Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Bodoh


__ADS_3

"Wahhh...."


Mulut Nadya terbuka lebar diikuti mata yang terbelalak memandang takjub kamar pengantin yang sudah dipersiapkan untuknya dan Ilham. Diikuti Ilham yang berjalan dibelakangnya, Nadya meneliti satu per satu seisi kamar mulai dari tempat tidur yang ditaburi mawar merah, kamar mandi yang sudah terisi air dalam bathtub dilengkapi lilin dengan aroma yang begitu menenangkan dan balkon yang mengarah ke perbukitan.


Pandangan Nadya terarah pada lemari tanpa tutup yang ada dikamar tersebut, ada sepasang bathrobe putih tergantung menggunakan hanger. Masih dengan gaun pengantinnya ia senyum-senyum sembari menggigit kuku jarinya memandangi bathrobe di hadapannya.


"Kamu kenapa? Pasti lagi berkhayal dan memikirkan sesuatu yang kotor, iyakan?"


Ilham yang sudah begitu gerah dengan pakaian yang menempel seharian ditubuhnya langsung mengambil salah satu bathrobe. Ia sudah tidak sabar ingin mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan melihat bathtub tadi ia ingin berendam untuk sesaat untuk menenangkan tubuhnya.


"Enggak kok. Lagian kita kan sudah resmi suami istri jadi apa salahnya."


"Sudahlah, lebih baik kamu ganti pakaian dan mandi. Kamu ngak gerah dan capek apa seharian banyak berdiri," ucap Ilham mulai melepas pakaiannya.


"Sini biar aku bantu. Sebagai istri yang baik maka aku harus melayani suamiku dengan baik."


"Ngak usah, aku bisa sendiri. Mending kamu mandi deluan."


Ilham menahan tangan Nadya yang hendak membuka kancing kemejanya. Merasakan penolakan dari Ilham, wajah Nadya yang tadinya cerah berubah menjadi cemberut.


"Kamu masih seperti ini juga disaat kita sudah nikah dan resmi jadi suami-istri?"


Wajah Nadya begitu murung, ia menjatuhkan tangannya yang berada di bagian salah satu kancing kemeja Ilham, berbalik membelakangi Ilham dan duduk ditepi ranjang.


Melihat Nadya murung membuat Ilham merasa bersalah. Ia mendekati Nadya dan duduk disampingnya.


"Kamu marah ya?"


"Enggak. Aku ngak punya hak untuk marah, iyakan?"


"Maaf kalau sifatku tadi menyinggung perasaan kamu dan buat kamu sedih. Aku cuman belum terbiasa. Selama ini aku selalu melakukan banyak hal sendiri jadi saat ada yang memberi perhatian lebih aku merasa sedikit aneh. Maaf ya?"


"Kamu ngak perlu minta maaf," ucap Nadya membuang pandangannya dari Ilham.


"Maaf," ucap Ilham tulus. Ia meraih kedua tangan Nadya dan mengarahkannya pada kancing kemejanya. "Ayo," Ilham menganggukkan kepalanya memberi kode agar Nadya membuka kancing-kancing tersebut.


Wajah Nadya yang tadinya murung kembali bersinar. Keduanya saling beradu pandang dan melempar senyuman.


Nadya tersenyum geli saat Ilham membantunya menurunkan resleting gaun yang ia pakai.


"Aku mandi deluan ya," ucap Nadya berlari ke kamar mandi dengan mengganggkat gaunnya yang kepanjangan.


Huh...huh...huh...


Seperti orang sakit jiwa Nadya masih terus tersenyum memandangi wajahnya didepan cermin kamar mandi. Menempelkan telapak tangannya pada pipinya, melompat-lompat bagai anak kecil setelah dibelikan permen dan menggeliat memeluk tubuhnya.


"Benar-benar istri yang tidak pernah kubayangkan untuk kumiliki," ucap Ilham merebahkan tubuhnya. "Aneh tapi aku sangat mencintainya."


Pesta telah usai dan rona kebahagian tak terlepas dari kedua keluarga. Keluarga Abimanyu adalah keluaraga Ilham masih asik berbincang dengan keluarga Bagas disalah satu meja di ballroom tempat resepsi pernikahan baru saja selesai. Keluarga Abimanyu terkenal dengan rumah sakitnya yang mewah dan berada di urutan kedua di kota Bogor namun Ilham justru memilih bekerja di puskesmas desa.


Banyak hal yang mereka perbincangkan termasuk pilihan tinggal anak mereka. Kedua keluarga memberikan kebebasan bagi Nadya dan Ilham yang memilih untuk tinggal terpisah dari keluarga. Beberapa bulan ini kemungkinan Nadya akan bolak-balik Jakarta-Bogor mengingat perkuliahannya yang masih tersisa beberapa bulan lagi hingga wisuda dan setelahnya Nadya akan ikut Ilham tinggal di Desa.


Opa sangat senang karena itu artinya Nadya dapat membantu mengelola perkebunan teh seperti yang ia harapkan selama ini.


****


Pukul delapan malam Jesselyn dan Leon sedang bersantai menikmai dinginnya angin malam dari balkon kamar tempat mereka menginap malam ini karena tidak mungkin pulang ke Jakarta mengingat Adnan yang masih kecil.

__ADS_1


"Kak," Jesselyn menoleh ke belakang saat Leon melingkarkan tangan dipinggangnya.


"Ngh..." lenguh Leon menjatuhkan kepalanya diatas pundak Jesselyn. "Aku sayang kamu."


"Aku juga sayang kak Leon."


"Kamu masih ingat janji pernikahan yang kita ucapkan saat menikahkan?" tanya Leon dan mendapat anggukan dari Jesselyn. "Ngh..." Leon semakin merapatkan tubuh mereka, memeluk erat Jesselyn dari belakang. "Berjanjilah untuk tidak akan pernah pergi dan meninggalkan aku bahkan hanya untuk memikirkannya sekalipun jangan, oke?"


"Kak Leon tahu, kalau itu terjadi maka akulah wanita yang paling bodoh di dunia ini."


"Hahaha... Kamu memang bodoh. Bodoh karena mau dengan pria seperti aku," gelak Leon.


"Kak Leon juga bodoh karena mau menjadikan aku istri, padahal dulu aku selalu buat kak Leon kesal, marah dan bahkan menyayat pergelangan tangan kakak sendiri."


Leon tersenyum mengingat saat yang dikatakan Jesselyn.


"Waktu aku melepas cincin dari jarimu saat itu aku benar-benar hancur."


"Dan saat itu Jesselyn benar-benar takut untuk melepas dan kehilangan kak Leon."


Keduanya larut dalam keheningan. Adnan yang sepertinya lelah seharian ini tidur begitu nyenyak seakan memberi waktu kepada kedua orangtuanya untuk menikmati malam ini.


"Jesselyn boleh tanya sesuatu?"


"Sebanyak yang kamu mau," jawab Leon mencium pipi Jesselyn.


"Sejak kapan Kakak menyukaiku?"


"Kenapa menanyakan itu?" tanya Leon berbalik.


"Sttt! Jangan dilanjut," ucap Leon menpelkan telunjuknya dibibir Jesselyn.


Hmm...


Leon menarik nafas panjang dan menghembuskannya disekitar leher dan telinga Jesselyn.


"Entahlah. Rasa suka itu sepertinya mulai ada saat aku melihat kamu dimeja makan untuk pertama kalinya tapi untuk sayang dan cinta sepertinya waktu aku lihat kamu menangis setelah aku cium kamu di mobil saat ulang tahun anniversary rekan kerja papa dulu."


"Waktu kak Leon cium aku dengan bringas itu ya?" tanya Jesselyn mengingat kembali.


"Bringas? Maksud kamu aku seperti harimau, yang ada kamu yang bringas karena waktu itu kamu gigit bibirku sampai luka," ucap Leon melepas pelukannya dan memutar tubuh Jesselyn menghadapnya, ia tak terima dikatai bringas.


"Itu karena kak Leon ngak mau berhenti dan lepas ciuman kakak. Kakak pikir aku ngak ketakutan waktu itu?" ucap Jesselyn membela diri. "Kak Leon juga ngak minta maaf waktu itu."


"Untuk apa minta maaf untuk sesuatu yang memang aku ingin lakukan, aku suka dan tidak menyesal melakukannya waktu itu."


"Walaupun begitu setidaknya kak Leon harus..."


"Sudahlah jangan dibahas lagi," ucap Leon menghentikan pertengkaran manis mereka dan membawa wanitanya itu kedalam pelukannya. "Lebih baik kita bahas program buat bikin adiknya Adnan, gimana? Hehehe..."


"Itu sih maunya kak Leon. Adnan masih kecil dan butuh kita berdua. Kalau sudah jalan baru kita rencanakan, setuju?" pinta Jesselyn mengangkat kepalanya melihat Leon.


"Baiklah. Setidaknya aku hanya ada satu saingan untuk saat ini," ucap Leon menuruti perkataan Jesselyn dan melirik pada Adnan yang sama sekali tidak terganggu dengan suara mereka.


Jesselyn menutup matanya menghirup aroma tubuh pria yang memeluknya erat, pria yang selalu menjaganya dan yang akan selalu ada untuknya dan buah hati mereka.


"Bukan saat itu. Aku menyukaimu dan baru menyadarinya saat aku melihatmu berada di boncengan sepeda dengan seseorang yang juga aku tahu dia sangat menyukaimu. Waktu itu kamu terlihat begitu senang dengan es krim vanila pemberiannya di tanganmu. Karena kesal dan marah aku melampiaskannya dengan cara merusak sepeda itu," ucap Leon dalam hatinya.

__ADS_1


****


Sepasang pengantin baru tengah memanjakan tubuh mereka dengan berendam dalam bathtub. Tadi saat Nadya baru sekitar lima menit berendam, Ilham yang juga sudah gerah langsung menyusul Nadya ke kamar mandi dan ikut berendam.


Karena malu Nadya hanya memperlihatkan bagian kepalanya saja. Sesekali pandangan keduanya saling bertemu karena posisi mereka yang berhadapan.


Ekhem...


Ilham berdehem memecahkan keheningan diantara mereka yang hanya diam sedari tadi. Perlahan ia bergerak mendekati Nadya dan duduk disebelahnya. Jakun Ilham naik-turun saat kulit mereka bersentuhan dalam air pun Nadya menegang saat Ilham duduk semakin rapat dengannya.


Srakk...


Bunyis gemericik air saat Nadya menahan tangan Ilham menyentuh pahanya.


Kembali keduanya beradu pandang dengan mata yang sendu dan entah sejak kapan keduanya sudah larut dalam ciuman.


Suara gemericik air yang berhamburan menjadi saksi bagaima keduanya larut dalam indahnya cinta yang saling bersambut.


Tak sampai disitu, perlahan Ilham mengangkat tubuh Nadya yang basah menuju ranjang yang seakan sudah menantikan kehadiran keduanya diatasnya.


Yang awalnya hanya cinta sepihak kini menjadi cinta manis yang saling memberi dan menerima. Penyatuan mereka menjadi lebih indah karena kini cinta itu sudah hadir pada keduanya.


Beberapa jam berlalu, kulit yang basah karena air kini bertukar dengan peluh yang kini menempel pada tubuh sejoli yang baru merasakan dan mengecap indahnya malam pengantin mereka.


Lelah usai melakukan kegiatan mereka kini hanya suara hembusan nafas keduanya yang terdengar. Memberi waktu bagi tubuh mereka yang lelah untuk beristirahat. Mengumpulkan lagi tenaga untuk pertempuran selanjutnya yang juga sudah ada di depan mata mereka.


****


Masih dalam pelukan Leon, Jesselyn teringat akan sesuatu dan ingin sekali mengatakannya pada Leon.


"Kenapa?" tanya Leon saat Jesselyn kembali mengangkat wajah melihatnya.


"Dulu itu aku pernah bermimpi. Mimpinya dua kali dan dua-duanya sama."


"Mimpi apa?" tanya Leon penasaran.


"Aku mimpi seseorang menggendong aku erat dengan tatapan mata yang indah."


"Oh, ya?" ucap Leon dengan senyum dibibir.


"Tapi anehnya tidak seperti mimpi, seperti nyata apalagi aku bisa merasakan dan mencium aroma parfum ditubuh yang menggendong aku."


"Oh ya, seperti apa aromanya?" tanya Leon menahan tawanya.


"Aromanya persis seperti aroma parfum yang kak Leon pakai tapi ngak mungkin juga kan, jangankan di dunia nyata dalam mimpi pun ngk mungkin."


"Kenapa ngak mungkin?"


"Ya ngak mungkin kak, waktu itu kan kak Leon sepertinya ngak suka aku," ucap Jesselyn cemberut.


"Itu aku. Itu nyata dan bukan mimpi."


"Apa? Jadi itu?" tanya Jesselyn tak percaya.


"Iya, itu aku."


Leon mengangkat tubuh Jesselyn membawanya ke dalam karena udara yang semakin dingin sedangkan Jesselyn masih tak percaya apa yang ia kira mimpi adalah sebuah kenyataan yang sama sekali tak pernah ia duga.

__ADS_1


__ADS_2