Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Rubah Yang Satu Lagi


__ADS_3

Dia yang awalnya tak pernah kutaruh dalam hati justru kini menjadi pemilik hati ini, mengikatnya dan menguncinya dari yang lain.


Bahagiaku kini sempurna saat akhirnya sempurna juga dia kumiliki.


Bahagiaku menjadi pria pertama dan satu-satunya yang dapat menyentuh dan merasakan madu yang selama ini dia jaga dengan baik.


Terimakasih untuk menjadi kasihku.


Terimakasih untuk menjadi bahagiaku


Terimakasih untuk menjadi milikku.


~ Leon ~


****


Leon yang masih terbungkus dengan selimut bersama wanita yang kini telah sempurna ia miliki tersenyum membisikkan sebuah kalimat ditelinga Jesselyn.


"Terimakasih untuk apa yang baru kita lakukan."


Leon melirik jam dinding dan tersenyum saat melihat waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore.


Pergelutan panjang sejak pagi hari hingga sore hari dilalui keduanya dalam menyatukan cinta dan rasa memiliki satu sama lainnya.


Sudah sejak lima belas menit lalu Leon terbangun dengan wajah segar dan senyum yang terus terulas diwajahnya. Ia mengingat setiap detik kegitan yang baru pertama kali ia lakukan dengan wanita pilihan hatinya.


"Hei..." panggil Leon membangunkan Jesselyn begitu lembut. "Ayo bangun dan buka mata kamu."


Leon gemas dan tertawa kecil melihat tingkah Jesselyn yang berpura-pura masih tidur.


"Ekhem...ayo buka mata kalau tidak aku akan membangunkanmu dengan caraku."


Tak bergeming Jesselyn masih menutup kedua matanya tanpa bergerak sama sekali.


"Baik, sepertinya aku memang harus gunakan caraku untuk bangunin kamu."


Leon memasukkan sebelah tangannya kedalam selimut yang juga digunakan Jesselyn dan dengan lihai meraba-raba tubuh bagian depan Jesselyn.


Enghh...


Jesselyn melenguh saat jemari Leon memainkan ujung gundukannya namun masih tetap menutup kedua matanya. Tak sampai disitu, Leon menyusup kedalam selimut langsung menindih Jesselyn.


"Minggir kak, kakak itu lebih berat dari aku."


Sekuat tenaga yang tersisa


Jesselyn mendorong tubuh Leon yang menghimpit tubuhnya. Ia heran dengan tenaga yang masih dimiliki Leon disaat dirinya begitu sudah tak berdaya.


"Stop kak."


"Kalau aku ngak mau gimana?" goda Leon dengan seringai diwajahnya.


"Aku capek kak, badanku remuk dan ngak kuat," rengek Jesselyn saat Leon membenamkan wajahnya di dada polosnya.


"Maafin kak Leon ya," Leon mengecup kening Jesselyn

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu kak, badanku gerah dan lengket."


Jesselyn mencoba bangkit namun Leon mencegahnya dengan menjatuhkan kembali tubuh Jesselyn. Leon tersenyum memandangi wajah istrinya dengan telunjuk menyusuri wajah lelah Jesselyn.


"Jesselyn," ucap Leon lembut.


"Jesselyn," ucap Leon lagi.


"Jesselyn Anastasya, istriku."


Jesselyn terbaru saat Leon menyebut namanya berulang-ulang. Selama ini Leon sangat jarang menyebut namanya.


"Iya kak, ini aku. Jesselyn Anastasya, istrinya kak Leon."


Setelah saling memandang satu sama lain Jesselyn memeluk Leon, mengalungkan tangannya pada leher sang suami dan menciumi kedua pipinya.


"Aku mandi dulu kak."


Hissss...


Jesselyen mendesis kesakitan merasakan perih dan ngilu pada bagian wanitanya, belum lagi tubuhnya yang begitu remuk seperti sehabis kerja paksa disawah. Digigitnya bibir bagian bawahnya menahan rasa sakit yang semakin menjalar di tubuh.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Leon melihat raut kesakitan pada wajah Jesselyn. "Apa sesakit itu?" lanjutnya penasaran.


"Kalau cuman sekali mungkin ngak bakalan sesakit ini. Sekarang coba kak Leon bayangin, dari pagi sampai sore sudah berapa kali kakak ngelakuinnya?"


"Enak soalnya."


Leon tersenyum lebar mengingat bagaimana buas dan rakusnya ia yang tak lelah menggauli Jesselyn dari pagi hingga sore. Bahkan untuk makan siang saja mereka terpaksa harus lewatkan. Jika orang-orang sedang menikmati makan siang dengan berbagai lauk pauk, Leon justru menjadikan Jesselyn sebagai hidangan makan siangnya sedangkan Jesselyn hanya bisa pasrah menuruti keinginannya.


****


"Kira-kira mereka lagi ngapain ya pa, ngak mungkinkan mereka perang dalam selimut sore-sore begini?"


"Kenapa enggak, mama ingat ngak waktu kita ngelakuinnya untuk pertama kalinya setelah nikah dulu?"


Lena tertawa mengingat bayangan dua puluh tahun lebih yang lalu. Ia tidak menyangka akan kembali mengenang moment bersejarah dalam hidupnya bersama sang suami.


"Ingat pa, jam empat sore."


"Jadi ngak menutup kemungkinan kan buat mereka. Lagian biarin aja mereka, sudah sah dan mumpung lagi berdua ngak ada yang gangguin atau takut kedengeran sama kita."


"Iya sih, pa. Ya sudah, kita lanjut lagi metik tehnya."


Bagas dan Lena sedang memetik teh di perkebunan opa, keduanya menikmati udara dan pemandangan sore perkebunan yang sangat jarang mereka kunjungi.


****


Sepasang orang tua yang sudah lanjut usia duduk bersandar pada bangku kayu goyang di teras rumahnya. Menatap pada luas halaman yang juga menyatu dengan kebun teh milik mereka. Keduanya tersenyum, saling memandang dengan ditemani dua cangkir teh dan sepiring pisang goreng.


"Kenapa kau hanya diam saja sedari tadi, bicaralah kalau ada yang ingin kau sampaikan."


Oma menyeruput teh yang aromanya begitu wangi dan tentu saja dia yang meraciknya sendiri.


"Aku bahagia, aku rasa aku sudah siap jika Tuhan memanggilku."

__ADS_1


"Aku juga merasa seperti itu. Aku begitu bahagia memiliki seorang suami yang setia menemaniku sampai tua. Aku memiliki seorang putra yang baik dan mendapat menantu yang baik dan lembut. Keberadaan Leon dan Jesselyn membuatku semakin bahagia, ditambah lagi dengan cucu menantuku yang seperti rubah."


"Hahaha... Sepertinya kau sangat menyayanginya. Tapi jangan selalu memanggilnya dengan sebutan rubah, dia punya nama yang indah dan cantik."


"Iya, aku tahu itu. Hahaha..."


Keduanya kembali larut dalam keheningan. Angin sore membuat opa yang tidak tidur siang seakan menarik kedua maniknya untuk terlelap.


Opa memejamkan matanya karena merasakn matanya semakin berat. Saat ia hampir terlelap tiba-tiba saja oma mengagetkannya dengan menepuk kuat lengannya.


"Misi kita di dunia belum selesai, opa!"


Oma membulatkan matanya menatap pisang goreng ditangan yang akan ia masukkan ke dalam mulut saat menepuk opa.


"Apa kau tidak bisa bicara lebih pelan, telingaku masih sehat istriku," ucap opa karena terkejut. "Memangnya ada apa?" tanya opa penasaran.


"Kita mendapat rubah tapi rubah yang kita punya masih berkeliaran, belum menemukan kandangnya."


"Bicaralah yang jelas, semakin tua kalimatmu semakin aneh terdengar di telingaku."


"Pisang goreng!"


"Maksudmu apa?"


"Selain aku siapa lagi menurutmu yang sangat menyukai pisang goreng dikeluarga ini?"


"Nadya."


"Benar sekali. Aku harus mencarikan rumah untuk rubah satu itu datangi dan tinggali secepatnya."


Hahaha...


Oma tersenyum membayangkan apa yang akan ia lakukan. Ia bertekad akan menjodohkannya dengan seseorang yang beberapa lama ini ia sering temui. Ia yakin tidak akan gagal dalam misinya ini.


"Berhenti tertawa dan tersenyum mengerikan seperti itu. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini."


"Kenapa, apa aku salah?"


"Apa kau tidak tahu kalau sejak kita sampai tadi, rubahmu yag satu lagi itu langsung melongos berkeliaran mencari pemilik kunci kandangnya?


"Opa, kenapa tidak memberitahuku?"


"Biar dia yang mencari sendiri. Jangan mengusikknya karena rubah yang satu itu berbeda dengan dengan rubah yang dimiliki Leon."


Hahaha...


Kali ini gantian justru opalah yang tertawa membayangkan cucu perempuannya itu.


Sejak mereka tiba dan makan siang tadi, Nadya langsung keluar rumah dan hanya permisi pada opa yang ia temui saat menjemur topi jeraminya yang sedikit lembab disamping rumah kayu milik opa.


Jika Leon dekat dengan oma, maka sebaliknya Nadya lebih dekat dengan opa karena tidak terlalu banyak bicara dan menuntut seperti oma.


"Hei opa, apa kau tahu siapa yang rubah itu temui?"


"Pak Dokter!"

__ADS_1


Opa beranjak dari duduknya meninggalkan oma yang masih terkesiap dengan jawaban opa.


__ADS_2