalan begitu santai menghampiri Leon.


"Mau apa lo kerumah gue?" tanya Leon tanpa basa-basi menampilkan wajah tak bersahabat namun dibalas dengan senyuman oleh Leo.


"Gue ngak punya kewajiban kan buat jawab pertanyaan itu, lagian tuan dan nyonya rumahnya tidak ada masalah atas kehadiranku disini," jawab Leo begitu santai sambil memasang helm di kepalanya.


Leo membungkuk mengamati kedua ban motornya. Ia khawatir jika Leon kembali mengempeskan ban motornya.


"Aman" ucap Leo saat dia yakin tidak ada masalah.


Setelah mesin motor dinyalakan Leo langsung menancap gas melewati Leon begitu saja.

__ADS_1


"Brengsek!" umpat Leon mengepal kedua tangannya.


****


Suasana makan malam terasa begitu canggung namun Lena senang karena Jesselyn mau ikut bergabung tidak seperti makan malam sebelumnya.


Jesselyn menghabiskan makanannya yang hanya sedikit dengan begitu cepat. Segelas air putih dihadapannya juga tandas dibuatnya.


Sesendok besar tumis kangkung sengaja ditaruh Leon di atas piringnya untuk menarik perhatian gadis di depannya. Sejujurnya ia masih belum sanggup makan banyak namun apapun akan ia lakukan demi mendapatkan kembali perhatian gadisnya.


Baik Bagas maupun Lena sama-sama melongo, menelan ludah mereka sudah payah melihat kenekatan anak mereka. Berbeda dengan Jesselyn yang tampak biasa-biasa saja.


"Leon, Jangan dipaksain nak," ucap Lena memperingatkan namun tidak digubris oleh Leon dan terus memasukkan tumis kangkung tersebut ke dalam melutnya.


Leon berharap Jesselyn akan memintanya berhenti sambil menyerahkan segelas air padanya namun tentu saja itu hanya ada dalam angan. Jesselyn sama sekali tidak bereaksi hingga wajah Leon memerah karena menahan untuk tidak memuntahkan sayuran yang ia makan. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari wajan dan siap disajikan.


"Leon, stop!" ucap Bagas keras agar Leon mengakhiri kegilaannya.


Leon berlari menuju kamar mandi dengan sebelah tangan menutup rapat mulutnya.


Uekk... Uekk... Uekk...


Leon memuntahkan semua yang ia makan termasuk sayur yang sengaja ia makan demi menarik perhatian Jesselyn.


Di meja makan Bagas dan Lena merutuki kegilaan anak mereka. Tanpa diduga pandangan keduanya mengarah pada Jesselyn yang sedang asik dengan pikirannya.


Saat Jesselyn akan berdiri dan membereskan meja makan barulah ia menyadari jika dua pasang mata sedang tertuju padanya.


Ekhem...


Bagas berdehem, dengan pelan ia menggeser sebuah gelas berisi air putih pada Jesselyn sedangkan Lena melihatnya penuh harap.


"Sudah selesaikan, ma?" tanya Bagas pada istrinya yang masih memegang sendok ditangan. "Sudah malam kita istirahat yok, ma!" Bagas mengambil sendok ditangan istrinya dan memberinya kode agar mengikuti ucapannya.


"I-iya, pa. Mama sudah selesai," ucap Lena meneguk tandas minumannya.

__ADS_1


Jesselyn menghela nafasnya melihat gelas yang digeser Bagas padanya. Matanya kini tertuju pada kamar mandi dimana ada Leon yang sedari tadi berusaha mengeluarkan apa yang nyangkut dan menggeliat di tenggorokannya.


__ADS_2