
Dengan langkah malas Jesselyn berjalan ke kamar mandi dengan segelas air putih ditangan. Suara muntahan dari Leon masih terdengar dari dalam kamar mandi.
Sudah seperti orang lagi hamil saja, begitulah pikir Jesselyn dalam hatinya.
Dilihatnya Leon sedang membungkuk menghadap wastafel.
Uekk... Uekk... Uekk...
"Ini" ucap Jesselyn menyodorkan gelas ditangannya. Meskipun jarak mereka begitu dekat namun Jesselyn sama sekali tidak melihat kearah Leon, ia membuang pandangannya kearah yang berlawanan.
Leon menyalakan keran dan membasuh bersih mulutnya bahkan tak lupa juga berkumur.
arghhhh....
Suara erangan Leon berhasil menarik perhatian Jesselyn apalagi melihat tubuh Leon yang runtuh disampingnya.
Rasa panik menghinggapi Jesselyn, refleks ia memutar kepalanya menghadap Leon yang sudah terduduk dilantai dengan menyandarkan tubuhnya pada tembok.
"Sakit" ucap Leon mengelus dadanya.
"Minum kak," Jesselyn mendekatkan gelas pada bibir Leon. Setelah kosong Jesselyn meletakkan gelas tersebut diatas wastafel. Tanpa bertanya dan berkata apapun lagi ia membantu Leon berdiri dan membawanya ke sofa.
Kesempatan itu tidak disia-siakan begitu saja oleh Leon. Sedetik pun bersama Jesselyn belakangan ini merupakan sesuatu yang sangat berharga baginya. Ia merindukan saat-saat bergelayut manja pada Jesselyn.
"Kak, jangan seperti ini," protes Jesselyn saat tangannya ditarik dan terjatuh diatas pangkuan Leon. "Aku sudah bilang aku tidak suka ditempeli kak Leon karena itu membuatku risih," lanjut Jesselyn melepas kedua tangan Leon yang melingkar diperutnya.
"Tapi aku suka, tida perduli apa pendapat dan pandanganmu terhadapku sekarang yang jelas aku akan tetap melakukan apa yang ingin dan harus aku lakukan," Leon semakin mengeratkan kedua tangannya.
Leon menempelkan wajahnya dibagian belakang tubuh Jesselyn, menghirup wangi tubuhnya yang begitu menenangkan baginya. Leon menarik sebelah tangannya mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Aku ngak mau, kak. Jangan buat aku menjadi semakin jahat sama kak Leon karena sudah memaksa aku," Jesselyn menggenggam kedua telapak tangannya sekuat tenaga menghalangi cincin yang berusaha dimasukkan ke jarinya.
"Jangan seperti ini, aku tidak ada kaitannya dengan kejadian masa lalu. Aku hanya ingin kamu melihatku saja," pinta Leon berusaha membuka genggaman tangan Jesselyn.
"Tapi kak Leon anaknya tante Lena!" ucap Jesselyn menekan kalimatnya. Spontan Leon terperangah dan menghentikan aksinya. Tubuhnya lemas dan tak bertenaga mendengar perkataan Jesselyn.
Merasakan tidak ada pergerakan dari Leon dengan cepat Jesselyn berdiri dan menjauh. Air mata yang lolos begitu saja dari pelupuk mata Leon, tidak dilihat oleh Jesselyn karena langsung menuju meja makan untuk membersihkan bekas makan mereka tadi.
Huff...
__ADS_1
Satu persatu piring kotor mulai dicuci dan di bilasnya namun siapa sangka jika tiba-tiba Leon muncul dan memeluknya dari belakang.
"Ahhh..., kak..." suara lenguhan spontan keluar dari mulut gadis itu.
Begitu kasar Leon menyibakkan rambut Jesselyn, memperlihatkan putih, bersih dan mulus leher jenjang milik gadis dihadapannya.
Leon menciumi bagian leher Jesselyn hingga berakhir menggigit-gigit kecil telinganya.
"Lakukan apapun yang akan membuatmu terlihat jahat padaku dan sebaliknya aku akan melakukan apapun yang ingin aku lakukan," ucap Leon saat mengakhiri aksinya. "You are mine"
Jesselyn terkulai lemas setelah kepergian Leon. Pikirannya melayang pada kata-kata yang diucapkan Leon. Setelah hampir lima menit ia kembali pada kesadarannya karena melihat sponse cuci piring ditangannya.
****
Melihat penampilan Leon yang begitu rapi membuat pandangan semua orang yang ada dimeja makan menjurus padanya tak terkecuali Jesselyn.
"Kamu mau kemana, nak?" tanya Lena yang sedang mengisi gelas kosong suaminya.
"Kerja" ucap Leon malas. Semalam rencananya gagal untuk memberikan kejutan mengenai dirinya yang diterima di perusahaan terkemuka dan akan mulai bekerja hari ini. Pakaian rapi yang menempel ditubuhnya terlihat kontras dengan wajahnya yang tak bersemangat.
"Kamu yakin tidak mau bantu papa saja diperusahaan kita?" tanya Bagas masih berharap jika Leon akan mempertimbangkan tawarannya lagi.
Leon menggelengkan kepala menolak tawaran papanya.
Sejujurnya meskipun sering tidak sepemikiran dengan Leon, Bagas sangat menyukai kepribadian Leon. Tanpa sepengetahuan Leon, papanya selalu menyanjung dan membanggakannya kepada rekan-rekan bisnisnya.
"Selamat ya, nak. Mama yakin kamu pasti bisa melakukan pekerjaanmu dengan baik."
Lagi-lagi Leon hanya menganggukkan kepala.
"Leon pergi ya," ucap Leon pamit setelah hanya menghabiskan teh hijau miliknya.
"Ngak makan dulu, nak?"
"Ngak usah, ma. Leon lagi ngak berselera," jawab Leon melirik pada Jesselyn yang baru saja menghabiskan sarapannya.
****
Setibanya di kantor tempatnya bekerja Leon disambut hangat oleh rekan-rekan dan seniornya. Hari pertama Leon sudah disuguhkan dengan seabrek pekerjaan. Dia diminta untuk membuat design rumah istri kedua seorang anggota dewan dan harus meninjau langsung lokasinya hari itu juga agar tidak terjadi kesalahan. Meskipun begitu lelah bolak-balik ketempat kerja namun semuanya berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Pukul lima sore Leon akhirnya bernafas lega karena waktu bekerja sudah berakhir.
"Balik yok, sekalian gue nebeng sama lo. Baru beberapa hari ngak ketemu gue sudah kangen sama sohib gue ini," ucap Adit menaik-turunkan kedua alisnya.
"Tapi gue ngak kangen sama lo, gue nyesel ajak lo buat ikut ngelamar kerja disini kemarin. Selain dikampus dulu gue juga harus ketemu lo ditempat kerja sekarang."
"Sensi amat sih, Yon? Lagi datang bulan lo, ya?" ledek Adit tersenyum jahil.
Keduanya berjalan beriringan sambil keluar dari ruangan tempat mereka bekerja.
Ditengah jalan mereka singgah disalah satu tempat nongkrong untuk sekedar melepas lelah dihari pertama mereka bekerja.
"Bisa gabung ngak?" tanya seorang gadis yang berdiri dibelakang Leon.
"Bela?" seru Adit menyebut nama gadis itu.
Mendengar nama Bela, Leon memutar tubuhnya dan mendongakkan kepalanya keatas.
"So, bisa gabung?" tanya Bela lagi meminta persetujuan keduanya.
Adit melirik Leon menaikkan kedua alisnya. Leon mengerti dan menganggukkan kepalanya.
"Bisa kok, Bel. Duduk aja," ucap Adit mempersilahkan.
"Thanks ya," Bela menarik kursi disamping kanan Leon untuk duduk.
Adit yang paham situasi canggung antar Leon dan Bela berusaha mencairkan suasana. Baik Leon maupun Bela keduanya adalah teman baik Adit saat dikampus dulu. Kini ketiganya begitu asik mengobrol dan mengenang masa-masa saat mereka kuliah.
****
Hampir pukul sepuluh malam Leon baru tiba dirumah. Karena haus ia menuju dapur untuk mengambil minum. Jesselyn yang juga sedang mengambil minum terkejut melihat penampilan Leon yang begitu lusuh dan acak-acakan.
Setelah meneguk tandas isi gelas ditangannya Jesselyn kembali ke kamarnya.
Hemmm....
Leon menjatuhkan tubuhnya kelantai bersandar pada lemari es dibelakangnya. Leon membuka galeri foto diponselnya. Ia tersenyum melihat setiap foto dirinya bersama Jesselyn, air matanya keluar saat melihat foto yang dia ambil pada malam hari ketika dipantai.
Hahaha...
__ADS_1
Leon tertawa namun air matanya tak berhenti membasahi pipinya.
"Apa aku salah menjadi egois untuk saat ini, hem?" lirih Leon mengusap foto Jesselyn yang ia jadikan sebagai wallpaper ponselnya.