
Berhubung dua hari lagi Jesselyn akan mulai masuk kampus, Lena mengajaknya untuk membeli keperluan kuliahnya. Lena sangat senang karena dia tidak bisa melakukannya dengan Nadya. Nadya akan lebih memilih membeli keperluannya sendiri atau bersama dengan teman-temannya.
Bukan tanpa sebab Nadya berbelanja sendiri, akan tetapi jika ia mengajak mamanya, waktu berbelanja satu jam saja bisa menjadi tiga jam. Nadya bukan tipe orang yang suka berlama-lama saat di tempat perbelanjaan, ia sudah merasa begitu bosan jika menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk berbelanja.
"Gimana Jes, semua yang kamu perlu buat kampus sudah ada?" tanya Lena yang terlihat bersemangat berbelanja dengan Jesselyn.
"Sudah tante, malah ini sudah lebih dari cukup. Kita belum pulang tante?" tanya Jesselyn berharap Lena akan mengiyakan perkataannya.
"Cepat amat baru jam empat sore lagian kita juga belum makan, iya kan?" Lena berjalan terus tanpa melihat kearah Jesselyn yang sudah begitu lelah mengekorinya.
"Hiks..hiks....hiks......, kita pulang aja yuk tante? kakiku sudah mau lepas. Baru jam empat memang, tapi kita kan sudah dari jam satu disini tante? Jesselyn da bosan ni tante?" Jesselyn berkata dalam hatinya dan ingin rasanya ia menghilang saat itu juga.
"Kita kesana yok, brand kesukaan tante lagi ada diskon sepertinya," melihat kearah bagian sepatu yang menunjukkan diskon 20 persen.
"Iya tante, tapi aku ke toilet dulu ya? Nanti aku temuin tante kesini setelah selesai," mencari alasan agar tidak ikut Lena ke bagian sepatu.
"Ya sudah, jangan lama-lama ya nanti langsung datang kemari?" kata Lena mengingatkan.
"Baik tante"
Jesselyn merasa lega karena bisa bebas dari Lena untuk sesaat. Setelah Lena pergi ke bagian sepatu, Jesselyn berjalan sedikit kebalik sebuah butik dan duduk berjongkok. Karena merasa kram pada kakinya ia akhirnya meluruskannya sambil memukul-mukul kedua kakinya dengan tangannya.
"Ternyata masih ada yang lebih parah dari kamu Del," ucap Jesselyn mengingat sahabatnya Dela yang ternyata punya kebiasaan belanja seperti Lena.
"Lima menit lagi deh duduknya, paling tante juga lagi asik milih-milih sepatu buat dia beli," pikir Jesselyn yang duduk dilantai dengan kedua tangannya menepuk-nepuk kakinya.
"Kamu ngapain duduk seperti itu disini?" tanya Leon yang datang mencari mamanya dan Jesselyn karena juga sudah bosan berada di parkiran menunggu mereka berbelanja.
"Capek kak"
"Mama dimana?"
"Masih belanja kak dibagian sepatu." Jesselyn masih terus memukul-mukul kakinya.
"Ayo diri" perintah Leon melihat Jesselyn yang duduk dilantai seperti orang bodoh.
"Tapi aku masih capek kak, bentar lagi ya?" pinta Jesselyn dengan wajahnya yang juga menunjukkan kelelahan.
"Makanya, kamu mau pulang atau masih mau disini?"
"Tante belum selesai kak" sungut Jesselyn.
"Cepat diri atau aku..."
"Gendong kak?" tiba-tiba memotong ucapan Leon.
"Atau aku seret!" ucap Leon dengan tatapan matanya yang tajam. Leon mengambil semua kantong belanjaan yang ada pada Jesselyn dan berjalan mencari mamanya.
"Kak, bisa lebih pelan ngak jalannya? Kakiku pegal kak, atau aku nunggu disini aja boleh ya?"
"Terserah"
"Kalau gitu aku tunggu disini ya kak?" Jesselyn kembali ketempat ia duduk tadi. Tak jauh dari tempat ia duduk ada sebuah gerai es krim, karena merasa haus ia memutuskan untuk membeli es krim vanila kesukaannya.
Dibagian sepatu Leon merasa kesal dibuat mamanya. Saat Leon meminta mamanya untuk pulang, bukannya mengiyaka ajakan anaknya Lena justru dengan asiknya mencoba beberapa sepatu.
"Udahan dong ma, ngak capek apa dari tadi belanja dan mutar-mutar? Udah jam lima sore juga ma? Kita pulang aja ma, Leon juga da bosan dari tadi dimobil nungguin?"
"Baru juga nemanin mama dua puluh menit, dia aja dari tadi nemanin mama ngak ngeluh?"
__ADS_1
"Siapa? Maksud mama Jesselyn? Ck.." Leon berdecak kesal mendengar ucapan mamanya.
"Siapa lagi memang?"
"Mama tahu ngak kalau dia lagi nunggu dekat butik langganan mama sekarang, kakinya keram dan pegal karna ngintilin mama berjam-jam. Dia mana mungkin ngeluh ke mama. Mama ngak kasihan sama dia?"
"Wuah....tumben Leonnya mama mikirin Jesselyn?"
"Bukannya dulu papa pernah bilang kalau kita harus jagain dia?" Jawab Leon seadanya.
"Jagain dia?" Lena menggoda Leon dengan mengulang perkataan Leon.
"I..iya. Bukannya papa bilang gitu? Jagain dia, sama seperti jagain Nadya?"
"Kalau seperti jagain Nadya berarti Jesselyn seperti adik kamu dong?" Lena semakin memancing Leon untuk berbicara lebih banyak lagi. Ia penasaran karena selama ini Leon begitu cuek dan terkesan masa bodoh dengan kehadiran Jesselyn.
"I..iya adik, adik..., benar adik seperti Nadya," lagi-lagi Leon bingung saat mamanya bertanya.
"Gitu dong dari dulu, mamakan jadi ngak khawatir lagi."
"Udah ah, ma. Kita pulang sekarang." Leon berjalan meninggalkan mamanya dibelakang.
"Iya..iya.. kita pulang, mama ke kasir sebentar ya buat bayar sepatunya?"
"Aku tunggu dimobil aja ya ma?"
Lena hanya menganggukkan kepalanya pada Leon dan mengantri untuk membayar tiga pasang sepatu yang ada di keranjangnya.
Leon berjalan ketempat ia meninggalkan Jesselyn tadi.
Saat Leon tiba, ia tidak menemukan Jesselyn disana, ia mengedarkan matanya untuk mencari keberadaan Jesselyn. Tidak butuh waktu lama ia langsung dapat melihat Jesselyn yang sedang berdiri melihat pemandangan lantai bawah tempat perbelanjaan dengan sebuah es krim ditangannya.
"Masih mau disini atau pulang? ucap Leon tiba-tiba mengagetkan Jesselyn yang sedang menggigit es krimnya.
"Kaget kak"
"Gitu aja kaget, ayo buruan!"
Jesselyn mengikuti langkah Leon yang begitu cepat. Ia bahkan berlari untuk menyamakan posisi mereka.
Jesselyn begitu senang karena bisa jalan bersama Leon. Hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Beli apaan sih banyak banget belanjaannya?" Leon memasukkan semua belanjaan kedalam bagasi mobil.
"Perlengkapan buat kuliah kak," jawab Jesselyn dengan wajah tersenyum.
Hanya ada beberapa mobil yang terparkir sehingga membuat area parkiran begitu sepi. Leon terkejut saat melihat sepasang sejoli sedang bermesraan di depan sebuah mobil yang parkir tak jauh dari mereka berada.
"Masuk. Cepat!" dengan cepat Leon menarik tangan Jesselyn dan memaksanya masuk ke mobil.
"Apaan sih kak, ada apa?" tanya Jesselyn tak mengerti mengapa ia dipaksa masuk.
"Ada penjahat ya kak ? tanya Jesselyn penasaran.
"Bukan"
"Terus kenapa kak?"
"Diem aja duduk di dalam. Kamu masih kecil, belum ngerti dan ngak perlu lihat."
__ADS_1
"Tujuh belas dan hampir mau delapan belas kak umurku" tutur Jesselyn memberitahu usianya saat ini.
"Terus?"
"Artinya aku sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi, jadi cerita kak ada apa?"
"Nanti aja kalau sudah waktunya. Diem dan jangan ngomong lagi." Perintah Leon mengakhiri pembicaraan mereka.
Lima belas menit kemudian Lena tiba diparkiran. Mereka memutuskan untuk makan dirumah saja dan memesan makanan lewat delivery order saat diperjalanan menuju ke rumah.
"Kamu kecapean ya Jes?" tanya Lena sembari melirik ke arah Leon.
"Ngak kok tante" jawab Jesselyn berbohong.
"Tapi tadi ada yang bilang kaki kamu pegal karena kecapean belanja dengan tante?"
"Jesselyn baik-baik aja kok tante"
"Baguslah jadi tante ngak perlu khawatir."
"Iya tante"
Jesselyn teringat akan kejadian diparkiran yang ia tak tahu apa itu, karena penasaran dia ingin mencoba cari tahu dengan menceritakannya pada Lena. Siapa tahu Leon akan cerita jika Lena yang memintanya.
"Tapi sewaktu kami diparkiran tadi, kak Leon menarik tanganku dan memaksa masuk kedalam mobil. Kaka Leon bilang ada sesuatu yang..."
Chihihihihitt...
Leon langsung menginjak rem mendengar apa yang sedang dibicarakan Jesselyn.
"Kamu apa-apaan sih Leon, ngerem kok tiba-tiba. Ada apa? Mama kaget, untung ngak sampai serangan jantung?" ucap Lena kesal.
Jesselyn yang mendengar perkataan Lena seketika teringat dengan apa yang pernah ibunya ceritakan mengenai Lena yang menerima donor jantung.
"Hati-hati dong kak?" ia melihat ke arah Leon yang juga sepertinya terkejut. Tapi Jesselyn tidak tahu jika Leon bukan terkejut karena ngerem mendadak melainkan terkejut mendengar apa yang ia akan bicarakan.
"Kamu juga kalau ngomong hati-hati," jawab Leon dengan pelan namun masih dapat didengar Jesselyn yang duduk disampingnya.
"Memang ada yang salah dengan omongan aku kak?" tanya Jesselyn dengan serius.
"Diem"
Leon kembali mengemudikan mobil dengan pelan takut membuat mamanya terkejut lagi.
"Jangan ngerem mendadak lagi seperti tadi" pesan Lena pada Leon.
"Iya ma, maaf soal tadi."
Leon melanjutkan perjalan mereka dan tiba dirumah dengan selamat. Lena langsung masuk kedalam rumah sedangkan Jesselyn dan Leon masih mengambil barang-barang belanjaan dari bagasi.
"Kak, itu bukannya cincin yang aku kasih ke kak Bela dulu ya?" Jesselyn menunjuk cincin yang ada pada kalung Leon.
Leon melihat kalung yang ia pakai telah keluar dari dalam bajunya. Dengan cepat ia langsung memasukkannya kembali.
"Cepetan bawa belanjaannya kedalam!" perintah Leon meninggikan suaranya dan berjalan meninggalkan Jesselyn dibelakangnya. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan Jesselyn.
...Terimakasih atas kunjungan kalian semua. Jangan lupa untuk tetap support cerita ini dengan memberikan like dan komentar yang membangun....
... Terimakasih semuanya ❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1