
H - 5
Siang ini Jesselyn dan Leon mengunjungi salah satu toko perhiasan langganan mamanya. Seperti pasangan pengantin pada umumnya, merekaka pun akan memilih sepasang cincin yang akan menjadi bukti dari ikatan suci mereka.
Mereka disambut hangat oleh pelayan toko karena Lena sudah terlebih dahulu menghubungi pemilik toko yang memiliki hubungan dekat dengannya.
Beberapa pelayang pun sudah mengenal Leon karena sering menemani mamanya kesana berbelanja perhiasan.
Pelayan yang bertugas langsung memperlihatkan deretan cincin pernikahan dihadapan keduanya.
Tampak Leon begitu serius memperhatikan benda dihadapannya itu sedangkan Jesselyn terlihat sedikit kikuk untuk memilih cincin pernikahan mereka.
"Kuning atau putih?"
"Aku lebih suka putih kak," jawab Jesselyn.
"Yang ini gimana?" tunjuk Leon pada cincin berwarna putih yang sedari tadi mencuri perhatiannya.
Jesselyn sedikit berpikir saat melihat apa yang ditunjuk Leon.
"Dicoba dulu aja mas," ucap pelayan toko pada Leon.
Segera pelayan itu mengambil cincin yang dimaksud dan memberikannya pada Leon untuk dipakaikan pada jari Jesselyn.
"Sini tangan kamu," pinta Leon.
Jesselyn megulurkan tangan kanannya.
"Sebelah kiri," pinta Leon karena melihat ada cincin pertunangan mereka dijari manis sebelah kanan.
"Ini"
Di jari manis sebelah kiri pun ada cincin yang diberikan Lena.
"Dua-duanya," pinta Leon lagi.
Leon melepas cincin yang diberikan mamanya dan menyematkan cincin pertunangan mereka dijari manis kiri dan menyematkan cincin yang ia pilih untuk pernikahan nanti.
Kedua manik gadis itu berbinar melihat cincin yang disematkan Leon di jari manisnya.
"Cantik dan cocok dijarinya," celetuk sipelayan toko.
"Suka ngak?" tanya Leon selalu memastikan jika apa yang dipilih juga disukai Jesselyn.
"Suka kak tapi sepertinya mahal," bisik Jesselyn agar tidak didengar pelayan dihadapan mereka.
"Aku tahu tapi masih lebih jauh mahalan kamu," balas Leon berbisik di telinga Jesselyn.
Jesselyn menepuk pundak Leon dan keduanya tersenyum bersamaan membuat sipelayan ikut tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Gimana mas, mau yang ini atau mau coba yang lain?" tanya pelayan ramah.
Leon mengambil pasangan cincin yang dipakai Jesselyn dan mencobanya juga. Leon pun merasa cocok dan suka.
"Bagus kak," jawab Jesselyn memperhatikan cincin dijari Leon. "Tapi pasti mahal kak," bisik Jesselyn lagi.
Leon melepas cincin dijarinya dan dijari Jesselyn, mengembalikannya pada tempatnya.
"Kami mau yang ini aja, mba."
Tanpa menghiraukan bisikan Jesselyn, Leon memilih cincin tersebut dan meminta pelayan untuk mengemasnya.
"Yang ini disimpan aja, oke?" ucap Leon menyematkan cincin pemberian mamanya yang ternyata muat dijari tengah Jesselyn.
__ADS_1
Jesselyn mengangguk, menurut apa yang dikatakan Leon.
Saat mereka menunggu sipelayan mengemas cincin dan membuatkan nota, seorang pelanggan pria yang terlihat berusia dua puluh tahunan terlihat bingung memegang cincin ditangannya.
Rencananya ia ingin membeli cincin sebagai hadiah ulang tahun kekasihnya namun sayangnya ia tidak tahu pasti ukuran jari pasangannya.
Sejak tadi ia memperhatikan jika jari Jesselyn hampir sama seperti ukuran jari kekasihnya.
Perlahan ia mendekati Jesselyn sambil tersenyum ia menepuk pundaknya pelan.
"Permisi, maaf, saya mau coba pakaikan cincin ini ke jari kamu boleh, saya perhatikan ukuran jari kamu dan pasangan saya hampir sama," ucap sipria langsung memberitahu keinginannya.
"Maaf, ngak bisa," tolak Leon mentah-mentah.
Tak berapa lama pelayan selesai dengan pesanan Leon dan pembayaran pun dilakukan. Setelah semuanya selesai Leon menarik tangan Jesselyn dan membawanya keluar dari toko.
"Lain kali pastiin dulu ukuran pasangannya sebelum beli," ucap Leon pada sipria dan menepuk-nepuk pundaknya.
****
"Cuman nyobain aja ngak kenapa-napa loh kak, lain kali jangan gitu."
Keduanya kini berada dalam mobil menuju rumah. Ada perasaan tidak enak pada Jesselyn saat Leon menolak mentah-mentah permintaan sipria yang mereka jumpai di toko perhiasan tadi.
"Oh... Maksudnya kamu mau biarin pria tadi pegang-pegang tangan kamu dan masukin cincin ke jari kamu sambil liatin kamu pakai cincin itu? Jadi kamu ngak ada masalah sama sekali gitu?" protes Leon meremass kuat setir ditangannya.
"Ck, ya ngak gitu juga kak, aku kan bisa minta cincinnya dari dia dan memakainya sendiri."
"Ya-ya, tetap aja aku ngak suka. Kalau memang sayang harusnya dia ajak pasangannya kalau ngak tahu ukuran jarinya. Salah dia sendiri dan bukan urusan aku juga."
Jesselyn memandang jengah pada Leon, tidak habis pikir dengan cara berpikir pria disampingnya itu. Meski bukan untuk pertama kalinya Leon memperlihatkan kecemburuan dan sifat posesifnya namun Jesselyn tetap merasa risih.
Sungguh Jesselyn berharap Leon akan merubah sifatnya itu meski hanya sedikit.
Leon terdiam, dia memikirkan alasan apa yang ia akan katakan.
"Kenapa?" cecar Jesselyn sedikit mengangkat suaranya.
"A-aku takut kamu nolak kalau dikasih tahu sebelumnya. Ukuran jari kamu juga aku tahu, jadi buat apa ngajak kamu?"
"Tahu darimana?"
"Ada deh, pokoknya aku tahu ukuran jari kamu. Lagian aku kan punya cincin yang mama beliin buat kamu," jawab Leon ingin menyudahi pembicaraan mereka.
Mana mungkin Leon mengatakan jika dulu beberapa kali Leon mengendap-endap ke kamar Jesselyn hanya untuk memandangi wajah gadis itu dari jarak dekat saat ia tengah tertidur pulas.
Di saat itulah Leon mengambil benang dan mengukur jari manis Jesselyn.
"Pasti nebak-nebak. Hemm...katanya kalau sayang pasti ngajak pasangannya, dia aja beli sendiri kemarin," gumam Jesselyn namun masih dapat di dengar oleh Leon.
"Kalau aku ngak sayang ngak mungkin aku minta keluarga atur pertunangan kita di Bogor dulu."
"Jadi kak Leon tahu kalau kita bakalan tungangan waktu itu?"
"Em"
"Kak Leon sendiri yang minta?"
"Em"
"Dan kak..."
Cup
__ADS_1
Sebelum Jesselyn mengajukan pertanyaan lain, Leon sudah terlebih dahulu membungkam mulut gadis itu dengan kecupan singkat.
"Memangnya sejak kapan kakak suka sama aku?" tanya Jesselyn masih tak berhenti.
"Masih nanya lagi? Kamu mau aku nerusin yang semalam lagi, ha?"
"Jangan gitu kak, nyetir yang bagus."
"Tapi aku suka," ucap Leon menakut-nakuti Jesselyn dengan mata yang begitu menggoda.
Tidak mau Leon menggila, Jesselyn berhenti berbicara. Ia yakin jika Leon bisa menjelma seperti drakula kapan saja, menggigitnya dan menghisapnya.
Belakangan ini selain menjadi orang yang begitu cemburuan dan posesif, Leon pun berubah menjadi lebih agresif saat berdua dengan gadisnya.
****
H - 4
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa hari pernikahan semakin di depan mata. Di dua tempat yang berbeda namun melakukan hal yang sama, Jesselyn dan Leon sama-sama mengajukan surat permohonan izin mereka ke tempat kerja dan kampus.
Keduanya sudah diminta Bagas untuk tidak lagi melakukan aktivitas diluar rumah, mengingat beberapa hari lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.
Setelah urusan mereka selesai keduanya kembali kerumah. Leon terlebih dahulu tiba dirumah karena Jesselyn masih ingin mengobrol dengan Sinta di kantin kampus. Tak bermaksud membebani pikiran Jesselyn, Sinta memberitahu jika sejak pertemuan Jesselyn dan Leo beberapa hari lalu, Leo terlihat begitu berbeda.
Saat berpapasan dengan Leo, Sinta merasa jika teman SMAnya itu berubah karena mengabaikan sapaannya. Penampilannya pun begitu acak-acakan, tidak ada lagi keramahan dan kehangatan dari cara pandang Leo.
Terakhir kabar yang ia dengar, Leo sedang mengajukan surat pindah dirinya dari kampus. Entah karena alasan apa, Sinta yakin pasti sedikit banyaknya Jesselyn ikut menjadi alasan kepindahannya.
Keduanya berpisah menjelang makan siang, Jesselyn tidak mau membuat keluarga apalagi Leon khawatir karena terlambat pulang. Apalagi ia tidak mau mendapat banyak pertanyaan dari Leon mengenai apa saja yang ia lakukan saat diluar setibanya ia nanti di rumah.
****
"Izin ke kampus itu ngak butuh waktu lama, kamu kemana aja baru pulang sekarang? Kamu ngapain dan sama siapa tadi? Jangankan balas, baca pesan aku aja kamu enggak. Aku kan udah bilang, sebisa mungkin langsung balas pesan aku dan angkat telpon aku juga secepat mungkin. Jangan buat aku khawatir dan nunggu lama."
Seperti yang sudah dibayangkan Jesselyn sebelumnya, setibanya ia dirumah Leon langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang membuat telinganya panas.
"Kamu ngak ketemu dengan dia lagi kan?" tanya Leon masih tak berhenti bertanya. Ia begitu wanti-wanti jika seandainya Jesselyn masih bertemu berdua dengan Leo.
Ia mengekori kemana Jesselyn bergerak, ia tak ingin perhatian Jesselyn teralihkan meski sedikitpun dari rencana pernikahan mereka.
Sebisa mungkin Jesselyn bersikap tenang meski sebenarnya ia begitu kesal dan jengah.
Ditariknya Leon ke dapur, celingak-celinguk, setelah yakin hanya ada mereka berdua Jesselyn mengecup bibir Leon singkat.
Cup
"Udah ya kak, aku capek ditanyain terus, aku mau istirahat ke kamar."
"Lagi"
"Kak?"
"Lagi, yang tadi belum terasa," ucap Leon memohon.
"Kak Leon masih mau nikah sama aku kan?"
"Pastinya. Memangnya kenapa?"
"Jangan buat aku berubah pikiran kak," ucap Jesselyn meninggalkan Leon mematung di dapur.
Leon terdiam mendengar apa yang diucapkan Jesselyn, ia melepas tangan gadis itu dan melihatnya meninggalkan dirinya tanpa menoleh sedikitpun lagi.
Sungguh Leon takut dengan apa yang baru saja dikatakan gadisnya itu.
__ADS_1