
BUG
Bunyi pintu mobil tertutup. Jesselyn menarik beberapa lembar tisu untuk mengeringkan wajahnya yang basah. Leon tersenyum, ia begitu senang malam ini. Meskipun gadis disampingnya itu belum memberi respon dari pernyataannya barusan, setidaknya ia sudah mengungkapkan apa yang tersimpan dihatinya selama ini.
Leon kembali tersenyum seraya menyunggingkan bibirnya. Ia mengangkat tangan kirinya dan meletakkannya di atas kepala Jesselyn.
"Ka-kakak mau apa?" tanya Jesselyn gugup. Menjauhkan tangan Leon dari kepalanya dan melihat kearah jendela di sampingnya. Leon hanya menyeringai merespon pertanyaan Jesselyn. Ia kembali mendaratkan tangannya di atas kepala Jesselyn. Mengusap lembut rambut basah gadis itu, membenarkan rambut yang menepel dipipinya karena basah dan menyelipkannya kebelakang telinga gadis itu.
Tangan kanan Leon mencengkram kuat setir mobil, menelan salivanya saat melihat leher putih dan mulus gadis itu yang masih basah oleh air hujan.
Perlahan Leon mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jesselyn tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
Jesselyn kembali menegang merasakan hembusan nafas Leon diwajahnya. Tanpa sadar ia juga menelan salivanya. Ia tidak berani menghadapkan wajahnya pada Leon.
Kini hidung Leon menyentuh pipi Jesselyn. Sedikit demi sedikit Leon semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Jesselyn. Nafasnya semakin memburu tak terkendali. Leon membuka sedikit mulutnya siap memagut kembali bibir gadis itu.
"Hakh, om Bagas?" ucap Jesselyn kaget sambil melorotkan tubuhnya.
Spontan Leon juga kaget mendengar perkataan Jesselyn. Menarik wajahnya menjauh dari Jesselyn dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan orang yang baru saja disebutkan Jesselyn.
"Papa? Dimana?" tanya Leon karena tak melihat keberadaan papanya.
Jesselyn tersenyum, bersusah payah menahan tawan dan membenarkan posisi duduknya.
Leon menghadap ke kiri melihat kearah Jesselyn dan di dapatnya Jesselyn tersenyum dengan kepala menunduk. Dia baru sadar jika dirinya sedang dikerjain. "Siall" umpat Leon dalam hati.
"Awas saja nanti," gumam Leon kembali dalam hati.
Dengan perasaan senang dan sedikit kesal Leon menghidupkan mesin mobilnya dan meluncur pulang.
****
"Kamu habis lihat setan? Kaget amat lihat papa dan mama pulang," ucap Lena saat tiba dirumah dan mendapati Nadya tengah berdiri di depan pintu.
"Ngak kok, ma. Justru Nadya lagi nungguin kalian pulang," ucap Nadya berbohong. "Acara makan malamnya sudah selesai? Cepat juga ya, ma?" ucap Nadya kembali mengekori mamanya menuju ruang tamu.
"Kan hanya makan malam saja." Lena meletakkan tasnya diatas meja dan duduk disofa ruang tamu sedangkan Nadya seolah-olah sedang fokus pada layar di depannya.
"Papa langsung ke kamar ya, capek dan mau istirahat. Pengen langsung rebahan soalnya," ucap Bagas menyimpulkan senyum diwajahnya dan melirik istrinya.
"Sudah sana" ucap Lena tak tahan melihat senyum suaminya.
"Bukannya mama juga sudah ngantuk? Ayo kita istirahat. Besok pagi biar seger bangunya." Bagas masih berdiri di posisinya menunggu sang istri ikut dengannya.
__ADS_1
Lena tersenyum dan tertawa kecil. Ia mengerti arti perkataan suaminya. Ia meraih kembali tasnya dan mengikuti suaminya.
"Oh iya, mereka berdua dimana?" tanya Lena mengagetkan Nadya.
"Em.. Jesselyn sudah tidur, ma."
"Leon?" tanya Lena lagi.
"Skripsi, ma. Tadi katanya ngak mau diganggu karena mau nyelesaiin skripsinya malam ini." Lagi-lagi Nadya berbohong.
Lena mengangkat kepalanya melihat ke lantai dua, tersenyum melihat pintu kamar Leon dan Jesselyn yang tertutup.
"Kalau gitu mama mau lihat keadaan Jesselyn dulu sebentar," ucap Lena tiba-tiba.
"Jangan, ma!" pekik Nadya.
"Kamu kenapa teriak sih?" ucap Lena mengerutkan keningnya.
"Ngak kok, ma. Cuman Jesselyn baru tidur aja, ma. Kalau mama kesana sekarang, nanti dia terbangun dan ganggu istirahatnya. Dia kan masih butuh banyak istirahat. Iyakan, ma?" ucap Nadya mencari alasan agar mamanya tidak pergi ke kamar Jesselyn.
"Iya sih. Ya sudah, besok pagi aja. Mama istirahat dulu. Kamu juga istirahat, ngapain masih disini sendirian? Ngak biasa-biasannya."
"Iya, ma. Selamat malam, ma. Semoga mimpi indah," ucap Nadya menuntun mamanya ke kamar.
Setelah memastikan bahwa mamanya masuk kamar, Nadya juga masuk ke kamarnya sendiri. Nadya berdiri di dekat jendela kamarnya. Karena begitu khawatir mamanya yang kemungkinan akan naik kelantai dua dan masuk ke kamar Jesselyn, ia memutuskan membawa laptopnya keruang tamu dan menonton drama Korea yang baru saja tayang dinegara ginseng itu. Nadya menonton sambil menunggu Leon dan Jesselyn yang belum juga pulang.
"Huff...akhirnya sampai rumah." Jesselyn begitu senang karena akhirnya tiba dirumah dan Leon ada ikut bersamanya. Dibukanya pintu mobil disampingnya, namun siall Leon masih menguncinya. "Ayo kak, cepat buka pintunya," pinta Jesselyn. "Kak?" pekik Jesselyn karena lagi-lagi Leon mendekatkan wajahnya berusaha menciumnya.
"Aw!" Leon kesakitan karena gadis itu menepuk dan mendorong dagunya begitu kuat.
Leon menyeringai menampilkan deratan putih giginya. Merasa begitu lucu dan gemas akan gadis yang saat ini sedang memelototinya. Ia belum menyerah dan kembali mendekatkan wajahnya berusaha mencium Jesselyn. Ia menahan kedua tangan Jesselyn agar tidak berontak.
PTAK
"Haisss..." ringis Leon kembali menahan sakit. Lagi-lagi Leon gagal. Diluar perkiraanya karena gadis itu malah membenturkan kepalanya ke kepala Leon.
"Oughhh..." ringis Jesselyn juga. Mengusap-usap bagian kepalanya yang sakit.
Leon akhirnya membuka pintu mobil dan langsung saja Jesselyn keluar dan berlari kedalam rumah.
Leon kesal dan mencoba menahan emosinya. Ia menendang ban mobil depan yang justru membuatnya tambah kesakitan.
"Argggghhhh....siall." Leon menatap horor ban mobil yang baru saja ia tendang.
__ADS_1
Leon akhirnya berjalan mengikut Jesselyn yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah.
"Kenapa lama? Mama sama papa sudah dikamar,"ucap Nadya saat melihat Jesselyn membuka pintu dengan basah kuyup. Ia menarik tangan Jesselyn dan melihat penampilan Jesselyn dari atas sampai kebawah.
"Kenapa bisa sampai basah begini? Kak Leon mana? Dia ngak ngapa-ngapain kamu kan?" tanya Nadya bertubi-tubi.
Jesselyn menggelengkan kepalanya. Tidak tahu akan mengatakan apa.
"Terus kak Leonnya dimana?"
Brukkkk
Leon masuk tepat saat Nadya bertanya mengenai dirinya dan menabrak lengan Jesselyn kuat.
"Kak" panggil Nadya namun Leon berlalu begitu saja. Nadya bergidik ngeri melihat langkah cepat Leon dan sekilas ia bisa melihat raut wajah Leon seperti sedang marah.
"Dia kenapa, Jes?" tanya Nadya penasaran.
"Ngak tahu, kak." Jesselyn menampilkan senyum terpaksa. Ia sudah merasa lelah dan kedinginan. "Aku keatas ya kak, ganti baju dan istirahat."
"Iya, cepat sana. Kalau mama sama papa tahu bisa ada petir lokal lagi nanti dirumah ini."
Jesselyn menganggukkan kepalanya dan menuju kamarnya.
"Makasih ya, Jes!" ucap Nadya mengulas senyuman diwajahnya. Jesselyn tersenyum merespon ucapan Nadya.
Setibanya dikamar, Jesselyn langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dan megeringkan tubuhnya. Ia tidak lupa mencuci rambutnya agar air hujan yang dikepalanya tidak mengendap dan membuatnya sakit lagi. Setelah selesai ia keluar dengan handuk melilit tubuhnya.
Aaaaaa....
"Kak Leon?"
Jesselyn terkejut dan menjerit. Dengan sigap Leon menariknya dan menutup mulut gadis itu dengan tangannya.
Dada Jesselyn naik-turun melihat Leon yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamarnya.
Glek
Leon menelan salivanya bersusah payah melihat penampilan gadis dihadapannya itu.
hayo...apa yang akan terjadi selanjutnya ya??? ðŸ¤ðŸ¤
btw aku nulis dan up part ini di sela-sela ngantri ketemu dokter, nemanin kanjeng mami control.
__ADS_1
terimakasih masih setia menanti kelanjutan cerita ini.
like+coment+vote+fave+gift dipersilahkan...🙈