Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Pengakuan Leo


__ADS_3

Lena meraih sebelah tangan Jesselyn dan mengusapnya lembut sedangkan yang sebelah lagi masih setia memegang sendok es krim.


"Jesselyn sayang, tante bisa minta tolong sesuatu dari kamu?" tanya Lena begitu serius.


Deg


Jesselyn mengatupkan mulutnya dengan sendok berada ditengah-tengah bibirnya.


"To-tolong apa, tante?" tanya Jesselyn sambil menarik sendok dari bibirnya dan mencecap.


"Leon" ucap Lena begitu serius menyebut nama sang putra.


Deg


Kembang kempis dada Jesselyn mendengar nama yang disebutkan tantenya. Es krim yang baru saja ia masukkan lagi dalam mulutnya terasa begitu keras hingga sulit ia telan. Tidak biasanya wanita di depannya itu seserius ini padanya.


"Kamu tahukan kalau kakak kamu begitu sayang sama kamu?" selembut mungkin Lena berbicara pada gadis itu berharap dapat meluluhkan hatinya. "Maafkan tante kalau permintaan tante ini akan terdengar begitu egois buat kamu, sayang. Sebagai mamanya tante akan berusaha melakukan apapun yang akan menjadi kebahagiaan anak tante."


Jesselyn begitu sulit mencerna kalimat yang diucapkan tantenya. Ia mengambil gelas orange jus dihadapnnya meneguknya hingga tandas.


"Tante kasihan sama anak tante, tante ngak tega lihat dia sudah seperti orang stress setiap pulang kerumah," tutur Lena mendramatisir keadaan Leon.


"Mak-maksudnya apa tante?" tanya Jesselyn bingung berteman penasaran.


"Setiap pulang kerja kak Leon akan langsung masuk ke kamar kamu hingga ketiduran disana, belum lagi boneka beruang yang selalu dipeluknya saat ia tidur. Pulangnya pasti kemalaman dan paginya kalau diajakin sarapan pasti bilangnya ngak selera dan belum lapar. Kelakuannya sama persis saat dulu kamu kembali ke kampung dan ngak balik lagi."


"Tapi kak Leon baik-baik aja kelihatannya, tante."


"Itukan yang kamu lihat, sayang!" dengan cepat Lena mematahkan ucapan Jesselyn. "Makanya tante mau minta tolong sama kamu jangan buat dia semakin gila lagi dengan cara kamu menjauh dari dia, ya? Tante mohon sama kamu," pinta Lena menekan kalimat terakhirnya.


"Maaf tante tapi..."


"Memangnya kamu ngak sayang sama kak Leon, hem?" tanya Lena memastikan perasaan Jesselyn terhadap anaknya.


Jesselyn memundurkan tubuhnya bersandar pada kursinya, pertanyaan tantenya barusan begitu sulit untuk ia jawab. Tentu saja bukan karena ia tidak sayang. Ia sayang pada Leon dan itu sudah pernah ia katakan saat berada dipantai bersama Leon.


Hanya saja beberapa hari ini hati dan pikirannya seolah bertolak belakang. Jika hatinya berkata 'ya', sebaliknya pikirannya berkata 'tidak'.


Ia membutuhkan waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai Leon. Jesselyn butuh waktu meyakinkan perasaannya sendiri apalagi ia selalu merasa geli setiap kali Leon menempel padanya.


"Maaf tante tapi Jesselyn akan memikirkannya," ucap Jesselyn berusaha menyimpulkan senyum diwajah.


"Ya sudah, kamu habisin es krimnya sudah hampir meleleh soalnya," ucap Lena menunjuk mangkok es krim.


Sejujurnya Lena tidak puas dengan jawaban yang ia dengar namun lagi-lagi ia harus sabar dan tidak ingin memaksa gadis itu.


Setelah selesai dari restoran Lena dan Jesselyn berpisah untuk pulang. Sebelumnya Lena memaksa akan mengantarnya pulang namun Jesselyn menolaknya dengan berbohong mau ke toko buku dulu bersama Sinta.

__ADS_1


Jesselyn kembali pulang dengan menaiki angkutan umum setelah yakin mobil yang membawa Lena pergi.


Angkot yang ia tumpangi berhenti saat seorang penumpang diseberang jalan memberhentikannya.


Kedua netranya seolah tak percaya pada apa yang ia lihat. Ia mengerutkan keningnya melihat tiga orang sedang asik ngobrol disalah satu tempat makan yang tak jauh dari tempat angkot itu berhenti.


Tak sadar ia turun dan memberikan ongkos pada sang supir meski tujuannya belum sampai.


Jesselyn perlahan mendekati tempat ketiga orang itu yang kini seolah menertawakan sesuatu yang lucu. Gadis itu kemudian ngacir kelimpungan saat ketiganya keluar dari dalam.


Deg


Matanya melotot melihat gadis yang bersama Leon dan Adit menautkan tangannya pada lengan Leon sambil tertawa lepas.


Ketiganya akhirnya menghilang dari pandangan Jesselyn bersama dua sepeda motor. Adit mengendarai sepeda motornya sendirian sedangkan gadis itu ada diboncengan Leon.


"Kak Bela" ucap Jesselyn tak bersemangat.


****


"Makasih ya," ucap Bela saat menyerahkan helm yang ia pakai pada Leon. "Thanks udah mau jadi teman aku lagi, Yon."


Leon menganggukan kepalanya dan kembali menjalankan motornya kembali ketempat kerja karena waktu makan siang yang sudah hampir berakhir.


"Lama amat ngantar si Bela, ngapain lo berdua?" tanya Adit saat Leon mendaratkan bokongnya dikursi. "Awas aja lo buat teman pacar gue nangis!" lanjut Adit mengingatkan.


"Lo ngak bisa lihat ini?" ketus Leon memperlihatkan cincin dijarinya.


"Woi...berisik!" teriak salah seorang karyawan yang merasa begitu terganggu akan tawa Adit.


"Sorry, bro!" ucap Adit meminta maaf namun tawanya masih saja tak berhenti. Untung saja seisi ruangan itu karyawan baru kalau ada senior dapat dipastikan Adit sudah terkena teguran.


"Berisik! Pergi lo sana!" ucap Leon mendorong kursi adit dengan kakinya.


****


Sudah hampir pukul delapan malam namun Jesselyn belum kembali kerumahnya. Saat ini ia sedang berada di taman dengan sebuah es krim rasa kesukaannya.


"Mau nambah lagi?" tanya pemuda disampingnya mengulas senyuman.


"Hihihi... Cukup, Le. Yang ini aja belum aku buka," jawab Jesselyn mengangkat es krim yang masih utuh ditangan kirinya.


"Ya udah, aku antar kamu pulang sekarang ya, sudah malam dan ngak baik anak gadis keluyuran diluar," ajak Leo meski sejujurnya ia masih ingin bersama sang gadis. "Lain kali kalau ada apa-apa kamu hubungin aku, ya? Jangan seperti tadi jalan sendirian dipinggir jalan sambil nendang-nendang kaleng minuman. Kalau ada orang jahat dan ngapa-ngapain kamu gimana?"


"Kan sudah ada kamu sekarang! Hehehe..." kekeh Jesselyn melempar stick es krim yang sudah habis.


"Iya, sudah ada aku tapi kalau tadi aku ngak ada gimana? Aku yakin kamu bakalan jalan kaki terus tanpa ada ujungnya."

__ADS_1


Tadi dijalan saat Leo kembali dari tempat futsal dimana ia dan teman-temannya biasa bermain tanpa sengaja melihat Jesselyn sedang berjalan seorang diri sambil menendang-nendang kaleng bekas minuman padahal hari sudah mulai gelap.


Tanpa berpikir panjang Leo langsung menghentikan motornya di depan Jesselyn dan meminta teman yang tadinya ia bonceng untuk pulang dengan menggunakan taksi.


Leo tidak ingin bertanya banyak, ia hanya berpikir sepertinya hari gadis itu tidak berjalan dengan baik hingga ia berujung dijalanan.


"Jes?" panggil Leo meraih kedua tangan Jesselyn dan menatapnya lekat. "Aku suka kamu!" ucap Leon lembut.


"Ta..."


"Stttt..., kamu dengar aku sampai selesai dulu," Leo menempelkan telunjuknya agar gadis itu tidak menginterupsi ucapannya.


Jesselyn kaget dan mengkedip-kedipkan kedua matanya.


Cup


Refleks Leo mengecup kening Jesselyn. Leo rersenyum memandangi wajah tegang sang gadis.


"Kamu hanya perlu tahu kalau ada seseorang yang sangat suka dan sayang sama kamu selama ini," menyeka bibir Jesselyn yang belepotan dari sisa-sisa es krim. "Bodohnya dia tidak langsung mengatakannya dan lebih bodohnya lagi orang itu adalah aku."


Jesselyn tertegun mendengar pengakuan Leo. Sebenarnya dia nyaman saat bersama dengan Leo karena sejak pertama kali bertemu dulu pemuda itu selalu bersikap baik dan manis terhadapnya.


"Ayo pulang, jangan bengong terus," ajak Leo menyadarkan Jesselyn dengan mengacak-acak rambutnya.


Leo memasang helm di kepala Jesselyn dan memakaikan jaket kulitnya pada tubuh gadis itu agar tidak kedinginan saat diterpa angin malam.


"Apa pengakuanku membuatmu terganggu?" Leo menundukkan kepalanya melihat wajah sang gadis. "Sepertinya begitu!" ucap Leo menjawab pertanyaannya sendiri. "Ayo!" menggenggam tangan Jesselyn menuju motornya.


Angin malam begitu menusuk hingga ke tulang, tak ada percakapan diantara keduanya karena sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Brummm...


Motor Leo tiba di tempat tinggal baru Jesselyn.


"Kamu tahu aku tinggal disini sekarang?"


"Sinta yang kasih tahu," jawab Leo menganggukkan kepalanya. "Sudah, masuk sana."


"Makasih ya, Le."


"Sama-sama cantik!" puji Leo mengedipkan matanya membuat sigadis tersipu malu.


Seseorang yang sedari tadi menunggu kepulangan Jesselyn langsung menghampiri keduanya dengan tatapan tak suka.


"Jadi ini alasan kamu minta nge-kos?"


Terimakasih 🙏 sudah kembali membaca kelanjutan cerita ini☺️.

__ADS_1


Kasib supportnya ya teman-teman dengan ninggalin like dan komentarnya biar authornya semangat kembali untuk melanglang buana ke negri halu🤭


Love You All❤️❤️❤️


__ADS_2