Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Caranya mencintaiku


__ADS_3

Dalam situasi genting, tangan yang gamang dan pikiran yang kalut, Jesselyn membuka satu per satu kancing Kemeja yang basah milik Leon. Begitu pelan dan berhati-hati ia menurunkan dan melepas tangan baju dari pergelangan yang terbalut sapu tangan.


Sapu tangan yang tadinya putih bersih kini berubah warna menjadi merah akibat darah di pergelangan yang meskipun sudah terbalut namun masih mengeluarkan sedikit demi sedikit darah.


"Cepat lepas semuanya, kenapa diam?" tegur Bagas melihat gadis itu bingung.


"I...iya, om."


Kedua tangan Jesselyn kembali bekerja melepas kaos putih yang membentuk tubuh tak berdaya Leon.


"Ce-celananya juga ikut, om?" tanya Jesselyn berhati-hati.


"Iya dong, nak. Kamu ngak lihat dia sudah seperti mayat beku karena kedinginan?"


Mendengar Bagas menyebut kata mayat, tanpa ragu ia melepas ikat pinggang Leon, membuka kancing pengait dan menurunkan zippernya kebawah.


Meski sedikit bersusah payah namun pada akhirnya Jesselyn berhasil melepaskan celana panjang Leon.


"Itu tidak usah," ucap Bagas mengingatkan.


Jesselyn sadar dan langsung menarik tangannya yang hampir menurunkan boxer yang masih melekat pada tubuh bagian bawah Leon.


Dengan tetap berhati-hati Jesselyn membungkus tubuh Leon yang begitu dingin dan pucat menggunakan selimut yang tadi ia bawa dari kamar Leon. Dilapnya wajah Leon dan berusaha mengeringkan rambut Leon dengan handuk.


****


Tiba dirumah sakit Leon langsung mendapat pertolongan dari dokter yang bertugas.


Seorang dokter dan beberapa perawat lainnya dengan sigap dan cekatan melakukan tugas mereka.


Bagas dan Jesselyn berdiri di depan pintu dimana Leon tengah mendapat pertolongan medis.


****


Sekitar dua puluh menit sejak Leon dibawa kerumah sakit, sepasang suami-istri yang sudah lanjut usia tiba di kediaman anak mereka.


Melihat pintu rumah terbuka, oma dan opa langsung melenggang masuk sambil memanggil sipemilik rumah.


"Oma da opa sudah nyampe?"


Nadya kaget mendapati oma dan opa dirumah saat ia sedang mengambil air untuk diminum mamanya.


"Sudah."


Oma dan opa merebahkan tubuh leleh mereka di atas sofa ruang tamu.


"Mana mamamu?" tanya oma tak melihat tanda-tanda kehadiran mantunya.

__ADS_1


"Ada di kamar, oma. Mama lagi istirahat karena ada sedikit masalah dirumah," ucap Nadya ragu.


"Ada apa, kenapa wajahmu kelihatan bingung sekali? Ayo ceritakan," pinta oma tak sabar dan sungguh penasaran.


Masih dengan memegang gelas berisi air minum, Nadya menceritakan semua apa yang ia lihat dan dengar pada oma dan opa.


Pasangan tua itu begitu kaget dan tak menyangka jika hal seperti yang dikatakan Nadya terjadi. Opa hanya bisa menghela nafas mendengar setiap apa yang diceritakan cucu perempuannya itu, sungguh ia merasa kasihan pada pasangan muda itu.


"Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu pada cucu kesayanganku. Dasar rubah jahat."


Oma langsung menghampiri Lena yang terbaring lemas dia atas ranjangnya, memberikan semangat dan kekuatan agar jantungnya tidak lemah yang bisa berakibat fatal bagi kesehatannya.


****


Setelah mendapat perawatan medis Leon dibawa ke dalam ruang rawat.


Untung saja Leon tidak terlambat dibawa ke rumah sakit, jika lebih lama sedikit lagi dan darah yang keluar tak dibalut maka dokter yang menanganinya tidak menjamin keselamatan Leon.


Bukan tanpa sebab sang dokter mengatakan hal demikian namun melihat luka sayatan yang cukup dalam sangat beresiko tinggi untuk keselamatannya.


Dua pasang mata tak melepas pandangan mereka dari Leon yang terkulai diatas ranjang rumah sakit. Meski sudah mendapat pertolongan dan diberikan obat namun Leon masih belum sadarkan diri dan wajahnya pun masih begitu pucat.


Keduanya baik Bagas dan Jesselyn begitu iba melihat tubuh yang terbaring di hadapan mereka.


Sejam kemudian karena leon masih tidur dan butuh istirahat yang cukup, Bagas memutuskan untuk kembali ke rumah melihat keadaan istrinya. Ia meninggalkan Leon dijaga oleh Jesselyn seorang diri.


Ada sesuatu yang perih dan ngilu dirasakan gadis itu saat kembali maniknya menangkap bagian yang disayat oleh Leon. Tak sadar air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.


"Kak, bangun dong kak, maafin aku kak...hiks...hiks...hiks..."


Jesselyn tak dapat menahan tangis yang sedari tadi ia tahan saat bersama om Bagas. Meski suara tangisnya pelan namun sebuah pilu sungguh terasa dalam tangisnya.


"Maafin Jesselyn kak, aku salah. Aku tahu kakak ngelakuin ini semua karena aku. Aku tahu kakak sayang sama aku. Aku tahu kakak ngak mau ada yang lain selain kakak dihati aku, aku tahu kak," lirih Jesselyn dengan air mata yang tak berhenti membanjiri pipinya.


"Ayo bangun kak, dua hari lagi kita nikah kak. Aku ngak mau kalau pernikahannya dibatalin kak, ayo bangun kak, hiks...hiks...hiks...."


Begitu lembut Jesselyn mengusap wajah Leon, membelai rambut yang sudah tidak basah lagi.


Sifat poseseif dan cemburuan Leon pada dirinya memang membuat Jesselyn sedikit jengah dan risih namun bukan berarti keadaan seperti saat ini yang diharapkan Jesselyn boleh terjadi pada Leon.


"Maafin aku kak, aku yang belum terbiasa dengan cara kakak menyayangi aku dan menunjukkan rasa cinta kakak sama aku, maafin aku kak," ucap Jesselyn merasa bersalah dengan keadaan pria dihadapannya itu.


"Ayo cepat bangun kak, terserah kakak mau semakin posesif dan cemburuan aku ngak keberatan asal kak Leon cepat sadar. Kak Leon bebas mau ngelakuin apa aja sama Jesselyn, kakak bisa marahin aku, bentak aku, terserah mau apa asalkan kakak cepat sadar."


Tak berhenti Jesselyn terus menangis merutuki keadaan Leon karena kebodohannya yang tidak mengerti dan terbiasa dengan cara Leon memperlakukannya, gadis yang begitu sangat Leon sayangi dan tak ingin dilepasnya.


Lelah menangis ia pun tertidur dengan kepala di dekat bahu Leon. Matanya masih sembab begitupun pipinya masih basah akibat air mata. Tak dipungkiri Jesselyn merasa hancur melihat keadaan Leon yang begitu nekat melakukan hal bodoh yang berujung membahayakan dirinya.

__ADS_1


Sungguh Jesselyn menyesal dengan keadaan Leon akibat kebodohannya yang tidak mengerti akan cara Leon menyayanginya.


****


Setibanya Bagas dirumah ia dipaksa oma kerumah sakit karena ingin menemui cucu kesayangannya dan sirubah yang sudah tega membuat cucunya kesakitan.


Tergesa-gesa oma berjalan dan membuka pintu dengan tak sabaran. Dengan berkacak pinggang dilihatnya Jesselyn yang sedang tertidur di dekat Leon.


"Dasar kau rubah cantik yang jahat dan kejam. Apa yang sudah kau lakukan pada cucuku, hah? Apa kau senang kalau dia sudah mati?" teriak oma tepat diwajah gadis yang selalu dipanggilnya rubah.


Meski usia oma sudah tua namun kekuatan tangannya tidak dapat diragukan. Tangan oma begitu kuat menarik Jesselyn hingga menjauhkan posisinya dari Leon.


"Aw, sakit oma," ringis Jesselyn.


"Sakit kau bilang, sekarang coba lihat tangannya, menurutmu siapa yang paling kesakitan saat ini, ayo jawab?" bentak oma dengan mata melotot hingga Jesselyn bergidik ngeri.


"Maaf, oma."


"Maaf...maaf...apa hanya maaf yang bisa kau ucapkan, hah?"


Sadar akan kesalahannya Jesselyn tidak lagi berani mengeluarkan suaranya. Hanya diam dengan kepala menunduk yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Ia tahu kesalahannya saat ini tidak dapat dimaafkan.


"Cepat sana, biar aku saja yang menjaga cucuku di sini," ucap oma.


"Enggak, oma. Biar aku yang jaga kak Leon."


"Kenapa, apa kau ingin membunuhnya, hah?"


"Bukan oma, a..aku..aku..."


"Apa kau masih berharap bisa menikah dengan cucuku, hah? Aku akan mencarikan gadis yang lebih cantik dan lebih baik untuknya di kampung, kau tidak perlu memikirkannya lagi."


"Oma!"


Tak sadar Jesselyn berteriak pada oma hingga membuat wanita tua itu menutup telinganya.


"Ka.. kau..berani sekali berteriak padaku, " ucap oma terbata.


"Kak Leon hanya mau nikah sama aku," ucap Jesselyn seakan ada api yang terpancar dari matanya saat ia melihat oma.


"Kau berani membentak oma?"


"Jesselyn ngak bentak oma, Jesselyn cuman bicara apa adanya. Dua hari lagi aku dan kak Leon akan menikah, jadi oma jangan pernah berpikir untuk mencari gadis lain karena hanya aku yang akan menikah dengan kak Leon."


"Kata siapa?"


Suara seorang wanita dari arah pintu menarik perhatian Jesselyn. Wanita itu berjalan mendekatinya, menarik tangannya dan membawanya dari tempat Leon sedang dirawat.

__ADS_1


__ADS_2