
Tap... Tap... Tap...
Sambil terengah-engah Jesselyn berlari dikoridor fakultas ekonomi. Dilihatnya jam ditangannya sudah menunjukkan pukul satu siang lebih, untung saja setelah keluar dari area kampus ada seorang tukang ojek sedang mangkal dibawah pohon beringin besar. Tanpa menunggu lama ia langsung naik keatas boncengan si tukang ojek hingga membuat pria tambun sipemilik motor melonjak kaget.
"Astaga" kejut tukang ojek saat tiba-tiba merasakan lonjakan dibelakangnya. Sambil mengelus dadanya ia menoleh kebelakang dan membuatnya semakin terkejut. "Ada bidadari," dengan mulut menganga pria itu mengucek-ucek kedua matanya mendapati seorang gadis yang begitu cantik, manis dan imut menurutnya.
"Ayo, bang!" dengan menepuk pundak situkang ojek Jesselyn memintanya untuk melajukan sepeda motornya.
Bukannya langsung melajukan motornya pria tambun itu malah semakin terperangah mendengar apa yang dikatakan gadis yang ia sebut bidadari.
Pok...
Pok...
Situkang ojek memukul kedua pipinya bergantian. Jesselyn menarik sudut bibirnya keatas melihat tingkah pria didepannya.
"Kok bengong sih bang, ayo dong maju!" melambaikan telapak tangannya di depan wajah si tukang ojek.
"Kagak sampai ke kayangan neng!" ucap nya masih tertegun.
Jesselyn jengkel karena diwaktunya yang sudah mepet ia masih diajak bercanda.
"Ke kayangannya besok aja bang, hari ini kita ke 'Rainbow Cafe'," dengan asal Jesselyn berkata menyahut ucapan tukang ojek. "Ayo cepat bang nanti saya telat."
"Oh, i-iya neng."
Senyum-senyum sambil menggoyang kepala kekiri dan kekanan situkang ojek melajukan sepeda motornya.
Sekitar Iima belas menit kemudian motor merah merek as**ea tanpa spion berhenti di depan pintu masuk 'Rainbow Cafe'.
"Makasih, pak."
Jesselyn memberikan ongkos ojek dan melongos masuk ke dalam cafe. Baru saja masuk ia sudah keluar lagi dengan wajah cengir.
"Hehehe... Maaf pak, saya lupa balikin helmnya."
"Kagak napa-napa neng, kan sudah dibalikin juga ini," menerima helm yang diserahkan Jesselyn. "Ngomong-ngomong kesini mau ngapain neng? Jumpa pacarnya ya?" tanya pak ojek kepo.
"Ngak kok pak, saya mau jadi babu disini."
Jesselyn berlari kedalam setelah mengatakan tujuannya.
"Hahaha... Ada-ada aja si neng bidadari, ya kali cantik-cantik jadi babu."
Sampai di dalam cafe Jesselyn langsung mengganti pakaiannya dan memasukkan tasnya dalam loker khusus buat karyawan.
Setelah dirasanya rapi ia keluar dan siap melakukan tugasnya sebagai salah satu pelayan di 'Rainbow Cafe'.
__ADS_1
Ini adalah hari pertama Jesselyn bekerja disana setelah semalam ia diterima untuk bekerja disana sekaligus pengalaman kerja pertamanya. Dengan mengulas senyum ia berjalan menghampiri pengunjung yang akan memesan makanan.
Dengan berhati-hati ia menulis setiap menu yang dipesan para pengunjung agar tidak terjadi kesalahan dan menyerahkannya kepada bagian dapur.
Ting
Bel berbunyi tanda pesanan siap diantar. Tidak ada kendala yang dialaminya hanya saja harus lebih berhati-hati saat berjalan supaya nampan berisi makanan dan minuman pesanan pelanggan tidak oleng dan terjatuh.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Mungkin karena bolak-balik kesana-kemari hingga ia tidak menyadari sudah waktunya cafe tempat ia bekerja untuk tutup.
Hufff..
Jesselyn selonjoran dikursi sambil memukul-mukul kaki dan pundaknya.
Lelah, ngantuk dan lapar bersatu dalam dirinya.
"Capek?" tanya salah satu karyawan yang juga selonjoran disamping Jesselyn.
"Lumayan, kaki aku rasanya mau lepas nih dari engselnya tapi aku senang ngelakuinnya."
"Harus itu. Apalagi kamu sambil kuliah lumayan buat nambah uang saku."
Meskipun Jesselyn baru bekerja sehari namun tidak sulit buatnya untuk cepat bergaul dengan karyawan lainnya apalagi yang sudah bekerja lumayan lama di tempat itu seperti Gary yang sedang mengobrol dengannya.
"Pulang sekarang yok, Jes" ajak Sinta yang juga sudah bekerja disana selama tiga bulan.
Sebelum kembali kerumahnya Sinta terlebih dahulu mengantar Jesselyn ke kontrakannya.
"Janji ya jangan bilang kak Adit kalau aku juga kerja di Rainbow Cafe," ucap Jesselyn dengan suara keras karena ada helm yang menutupi telinga Sinta.
"Iya, Jes. Dari semalam itu aja yang kamu omongin, kayak ngak ada pembahasan lain aja deh."
"Bukannya apa-apa cuman aku takut aja kalau kak Adit tahu dan keceploson ngomong ke kak Leon."
"Iya, aku janji. Lagian kamu juga aneh, hidup udah enak kamu malah cari susah. Kalau ngak kita gantian gimana? Aku jadi kamu dan kamu jadi aku, oke ngak?"
"Ya udah kalau kamu mau silahkan aja, tinggal bilang ke om Bagas dan tante Lena, itupun kalau mereka mau sih. Hahaha..."
"Kalau mereka setuju berarti kak Leon buat aku juga kan? Hahaha..." Sinta tertawa, meskipun tak dapat melihat wajah Jesselyn yang duduk dibelakangnya namun ia dapat membayangkan bagaiamana wajah manyunnya saat ini.
Aaaaa..
Sinta melonjak, motornya oleng ke kanan-kiri kaget merasakan cubitan di pinggangnya.
"Kamu gila apa gimana sih, Jes? Hampir jatuh nih kita."
"Makanya kalau bawa motor yang bagus, jangan kebanyakan ngomong!" sungut Jesselyn.
__ADS_1
Pukul setengah sebelas malam mereka tiba di kontrakan Jesselyn dan Sinta langsung tancap gas kembali kerumahnya. Butuh sekitar sepuluh menit lagi bagi Sinta untuk sampai dirumahnya.
Ahh...
Tanpa mengganti pakaian Jesselyn merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia meraih tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam. Ada belasan kali panggilan tak terjawab dari leon bahkan pesan yang masuk ke aplikasi hijaunya sudah ada puluhan.
Matanya meremang saat mulai membaca satu persatu pesan yang masuk. Jesselyn tak dapat menahan kantuknya lagi, perlahan-lahan ponsel ditangannya meluncur kebawah dan jatuh diatas dadanya. Jesselyn sudah bersatu dengan alam mimpinya.
****
Sudah dua hari Leon berada diluar kota bersama Adit. Mereka ditugaskan untuk merancang pembangunan sebuah taman hiburan.
Bolak-balik Leon membuka ponselnya namun tak ada respon yang diberikan Jesselyn.
Dari banyaknya pesan yang ia kirim namun hanya lima yang sudah centang hijau dan satupun tidak ada yang dibalas sipenerima.
"Kenapa, bro? Ngopi dulu biar kagak manyun."
Secangkir kopi instan yang ada gambar hewan di bungkusnya diletakkan oleh Adit tepat dihadapan Leon.
Asap yang menggepul dan aromanya yang khas begitu menarik indra penciuman dan perasa Leon.
Shruppp
Ahh..
Leon menyeruputnya dan benar saja rasanya begitu menggoda bahkan menari-nari dalam mulutnya.
"Ngak dibalas?" Adit mencuri lihat ponsel ditangan Leon.
Leon hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Adit.
"Sibuk kali bro, banyak tugas kampus jadi ngak sempat balas."
"Berarti Sinta juga ngak balas dan angkat telpon lo juga dong?" dengan serius Leon menatap Adit.
"Em..ya...ya enggak juga sih. Barusan kita berdua juga telponan."
Leon menjatuhkan dagunya keatas meja, tak bosan ia memandangi layar ponselnya jika sewaktu-waktu Jesselyn meneleponnya balik atau membalas chatnya.
"Jangan gitu dong, bro. Semangat biar besok rejeki kita lancar."
Adit menepuk-nepuk pundak Leon memberinya semangat. Seharian ini Leon terlihat begitu lesu. Sudah ratusan atau mungkin bahkan ribuan kali Leon bolak-balik melihat ponselnya namun hasilnya nihil.
"Gue istirahat deluan, bro. Kalau pesan gue sih mending lo juga istirahat sekarang, besok dia juga bakalan nelpon lo."
Adit menyesap seluruh isi cangkirnya dan meletakknya diatas meja. Ia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur busa tempat mereka akan menginap selama seminggu ini.
__ADS_1