Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Sebatas Teman


__ADS_3

Tidak terasa ujian kenaikan kelas pun tiba, salama ujian ia tidak diijinkan Lena untuk membantu di dapur. Pagi-pagi sekali ia sudah bersiap untuk diantar Bagas ke sekolah. Ia tidak ingin terlambat karena alasan apa pun.


Seperti hari ini, ia sudah bersiap-siap dan menunggu Bagas ketika Bagas baru saja akan mandi. Alhasil Lena memaksa suaminya untuk mengantar Jesselyn dahulu baru kemudian mandi dan berangkat ke kantor. Bagas yang tidak bisa menolak keinginan sang nyonya rumah hanya bisa pasrah.


"Hari ini ujian terakhir kan sayang?" tanya Lena saat Jesselyn mincium tangannya untuk pamit.


"Iya tante, doain Jesselyn ya, biar ngak ada yang remedial," tersenyum dan masuk ke dalam mobil Bagas. "Soalnya pembelajaran di sekolah yang sekarang jauh beda dari sekolah sebelumnya, Jesselyn sedikit khawatir."


"Kamu pasti bisa dan naik kelas kok sayang, percaya sama tante, oke?"


"Amin"


"Ma, pergi dulu ya jangan lupa air panasnya disiapin," pesan Bagas pada istrinya


"Iya, pasti pa. Hati-hati nyetirnya"


Bagas membunyikan klakson mobilnya dan meluncur ke sekolahan Jesselyn. Berhubung masih terlalu pagi, jalanan yang biasanya ramai dan sering ada macet kali ini bisa dilewati tanpa hambatan.


Bagas memberikan selembar uang lima puluh ribu sebagai ongkos pulang jika tidak diantar Leo dan sisanya menjadi uang sakunya. Jesselyn jarang sekali menghabiskan uang pemberian Bagas dan Lena, jika masih ada sisa ia lebih memilih menabungnya.


"Makasih om, hati-hati dijalan,"


Bagas tersenyum dan memutar kembali mobilnya menuju rumah.


Pukul delapan pagi suasana sekolah hening seperti biasanya karena sedang mengadakan ujian.

__ADS_1


***


Di lain tempat Leon sedang beradu argumen dengan seorang gadis bertubuh tinggi, langsing dan berparas cantik. Mereka berdua terlihat begitu emosi hingga sang gadis mendaratkan sebuah tamparan di pipi kanan Leon.


"Gue kan da bilang beberapa kali kalau rasa suka gue cuman sebatas teman dan ngak lebih. Kita memang pacaran tapi itu atas paksaan lo sendiri karena pengen yakinin gue suka atau tidak sama lo. Satu lagi, gue terima buat pacaran karena ngak pengen buat lo malu di depan anak-anak kampus."


"Tapi gue sayang sama Yon, gue yakin lo juga punya rasa yang sama?"


"Sorry Bel, sukanya gue hanya sebatas teman. Apa pernah kita jalan berdua? Apa pernah aku panggil kamu sayang? Ngak pernah Bella, gue udah beberapa kali mutusin lo sejak kejadian waktu nembak gue tapi lo sendiri yang tetap anggap kita pacaran?"


Plak...


"Jahat banget si Yon, gue sayang sama lo. Tega banget sama gue," Bella berlari setelah menampar Leon.


Leon mengelus pipinya yang terkena tamparan. Untung saja Bella mengajaknya berbicara di belakang lab bahasa yang sepi, coba kalau di parkiran atau di kantin, bisa dipastikan mereka bakal jadi trending topic kampus saat itu juga.


***


Pukul dua belas siang ia sudah tiba di rumah. Ia tidak diantar Leo karena akan ada acara keluarga yang mengharuskan Leo cepat pulang.


Beberapa hari sebelum pembagian rapor Jesselyn meminta ijin kepada Lena dan Bagas agar libur sekolah nanti ia bisa pulang ke kampung. Ia sangat merindukan ibunya yang hampir setahun ini hanya bisa mendengar suaranya lewat telepon.


"Tapi nanti kamu balik lagi kan nak?" Lena menggenggam tangan Jesselyn dan mengusap kepalanya lembut.


"Tante tenang aja, aku pasti balik kok."

__ADS_1


Bagas dapat mengerti dan merasakan perasan Jesselyn yang jauh dari ibunya sehingga mengijinkannya pulang ke kampung setelah pembagian rapor nanti.


"Tapi kamu harus janji bakalan angkat telpon dari om-tante kapan pun itu dan langsung telpon kalau kamu butuh sesuatu, oke?"


"Siap om-tante" membuat posisi bagaikan menghormat bendera.


"Jesselyn pastiin bakal ingat pesan om-tante," menghambur ke pelukan Lena.


"Kalau begitu besok tante kabarin ibu kamu di kampung kalau sekarang pasti sudah tidur."


"Iya tante, makasih ya karena da baik banget sama Jesselyn dan nganggap aku seperti anak sendiri," mengeratkan pelukannya pada Lena. "Makasih juga ya om, Jesselyn jadi ngerasain punya papa selama tinggal di sini."


"Kalau kamu senang, om dan tante malah lebih senang lagi."


Mereka bertiga menghabiskan separuh malam untuk mengobrol. Jesselyn yang sudah mengantuk pamit ke kamarnya dan meninggalkan kamar Bagas dan Lena.


Ia begitu bahagia karena apa yang ia inginkan disetujui walaupun sebenarnya Lena pada awalnya kurang setuju dan meminta pada Bagas suaminya agar ibu Jesselyn saja yang datang ke Jakarta dengan alasan untuk sekalian berlibur.


Namun setelah Bagas meyakinkan dan memberi pengertian pada istrinya, maka ia pun menyetujui keinginan Jesselyn.


"Selamat malam Ibu" Jesselyn menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Dela - Neta tungguin aku, kita bakalan segera ketemu," menutup matanya untuk tidur.


...Terimakasih sudah mampir......

__ADS_1


...Like dan komennya dipersilahkan.....


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2