
Tak ada yang kebetulan dalam hidup ini karena semua yang terjadi telah dirancang oleh sang maha penguasa. Begitu pula dengan pertemuan.
Kita tidak dapat memilih dengan siapa kita akan dan harus bertemu, kapan dan dimana pertemuan itu terjadi. Tergantung bagaimana kita menyikapi setiap pertemuan kita dengan siapapun itu orangnya.
Ada alasan untuk setiap pertemuan kita dengan seseorang dalam hidup yang kita jalani.
Cerita tidak akan hidup dan berwarna jika hanya diperankan oleh satu karakter saja di dalamnya. Kita adalah karakter utama dalam cerita hidup kita yang butuh tokoh pendukung untuk membuatnya semakin menarik dan tidak monoton.
Tok... Tok... Tok...
Meskipun sedikit ragu namun Jesselyn berusaha mengumpulkan semua keberaniannya mengetuk pintu kamar om dan tantenya.
Tok... Tok... Tok...
"Jesselyn bisa masuk sebentar tante?" tanya Jesselyn sembari mengetuk pintu di depannya.
Seolah mendengar panggilan pengiriman paket yang sudah tiba, Lena langsung berlari membuka pintu mendengar suara Jesselyn yang memanggilnya.
Ceklek
Setelah membuka pintu Lena langsung memeluk gadis dihadapannya. Tidak perduli apakah gadis itu suka atau tidak Lena hanya ingin memeluk dan memeluknya.
"Kamu panggil tante sayang?" mengusap lembut rambut hingga pundak Jesselyn. "Kamu perlu sesuatu? Katakan sama tante sayang," ucap Lena yang kemudian menangkup wajah gadis dihadapannya itu. "Kita ngobrolnya diruang tamu aja ya, sekalian sama om Bagas juga disana."
Di ruang tamu
"Om-tante, Jesselyn minta maaf. Maafin sikap Jesselyn beberapa hari ini sudah keterlaluan. Tidak seharusnya Jesselyn bersikap seperti itu apalagi sama tante," ucap Jesselyn dengan kepala tertunduk.
Mendengar penuturan Jesselyn entah mengapa hati Lena terasa sedih, ia sama sekali tidak masalah akan apa yang dirasakan Jesselyn padanya. Wajar jika Jesselyn bersikap seperti itu, pikirnya.
"Tidak sayang, kamu tidak salah. Semuanya hanya kesalah pahaman saja," Lena membawa Jesselyn kepelukannya. "Sudah, tidak usah dibahas lagi, ya?" pinta Lena mengusap air mata Jesselyn.
Senyum Bagas mengembang menyaksikan drama kedua wanita di depannya.
"Giliran ada Jesselyn papa langsung dilupa nih," celetuk Bagas mencairkan suasana yang sedikit melankolis membuat kedua wanita itu saling memandang dan tertawa kecil.
"Terima kasih sudah tumbuh menjadi anak yang baik sayang. Ayah kamu pasti bangga melihat kamu dari sorga," tersenyum pada Jesselyn.
"Makasih tante," jawab Jesselyn membalas senyuman tantenya. "Tapi Jesselyn ada satu permintaan," ucap Jesselyn dengan mimik serius.
"Apapun pasti om dan tante kasih, iyakan, pa?"
Bagas menganggukkan kepala tanda setuju akan perkataan istrinya.
"Sekarang katakan kamu mau apa sayang," tanya Lena sambil menyelipkan anak rambut Jesselyn kebelakang telinganya.
__ADS_1
"Sama seperti kak Nadya, Jesselyn juga mau ngekos aja om-tante. Jesselyn juga mau belajar mandiri, tidak selalu bergantung pada keluarga ini. Om dan tante sudah berbuat dan memberikan banyak hal buat Jesselyn dan ibu selama ini," ucap Jesselyn mengutarakan keinginannya.
"Ngak bisa!" pekik seseorang dengan suara keras. "Sampai kapanpun tidak bisa!" ucapnya lagi menentang.
Ketiganya langsung mengarahkan pandangan mereka pada sumber suara.
"Leon" ucap Lena menyebut nama sipemilik suara.
"Kenapa?" pandangan Leon langsung tertuju pada Jesselyn, sungguh ia sama sekali tidak menyukai keinginan gadis itu.
Seolah tidak memperdulikan keberadaan dan ucapan Leon, pandangan Jesselyn hanya tertuju pada Lena.
"Boleh ya, tante?" pinta Jesselyn penuh harap. Ia meraih kedua tangan Lena, menggenggamnya erat agar tidak terpengaruh oleh Leon.
"Aku bilang tidak ya tidak! Kenapa kamu keras kepala?" teriak Leon hingga membuat Jesselyn menutup matanya. "Leon ngak ngizinin, ma!" ucap Leon memperingatkan mamanya.
"Kamu dengar sendirikan Leon bilang apa, tante juga tidak setuju kalau kamu ngekos. Gimana dengan ibu kamu di kampung, dia pasti tidak setuju juga dengan keputusan kamu."
"Ibu sudah tau dan setuju tante," ucap Jesselyn sembari menutup kedua matanya.
"Bohong, ma. Leon tahu dia lagi bohong."
"Leon, kamu bisa tenang dulu? Lagian tahu dari mana kamu kalau dia bohong?"
"Jesselyn ngak bohong tante. Percaya sama Jesselyn," sanggah Jesselyn memotong perkataan Leon.
Mendengar pembahasaan yang tidak selesai-selesai dan berujung Bagas akhirnya memiliki sebuah ide.
"Sudah-sudah, jangan ribut dan saling berdebat lagi," dengan gaya seorang mandor bagas berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam saku celana tidurnya. "Leon, kamu duduk!" perintah Bagas pada Leon.
Denga patuh Leon menuruti perintah papanya.
"Baik. Kalau Jesselyn sudah yakin mau ngekos, om ijinkan!"
"Pa?" Leon tidak setuju dengan keputusan papanya. "Dia..."
"Jangan ada yang memotong kalimat papa sebelum papa selesai bicara, terutama kamu," tunjuk Bagas pada Leon. "Jesselyn boleh ngekos lagian ibunya juga sudah kasih ijin, benar kan, nak?" dengan berat Jesselyn menganggukan kepalanya sedangka mata Leon menatapnya tajam.
sesungguhnya Bagas juga mengetahui jika Jesselyn berbohong.
Lena tidak tahu harus berpihak pada siapa saat ini. Satu sisi dia tidak ingin Jesselyn tinggal diluar sana apalagi mengingat hubungan Leon dan Jesselyn yang merenggang. Disisi lain ia juga tidak ingin membuat Jesselyn marah padanya lagi karena tidak menyetujui rencananya.
Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini kecuali berharap yang terbaik untuk semuanya atas keputusan suaminya. Meskipun berat namun ia percaya pada suaminya.
"Makasih, om." Jesselyn tersenyum sumringah mendengar rencananya disetujui oleh Bagas, om-nya. "Makasih juga tante."
__ADS_1
"Tempat kos-nya om yang akan menentukan dimana."
Baru saja Jesselyn tersenyum sumringah, kini matanya tengah melotot tak percaya jika Bagas yang akan mencarikan tempat kos untuknya.
"Tapi om, Jes..."
"Tidak ada tapi-tapian kalau tidak, om tidak kasih ijin sama sekali. Gimana?" ucap Bagas memberi pilihan.
Jesselyn terdiam sejenak memikirkan sesuatu hingga ia akhirnya setuju dengan om-nya.
"Baik, om." Jesselyn mengganggukkan kepalanya.
"Bagus. Kapan kamu mulai nge-kos?"
"Besok, om. Maaf kalau terkesan buru-buru," ucap Jesselyn berhati-hati.
"Kalau gitu kamu sudah bisa kemasi barang-barang kamu. Besok setelah pulang kuliah om yang akan antar kamu ketempat kos. Ingat, untuk lima hari. Setiap akhir pekan kamu akan pulang dan kembali lagi ketempat kos pada minggu sore atau senin pagi."
Lagi-lagi Jesselyn melotot mendengar perkataan om-nya.
"Sama seperti kakak kamu, Nadya. Kamu juga seperti itu dan tidak ada bantahan lagi," ucap Bagas mengakhiri kalimatnya.
Meskipun tidak sesuai dengan yang ia harapkan Jesselyn terpaksa mengikuti aturan yang dibuat Bagas.
Setelah selesai berdiskusi Jesselyn langsung ijin ke kamarnya untuk mengemasi perlengkapannya selama lima hari sesuai perintah Bagas sedangkan Leon hanya terdiam saja sejak papanya menyuruhnya untuk tidak bicara. Leon tahu betul jika ia tidak akan pernah bisa melawan keputusan papanya.
Huhhh...
Leon berdiri dan menghembuskan nafasnya berat. "Leon tunangannya, pa. Seharusnya pendapat Leon juga penting dalam hal ini," ucap Leon sembari berjalan membelakangi papanya. Kesal dan marah itulah yang saat ini ia rasakan.
"Papa tidak sejahat itu, Leon!" ucap Bagas dengan suara baritonya, menghentikan langkah Leon yang akan meninggalkan ruang tamu.
"Tidak jahat tapi misahin, iyakan?"
"Kontrakan yang di daerah X, dia akan tinggal disana. Papa akan hubungi pak Asep untuk mempersiapkan apa yang ia butuhkan dan memintanya agar jangan sampai Jesselyn tahu tempat itu milik keluarga kita. Bagaimana, kamu puas?"
Leon tidak percaya dengan apa yang sudah direncanakan papanya. Bagaimana bisa papanya berpikir secepat itu sebelum membuat keputusan tadi.
"Ngak sama sekali!" jawab Leon meneruskan langkahnya namun ada sedikit kelegaan dihatinya setelah mendengar apa yang dikatakan papanya barusan.
Peace✌️and love❤️ for you all...
terimakasih masih mengikuti ceritaku yang masih biasa-biasa ini. Meskipun begitu aku puas karena hasil merah otak dan pikiran sendiri ditambah haluku yang takkan lekang oleh waktu.
Terimakasih untuk semua yang masih support.
__ADS_1