
Sudah hampir satu jam sejak Nadya tak sadarkan diri dan dibawa ke puskesmas akibat bermain yang mirip seperti ayunan. Lena, Bagas, opa dan oma sungguh khawatir karena Nadya belum pernah pingsan sebelumnya.
Karena malam sudah semakin larut Bagas akhirnya mengantar istri dan kedua orang tuanya pulang dan akan kembali lagi ke puskesmas. Bagas meninggalkan Nadya karena disana ada perawat dan seorang dokter yang menjaganya.
"Sudah ma, seperti yang dikatakan dokter tadi kalau Nadya hanya syok dan pasti sebentar lagi akan sadar. Khawatir boleh tapi jangan berlebihan."
Bagas menenangkan istrinya karena sedari tadi wanita paruh baya itu terlihat begitu khawatir akan putrinya.
"Mama khawatir karena Nadya pingsannya lama banget, pa."
Oma dan opa yang mendengar perbincangan keduanya hanya saling bertukar pandang karena tak kalah cemas.
"Sudah..sudah..menyetir saja yang cepat dan segera kembali ke puskesmas," celetuk oma.
Tak butuh waktu lama sekitar sepuluh menit mereka sampai dirumah. Bagas tidak ikut turun karena langsung kembali ke puskesmas.
Saat semuanya khawatir akan keadaan Nadya, sepasang anak muda yang tengah ditumbuhi bunga-bunga mawar merah bermekaran dihati dan di kedua netra mereka tengah tertidur pulas menggunakan satu selimut.
Opa yang berjalan di depan langsung menekan dan mendorong handle pintu untuk segera masuk namun sia-sia karena pintu dalam keadaan terkunci.
"Apa tadi kau mengunci pintu saat kita pergi?" tanya opa pada oma.
"Apa aku menguncinya tadi?" tanya oma mendekati opa.
"Aku bertanya padamu tapi malah kembali bertanya padaku, apa kau sudah mulai pikun?"
"Entahlah, sepertinya memang seperti itu tapi tenang saja karena aku tidak akan mati sebelum menepuk bokong anak dari cucu laki-lakiku."
Oma merogoh sesuatu dari kantong celananya dan meraih kunci dari dalam sana.
Setelah memasukkan kunci pada lobangnya dan memutarnya sekali, pintu langsung terbuka. Oma mendorong pintu dan masuk kedalam diikuti oleh suaminya dan Lena, menantunya yang sedari tadi berada dibelakang mereka dan mendengar perkataan kedua orang tua itu.
"Hakhhh!"
Kejut oma saat memasuki ruang tengah. Pemandangan di depan matanya sungguh mengejutkannya.
Opa dan Lena yang berada dibelakangnya tak kalah terkejut dari oma.
Bukan untuk pertama kalinya Lena melihat Jesselyn dan Leon tidur bersama namun kali ini sedikit berbeda karena kedunya sudah dalam ikatan pertunangan. Ia takut keduanya sampai salah melangkah, melakukan sesuatu yang belum saatnya.
Lena menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat keduanya tidur memanjang di sofa dengan posisi berpelukan dan selimut yang mereka pakai sebelumnya sudah tergeletak dilantai.
Tubuh kecil Jesselyn seolah tertelan dalam pelukan Leon yang mengenakan hoodie.
"Leon!" teriak Lena mengejutkan keduanya yang tengah berada dalam mimpi.
__ADS_1
"Ta-tante?"
Beda yang dipanggil beda yang merespon. Jesselyn yang terkejut mendengar teriakan seseorang tanpa mengerjapkan matanya langsung mengangkat tubuhnya sekuat tenaga mengambil posisi berdiri.
Leon terpelanting kebawah karena Jesselyn yang mendorongnya cukup kuat hingga membuatnya meringis kesakitan, merasa ngilu pada pinggangnya.
"Leon?"
Buru-buru oma berjalan kearah keduanya dan dengan sekuat tenaga ia memukul-mukul Leon menggunakan sebuah buku tebal yang ia ambil dari atas meja di depan sofa.
"Kau anak nakal, benar-benar anak nakal. Katakan, ayo katakan, apa kalian sudah sering tidur bersama selama ini? Ayo katakan?"
"Berhenti oma, sakit oma," pinta Leon sambil berusaha menangkis pukulan oma.
Oma terus memukuli Leon dengan buku tebal ditangannya sedangkan yang lainnya hanya diam menyaksikan adegan yang disuguhkan oma dan cucunya.
Jangan tanya bagaimana keadaan jantung Jesselyn saat ini, sudah kembang kempis menahan rasa takut dari para orang tua di depan matanya yang menatap curiga padanya.
Rasa kasihan pada Leon yang terus meringis kesakitan membuat Jesselyn sungguh tidak dapat menahan mulutnya yang sedari tadi mengatup untuk berbicara.
"Sudah oma, jangan pukul kak Leon lagi. Itu menyakitinya, oma."
Jesselyn memohon pengertian oma dengan menyatukan kedua telapak tangannya sembari mengusap-usapnya namun oma sama sekali tidak menghiraukan perkataan Jesselyn.
"Oma, jangan lagi!" pinta Jesselyn menghalangi pukulan oma dengan memeluk leon.
"Tapi kak Leon ngak ngapa-ngapain Jesselyn kok, oma."
"Lalu kenapa kalian tidur bersama sambil berpelukan, hah?" pekik oma.
"Dingin oma."
"Haduh...haduh...haduh...ke-kepalaku sakit, leherku tegang."
Oma menjatuhkan buku ditangannya, memijit kepalanya dan menekan-nekan leher bagian belakangnya.
"O-oma kenapa?"
Lena dan opa mendekati oma yang hampir terjatuh. Menahan tubuh wanita tua itu dan membawanya duduk di sofa.
Semuanya hening dengan pandangan tertuju pada oma yang menyandarkan kepalanya ke sofa.
Tiba-tiba mata oma menjurus pada Jesselyn yang berdiri di depannya dengan Leon berada di belakang Jesselyn.
"Sudah, kalian menikah saja."
__ADS_1
Kalimat oma mengagetkan semuanya terutama Jesselyn yang langsung melotot hingga membuat biji matanya hampir saja melompat dari tempatnya.
"Baik oma!"
Semua kembali terkejut saat orang yang berdiri di belakang Jesselyn langsung menyanggupi perkataan oma dengan suara lantang.
"Kak?" pekik Jesselyn melihat kearah Leon yang tanpa beban.
"Oma, Jesselyn dan kak Leon..."
"Sudah. Besok kita bahas tanggal pernikahan kalian," ucap oma memotong kalimat Jesselyn.
"Tapi oma," ucap Jesselyn ingin menginterupsi oma namun wanita tua itu sudah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Saat melewati Leon, tanpa sepengetahuan siapapun oma dan Leon menautkan kedua kelingking mereka sebagai kode antara keduanya. Oma masuk kedalam kamarnya dengan senyum diwajahnya.
"Tante, Jesselyn ngak..."
"Tante lihat oma ke kamar dulu ya, takut tiba-tiba terjadi sesuatu sama oma."
Lena berlalu tanpa mendengar apa yang mau disampaikan oleh Jesselyn sedangkan opa hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu apa-apa dan tidak ikut-ikutan saat Jesselyn memandangnya dengan wajah memelas.
****
"Apa kau tidak bosan dan capek menutup mata dan berpura-pura pingsan?" tanya dokter yang memeriksa Nadya yang juga tadi mengangkatnya dari permainan ayunan saat di pasar malam.
"Ayo buka mata atau kau mau tinggal sendiri di puskesmas ini?" ancam sang dokter mengarahkan senternya yang menyala pada wajah Nadya dan membuat lingkaran abstrak hingga membuat silau mata Jesselyn yang sedikit terbuka.
Si dokter mematikan senternya dan mengemasi barang-barangnya untuk pulang.
Perlahan Nadya yang memang sudah sadar sembelum tiba di puskesmas mulai membuka kedua matanya dan duduk menghadap punggung pak dokter yang tengah sibuk memasukkan alat-alat medisnya dalam ransel.
"A-a-aw...kepalaku pusing," ucap Nadya berpura-pura. Pria di hadapannya langsung menoleh dan nalurinya sebagai dokter langsung membuatnya sigap mengecek bagian yang dikatakan sakit oleh Nadya.
Dokter tersebut meletakkan telapak tangannya di kening Nadya dan merasakan jika suhu tubuhnya normal dan baik-baik saja.
Hmmmm
Dengus si dokter menyadari jika ia hanya dikerjai saja. Tanpa mengatakan apapun ia langsung keluar dengan ransel yang sudah berada di punggungnya.
"Pulanglah, kamu sudah dijemput," ucap si dokter saat melihat mobil Bagas tiba di halaman puskesmas.
Bagas yang sudah tiba kembali di puskesmas langsung menghampiri Nadya dan si dokter.
Tanpa menunggu lama setelah dokter meyakinkan jika Nadya baik-baik saja, Bagas langsung membawanya pulang dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
Nadya mengikuti langkah papanya menuju ke mobil namun sebelum ia masuk dilihatnya penuh arti punggung si dokter yang berjalan kaki meninggalkan puskesmas.
"See you, pak dokter!"