Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Perfect


__ADS_3

H - 7


Bukan sebuah pesta pernikahan yang megah yang akan diadakan namun entah mengapa nyonya rumah terlihat begitu sibuk.


Pagi-pagi sambil menata meja dan dibantu oleh Jesselyn, Lena tak henti menempelkan ponselnya di telinga, memastikan setiap apa yang ia pesan sesuai dengan keinginannya dan pastinya adalah yang terbaik. Ia tidak ingin melewatkan setiap detailnya mengingat pernikahan antara Jesselyn dan Leon adalah pernikahan yang juga ia harapkan.


"Oke, kalau gitu nanti saya akan kesana untuk memastikannya. Terimakasih sebelumnya ya," ucap Lena mengakhiri sambungan teleponnya.


"Siapa, tante?"


"Oh, itu, yang akan ngurusin catering acara nikahan kamu dan kak Leon nanti. Mereka mau tante kesana langsung untuk memastikan semuanya sesuai dengan apa yang diinginkan."


"Maaf ya, tante."


"Kenapa minta maaf, sayang?"


"Iya, tante jadi repot dan pastinya capek karena ngurusin nikahan ini," ucap Jesselyn merasa tak enak hati.


"Ya enggaklah sayang, justru ini tidak seberapa karena kamu maunya hanya pernikahan yang sederhana aja."


"Tapi tetap aja karena tante hanya sendiri yang nanganin."


"Sudah, jangan berpikir yang aneh-aneh. Kalau kamu enggak enak hati mending mulai sekarang kamu belajar buat panggil tante dengan sebutan mama, gimana?"


"Em?"


Jesselyn melihat pada tantenya dengan bingung.


"Iya, ngak mungkin dong setelah kamu nikah nanti dan jadi mantu dirumah ini masih panggil tante dan om, bener ngak?"


Malu-malu Jesselyn menunduk sambil menggaruk lehernya.


"Awalnya pasti susah dan aneh tapi lama-lama juga akan terbiasa," ucap Lena yang mengerti pikiran gadis itu.


"Iya, tante."


****


Seperti biasa, pagi sebelum berangkat ke tempat kerja Leon akan terlebih dahulu mengantar Jesselyn ke kampus.


Sesuai dengan janji yang dibuat Lena dengan designer, keduanya akan melakukan fitting baju pengantin sore ini setelah Leon selesai kerja.


Pukul lima sore usai menyelesaikan semua urusan pekerjaannya Leon langsung pulang untuk menjemput Jesselyn. Leon bahkan tidak ikut dalam acara makan malam yang diadakan perusahaan tempat ia bekerja atas prestasi dan pencapaian mereka yang semakin meningkat.


Ada banyak alasan yang dibuat Adit agar Leon ikut dalam acara makan malam tersebut namun semuanya sia-sia karena menurut Leon semua persiapan untuk hari bahagianya bersama dengan Jesselyn adalah yang terpenting untuk saat ini.


"Sorry, bro. Gue cabut deluan. Calon istri gue sudah nunggu soalnya. Bye..."


Leon menepuk pundak Adit dan berlari meninggalkan ruangan kerjanya dengan wajah sedikit mengejek Adit.


"Ya udah, pergi lo sana! Ngebet banget lo pengen cepet-cepet kawin. Dulu aja lo nyiksa gue dilapangan basket karena galau, eh...sekarang nikah ngak ngajak-ngajak. Tungguin gue gitu setahun dua tahun lagi sampe tabungan gue buncit," sungut Adit melihat punggung Leon yang semakin tidak terlihat.


"Lumayan kan nikah barengan, biayanya bisa bagi dua. Hahaha..."


Adit mengemasi barang-barangnya dan berjalan mengikuti para karyawan lain menuju tempat mereka akan makan malam bersama.


****


Sampai di butik Jesselyn dan Leon langsung bertegur sapa dengan wanita yang sempat membuat Jesselyn sedikit cemburu beberapa hari lalu. Dengan begitu ramah, Siska menyambut pasangan muda itu tersenyum. Awalnya Jesselyn merasa canggung karena sempat bertanya siapa Siska dengan nada yang kurang bersahabat sebelumnya namun Siska yang tentunya lebih dewasa dan berpengalaman terhadapan banyak customer langsung mencairkan suasana.


Jesselyn yang hanya memakai pakaian casual langsung diminta Siska untuk memilih gaun yang akan ia pakai saat menikah nanti.

__ADS_1


"Ini gaun yang saya tunjukin ke kamu adalah design terbaru dan sudah saya sesuaikan sebelumnya, sesuai ukuran yang tante Lena kirim melalui pesan."


"I..iya kak, makasih."


"Kamu bebas pilih mau yang mana asal nikahnya sama dia," bisik Siska di telinga Jesselyn namun ekor matanya mengarah pada Leon yang sedang memperhatikan deretan gaun putih di depannya.


Jesselyn menutup matanya dengan kedua tangannya karena malu mendengar perkataan Siska.


Siska meninggalkan keduanya agar lebih leluasa untuk memilih dan memutuskan mana yang akan mereka pakai.


Setelah hampir tiga puluh menit keduanya memilih dua gaun yang akan dicoba. Siska yang sudah kembali lagi membantu Jesselyn memakaikan gaun pertama.


Beberapa saat kemudian setelah tirai dibuka Leon menganga melihat gaun pertama yang dikenakan Jesselyn. Tenggorokannya seakan kering saat menelan salivanya.


"Ganti!"


Spontan Leon memberi tanggapan atas gaun pertama.


"Tapi ini cantik Lo, Yon. Apa yang salah?" tanya Siska protes.


"Pokoknya ganti, kak. Jangan yang ini, ganti yang satunya lagi."


Siska mendekati Jesselyn dan mengitarinya, memperhatikan detail baju yang ia design jika seandainya ada yang salah namun tak satu kesalahanpun ia temukan.


"Menurut kamu gaunnya cantik ngak, Jes?" tanya Siska mengenai pendapat Jesselyn.


"Cantik banget, kak."


"Kamu suka ngak pakai ini?"


"Suka, kak."


"Tapi aku ngak suka!" sahut Leon tiba-tiba mengalihkan pandangan Jesselyn dan Siska padanya.


"Apa kamu mau nunjukin bagian dada kamu supaya semua laki-laki yang diundang nanti liatin kamu dengan mata jelalatan?" ucap Leon memberitahu alasannya.


"Maksudnya?"


"Kamu ngak lihat ini?" ucap Leon menunjuk bagian dada yang sedikit terbuka dengan telunjuknya belum lagi gaun itu membentuk tubuh Jesselyn dari atas hingga kebawah.


Plak


"Aw... Sakit."


Leon memegang kepalanya yang baru saja di pukul Jesselyn tanpa sengaja. Tangannya refleks memukul saat jari Leon menunjuk tepat di bagian belahan dada yang sidikit terlihat.


"Kok mukul sih?" protes Leon mengusap kepalanya yang sakit.


"Terus kenapa nunjuk-nunjuk gitu tadi? Pakai alasan mata orang lain yang jelalatan, yang ada kakak yang jelalatan. Iyakan?"


Jesselyn melotot mengucapkan kalimatnya, tidak takut pada Leon sedikitpun.


"Apa lihat-lihat?" bentak Jesselyn menutup bagian dadanya dengan telapak tangan saat melihat pandangan pria itu masih menjurus pada bagian yang ia baru tutup.


Glek


"Enggak. Enggak lihat apa-apa, cu-cuman lihat mutiara yang nempel di gaun itu aja. Mutiaranya canti, pasti mahal," elak Leon mencari alasan.


"Dasar."


Siska hanya tersenyum menyaksikan perdebatan diantara pasangan muda itu.

__ADS_1


"Pokonya ganti, jangan yang ini. Jelek. Aku ngak suka."


Leon meninggalkan Jesselyn dan Siska, menenteng setelan jas, kemeja dan celana yang akan ia pakai keruang ganti. Ia juga akan mencoba miliknya sekalian. Pun Siska mengajak Jesselyn untuk mencoba gaun kedua yang mereka pilih.


Leon yang tidak butuh waktu lama untuk memakai pakaiannya langsung kembali keruangan sebelumnya.


Untuk kedua kalinya tirai dibuka, memperlihatkan seorang gadis berdiri dengan begitu anggun dibalut gaun pengantin yang jatuh hingga kelantai.


"Perfect!"


Gumam Leon menyaksikan keindahan terpampang dihadapannya.


Matanya tak lekang memandangi gadis dihadapannya, bermahkota mutiara dikepalanya dengan senyum yang begitu manis. Membuat siapa saja yang melihatnya tak akan pernah bosan.


"Kedip, Yon!"


Suara Siska membuyarkan pandangan Leon. Sudah lebih lima menit Leon memandangi Jesselyn dengan mata yang mungkin tidak berkedip sangkin ia terpukau dengan penampilan gadisnya itu.


Tanpa banyak komentar keduanya memutuskan memilih gaun kedua dan Leon pun merasa cocok dengan setelan yang ia coba.


Sebelum pulang mereka tidak lupa memberi satu undangan pada Siska dan suaminya untuk menghadiri acara pernikahan mereka nanti.


Pun keduanya sangat berterimakasih pada Siska.


****


"Setelan aku tadi gimana, bangus ngak?" tanya Leon yang sedang mengemudi.


"Ha?"


"Kamu ngak lihat penampilan aku tadi?" tanya Leon sedikit kesal.


"Li-lihat kak tapi aku ngak terlalu merhatiin. Maaf ya?" pinta Jesselyn.


"Sudahlah. Ternyata cuman aku yang merhatiin kamu, kamunya ngak sama sekali."


Leon diam seribu bahasa. Ia menguatkan volume musik mobil yang ia nyalakan.


Lima menit


Sepuluh menit


Lima belas menit


"Maaf ya, kak?"


Masih tak bergeming, Leon masih saja diam.


"Kak?" panggil Jesselyn begitu lembut.


Jesselyn memberanikan dirinya untuk menyentuh lengan Leon, menggoyangnya namun lagi-lagi tak berhasil.


Jesselyn memikirkan cara bagaimana membujuk Leon agar tidak lagi mendiamkannya.


Sedikit mengernyitkan dahinya, Jesselyn merasa merinding dan geli saat sebuah ide melintas di pikirannya.


"Mempan ngak ya?" pikir Jesselyn melirik Leon. "Tapi kok geli ya?"


Dengan mengerahkan seluruh keberanian dan sedikit keterpaksaan, akhirnya ia memutuskan melakukannya. Sebelumnya ia terlebih dahulu mematikan volume musik yang dinyalakan Leon.


Jesselyn menautkan tangannya di lengan Leon sambil tersenyum memandangi wajah pria disampingnya.

__ADS_1


"Kak Leon sayang..."


__ADS_2