Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Merapi Aktif


__ADS_3

"Hah...hah...hah..." Adit berjalan terengah-engah. Kakinya seakan ingin lepas. Nafasnya tersengal-sengal dan jantungnya pun seperti ingin meledak. Walaupun begitu Adit masih berusaha menggunakan sisa-sisa akhir dari kekuatannya untuk merebut bola dari tangan Leon. Meskipun pada akhirnya itu hanya sia-sia.


Adit merasakan lututnya kebas dan tak memiliki kekuatan lagi. Jangankan untuk mengejar Leon, hanya untuk berdiri saja pun sudah tak sanggup.


Bruggg..


Adit terjatuh ditengah lapangan basket yang tidak jauh dari kediam keluarga Bagas. Lapangan basket yang bebas digunakan oleh penghuni yang tinggal di kawasan tersebut.


"Hah...hah...hah..., Yon?" panggil Adit sekuat tenaga namun sama sekali tidak terdengar.


"Salah apa aku ya Tuhan, kenapa Engkau mengirimkan teman seperti dia? Dari jutaan manusia kenapa harus aku yang menjadi temannya dan berakhir disini malam ini?" Adit mengutuki dirinya tak henti. Ia menelentangkan tubuhnya, menatap bintang-bintang di langit.


Adit menutup matanya, mencoba rileks untuk mengembalikan tenaganya.


Baru dua menit setelah ia menutup matanya, sepasang tangan tiba-tiba menariknya.


"Bangun!" Leon menarik paksa tangan Adit.


"Gue nyerah Yon, gue ngak sanggup lagi."


"Payah lo, lembek!" ucap Leon kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Adit.


Adit menggeleng-gelengkan kepalanya.


Saat ia memalingkan kepalanya kesebelah Leon, ia tersenyum tipis melihat dada Leon yang naik-turun. Dapat dipastikan jika tenaganya pun sudah terkuras.


"Payah? Hah..." Adit mencebikkan bibirnya ke atas. "Iya, payah memang. Tapi bukan gue, melainkan lo." Adit melipat kedua tangannya dan meletakkannya diatas dadanya.


"Maksud lo?" tanya Leon yang sudah duduk sambil memutar-mutar basket dilantai.


"Kita sudah berteman lama, Yon. Gue tahu banyak tentang lo," kata Adit masih menutup matanya. "Tinggal bilang aja apa susahnya sih, Yon? Gue tahu lo suka sama doi, jadi saran gue mending lo ungkapin aja." kata Adit memberi saran.


"Maksud lo?" tanya Leon yang tidak mengerti arah pembicaraan Adit.

__ADS_1


"Ah, sok ngak ngerti lo,Yon. Lo suka sama Jesselyn kan?"


Buggg...


"Aw!" Adit mengerang kesakitan saat tiba-tiba Leon melemparkan bola basket tepat kearah perutnya. Adit mengangkat kepalanya dan duduk sambil memegangi perutnya.


"Gila lo bro, kalau gue keguguran gimana? Sakit!" gerutu Adit.


"Lo yang gila, bukan gue." Leon berkata begitu lantang. Dia berdiri tepat dihadapan Adit. "Dan satu lagi, gue ngak suka sama dia. Gue ngak tertarik sama dia, gue ngak ada rasa sama dia." Leon berbicara seperti orang yang sedang emosi. Bahkan dia sambil menunjuk-nunjuk Adit saat berbicara.


"Yon? Apa salahnya sih ngakuinnya? Ngak ada yang salah kalau lo suka sama Jesselyn?" Adit menatap wajah Leon tak suka. "Apalagi dengan hari ini, itu sudah cukup buat semua orang ketahui kalau lo itu suka sama Jesselyn. Lo ngak suka kalau dia dekat sama cowok lain."


"Ngak!" bantah Leon penuh keyakinan.


"Terus kenapa tadi lo kesal waktu si Leo dekat dengan Jesselyn? Kenapa lo jadi ikut nonton waktu gue bisikin kalau si Jesselyn bisa diembat cowok lain? Kenapa?" tany Adit bertubi-tubi.


"Dit?" teriak Leon memekakkan telinga.


"Lo suka dia,Yon! Lo cemburu!"


"Hah...." Adit menghela nafasnya dan berdiri menghadap Leon.


"Lo, yakin ngak ada dia disini, Yon?" tanya Adit lembut sambil menunjuk-nunjuk dada Leon dengan jarinya.


"Ngak!" jawab Leon singkat.


Adit berjalan mengelilingi Leon. Setelah berputar, ia berdiri dibelakang Leon dengan posisi menghadap.


"Gue tanya sekali lagi, Yon. Jangan jawab gue, lo jawab aja sendiri di dalam hati," kata Adit pada Leon yang setia dengan bola basket ditangannya. Adit berusaha agar Leon jujur pada hatinya. Tidak ingin melihat sahabatnya itu seperti Merapi aktif yang kapan saja bisa meledak.


"Lo suka sama Jesselyn, iya kan?" tanya Leon memastikan.


"Ngak!" jawab Leon mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Jawab dalam hati lo aja, Yon." Adit memperingatkan. "Iya, lo emang ngak suka. Sorry!" Adit menepuk-nepuk pundak Leon. "Tapi lo sayang kan sama Jesselyn?" tanya Adit lagi tak mau menyerah.


"Gue bilang kalau......"


"Jawab dalam hati lo aja, Yon." memotong perkataan Leon. "Hemm...., kalau memang ngak suka, seharusnya gue ngak menghalanginya tadi." kata Leon seperti menyesali sesuatu.


"Makssud Lo?" tanya Leon mengerutkan dahinya.


"Iya, harusnya gue biarin aja si Leo cium si Jesselyn waktu nonton tadi," berbisik dekat telinga Leon. Ia bermaksud memanaskan merepi yang sudah hampir meletus itu.


"Lo bisa bayangin ngak kalau bibir Jesselyn dicium sama si Leo? Lo tahu kan kalau ciuman anak jaman sekarang itu gimana?" Adit semakin memanas-manasi Leon yang ia tahu sudah mulai kesal. Pasalnya Adit melihat Leon mengepalkan tangannya.


"Liar dan menuntut" ucap Adit menahan tawa.


Leon membalikkan tubuhnya menghadap Adit. Matanya menatap tajam. "Masih sanggup main atau lo pulang sekarang?" ucap leon memberi pilihan.


"Gue aja suka sama Jesselyn, manis dan imut. Apalagi bibir dia saat tersenyum, semakin manis, Yon." lagi-lagi Adit berkata tanpa menghiraukan perkataan Leon. "Tapi sayang, gue kalah cepat dari si Leo," memasang wajah sedihnya.


"Lo mau manas-manasin gue kan? Ngak mempan!" Leon tersulut emosi.


"Ya sudah, kenapa lo emosi? Biasa aja dong? "


"Main lagi!" Leon melempar bola basket dan langsung ditangkap Adit dengan sigap.


"Gue nyerah!" melempar kembali bola tersebut pada Leon. "Gue pulang, bisa gila gue semakin lama disini."


"Pulang sana," ucap Leon memainkan bola basket ditangannya.


Adit pergi meninggalkan Leon sendiri di lapangan basket. Ia hanya ingin cepat pulang dan tiba dirumah. Tubuhnya serasa remuk saat bermain basket dengan Leon. Ia ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya.


"Sok bilang ngak cemburu, buktinya gue harus ngeladeni dia main basket. Orang gila mana yang kuat main basket hampir dua jam tanpa berhenti? Oh iya, ada satu orang. Sayangnya orang gila itu malah sohib gue, yang kalau lagi ada masalah dilampiaskan dengan bermain basket baik itu dengan teman ataupun sendiri." Adit komat-kamit menuju tempat motornya ia parkirkan.


Leon kembali bermain basket sendiri. Setengah dua belas malam baru ia menyudahi permainannya dan kembali kerumah.

__ADS_1


...Hai..hai..hai... terimakasih untuk yang tetap setia baca kelanjutan cerita ini ya??? Jangan lupa untuk like dan memberi komentar yang membangun ya??...


...sekali lagi, terimakasih ❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2