
Gadis itu begitu nyenyak dalam tidurnya. Sudah hampir satu jam namun tidak ada tanda-tanda ia akan segera bangun. Mungkin karena pengaruh dari obat yang diberikan dokter sehingga ia dapat tidur dengan pulas.
Leo, laki-laki yang sedari tadi setia menungguinya tak melepas pandangannya dari gadis itu. Digenggamnya erat tangan gadis itu seolah tak ingin dilepas.
Dengan kedua biji matanya ditelusurinya wajah gadis yang menjadi cinta pertamanya itu. Dielusnya lembut pipi yang masih terlihat sedikit pucat itu, diselipkannya rambut yang menutupi wajah gadis itu kebelakang telinganya, hingga tanpa sadar mengelus bibir pucat gadis itu dengan jempolnya.
"Aku suka dan sayang sama kamu," bisik Leo tepat ditelinga Jesselyn.
Jesselyn merasakan sebuah hembusan ditelinganya, ia melenguh dan dengan pelan mencoba membuka matanya. Samar-samar dilihatnya seseorang duduk disampingnya, setelah mengumpulkan kesadarannya barulah ia dengan jelas melihat Leo yang masih setia menungguinya.
"Leo?"
"Kamu sudah bangun, Jes? Kamu ada butuh sesuatu?" tanya Leo tanpa merubah posisinya.
"Kamu masih disini?" Jesselyn tidak menyangka jika Leo menepati perkataannya untuk tetap menungguinya sampai salah satu dari keluarga Bagas datang kerumah sakit.
"Perasaan sebelum kamu tidur tadi aku kan sudah janji bakal nemanin kamu sampai ada yang datang," ucap Leo mengacak rambut Jesselyn. "Jangan bilang kalau kamu amnesia dadakan dan lupa omongan aku?" goda Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Jesselyn.
Jesselyn tersenyum dan dengan cepat mendorong Leo agar menjauh dari wajahnya.
"Tunggu-tunggu, itu pipi kamu kenapa tiba-tiba jadi merah?" ucap Leo semakin menggoda Jesselyn.
"Ihhh..., Leo apaan sih?" ucap Jesselyn melihat kesembarang arah. Menghindari tatapan lembut Leo yang akan semakin membuatnya tak karuan.
"Aku suka kamu!" spontan Leo mengungkapkan isi hatinya.
Suasana kamar tersebut seketika berubah menjadi begitu hening. Tatapan keduanya saling beradu dengan pikiran masing-masing.
"Maksud kamu apaan, Le?" tanya Jesselyn mengerutkan keningnya. Tidak mengerti arah ucapan Leo.
"Iya, aku suka kamu. Mak-maksudnya aku suka kamu yang seperti ini, kamu yang kembali sehat dengan senyum manis kamu itu. Maksudnya itu. Iya, itu dia maksud aku."
"Oh..., lain kali kalau ngomong jangan setengah-setengah," ucap Jesselyn memukul lengan Leo. "Omongan kamu tadi itu bisa buat orang salah paham," lanjut Jesselyn.
"Sorry?" kata Leo menggaruk tengkuknya. "Tapi aku memang beneran suka sama kamu, ngak percaya?"
"Iya, aku percaya. Aku juga suka sama kamu. Kalau aku ngak suka mana mungkin aku mau ditemani sama kamu, iyakan? Bukankah kita sebagai manusia harus saling menyayangi? Tidak baik untuk saling membenci," ujar Jesselyn seperti sedang membaca puisi.
"Hemm, iya deh!" kata Leo tidak ingin mendengar lanjut omongan Jesselyn.
Saat mereka saling bercanda, dua orang perawat masuk ka kamar Jesselyn. Salah satunya mengecek kondisi dan infus Jesselyn dan yang satunya lagi datang untuk mengantarkan makan malam.
"Halo, Jesselyn?" sapa perawat yang memeriksa keadaan Jesselyn.
"Halo, suster," balas Jesselyn tersenyum.
"Kondisinya sudah semakin baik, jadi tidak perlu tambah infus lagi. Tinggal menunggu yang ini habis dan nanti kita lepas."
"Iya, sus. Makasih"
__ADS_1
"Jangan lupa makan malamnya harus dihabisin. Oke?"
"Baik, sus. Aku boleh makan makanan dari luar ngak, sus?" tanya Jesselyn yang tidak menyukai makanan yang disediakan oleh rumah sakit.
"Untuk malam ini jangan dulu, tapi kalau besok sudah boleh. Paham anak manis?" ucap perawat itu memberi tahu.
Jesselyn mengganggukkan kepalanya walaupun sedikit kecewa karena harus makan makan rumah sakit.
"Demi kesehatan, oke?" kata Leo seakan mengerti yang dipikirkan Jesselyn.
"Nanti kalau sudah keluar dari rumah sakit, aku traktir kamu mau makan apa aja."
"Janji?" Jesselyn mengangkat tangannya dan mengacungkan jari kelingkingnya pada Leo.
"Janji!" jawab Leo menautkan kelingkingnya di kelingking Jesselyn.
Setelah kedua perawat keluar, Jesselyn yang dibantu Leo mulai memakan makan malamnya. Meskipun sangat tidak berselera ia tetap memaksa untuk makan.
"Aku bisa sendiri," ucap Jesselyn ketika Leo akan menyuapinya.
"Aku tahu, tapi sesama manusia kan harus tolong-menolong? Bukannya kamu sendiri yang bilang harus saling menyayangi?" kata Leo menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Jesselyn.
Jesselyn hanya dapat tersenyum geli mendengar Leo dan menerima suapan demi suapan yang diberikan padanya.
"Aku seperti anak kecil, ya?" tanya Jesselyn dengan mulut berisi makanan.
"Enggak!" jawab Jesselyn berusaha menelan makanan dimulutnya.
"Kenapa? Rasanya ngak enak ya?" melihat wajah masam Jesselyn.
Jesselyn mengganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Leo. "Kamu juga harus coba," kata Jesselyn mengambil alih sendok dari tangan Leo dan menyodorkan sesendok bubur miliknya.
"Yang sakit itu kamu, jadi yang makan ya kamu." Leo mencoba mengambil kembali sendok tersebut dari tangan Jesselyn.
"Ngak! Kamu rasain dulu baru aku lepasin sendoknya," tolak Jesselyn sekuat tenaga memegang sendok.
Jadilah mereka berdua tarik-menarik sendok berisi bubur yang begitu hambar rasanya. Tentu saja Leo lebih kuat dan berhasil meraih sendok tersebut dan langsung memasukkan isi sendok itu kedalam mulut Jesselyn.
"Cukup!" Jesselyn sudah tidak sanggup lagi melanjutkan makannya.
"Hahaha....ini, minum dulu. Jangan sampai dimuntahin makanannya," memberikan segelas air hangat pada Jesselyn.
Glek-glek
Jesselyn menghabiskan isi gelas tersebut.
"Hah..." Jesselyn lega akhirnya selesai makan walaupun hanya mampu menghabiskan lima suapan.
"Waktunya minum obat!" ucap Leo memberi semangat. "Aaa..." menuntun Jesselyn agar membuka mulutnya.
__ADS_1
Ceklek
Seseorang membuka pintu ruangan itu. Sebuah pemandangan yang menjengkelkan terpampang dihadapannya.
Setelah melihat siap yang datang Jesselyn merasa begitu canggung. Berbeda dengan Leo yang bersikap biasa-biasa saja, sama seperti saat orang tersebut tidak ada diruangan itu.
"Minum yang banyak," ucap Leo memberikan segelas air hangat lagi pada Jesselyn.
"Makasih, Le."
Leon masih berdiri di depan daun pintu setelah menutupnya. Ia menyandarkan punggungnya kedinding dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku jaketnya. Ia menendang-nendang kecil dinding dengan satu kaki.
Ekor matanya terus mengawasi keduanya.
"Kamu mau apa?" tanya Leo melihat Jesselyn bergerak akan turun dari tempat tidur.
"Aku cuman mau ke kamar mandi sebentar."
"Biar aku bantuin," Leo membantu Jesselyn turun dari tempat tidurnya, menuntun Jesselyn dengan pelan sampai kedalam kamar mandi karena harus membawa selang infus dan mununggunya diluar pintu kamar mandi.
Tak berapa lama Jesselyn keluar dan kembali ketempat tidurnya dengan dibantu Leo.
"Sudah malam sebaiknya kamu pulang, Le. Kamu juga pasti capek nungguin aku sejak siang," pinta Jesselyn hati-hati agar tidak membuat Leo tersinggung.
Leo mengerti maksud perkataan Jesselyn. Ia juga ingin agar gadis itu dapat beristirahat kembali.
"Kalau gitu kamu tidur lagi, aku akan pulang kalau kamu sudah tidur." Leo membantu Jesselyn kembali berbaring. Membenarkan posisi bantal yang sudah tidak pada tempatnya. "Jadi jangan cari aku saat kamu bangun nanti, oke?" goda Leo mengacak rambut Jesselyn.
Entah kenapa sejak adanya Leon diruang itu membuat Jesselyn takut menerima setiap perlakuan dan perhatian yang diberikan Leo padanya.
Jesselyn memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Ingin rasanya cepat-cepat masuk kedunia mimpinya.
Lima belas menit kemudian setelah yakin gadis dihadapannya itu tidur, Leo memutuskan untuk pulang.
"Titip dia kak, tolong jagain!" ucap Leo saat akan pergi.
Mendengar permintaan Leo membuat Leon semakin kesal. "Dia bukan milik lo yang harus lo titip ke gue," ucap Leon penuh penekanan.
Leo tersenyum kecut dan keluar dari ruangan tersebut.
Setelah memastikan Leo sudah pergi, Leon berjalan mendekati Jesselyn yang berbaring ditempat tidur.
Leon berdiri disamping kiri tempat tidur Jesselyn dan melihat wajah gadis itu.
"Bangun!" ucap Leon datar.
Leon tahu jika sebenarnya Jesselyn tidak sedang tidur. Bukan hanya sekali atau dua kali ia melihat wajah Jesselyn saat sedang tidur, jadi ia tahu saat gadis itu mencoba berbohong.
...Jangan lupa like dan komennya ya... Terimakasih masih mengikuti cerita ini....
__ADS_1