Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Mawar Putih


__ADS_3

"Kak Leon dengar ngak? Aku bilang buka pintunya? Tolong kak?" pinta Jesselyn menggoyang-goyang lengan kiri Leon.


"Iya, bakal aku bukain tapi tunggu bentar!" ucap Leon dengan wajah kesal.


"Tunggu apa lagi sih kak? Kakak ngak lihat mereka sudah nunggu lama disana?" menunjuk orang-orang yang dimaksud.


Leon memejamkan matanya, menyandarkan kepala kebelakang. Memijit keningnya menggunakan dua jari dan memikirkan sesuatu.


Kesempatan itu justru tidak disia-siakan Jesselyn untuk membuka mobil. Dia langsung menekan knop di sebelah Leon. Tangan yang satunya dengan cepat membuka pintu sebelah kirinya dan keluar dari mobil.


"Siall!" umpat Leon melihat pintu sebelah kirinya terbuka. Ia memukul kemudi mobil kesal. Jesselyn yang sudah berhasil keluar, berlari menuju orang-orang yang sudah menunggunya.


"Jangan lari, nanti kamu jatuh?" pekik Lena saat Jesselyn berlari mendahuluinya. Merasa bingung, Lena menoleh kebelakang dan mendapati Leon berdiri disamping pintu mobil dengan wajah kesal.


****


"Surprise....." ucap Nadya dan Sinta serempak menyambut Jesselyn. Gadis itu menghambur memeluk keduanya."


"Huhuhu...Aku kangen banget sama kamu, Jes. Jangan sakit lagi ya? Soalnya kalau kamu sakit, aku ngak ada teman buat ngegibah di kampus. Ngerti maksud aku kan?" ucap Sinta mengeratkan pelukannya sedangkan Nadya hanya tertawa mendengar perkataan Sinta.


"Iya-iya! Lagian aku hanya kecapean kok, Sin? Buktinya aku sudah pulang kerumah dan lihat, aku baik-baik aja. semua yang ada di tubuhku masih lengkap." Jesselyn melepas pelukannya dan memutar tubuhnya di hadapan mereka.


"Hehehe...bagus deh, kita semua senang dengarnya. Iya kan kak, Nad?" Nadya mengganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Sinta.


"Kak Adit juga disini?" tanya Jesselyn yang juga melihat keberadaan Adit.


"Iya. Tadinya cuman mau ketemu sama dia," menunjuk Leon yang berjalan menghampiri mereka dengan dagunya. "Tapi jadi sekalian deh nungguin kamu karena mereka bilang kamu dari semalam ada dirumah sakit dan pulang sekarang."


"Makasih kak! Aku sudah sehat dan baik-baik aja sekarang," ucap Jesselyn berterima kasih.


"Buat kamu."


Leo menyerahkan mawar merah yang ada ditangannya.


"Cie....suit-suit!" seru Sinta menggoda Jesselyn.


Pipi Jesselyn memerah seperti tomat. Merasakan panas diwajahnya akibat godaan Sinta. Mawar dihadapannya belum diambil karena malu. Ini adalah pertama kalinya bagi Jesselyn menerima bunga dari seorang pria.


"Ini" ucap Leo kembali memberikan bungan pada Jesselyn.


Jesselyn meraihnya dari tangan Leo. Tersenyum melihat bunga yang sudah ada ditangannya.


"Suka ngak?" tanya Leo memastikan.


"Suka! Makasih ya, Le."


"Iya, aku senang kamu juga suka bunganya." Leo tersenyum penuh kemenangan. Mengusap pucuk kepala gadis itu lembut. Sekilas matanya melirik leon yang sudah berdiri di samping Jesselyn.


"Ehem-ehem... roman-romannya bakal ada yang mau jadian nih," celetuk Sinta melihat kedua temannya itu. Sinta tidak menyadari jika Adit memelototinya


"Hust" panggil Adit memberi kode agar Sinta menutup mulutnya namun sama sekali tidak ditanggapi Sinta.


"Diam!" lanjut Adit menempelkan jari telunjuk dibibirnya sendiri agar Sinta mengerti. Namun lagi-lagi Sinta masah bodoh dengan kode yang ditunjukkan Adit.

__ADS_1


"Kenapa diluar aja, ayo masuk!" ajak Lena pada semuanya.


Semuanya mengekori sang nyonya rumah masuk kedalam. Sinta menggandeng tangan Jesselyn dan berjalan beriringan


"Lihat, dia terima dan suka bunga yang aku kasih, kak!" bisik Leo ke Leon.


Langkah keduanya terhenti dan saling memandang. Leo tersenyum penuh kemenangan sedangkan Leon mengepalkan kedua tangannya kesal. Leon menarik kerah jaket Leo dengan penuh emosi namun ia mencoba menenangkan pikiran dan hatinya untuk tidak melakukan kesalahan dengan mendaratkan tangannya diwajah Leo.


"Ma-masuk! Jangan buat ribut lo berdua," lerai Adit melepas tangan Leon dari kerah jaket Leo. "Lo juga, Yon. Sabar!"


Brak


Leon menendang dan memecahkan salah satu pot bunga kesayangan mamanya. Melampiaskan kemarahannya pada pot malang tersebut.


"Woi? Mau kemana lo?" panggil Adit melihat Leon pergi membawa mobil namun tak ditanggapi Leon.


Adit menggaruk kepala dan mengacak rambutnya. "Lo juga," hardik Adit pada Leo.


****


Argggghhhh........


Teriakan Leon memenuhi mobil yang ia kemudikan. Leon semakin menambah laju kecepatan mobilnya. Bayangan wajah Jesselyn tersenyum saat menerima bunga pemberian dari Leo begitu jelas diingatannya.


Chhitttt.....


Mengerem mobilnya mendadak. Leon menepikan mobilnya dijalan yang tidak begitu banyak dilalui kendaraan.



Satu bouquet mawar putih terpampang dihadapannya. "Ck" mengambil bunga dari dalam bagasi dan tanpa berpikir menghempaskannya. Leon menginjak-injak mawar putih yang ia beli pagi tadi saat Jesselyn masih tidur.


Kini satu bouquet mawar putih yang begitu indah sudah tak berbentuk lagi hanya dalam hitungan detik.


****


Tawa dan candaan memenuhi ruang tamu keluar Bagas. Nadya bahkan sempat menawarkan untuk nonton drama Korea baru di laptopnya namun dengan jelas ditolak oleh Jesselyn dan Sinta. Bukan menolak karena tidak suka, hanya saja keberadaan Leo dan Adit yang menjadi alasan mereka.


"Ngomong-ngomong kamu pakai jaket siapa, Jes?" tanya Sinta tertawa. "Habis nyolong punya siapa?"


"Hehe...ini punya kak Leon, disuruh pakai waktu mau pulang dari rumah sakit."


"Oh, jaket kak Leon? Tapi ngomong-ngomong kak Leonnya mana? Perasaan tadi ada," tanya Nadya mencari keberadaan kakaknya.


"Kak Leon kemana, kak?" tanya Nadya kemudian ke Adit.


"Mana gue tahu, sudah meledak mungkin."


"Serius dong, kak?"


"Gue juga serius!" jawab Adit malas.


Nadya memajukan bibirnya, cemberut mendengar jawaban tak masuk akal Adit.

__ADS_1


"Kamu ngak gerah dari tadi pakai jaket terus? Lepasin aja atau mau aku bantu?" kata Leo tak suka melihat jaket yang dipakai Jesselyn.


"Ngak kok, justru jadi nyaman rasanya." Jesselyn memeluk erat tubuhnya yang memakai jaket Leon.


"Apalagi kalau yang punya jaket yang kamu peluk, wihhh...bakalan lebih hangat lagi pastinya. Percaya deh sama kak Adit," timpal Adit karena tak suka mendengar perkataan Leo.


"Kak Adit jangan aneh-aneh deh, ada Leo juga disini. Jaga perasaannya dong, kak?" protes Sinta atas ucapan Adit.


"Emang mereka pacaran? Enggak kan?Kalau gitu gue ngak salah dong, lagian gue cuman ngomong. Mau dia ngelakuin atau tidak ya terserah dia."


"Kenapa jadi malah berantem sih, awas loh nanti pada saling suka!" ucap Nadya menggoda Adit dan Sinta. "Gue sumpahin lo berdua juga jadian! Hahaha...." lanjut Nadya tak dapat menahan tawanya.


Hoamm...


Jesselyn menguap, rasa kantuknya tak dapat ia tahan.


"Kamu ngantuk? Tidur aja sana, kamu juga masih harus banyak istirahat kan?" kata Leo tak tega melihat Jesselyn harus menahan kantuknya karena kehadiran mereka.


"Iya, Le. Aku ngantuk banget. Maaf ya?"


"Ngak kok, kami juga mau pulang. Iyakan, Sin?" Leo mengangkat kedua alisnya memberi kode ke Sinta.


"Iya, Jes! Banyak tugas kampus. Nanti aku kirim soal-soalnya ke kamu via email, oke?"


"Makasih ya, Sin? Kalau gitu aku ke atas buat istirahat."


"Ini, Jes. Bunganya hampir ketinggalan," ucap Sinta karena melihat bunga yang diberikan Leo hampir ditinggal Jesselyn.


"Oh, iya." Jesselyn mengambil mawar tersebut dan membawa ke kamarnya.


Setelah Jesselyn pergi ke kamar, Leo, Sinta dan Adit pun pulang. Sinta pulang diantar Leo sedangkan Adit mengendarai motornya kearah lapangan basket yang tak jauh dari rumah Leon.


****


"Kenapa? Dada lo sesak dan hati lo sakit?" ucap Adit keras setibanya ia di lapangan basket. Seperti yang sudah ia duga, Leon pasti berada disana. "Makanya lo ngomong. Jujur dan jangan ditahan. Untuk hal beginian lo memang payah! Apa mesti gue yang ajarin? Percuma lo tiap semester dapat IPK tertinggi."


Leon menghentikan permainan tunggalnya dan melempar bola ditangannya ke Adit.


"Lama-lama bisa gila lo, Yon!" melempar kembali bola yang diterimanya tadi.


"Mau kemana, lo?"


"Pulang! Gue ngak mau ikutan gila karena punya teman gila." Leo meninggalkan Leon sendirian. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Halo, sorry gue ganggu. Bisa ngomong bentar sama Jesselyn?"


"Ada perlu apa kak? Bukannya tadi baru ketemu?" ucap Nadya dari seberang telepon.


"Udah, cepetan. Kalau ngak mau lihat kakak kamu jadi gila mending kamu minta Jesselyn buat datang ke lapangan basket dekat rumah kamu sekarang. Paham?" perintah Adit dan memutuskan sambungan teleponnya.


...Jangan lupa untuk like+coment+fave cerita ini....


...Terimakasih ❤️❤️❤️❤️ buat kalian semua.....

__ADS_1


__ADS_2