
Hening! Tak satupun dari penonton yang ada dalam bioskop mengeluarkan suaranya.
Tak terkecuali dengan enam anak manusia yang duduk berderet dikursi bagian tengah bioskop.
Hanya aktivitas menguyah popcorn dan menyedot minuman yang tampak dari para penonton.
Dua puluh menit sudah film berjalan, semua adegan yang diperlihatkan tampak biasa-biasa saja.
Jesselyn melihat kearah Sinta yang semakin menenggelamkan dirinya pada kursi, dan dia tahu yang menjadi alasannya melakukan itu.
Beberapa detik kemudian mata mereka kembali saling bertukar pandang. Tidak ada yang mereka ucapkan kecuali raut wajah memelas.
Aw!
Pekik seorang penonton yang duduk di depan mereka. Sontak beberapa mata langsung tertuju pada asal suara tersebut.
Seorang gadis berambut panjang yang dibiarkannya tergerai, tampak menarik kepalanya dari dekapan seorang pemuda yang tampak seusianya juga.
Seolah tidak memperdulikan para mata yang mengarah pada mereka, si pria itu dengan sigap mengusap bibir gadis yang duduk di sebelahnya itu.
Tidak ada penolakan dari gadis tersebut. Sepersekian detik kemudian pemuda itu sudah menempelkan bibirnya dibibir sang gadis. Menciumnya dengan tak hentinya seolah tengah kelaparan.
Glek!
Nadya, Sinta dan Jesselyn tanpa mereka ketahui, secara bersamaan menelan ludah mereka begitu susah.
"Ah, brengsek juga ni orang. Buat film sendiri disaat lagi nonton film" geram Adit menggelengkan kepalanya. Ingin rasanya ia melemparkan minuman yang ia pegang saat itu juga kepada sepasang anak manusia yang baru saja mengakhiri adegan mereka tersebut.
Leo dan Leon tampak cuek, namun siapa yang tahu di dalam hati mereka?
(Hanyalah author yang tahu isi hati mereka, hehehehe...🤭🤭🤭)
Jesselyn menyedot minumannya dengan susah payah sambil meyandarkan punggungnya dikursi.
Setelah itu tangannya kembali akan memasukkan popcorn kedalam mulutnya. Belum popcorn itu masuk kemulutnya, lagi-lagi ia tercengang.
"Kamu kenapa?" tanya Leo dengan wajah biasa-biasa saja sambil menyedot minuman seperti begitu kehausan.
Ia tidak tahu jika dirinyalah alasan Jesselyn tercengang.
Bagaimana tidak, Leo langsung menyambar minuman Jesselyn tepat setelah ia melepaskan sedotan dari mulutnya. Itu pertama kalinya Jesselyn berbagi minuman dengan seorang lelaki, apalagi menggunakan sedotan yang sama.
__ADS_1
"Itu punyaku," menunjuk minuman yang sedang di sesap Leo.
Leo hanya menganggukkan kepalanya.
"Emang kenapa? Aku ngak boleh minum? itu namanya pelit," ujar Leo memberikan kembali minuman itu pada Jesselyn. "Nanti aku beliin lagi kalau habis. Gampang kan?"
Jesselyn tak tahu harus berkata apa. Dia hanya nyengir kuda mendengar perkataan Leo dan kembali kelayar besar yang ada di depan.
"Mi..minum ini Yon, ini punya gue dan belum gue minum sama sekali," menyerahkan minumannya pada Leon.
Adit merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik pesan disana dan langsung mengirimkannya pada kontak dengan nama 'mama'.
Ia mengabari mamanya jika ia akan pulang telat malam ini dan ada bersama dengan Leon. Adit membawa nama Leon agar mamanya tidak khawatir.
Adit mencoba menghalangi pandangan Leon agar tidak melihat kearah Leo dan Jesselyn.
Ia tahu jika sedari tadi Leon menatap tajam kearah mereka berdua.
"Yon, meskipun bukan anak hukum tapi lo tahu kan jika membuat keributan ditempat umum bakalan ada sanksinya?" berbisik dekat telinga Leon karena posisi mereka yang sejajar.
"Maksud lo apaan sih?" gantian kali ini Adit yang mendapat tatapan horor dari Leon. "Mending lo sama gue ganti tempat duduk sekarang!"
Dengan sigap Adit semakin menempelkan pantatnya dikursinya tanda menolak permintaan Leon. Seolah tidak mendengar perkataan Leon dan mencoba fokus pada film yang sudah hampir satu jam berjalan.
Sedetik kemudian menyatukan bibir mereka berdua. Sang pria melakukannya dengan lembut namun begitu dalam sehingga siapa pun yang menyaksikannya pasti akan terbuai.
Bagi Adit menyaksikan adegan seperti ini sudah biasa, bahkan ia sudah pernah melakukannya dengan kekasihnya dulu sebelum menjadi mantan sekarang ini.
Ia hanya tersenyum larut dengan apa yang ia tonton di depan sana.
Saat ia menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya tak sengaja melihat kearah Leo yang posisi kepalanya sedikit menunduk kesamping kiri.
Leo semakin menundukkan kepalanya menghadap kewajah Jesselyn. Nafasnya semakin memburu namun Jesselyn sama sekali tidak menyadari hal itu.
Adit melihat ke kanannya. Tepat seperti yang sudah ia bayangkan. Bola mata Leon seperti akan melompat dari tempatnya.
Seperti ada api di mata dan di atas kepala Leon.
Ekhem..
Adit berdehem sehingga membuyarkan konsentrasi para penonton yang mendengarnya.
__ADS_1
Kembali ia duduk, menyandarkan pundaknya seperti tidak ada apa-apa.
Leo yang mendengarnya pun langsung menutup matanya kesal, mengepalkan kedua tangannya dengan kepala yang masih menunduk ke arah gadis yang duduk disebelahnya.
"Ada apa?" tanya Jesselyn yang melihat aneh posisi Leo.
"Ngak" ucap Leo mencoba tersenyum.
"Pulang nanti aku yang antar ya?" bisik Leo tepat ditelinga Jesselyn.
"Ada-ada aja deh kamu, bilang itu aja harus sampai menunduk segala."
Leo mengangkat kedua alisnya tersenyum mendengar Jesselyn.
"Tapi sepertinya ngak bisa deh, aku kan datang sama kak Nadya dan kak Le..."
tiba-tiba menggantung ucapannya saat ia melihat kearah Leon yang begitu mengintimidasi.
Jesselyn sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya tak lepas dari mata elang Leon sejak mereka tiba di depan bioskop tadi.
Jesselyn seakan tidak menyadari jika Leon juga ada bersama mereka.
Gadis itu menarik tubuhnya kebelakang tak ingin berjumpa dengan mata yang menatapnya tajam.
Ia tidak lagi menghadap layar di depan. Pikirannya sudah lari kemana-mana tanpa ia tahu apa sebabnya.
Beberap menit kemudian ia mencoba melirik kerah kanannya. Alangkah kagetnya ia saat masih melihat Leon dengan mata elangnya itu mengarah padanya.
Ia memutuskan untuk memejamkan matanya saja sampai film seleai.
Hanya Nadya yang fokus dan menikmati film asal negeri ginseng tersebut.
Ada banyak adegan romantis hingga akhir film tersebut.
Sinta?
Jangan tanyakan dia. Sedari tadi dia sudah sesak nafas. Dia menutup matanya dengan lima jari kanannya saat ada adegan romantis dilayar. Namun sesekali ia juga mengintip melalui celah yang ia buat sendiri.
Biarin deh gue yang sampai pingsan nanti nemanin dia main basket dari pada ada merapi yang meletus di gedung bioskop.
Adit berjalan gontai meninggalkan kursinya saat film telah selesai. Ia menatap punggung sahabatnya yang berjalan di depannya dengan tangan kanan meremas bekas minuman yang diberikan Adit padanya.
__ADS_1
...Terimakasih atas kunjungan kalian semua. Jangan lupa memberikan support buat cerit ini ya..like dan komen diterima, asalkan komen yang membangun tapi 🤭🤭🤭🤭...
...❤️❤️❤️❤️ buat kalian semua !!...