
Hampir pukul sepuluh malam, Leon masih saja menatap langit malam yang gelap tanpa bintang dari balkonnya. Matanya menerawang mengingat perkataan Jesselyn saat mereka tiba dirumah tadi.
"Jangan dekat dan jangan pernah diantar pulang sama cowok lain dan terutama dia!" ucap Leon saat Jesselyn turun dari motor.
"Kamu dengar ngak? Jawab?" Menarik tangan Jesselyn yang akan memasuki rumah.
Suara bentakan Leon membuat Jesselyn terperanjat dan sontak menatap jengah pada Leon.
"Kak Leon Kenapa sih harus jadi orang yang ngeselin kalau bisa jadi orang yang baik? Kenapa harus bentak kalau bisa lembut? Jesselyn heran kenapa kak Leon bisa ngak suka aku? Kalau kakak marah, marah sama aku aja, jangan ikutan marah ke teman aku seperti tadi. Leo itu orang baik, om dan tante aja ngak masalah dan ngizinin aku buat bergaul dengan dia. Cuman ada Leo yang aku kenal diluar sana kak, dari dulu sampai sekarang kak Leon selalu aja begini, selalu marahin aku ngak jelas, selalu dingin dan cuek kalau aku ajak ngomong. Ternyata aku salah ngira kak Leon itu udah berubah, bisa anggap aku adik seperti ke kak Nadya." Jesselyn menumpahkan kekesalannya dengan sesenggukan.
"Kalau ngomong jangan nangis. Kamu buat aku jadi orang yang paling jahat dengan kamu nangis," Leon yang tadinya emosi menjadi bingung melihat Jesselyn menjadi sesegukan.
"Iya, memang jahat. Kakak orang jahat, kakak jahat sama aku," menangis sambil memberontak agar tangannya dilepas.
"Bisa diam ngak? Aku bilang jangan nangis?" semakin meninggikan suaranya dan menatap mata Jesselyn tajam.
"Lepasin dulu baru aku diam!"
Tak tahan melihat Jesselyn menangis Leon akhirnya melepaskan tangannya dan membiarkan Jesselyn lari ke kamarnya. Untung saja saat itu Lena sedang menghadiri acara pernikahan salah satu kerabat mereka dan akan pulang larut malam bersama Bagas suaminya, jadi kejadian itu tidak diketahui siapa pun.
"Tunggu?" cekal Leon saat Jesselyn berlari namun tidak dihiraukan.
"Aku ngak suka kak Leon. Aku ngak suka dan benci kak Leon," teriak Jesselyn.
Duarrr....
Kalimat itu bagaikan petir kedua setelah suara Bagas saat marah.
Pukul sepuluh malam Leon masih saja terjaga, dia mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya.
Dikamar sebelah, Jesselyn masih belum juga selesai menangis sejak pertengkarannya dengan Leon saat tiba dirumah tadi.
Sama seperti Leon, ia juga melewatkan makan malamnya karena tidak ingin bertemu Leon saat dibawah.
"Tenang Jes, tenang...kamu kenapa jadi cengeng begini sih? Hiks....hiks...hiks...."
Jesselyn menangis sambil melepas pakaian yang ia gunakan ke kampus, pasalnya sejak masuk kamar ia hanya menangis, tertidur dan kembali menangis.
"Ini apaan lagi?" ucapnya saat membuka ikatan rambutnya yang ikat tujuh.
Dengan langkah malas ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai ia memakai pakaian yang agak longgar tanpa bra dan celana pendek diatas lutut. Ia naik ke atas tempat tidurnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia mencoba memejamkan matanya yang walaupun sudah selesai mandi namun masih memerah karena menangis.
Jesselyn kembali mengingat tujuannya ke rumah Bagas untuk melanjutkan sekolah dan mendapatkan gelar sarjana demi masa depan dan harapan ibunya yang ingin melihatnya bahagia.
Tanpa sadar air matanya kembali jatuh, ia menggigit kukunya dalam selimut diiringi isak tangis sampai ia mendengar ketukan pada pintu kamarnya.
Tok...tok...tok...
Mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya Jesselyn langsung membuka selimutnya. Ia hanya diam menanti suara orang yang mengetuk.
Tok...tok...tok....
Jesselyn tetap tidak menyahut apalagi membuka pintu kamar yang sebenarnya tidak terkunci. Hingga ia kembali mendengar ketukan yang lebih keras diikuti suara perintah untuk membuka pintu.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
"Buka pintunya, aku tahu kamu belum tidur!" Ucap Leon yang sedari tadi mengetuk pintu kamar Jesselyn.
"Aku bilang buka, ayo cepat buka?" semakin menaikkan suaranya karena tidak ada respon dari Jesselyn.
Mengetahui ternyata Leon adalah orang yang mengetuk pintunya sedari tadi, ia semakin malas dan kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Ia menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.
Jangankan untuk membuka atau merespon panggilan Leon, beranjak dari tempat tidurnya saja ia tak ingin.
"Kamu tuli atau sudah mati di dalam makanya ngak bisa nyahut, hah? Ayo jawab dan buka pintunya?"
"Yang tuli itu hati kakak, dan yang mati itu perasaan kakak," gumam Jesselyn merasa geram atas perkataan Leon.
Karena tidak ada respon dari sang pemilik kamar tanpa bertanya terlebih dahahu Leon mencoba membuka pintu dan ia cukup senang mengetahui pintu tersebut hanya tertutup tanpa dikunci.
Langsung saja Leon menerobos masuk dan melihat selimut yang menutupi tubuh seseorang diatas tempat tidur.
"Bangun, ayo bangun?" ucap Leon dengan berdecak pinggang.
"Kamu belum makan, apa kamu mau sakit dan buat mama khawatir, hah? buka selimutnya?"
"Makan aja sana, aku sudah kenyang hanya dengan mendengar bentakan kakak, lagian aku juga ngak lapar," jawab Jesselyn pelan dari dalam selimut.
"Jangan membantah, ayo turun dan makan!"
Melihat tidak ada reaksi yang ditunjukkan Jesselyn, dengan kedua tangannya Leon menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Jesselyn dan melemparnya kelantai.
Leon terkejut melihat penampilan Jesselyn yang mengenakan celana pendek diatas lutut yang hampir tertutupi atasannya.
"Oh ****!" membuang pandangannya selama beberapa detik dan kembali melihat Jesselyn yang tidak bergerak sama sekali.
Leon menarik kaki Jesselyn agar berdiri namun baju yang dikenakan Jesselyn malah tersingkap sehingga menunjukkan bagian pinggang dan perut ratanya.
"****!" gumam Leon menggaruk leher bagian belakangnya yang tidak gatal.
"Kenapa tubuhku tegang dan wajahku terasa panas?" Leon berkata dalam hatinya.
Leon merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, jantungnya berdegup dengan kencang dan seolah ada tali yang menarik matanya untuk kembali melihat tubuh Jesselyn yang terekspose walaupun akal sehatnya berkata jangan.
Wajahnya memanas dan serasa hampir terbakar ditambah lagi saat kedua bola matanya melihat jelas paha putih dan mulus Jesselyn.
Mengetahui hal tersebut dengan sigap Jesselyn menurunkan bajunya dan berdiri tepat dihadapan Leon yang mematung.
Jesselyn terkejut, ia gugup dengan apa yang baru saja terjadi. Untung saja Leon langsung melepaskan tangannya dari kaki Jesselyn kalau tidak, mungkin bukan hanya bagian pinggang sampai perut Jesselyn yang terlihat.
"Hampir saja," ucap Jesselyn dalam hatinya. Tidak dapat dibayangkannya apa yang mungkin saja bisa terlihat lagi oleh Leon.
"Ma-makanya lain kali kalau dipanggil langsung nyahut jangan diam," kata Leon dengan gugup membelakangi Jesselyn.
"Maaf"
"Maaf?" tanya Leon tak mengerti.
"Iya, 'maaf' bukannya kakak seharusnya bilang maaf alih-alih nyalahin aku?"
"Bu-buat apa?" tanya Leon bingung.
"Sudah masuk sembarangan ke kamar aku, narik kaki aku dengan kasar dan sudah melihat..." Jesselyn terdiam tidak mampu melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Lihat apa, hah? Lihat apa? Ngak ada yang bisa dilihat dari tubuh kamu, sekalipun ada pastinya tidak ada menarik-menariknya. Sama sekali tidak mena..menarik." Leon berbalik berkata pada Jesselyn dengan jari telunjuknya meneliti dari atas hingga bawah tubuh Jesselyn.
Ucapannya terputus saat telunjuknya mengarah keatas tepat bagian dada gadis yang hampir berusia delapan belas tahun itu.
Leon dapat mengetahui bahwa bagian dada Jesselyn tidak menggunakan penutupnya dari luar pakaian longgar tersebut. Matanya terpejam saat melihat bagian dada Jesselyn yang menonjol seakan menantangnya.
Justru sebaliknya Jesselyn tidak menyadari hal tersebut saat Leon tertegun melihat bagian dadanya.
"Ganti baju dan turun kebawah buat makan," ucap Leon tiba-tiba menutupi kegugupannya dan membelakangi Jesselyn.
"Ngak lapar!" jawab Jesselyn berbohong.
"Jangan buat orang lain susah dengan jadi anak keras kepala!"
"Siapa yang keras kepala? Yang ada kakak yang seperti anak kecil," berjalan memungut selimut yang tadi dilempar Leon. "Marah-marah ngak jelas, seperti anak TK."
"Kalau bicara jangan asal, kamu yang seperti anak kecil. Kamu pikir aku ngak tahu kalau kamu sering nangis kalau lagi di dalam kamar? Apa namanya kalau bukan anak kecil? Cengeng!"
"Setidaknya aku ngak pernah marah-marah tanpa alasan yang jelas. Bukan seperti anak kecil yang aku kenal yang kerjaannya sering marah ngak jelas dan kalau ngomong selalu ketus. Tapi ngak masalah, aku bisa maklumin karena dia masih kecil. Anak kecil kan suka ngambek ngak jelas," balas Jesselyn tak mau kalah dari Leon.
Menyadari anak kecil yang dimaksud adalah dirinya membuat Leon marah dan berdecak kesal dengan matanya menatap langit-langit kamar Jesselyn.
"Maksud kamu aku? Ck, bukannya aku sudah bilang jangan asal bicara ya? Kamu malah samain aku seperti anak kecil sekarang."
"Iya, kenapa? Memang kenyataanya kan? Kak Leon ngak ada bedanya sama anak kecil."
Tak tahan dan terima dirinya selalu dikatakan anak kecil, Leon membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Jesselyn dengan langkah yang begitu cepat ditambah amarah yang mulai menghampirinya.
"Tadi kamu bilang aku seperti apa?" tanya Leon yang sudah mencengkram kuat tangan Jesselyn.
"Seperti anak kecil," jawab Jesselyn tanpa rasa takut.
"Coba kamu bilang sekali lagi seperti apa?"
"Lepas kak," tidak menjawab pertanyaan Leon lagi karena mulai takut akan tatapan yang diberikan Leon padanya. "Tolong lepas kak, maaf kak," ucap Jesselyn ketakutan.
"Maaf? Maaf kamu sudah terlambat!"
Leon semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jesselyn hingga kini hanya udara yang yang menjadi jarak diantara mereka. Leon menatap mata Jesselyn penuh arti membuat jantung Jesselyn seolah berpacu.
Jesselyn membelalakkan kedua matanya saat pria di hadapannya mendaratkan bibirnya di bibir miliknya. Tubuhnya berdesir dan seolah membeku namun ia tersadar saat mata mereka saling bertemu.
Jesselyn berontak berusaha melepaskan dirinya dan itu berhasil. Ia mendorong tubuh Leon agar menjauh darinya namun dengan sigap Leon sudah kembali menarik dan mencengkram tangan kiri Jesselyn sedangkan tangan yang satunya lagi berada di bagian belakang leher.
Leon kembali mendaratkan ciuman dibibir Jesselyn, menciumnya dengan kasar. Saat akan berontak Leon menarik pinggang Jesselyn dan semakin mengeratkan pelukannya.
Jesselyn yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya memejamkan matanya merasakan sensasi aneh pada dirinya tanpa sedikit pun membalas ciuman yang Leon berikan. Ia bahkan merasakan sesak karena dada mereka yang menempel.
Leon yang masih mencium bibir Jesselyn dapat merasakan bagian dada Jesselyn yang tanpa penutupnya menempel di dadanya.
Ditengah-tengah ciumannya dengan nafas yang masih memburu Leon tiba-tiba berhenti, ia melepaskan Jesselyn dari pelukannya dan berjalan keluar meninggalkan kamar Jesselyn juga pemiliknya yang berdiri mematung sambil memegangi bibirnya.
"****!" umpat Leon lagi saat meninggalkan kamar Jesselyn dan mengacak-acak rambutnya.
...Happy reading ya......
...jangan lupa kasih jempolnya!!!...
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️ buat kamu....