
Jalanan macet karena banyak para pengendara menuju Bogor untuk berlibur menghabiskan akhir pekan mereka bersama keluarga disana. Pun Leon membawa mobil dengan kecepatan sedang sesuai perintah mamanya. Mereka akhirnya tiba saat waktunya untuk makan siang.
Tiga orang berdiri di depan pintu menyambut kedatangan mereka dengan senyum diwajah masing-masing.
Nadya langsung menghambur pada mamanya karena sudah dua minggu ini mereka tidak bertemu. Bagas langsung memeluk kedua orang tuanya, diikuti istrinya setelah Nadya melepas pelukannya.
Suami istri yang sudah lanjut usia itu begitu bahagia karena akhirnya bisa berkumpul dengan anggota keluarganya lagi. Sama seperti orang tua lainnya saat diusia yang sudah lanjut, bertemu dengan anggota keluarga adalah hal yang selalu dinantikan mereka.
Usia yang sudah lanjut, fisik yang sudah lemah dan tak tahu kapan waktunya mereka menghadap sang pencipta membuat mereka selalu ingin menghabiskan waktu dan membuat banyak kenangan agar kelak menjadi cerita bagi orang-orang yang ditinggalkan.
"Opa dan oma sehat?"
Leon bergantian mencium tangan dan memeluk keduanya, sama seperti Jesselyn dibelakangnya.
"Opa masih sangat sehat bahkan opa baru selesai menemani para pemetik teh dikebun."
Opa mengelus kepala cucu laki-lakinya itu sambil membusungkan dadanya seolah ingin membuktikan ia masih sama gagahnya saat menjadi tentara dulu.
Semua yang melihatnya tak dapat menahan tawa tak terkecuali dengan oma yang sudah membawa Leon kedalam pelukannya. Ia mengusap wajah dan mencium kedua pipi Leon. Seperti biasanya oma akan melakukan kebiasaannya saat bertemu Leon.
Puk...
"Oma?" protes Leon saat bokongnya ditepuk oma.
Hal itu tidak lepas dari pandangan Jesselyn yang berada dibelakang Leon.
"Kenapa? Apa kau keberatan oma melakukannya lagi?"
"Bukan seperti itu oma, tapi Leon kan sudah besar dan dewasa bukan anak kecil lagi atau pun bayi yang bokongnya selalu oma tepuk karena merasa gemas."
"Ternyata cucu oma sudah besar sekarang rupanya."
Oma melepas dan menarik tubuhnya dari Leon, berkacak pinggang tepat dihadapan Leon.
"Baiklah-baik. Kalau begitu karna kamu sudah besar dan dewasa berarti kamu sudah bisa dan sudah waktunya memberikan oma penggantimu."
Semuanya tercengang mendengar perkataan oma. Tak mengerti arah pembicaraan oma kemana.
"Maksud oma?" tanya Leon mengernyitkan dahinya.
"Buat dan kasih oma bayi secepatnya!"
Semuanya kembali tercengang dibuat oma, semua mata membulat sempurna mengarah pada Leon sedangkan orang yang ditodong beradu tatap dengan oma.
"Iya dan tentunya bayimu sendiri," lanjut oma melirik pada seseorang dibelakang Leon.
Glek
Tenggorokan Jesselyn seakan kering saat menelan salivanya padahal baru saja ia sebelum turun dari mobil menendaskan isi botol air mineralya.
"Sudah-sudah. Kalian pasti lelah, sekarang lebih baik kita masuk dan makan siang, setelahnya kalian bisa beristirahat," ucap opa memecahkan suasana.
__ADS_1
"I-iya, a-ayo masuk," lanjut Bagas menyetujui perkataan opa dan entah mengapa ia tiba-tiba berbicara dengan terbata-bata.
Semuanya masuk kedalam rumah namun sebelum tiba di meja makan oma menahan tangan Jesselyn dan menariknya kembali keluar.
Jesselyn sedikit menjauhkan tubuhnya saat oma menelitinya dari atas hingga kebawah, membuat siempunya tubuh merasa aneh dan risih.
"Empat!"
Oma berkata dengan penuh penekanan dengan mengangkat empat jarinya dekat kewajah Jesselyn.
"Empat? Maksudnya apa oma?"
"Oma mau empat bayi!"
"Tapi oma, aku..."
Jesselyn tidak menyelesaikan perkataannya karena oma sudah kembali berbicara.
"Kalau laki-laki mirip Leon dan yang perempuan mirip....."
Oma sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat bagaimana reaksi rubah didepannya.
"Mirip siapa, oma?" tanya Jesselyn yang ternyata penasaran karena oma menjeda kalimatnya.
Dengan wajah serius oma menatap Jesselyn selama beberapa saat.
"Mirip....mirip rubah sepertimu pastinya."
Oma terlihat begitu bahagia mengatakannya sedangkan Jesselyn hanya menyeringai mengingat semua perkataan oma padanya.
Tanpa mereka sadari seseorang tengah menguping pembicaraan mereka sejak tadi. Ia senyum-senyum, menggaruk kepalanya yang tak gatal dan mengusap-usap lehernya.
Tidak ingin ketahuan ia pergi sebelum keduanya menyadari keberadaannya.
"Dua sudah cukup, oma. Kalau empat kebanyakan, nanti waktunya buat Leon jadi sedikit," batinnya.
Leon melangkah menuju meja makan, bergabung dengan yang lainnya.
Usai menyantap makan siang, karena lelah dan udara yang begitu sejuk ditambah lagi similir angin yang masuk melalui jendela membuat beberapa dari mereka merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
"Ck, apa kau hanya akan tidur disini, ha?"
Oma berdecak kesal mendapati Leon tengah tertidur pulas di ruang tengah diatas sofa, padahal oma berharap kedatangan Leon kali ini ke Bogor bisa dimanfaatkannya agar ia semakin dekat dengan si rubah.
****
Jesselyn tak berhenti mengagumi pesona pemandangan kebun teh di depan matanya yang terbentang luas. Ia merentangkan kedua tangannya, mejamkan kedua matanya dan menghirup dalam-dalam udara yang begitu segar.
Hap!
Seseorang berdiri dibelakang Jesselyn, ikut merentangkan tangannya namun tidak menggenggam tangan gadis itu layaknya di film yang begitu terkenal dimana sepasang kekasih tengah berada di kapal pesiar.
__ADS_1
Menyadari keberadaan seseorang Jesselyn langsung menoleh kebelakang.
Hihihi...
Nadya tertawa saat bersitatap dengan Jesselyn dan menjatuhkan tangannya yang terentang.
"Pasti kamu ngarepnya kak Leon yang ada dibelakang kamu, iya kan?" goda Nadya.
"Enggak. Lagian aroma....., udah ah, kita lanjut jalan lagi."
"Aroma apaan, Jes?"
"Aroma daun tehnya harum, kak."
Jesselyn tidak mungkin mengatakan ia tahu jika yang berdiri di belakangnya bukan Leon melalui aroma dan wangi tubuhnya. Ya, Jesselyn sudah tahu betul dan kenal dengan aroma tubuh Leon.
Keduanya kembali melanjutkan jalan-jalan mereka di perkebunan teh milik opa. Mereka asik memperhatikan para pemetik yang begitu terampil dan cekatan. Keduanya begitu penasaran dan mencoba ikut bergabung dengan para pemetik.
Salah seorang dari pemetik sempat mengajari mereka berdua bagaimana cara yang baik dan benar saat memetik pucuk teh.
Meskipun masih kaku dan lambat keduanya mulai ikut memetik.
Jesselyn dan Nadya begitu menikmati waktu mereka, bahkan terbersit dipikiran Nadya jika suatu saat ia lelah dengan kehidupan dikota ia akan memilih tinggal di desa tempat tinggal opanya itu dan ikut mengelola perkebunan teh seperti permintaan opanya sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
****
Malam hari usai makan malam Leon duduk di kursi kayu di teras rumah.
Ia menggoyang -goyangkan lututnya bolak-balik melihat kearah pintu. Ia sedang menunggu Jesselyn keluar dan mengajaknya untuk berjalan-jalan sebentar. Tak jauh dari tempat tinggal opa ada sebuah danau buatan dan Leon ingin membawanya kesana.
"Mau kemana, kak?"
"Rahasia"
Leon hanya menjawab singkat pertanyaan Nadya yang baru saja kembali dari rumah tetangga mengantar beberapa oleh-oleh yang dibawa dari Jakarta.
"Masuk sana ngapain masih disini," ucap Leon agar Nadya masuk kerumah.
Bukannya masuk kedalam Nadya justru menarik kursi dan duduk disamping Leon.
Tak berapa lama Jesselyn pun keluar hendak bergabung dengan mereka dengan sepiring goreng pisang dan teh yang asapnya begitu menggepul.
"Waw... yummy!" ucap Nadya dengan mata yang berbinar melihat pisang goreng kesukaannya diletakkan Jesselyn diatas meja namun Leon hanya menanggapinya biasa saja.
"Oh iya, kita jalan yok Jes, ada pasar malam dekat sini. Siapa tahu ketemu cowok ganteng disana."
Seperti yang sudah Jesselyn rencanakan ia akan menikmati liburannya kali ini. Jadi tidak ada salahnya menyetujui ajakan Nadya.
"Boleh kak tapi aku ganti..…"
"Ngak boleh!"
__ADS_1