Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Drama Pagi


__ADS_3

5 tahun kemudian...


Terdengar suara sendok goreng tengah menyeok-nyeok dari arah dapur diiringi suara gaduh suami-istri dan kedua anaknya.


Sang istri sedang berjibaku dengan wajan dan bahan-bahan masakan di depannya. Sesekali tangan kirinya menyeka keringat di dahi dan kembali meletakkannya di pinggang. Sibuk dengan wajan, matanya ikut mengawasi sang suami yang terlihat berantakan.


"Hello....! Kenapa ngak ada yang dengar dan nurut sama papa?"


Suaminya berkata dengan sedikit mengangkat suaranya kepada kedua anaknya yang berusia lima dan tiga tahun.


"Hufff... Drama pagi dimulai lagi."


Jesselyn membuang nafasnya menyaksikan pemandangan yang tak akan berakhir sampai ia ikut turun tangan.


Pria dua anak itu berkacak pinggang, ia menengadah keatas lalu memijit keningnya. Ia sudah selesai mandi dan berpakaian kantor dengan rapi dua puluh menit yang lalu namun kini dua kancing kemeja atas sudah ia buka, dan dasi dileher sudah seperti anak sekolah saat jam pelajaran berakhir. Dasinya sudah ia longgarkan dan tidak pada posisinya lagi. Kemeja yang tadinya ia masukkan dalam celana sudah berada diluar sebahagian dan lengan kemejanya sudah ia gulung hingga mencapai siku.


"Hei... Ayolah, papa sudah ngak sanggup kejar-kejaran dengan kalian."


Meski sudah kelelahan Leon kembali berjalan pelan dan mulai mengejar kedua anaknya yang berlarian bagai anak-anak kancil.


"Adnan... Ayo dong, nak. Ini sudah hampir jam tujuh dan papa masih harus ke kantor ketemu klien setelah ngantar kamu ke sekolah. Ayo pakai baju dan sarapan."


Adnan yang hanya memakai celana pendek dan kaos singlet tertawa sambil terus berlari berkeliling diruang tengah yang menyatu ke dapur bersih.


"Sekarang pakai seragam sekolah dulu ya, nanti papa beliin mainan baru lagi..."


"No! Ngak ada mainan baru lagi. Cukup! Aku pastikan kak Leon tidur dikamar lain kalau masih beliin mainan baru."


Jesselyn tak suka dengan cara Leon membujuk anak menggunakan mainan. Sudah ada banyak mainan yang kalau dirupiahkan dapat membeli satu unit mobil. Bahkan satu kamar di design sebagai tempat bermain anak-anak mereka dimana terdapat beragam koleksi mainan belum lagi alat-alat musik mini di dalamnya.


"Kalau masih beli mainan baru aku pastikan kak Leon tidur diluar seminggu dan Adnan kamu ngak boleh jajan selama seminggu juga."


Leon dan Adnan terdiam mendengar suara Jesselyn dari arah dapur.


"Kamu dengarkan mama bilang apa barusan, makanya kamu nurut sama papa. Ayo cepat sini," bujuk Leon.


"Tapi papa janji beliin mainan barukan?" tanya Adnan mendekat.


"Shttt... Jangan keras-keras, nanti mama bisa dengar." Leon mengedipkan matanya sembari membentuk tanda OKE menggunakan jarinya.


"Esklim. Celine mau esklim."


Celine yang merupakan anak kedua mereka berlari pada Leon ingin menyebutkan permintaannya. Dengan bahasa yang masih kurang jelas ia meminta eskrim pada papanya. Gadis kecil itu bagaikan Jesselyn kedua dirumah mereka karena sifatnya persis seperti mamanya.


"Papa... Celine mau esklim vanila ya," memperjelas rasa eskrim keinginannya.


"Oke. Tapi Celine duduk yang manis dan tunggu sampai mama selesai di dapur dan nyuapin Celine, oke?"


"Hole...hole.... Papa beliin Celine esklim..." Celine berlarian, bersorak kegirangan karena akan mendapatkan eskrim kesukaaannya. Leon mendengus dan lesu karena bukannya menuruti perkataannya untuk duduk manis, gadis kecil itu malah kembali berlarian dan melompat-lompat diatas sofa.


"Papa janji ya beliin aku mainan," Adnan bertanya memperjelas apa yang dijanjikan papanya tadi karena mendengar Celine yang kegirangan.


Dengan cepat Leon menangkap Adnan karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh. Takut Jesselyn mendengar apa yang ia janjikan pada Adnan segera ia menutup mulut Adnan dengan tangannya.


"Shttt... jangan keras-keras."

__ADS_1


Detik berikutnya Leon mengarahkan pandangannya pada Jesselyn yang ternyata sudah berdiri di dekat meja makan dengan meremas sendok goreng ditangannya.


"Cepat sana. Ayo cepat sebelum mama marah dengan papa dan kamu ngak dapat mainan baru," bisik Leon membuang pandangannya dari Jesselyn.


Seperti biasa, Adnan adalah cara jitu menenangkan Jesselyn saat marah. Bisa dikatakan Adnan merupakan salah satu kelemahan Jesselyn.


Adnan berlari mendekati mamanya dan memeluknya erat. Ia tersenyum dan menggoyang-goyangkan kedua tangan mamanya.


"Adnan mau bantu mama. Mama capek jadi Adnan harus bantu. Kata papa Adnan itu anak laki-laki jadi harus bantu mama."


Wajah Jesselyn seketika berubah, ia yang tadinya mulai kesal berubah menjadi tenang mendengar perkataan putranya. Setiap kata yang keluar dari mulut Adnan begitu ampuh meluluhkan hatinya.


Sambil mengelus kepala Adnan Jesselyn menunduk dan membalas senyuman anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu.


"Beneran mau bantu mama?"


"Iya." Adnan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kalau gitu dengerin mama. Kamukan anak laki-laki jadi harus bantu mama, iyakan? Sekarang Adnan pergi sama papa dan pakai seragam sekolah setelah itu kita sarapan, oke?"


"Oke, mama cantik!"


Adnan kembali berlari pada papanya dan tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Hmmm... Kalau mama yang ngomong pasti kamu langsung nurut," Leon mencubit pelan hidung Adnan merasa gemas.


Drama pagi ini berakhir setelah Leon selesai membantu Jesselyn mempersiapkan Adnan ke sekolah dan mengganti pakaian tidur Celine yang bau ompol karena posisi Pampers yang tidak tepat. Karena tidak sempat lagi sarapan dirumah akhirnya Jesselyn membuat bekal sarapan untuk dibawa Leon ke kantor.


Leon mencium kening Jesselyn dan kedua pipi Celine sebelum ia berangkat mengantar Adnan ke sekolah TKnya dan berlanjut menuju kantor. Urusan menjemput Adnan dari sekolah mereka serahkan pada pak Asep yang juga sebagai penanggung jawab kontrakan tempat yang dulu Jesselyn pernah tinggal disana.


****


Pemandangan yang berbeda terlihat dari keluarga kecil yang juga sudah memiliki seorang putri berusia empat tahun. Naura Abimanyu, nama gadis kecil itu. Ia begitu tenang duduk disuapin bundanya sambil memainkan alat-alat yang mirip dengan yang digunakan papanya saat bekerja.


"Apa Naura mau jadi seperti papa?"


Nadya tersenyum mengamati putrinya saat dengan cekatan memasang stetoskop mainan pada telinganya dan meletakkan ujungnya pada dada sebuah boneka beruang besar. Gerakannya menyerupai seorang dokter sedang memeriksa kondisi kesehatan seorang pasien.


"Iya, seperti papa."


"Kalau gitu harus rajin sekolah, belajar yang pintar, jadi dokter hebat dan ketemu laki-laki yang baik dimasa depan, oke?"


"Hei... Dia masih empat tahun, jangan membahas sesuatu yang terlalu jauh."


Ilham yang mendengar perkataan Nadya ikut bergabung dengan keduanya.


"Meskipun masih jauh tapi tidak salahkan sayang kalau kita berharap seperti itu," ucap Nadya.


"Tidak salah sih, tapi tetap aja masih terlalu jauh untuk kearah sana pembahasannya. Dan kalaupun sudah tiba saatnya aku adalah orang yang akan menyeleksi dengan benar para pria itu. Untuk putriku haruslah yang terbaik, seperti kamu untukku adalah yang terbaik."


"Ihh... Kamu kenapa, pagi-pagi sudah ngegombal."


"Tapi itulah kenyataannya."


"Dulu aja kamu tolak aku mentah-mentah, dihadapan keluarga aku lagi," sungut Nadya sambil terus menyuapi Naura.

__ADS_1


"Bukan yang lalu tapi yang sekarang adalah yang terpenting. Benarkan sayang?" Ilham berkata pada Naura dan mendapat anggukan seakan menyetujui ucapan papanya.


"Baiklah pak dokter sayang sudah waktunya untuk berangkat kerja."


Nadya mengambil tas kerja suaminya dan menyerahkannya.


"Kalau waktunya memungkinkan pulanglah untuk makan siang dirumah seperti biasanya."


"Aku pasti akan pulang dan menghabiskan semua yang kamu masak untukku."


Ilham mencium kening Nadya dan menoel hidung Naura sebelum pergi.


"Oh iya, kamu ngak lupa kan kalau besok kita ngumpul dengan kakak ipar dan istrinya?"


"Astaga! Hampir aja lupa."


"Besok kita berangkat ke Jakarta setelah sarapan."


"Baik pak dokter sayang!"


Nadya hampir saja melupakan janji mereka. Teringat akan sesuatu ia meraih gawainya dari saku dan mengirimkan sebuah pesan pada seseorang. Ia tersenyum membayangkan pertemuan mereka besok.


****


Mira, ibu Jesselyn masih dengan kegiatan sehari-harinya di kampung, yaitu menjahit. Semakin hari semakin banyak yang memakai jasanya sampai-sampai ia kewalahan untuk menerima jahitan.


Oleh karena itu ia mempekerjakan dua orang karyawan untuk membantunya. Mengetahui hal itu Leon memaksa ibu mertuanya untuk menerima bantuan darinya berupa mesin-mesin jahit dan beberapa keperluan lainnya tanpa sepengetahuan Jesselyn karena menolak menerima uang yang diberikan leon. Tempat jahitannya semakin besar dan banyak yang meminta ibu Mira untuk membuka kursus menjahit namun karena keterbatasan waktu dan tenaga ia menolak.


Bagas dan Lena pun masih sama, mereka tinggal di Bogor bersama opa dan oma namun saat merasa kangen dengan Adnan dan Celine mereka akan ke Jakarta atau sebaliknya Leon dan Jesselyn akan membawa anak mereka untuk mengunjungi opa-omanya dan juga kedua buyut mereka. Sedangkan Naura, mereka bebas kapan pun untuk menemuinya karena jarak rumah yang mereka tinggali tidak jauh. Bahkan Naura hampir setiap hari bermain bersama opa-omanya dan juga kedua buyutnya.


****


Suara riuh memenuhi seisi rumah. Tadinya hanya Nadya dan ilham yang akan ke Jakarta dan menitipkan Naura pada omanya. Akan tetapi Bagas dan Lena serta opa dan oma ternyata sehati ingin ikut mereka. Alhasil semua keluarga dari Bogor menuju Jakarta kerumah yang kini di tempati Leon dan Jesselyn beserta kedua anaknya.


Tawa, canda dan sorak mengisi setiap sudut ruangan. Belum lagi dengan celotehan dan tangis dari anak-anak. Mereka berlarian kesana kemari saat orang-orang dewasa asik berbincang.


Nadya melirik Jesselyn dan mengangkat alisnya memberikan kode.


"Ma, kami boleh titip anak-anak sebentar ya," pinta Nadya pada mamanya.


"Kalian mau keluar?"


"Iya, ma. Boleh ya?"


"Ya sudah. Kamu dan Ilham hati-hati."


"Berempat, ma. Jesselyn dan kak Leon jug ikut soalnya. Hihihi..."


"Double date nih ceritanya? Ya sudah. Lagian Celine juga sudah hampir tidur digendongan mama. Kalian semua hati-hati dan ingat ada keluarga yang menanti dirumah."


"Makasih ya, ma. Mama baik deh, apalagi oma."


"Sudah-sudah. Kalau ada maunya saja kamu baru bilang oma baik. Biasanya hanya opa yang kamu bilang baik," sinis oma menyunggingkan senyum.


Semua tertawa mendengar oma seolah merajuk seperti seorang anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2