Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Buka Mulutnya


__ADS_3

Dengan mata tertutup Jesselyn berpura-pura seperti sedang tidur. Suara pemuda yang memaksanya untuk bangun tak dihiraukannya. Semakin Leon menyuruhnya bangun, semakin ia memejamkan matanya.


"Aku tidak bisa kamu bohongi, jadi lebih baik bangun sekarang," perintah Leon untuk kesekian kalinya.


Jesselyn semakin menggenggam erat kedua telapak tangannya dan menutup rapat kedua matanya. Antara takut bercampur kesal itulah yang dirasakannya.


Leon mendekakan wajahnya kewajah Jesselyn dan mengatakan sesuatau tepat diatas wajahnya.


"Kamu tahu kan kalau aku lagi marah seperti apa? Jadi bangun sekarang!" ucap Leon mengintimidasi agar gadis itu bangun dari tidur pura-puranya. "Hufff....." Leon meniup kedua mata Jesselyn, aroma mint dari nafasnya begitu terasa dihidung Jesselyn.


Jesselyn tidak sanggup lagi melanjutkan akting tidurnya, dengan malas ia mulai membuka kedua matanya.


Jesselyn tidak berani menoleh kesebelah kirinya dimana ada Leon sedang berdiri dengan kedua tangannya masih berada di saku jaketnya.


Ceklek


Seorang perawat masuk kedalam ruangan Jesselyn.


"Selamat malam?" sapa perawat yang berbeda dari sebelumnya karena mungkin sudah berganti shift.


"Malam juga, sus? balas Jesselyn mengambil posisi duduk dan menyandarkan punggungnya kebelakang.


Perawat itu melepas infus yang digunakan Jesselyn, mengecek suhu tubuh dan tensinya.


"Obatnya sudah diminum?"


"Sudah, sus."


"Bagus. Kalau gitu selamat beristirahat," ucap perawat itu dan keluar meninggalkan mereka berdua.


Jesselyn menundukkan kepalanya setelah kepergian perawat itu. Leon berjalan kearah pintu ruangan itu dan menguncinya dari dalam. Melemparkan kunci motor miliknya keatas sofa panjang diruangan itu, membuka jaket yang ia pakai dan meletakkannya diujung tempat tidur Jesselyn.


Setiap pergerakan dari Leon membuat jantung Jesselyn berdegup tak karuan.


Namun ia mencoba untuk tenang dan biasa saja.


Leon mengambil sebuah apel dan pisau kecil yang dibeli papanya sebelum akan pulang tadi.


"Hemmm," Leon menghembuskan nafasnya kasar, duduk dikursi sebelah kiri Jesselyn dan mulai mengupas apel ditangannya.


Setelah selesai mengupas dan memotongnya, Leon menyodorkan sepotong apel kemulut Jesselyn.


"Aku ngak berselera kak," ucap Jesselyn menolak potongan apel yang diberikan Leon.

__ADS_1


"Ck, kenapa? Apa tanganku mengandung racun? Apa kalau dia yang kasih baru kamu mau makan?" ucap Leon ketus.


"Enggak gitu kak," kata Jesselyn merasa tidak enak menolak pemberian Leon. "Kalau gitu sini kak, aku akan makan apelnya," meminta kembali potongan apel yang ditolaknya.


Bukannya memberikan potongan apel tersebut pada Jesselyn, Leon justru melemparkan semua apel ditangannya dan masuk tepat kedalam keranjang sampah dekat pintu kamar mandi.


Jesselyn merinding melihat apa yang dilakakun Leon. "Ke, na-pa dibuang kak?" tanya Jesselyn gugup.


Leon kembali duduk dan memainkan ponsel miliknya disamping Jesselyn. Tidak menanggapi pertanyaan gadis disampingnya itu.


Hening! Keduanya tak ada yang mengeluarkan suara. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


Dert...


Dert...


Dert...


Ponsel milik Jesselyn bergetar. Jesselyn meraih ponsel miliknya yang ia letakkan diatas meja kecil sebelah kanannya.


Jesselyn melihat nama kontak yang menghubunginya. Bukannya menjawab panggilan yang masuk Jesselyn justru menggenggam erat ponselnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kak," pekik Jesselyn karena tiba-tiba Leon merebut paksa ponselnya


"Leo?" ucap Leon menyebutkan nama sipenelpon dan melihat kearah Jesselyn. Leon mengangkat ponsel Jesselyn keatas berniat membantingnya kelantai namun ia urungkan. Leon membuka dan mengeluarkan kartu didalamnya, memasukkannya kedalam gelas berisi air putih.


Leon memakai jaketnya dan mengambil kunci yang ia lempar ke atas sofa. Tanpa mengatakan apapun Leon pergi keluar.


"Sudah seperti jalangkung saja, datang dan pergi sesukanya. Kerasukan jalangkung dijalan baru tahu rasa dia," gerutu Jesselyn melihat kepergian Leon.


Karena bosan dan belum mengantuk, Jesselyn turun dari tempat tidurnya dan duduk disofa. Ia menyalakan televisi dan bolak-balik mengganti channel karena tidak ada tontonan yang menarik baginya. Akhirnya ia mematikan televisi dan selonjoran.


****


"Pa, kita ngak kerumah sakit aja?" tanya Lena pada suaminya.


"Buat apa, ma? Ngak usahlah, kan sudah ada Leon disana?" menyeruput teh yang baru saja diseduh istrinya.


"Mending kita istirahat dirumah. Biarin mereka berdua dulu. Tidak semua drama yang mereka mainkan harus kita tonton, mama ngertikan maksudnya papa?" ucap Bagas dengan seringai kecil diwajahnya.


Lena tersenyum sembari menggelengkan kepalanya mendengar perkataan suaminya. Ia duduk dan menyandarkan tubuhnya dikursi yang ada di pondok. Menikmati pemandangan indah langit malam yang bertabur bintang bersama teman hidupnya itu.


****

__ADS_1


Ceklek


Jesselyn mengangkat kepalanya melihat Leon sudah kembali lagi.


"Benarkan, sudah seperti jalangkung saja," kata Jesselyn kembali dalam hatinya.


Jesselyn memperhatikan botol air mineral berukuran besar dan bungkusan yang ada di tangan Leon, penasaran dengan isinya.


Setelah mengunci kembali pintu, Leon meletakkan bungkusan ditangannya diatas sofa, disamping Jesselyn duduk dan melepaskan jaketnya.


Leon membuka tutup botol air mineral dan menegukknya hampir seperempat isi botolnya. Meletakkannya tanpa menutup kembali. Leon duduk disebelah kiri Jesselyn dan membuka bungkusan yang ia bawa.


Aroma harum langsung menyeruak menusuk kedalam hidung. Begitu menggiurkan bagi siapa saja yang melihat dan mencium aromanya.


Leon menuangkan soto yang ia beli keadalam sebuah wadah yang ada diruangan itu. Menambahkan perasan jeruk nipis dan mengaduknya.


Setelah itu ia membuka satu bungkusan lagi.


Jesselyn menelan liurnya saat Leon membuka bungkusan itu.


Bagaimana tidak, sate Padang kesukaannya terpampang jelas dihadapannya.


Shruppp...


Leon menyeruput sesendok kuah soto yang sangat menggoda itu, membuat Jesselyn menjilat bibirnya dan menelan liurnya.


"Pelit!" umpat Jesselyn dalam hatinya karena tidak ditawari Leon.


Baru saja ia mengumpat, Leon sudah menyodorkan sendok berisi soto yang ia beli.


"Buka mulutnya," ucap Leon memberi instruksi. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Jesselyn langsung membuka lebar mulutnya dan menerima suapan Leon.


Leon secara bergantian menyuapi dirinya dan Jesselyn. Gadis itu semakin mendekat pada Leon agar lebih mudah menerima suapan dari Leon.


"Aa..," kali ini Leon menyodorkan sate padang yang sengaja ia beli karena tahu Jesselyn sangat menyukainya.


"Kak, minum?" pinta Jesselyn begitu enteng sambil menguyah sate dimulutnya dan Leon memberikan apa yang ia minta.


Leon kembali menyuapi dirinya dan gadis disampingnya itu.


"Itu kak," tunjuk Jesselyn pada sate yang dagingnya berukuran sedikit lebih besar. "Balurin lagi kak sama bumbunya," perintah Jesselyn tanpa sadar. Ia juga lupa sudah menyumpahi Leon agar kesambet jalangkung.


Entah sudah berapa tusuk sate yang dihabiskan Jesselyn, yang pasti jumlah yang ia makan lebih banyak dibanding yang dimakan oleh Leon.

__ADS_1


Setelah selesai makan Jesselyn bersandar kebelakang sofa sedangkan Leon membersihkan bungkusan makanan. Karena begitu kenyang, sampai-sampai Jesselyn bersendawa dan menutup mulutnya karena malu.


"Jorok!" ucap Leon menyeka bumbu sate disudut bibir Jesselyn dengan jempolnya dan menjilatnya. Hal itu membuat Jesselyn tertegun dan membulatkan matanya.


__ADS_2